Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 145



Rena baru saja kembali ke ruangan yang menjadi kamar suaminya itu, setelah acara makan malam dan bercengkrama ria bersama Ayah dan Ibu mertuanya usai.


Ia menatap jam yang melekat di dinding. Sudah hampir setengah sembilan malam, tetapi suaminya itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.


Entah sudah berapa kali ia menghela nafasnya kasar sejak suaminya itu memilih pergi ke kantor daripada menemaninya di rumah.


"Yang benar saja ? dia bahkan tidak pernah mencoba untuk menelfonku." Umpatnya frustasi menatap kecewa pada layar ponsel miliknya.


Memilih meletakkan kembali benda pipih tersebut di atas nakas, dan masuk ke dalam kamar mandi.


Butuh beberapa waktu ia di dalam sana, hingga ia keluar dengan terburu-buru meraih kembali ponselnya karna mendengar benda itu berdering.


"Rendy"


Wajah yang sebelumnya sangat antusias saat keluar dari kamar mandi itu kembali tertekuk murung, bukan telfon dari kakaknya yang sedang ia tunggu.


Rena menatap kosong layar ponselnya, tanpa memiliki keinginan untuk menjawab panggilan tersebut. Hingga panggilan itu berakhir.


Dengan kesal ia meletakkan kembali ponselnya, dan duduk di depan meja rias yang sebelumnya sudah di siapkan oleh Mariah.


Tangannya terulur mengambil serum dan menuangnya pada telapak tangannya lalu menepuk-nepuk pelan ke wajahnya, sembari memikirkan sikap suami bodohnya itu.


"Apa dia benar-benar tidak tahu kalau aku hanya bercanda ?!" Tanyanya pada dirinya sendiri.


Ia kira selama sepuluh tahun tidak bersama, lelaki itu telah berubah. Tidak di sangka suaminya itu masih saja bodoh dengan temperamen yang langkah.


Jika saja dulu suaminya itu sedikit pintar, maka mereka tidak perlu berpisah dan salah paham selama ini.



Disisi lain. Reno tengah mendesah frustasi setelah mengetahui pokok permasalahan utama dari kekesalan Rangga kali ini.


"Jadi dari tadi kau memaksaku untuk membatalkan kerjasama dengan Tn.Arkana hanya karena kau kesal dengan Arka yang sudah mati ?!" Tanya Reno sembari berdiri kesal seakan menuntut karna sudah menyusahkannya seharian ini.


Rangga mendongak menatap Reno sama kesalnya. Sedari tadi dia tertunduk sedih mencurahkan isi hatinya, tapi mendengar reaksi sahabatnya itu, ia sedikit tidak terima. Apa temannya itu tidak memiliki simpati padanya ?


"Yaa.. mengapa kau menunjukku seperti itu ?" Tanyanya dengan mata yang melotot.


"Aku.. ? aakh.." Reno mendesah pelan, dan menarik kembali telunjuknya, sebagai gantinya ia berkacak pinggang menyikapi temperamen Rangga.


"Kau sudah sinting Rangga, apa kau tau berapa kerugian yang kita dapatkan dan yang harus aku bayar untuk pembatalan sepihak dari kerjasama ini ?" Tanyanya kemudian.


5 M !!" Imbuhnya kesal.


"Aku tidak peduli." Rungut Rangga pelan.


"Yaaa.." Reno berteriak murkah. Membuat Rangga segera menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.


"Apa kau tidak curiga ? perjanjian yang dia ajukan terlalu mudah. Bagaimana kalau sebenarnya dia hanya ingin menipu kita ?" Tanya Rangga membela diri.


Reno tidak tahan lagi, Rangga bisa menjadi bos untuk karyawan lainnya, tapi tidak dengannya. Ia sangat marah karna secara tidak langsung sahabatnya itu meragukan kemampuannya.


Dengan gerakan cepat ia memukul kepala bos bodohnya itu dengan map berisi berkas yang sedari tadi menjadi bahan pertengkaran mereka.


"Kepalamu ini sepertinya kembali eror setelah menikah dengan Rena." Umpat Reno kesal dan terus memukul Rangga tanpa ampun.


Saat Reno menaiki tubuhnya dan terus memukulnya membabi buta. Rangga tidak sengaja menarik kakinya sehingga lututnya mengenai tepat harta berharga milik temannya itu.


"Aaaakh..." Reno merintih kesakitan sembari meletakkan satu tangannya pada benda berharga miliknya.


Merasa memiliki kesempatan untuk kabur, Rangga segera berdiri dan berlari ke depan pintu.


"Maaf, aku tidak sengaja kawan." Ucap Rangga sembari mengangkat kedua tangannya.


"Kau.. be-reng-sek.." Umpat Reno terbata karna sakit.


Rangga segera berbalik membuka pintu hendak pergi. Tapi ia kembali berbalik dan mengucapkan sesuatu yang mana membuat Reno semakin murkah.


"Ada es batu di kulkas, apa kau ingin aku membantumu mengompresnya ?!" Tanya Rangga dengan senyum yang ia tahan saat menatap ke arah bawah yang masih setia di pegang Reno.


"Aku tidak sudi, pergilah !"


"Sssh.. temperamen Dara sepertinya telah menular padamu." Ucapnya lagi mendesis prihatin dengan mata yang menyipit.


"Yaaa..." Teriak Reno sembari melemparkan apa saja yang ada di hadapannya pada Rangga yang dengan cepat menghindar dan berlari kembali ke ruangannya. Meninggalkan Reno dengan sumpah serapahnya.


•••


Waktu terus berputar, hingga sang mentari menunjukkan sinarnya.


Pukul 10.20.


Rangga mengerjapkan matanya perlahan, kemudian tersadar kalau semalaman dia telah tidur di kantornya tanpa memberi kabar pada wanita yang sudah di tinggalnya begitu saja kemarin.


Ingatannya kembali teringat akan Rena. Dirinya mendesah pelan sembari mengusap wajahnya kasar. Baru saja ia meraih ponselnya, perutnya tiba-tiba saja berbunyi seakan mencabik isi dalamnya minta di isi.


Niatnya ingin memesan sesuatu, namun ia membatalkannya saat matanya menangkap sebuah paper bag berwarna coklat di atas meja.


Tanpa menunggu lama, ia segera menggeledah isinya dan mendapati sekotak sarapan pagi dengan menu nasi goreng seafood dan telur mata sapi diatasnya.


Yang dengan cepat di santapnya tanpa memikirkan siapa orang yang begitu baik sudah membawakan makanan seenak itu untuknya.


"Apa makanannya enak ?!"


Rangga mengangkat kepalanya. Matanya seketika membola saat melihat siapa yang ada di depannya kini, dirinya teringat kembali pada kejadian semalam. Membuatnya menelan nasi yang dikunyah-nya dengan susah payah.


"Dara."


Wanita itu semakin menunjukkan temperamen buruknya setelah melahirkan, apalagi sekarang Dara kembali hamil, membuat Rangga bergidik ngeri dengan senyum paksa.


Ia masih ingat betul bagaimana terakhir kali Dara melemparinya dengan teflon hanya karna sudah mengajak suaminya minum hingga tengah malam dan membawanya pulang dalam keadaan mabuk.


Dara berjalan dengan sangat cepat menghampiri bos suaminya itu, membuat Rangga mengangkat kedua tangannya untuk memberi pertahanan, takut jika Dara kembali memukulnya tanpa ampun sama seperti yang di lakukan Reno sebelumnya.


Jika itu Reno, maka dia akan menyerang kembali. Tapi lain ceritanya kalau itu Dara. Dirinya hanya bisa pasrah pada wanita hamil itu.


Dara baru saja mengangkat tangannya ke udara, namun ia tidak jadi melanjutkan keinginannya mengingat suaminya sudah menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.


"Aku akan memaafkanmu kali ini. Tapi lain kali aku tidak akan segan-segan jika kak Rangga menyakiti suamiku." Ucap Dara kemudian memilih duduk di samping lelaki yang menjadi bos suaminya itu.


Rangga menghela nafasnya lega, dan melanjutkan kembali aktivitas sebelumnya.


"Apa kau benar-benar trauma dengan lelaki itu ?" Tanya Dara kemudian, sembari mengelus pelan perutnya yang mulai membesar.


Pertanyaan itu membuat Rangga berhenti mengunyah makanannya, ia mengambil beberapa lembar tisu lalu memuntahkannya untuk dibuang.


"Ada apa ?" Tanya Dara menatap heran, bukankah tadi Rangga terlihat sangat menikmati makanannya ?


"Kau merusak selera makanku." Jawab Rangga datar.


Dara tidak menjawab.


Untuk beberapa saat mereka terdiam, hingga Dara kembali mengucapkan sesuatu.


"Apa kau kecewa ?!" Tanyanya.


"Dalam hal apa ?" Tanya Rangga.


"Rena."


"Itu bukan urusanmu." Jawab Rangga sarkas.


Dara tersenyum mencibir.


"Kau tidak bisa menyalahkannya atas apa yang sudah pernah terjadi. Tidak semua orang harus sama sepertimu !."


"Apa maksudmu ?!" Tanya Rangga menoleh menatap Dara penuh tanya.


"Aku sangat mengenalmu kak, aku tahu bagaimana kau membenci wanita saat Monica menghancurkan hidupmu.


Kau bahkan tidak pernah membagi cinta apalagi membagi apa yang ada pada dirimu dengan wanita lain.


Hal itu membuktikan bagaimana kau sangat menghargai cintamu pada dokter itu. Dan aku yakin kau pasti berharap dia akan melakukan hal yang sama." Jelas Dara tanpa mengalihkan tatapan pada perutnya.


Rangga terdiam, ia sedikit mencerna perkataan Dara. Membuatnya hanya bisa merebahkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Apa aku salah ? salah jika mengharapkan hal yang sama padanya ?" Tanya Rangga terdengar sayu.


"Aku tidak bermaksud untuk menyalahkanmu. Tapi, cobalah untuk menerima segalanya. Kalian terpisah bukan hanya sebentar, dan lagi, tidak seharusnya kau menuntut hal yang sama pada dr.Rena.


Tidak semua orang akan bertindak sama denganmu. Mungkin seperti itulah cara dia untuk melanjutkan hidupnya." Jelas Dara memberi pengertian.


"Dan itu membuatku kecewa." Ucap Rangga datar.


Aku merasa semua perjuanganku sia-sia.


Karena pada akhirnya dia masih tetap mengalahkan ku."Imbuhnya merujuk pada Arka.


Dara mengehela nafasnya kasar.


"Lalu apa yang akan kau lakukan ?" Tanya Dara.


"Entahlah." Jawab Rangga memejamkan matanya.


Cukup lama Dara menatap lelaki yang tengah galau itu hingga ia mengatakan sesuatu sebelum akhirnya memilih untuk pergi.


"Kau selalu mengatakan kalau kau sangat mencintainya. Padahal sebenarnya kau tidak mengerti apa itu arti dari cinta."