Lila And Grey

Lila And Grey
Syal cinta



"Waaahh berarti benar kata kak Grey kemarin dong Bu, kalau pak Charlie naksir sama ibu" kata Lila dengan mata berbinar binar.


"Iya" jawab ibu Ratih sambil tersenyum malu.


"Yaaaa wajarlah ibu banyak yang naksir, ibu ini feminin, cantik, pinter masak, pinter desain, aaahhhh Lila jadi baper nih dengerin ceritanya ibu, so sweet banget ." Kata Lila langsung mencium pipi ibu mertuanya.


"Aaaahh so sweet apa sih " kata Bu Ratih sambil mengelus elus rambutnya Lila.


"Eemmm siapa yang lebih romantis Bu ? papa Edward apa pak Charlie ?" tanya Lila penuh semangat.


"Hahahaha semuanya romantis tetapi pak Charlie itu lebih terbuka dan ceplas ceplos orangnya, kalau papa mertua kamu tuh orangnya pelit bicara, tapi sekali bertindak bikin hati ibu jumpalitan" Bu Ratih menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil tertawa lirih.


"Aaahhh mirip suaminya Lila dong" kata Lila kemudian.


"Iya, mereka berdua papa dan anak itu memang mirip dalam segala hal cuma bedanya Grey tuh lebih manja emm kayaknya sifat manjanya Grey tuh dapatnya dari ibu hihihihi" kata Bu Ratih kembali menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Lanjutkan ya Bu, ceritanya " kata Lila sambil menyandarkan kepalanya di bahu ibu mertuanya.


"Baiklah " jawab Bu Ratih sambil mengelus elus keningnya Lila.


FLASHBACK ON


Persaingan antara Charlie dan Edward pun dimulai. Charlie secara terang terangan selalu mengatakan aku menyayangi Ratih dan selalu bilang sama Ratih untuk jangan lupakan itu, sedangkan Edward mulai menunjukkan perhatian yang lebih.


Edward lebih suka bertindak secara langsung daripada berkata kata.


Ratih semakin bingung menghadapi tingkah mereka berdua.


Suatu hari, Edward memanggil Ratih untuk masuk ke dalam ruangannya. Edward memberikan uang untuk membayar desainnya Ratih. Kafe pun akhirnya selesai dirombak, sesuai dengan gambar desain hasil karyanya Ratih.


Edward pun memerintahkan ke manajer kafenya yang lain yang tersebar di seluruh kota J, untuk melakukan perombakan yang sama, seperti yang dilakukan di kafe pusat.


Ratih masuk dan langsung duduk di atas sofa.


Edward menghampiri Ratih dan memberikan amplop berwarna cokelat berisi uang kepada Ratih "Ini uang untuk membayar hasil desain kamu, bisa kamu pakai untuk mendaftar kuliah, aku sarankan kamu ambil jurusan desain saja karena lebih menjanjikan dan kamu berbakat di situ." kata Edward tanpa jeda sambil duduk di sampingnya Ratih.


"Hah ? banyak banget mister ?" kata Ratih ternganga.


"Iya memang harga sebuah desain itu sangatlah mahal, kamu baru tahu ya ?" sahut Edward.


"Oooo begitu ya, terima kasih mister" jawab Ratih sambil tersenyum senang.


"Saya tidak mengerti caranya mendaftar kuliah mister, dan saya tidak mengerti kalau ambil jurusan desain itu kampusnya yang mana ya ?" tanya Ratih.


"Hahahaha ok lah ayok aku antar kamu untuk mendaftar kuliah, ijin sebentar sama Charlie aku rasa Charlie akan ijinkan, ini demi masa depan kamu" kata Edward.


Ratih pun meminta ijin pada Charlie, sebenarnya Charlie ingin mengantarkan Ratih untuk mendaftar kuliah tetapi Edward sudah menawarkan diri duluan. Kali ini Charlie yang harus mengalah, melihat cewek yang dia suka naik mobil cowok lain.


Mendaftar kuliah di salah satu kampus ternyata memakan waktu yang sangat lama. Ratih menyerahkan amplop cokelat tadi ke Edward untuk membayar semua biaya pendaftaran dan kuliahnya untuk beberapa semester ke depan. Tetapi Edward mengembalikan amplop tersebut ke Ratih.


"Lho mister, ini kan uang untuk mendaftar kuliah tapi kok dikembalikan ke Ratih lagi sih ?" tanya Ratih heran.


"Aku sudah transfer semua biayanya tadi pagi sebelum aku ketemu sama kamu, kita ke sini hanya untuk mengurus kelengkapan berkas berkasnya saja. Aku juga sudah menghubungi pihak sekolahanmu dulu untuk meminta lagi surat kelulusan, ijazah kamu dan nilai nilai raport kamu." jawab Edward.


"Hah ? kapan mister melakukan semuanya itu, kenapa tidak ngomong sama saya ?" tanya Ratih.


"Aku mau kasih kamu kejutan, ternyata kamu tidak pandai dalam matematika ya hahahaha nilai kamu pas pas an di matematika " kata Edward.


"Aaahh mister kenapa juga melihat lihat nilai saya, saya kan malu" kaya Ratih langsung menundukkan wajahnya.


"Mulai sekarang jangan bersikap formal lagi sama aku, panggil aku mas ya dan nggak usah ada kata saya kalau dipanjangin jadi sayaaang baru boleh." kata Edward sambil tersenyum menatap Ratih.


"Tapi saya eh anu Ratih kan belum terbiasa, lalu ini uangnya bagaimana mister eh anu emmm ?" kata Ratih bingung saat mau mengucapkan kata mas, dia masih merasa canggung.


"Uangnya kamu simpan saja untuk kebutuhan kamu sehari hari lagian biaya kuliah kamu selama tiga tahun sudah aku bayar lunas" Edward tersenyum lagi.


"Hah ? kalau begitu terima uang ini mister eh anu maaf Ratih belum bisa memanggil mister dengan mas, emm terima uang ini terus nanti Ratih akan mencicilnya sampai lunas." kata Ratih sambil menyodorkan kembali amplop cokelat berisi uang ke Edward.


"Hah ? tapi kan kita belum juga jadian, mana bisa sih kok tahu tahu ada kata calon suami ?" tanya Ratih heran.


Edward diam saja tidak menanggapi ocehannya Ratih. Edward hanya melirik Ratih sambil tersenyum dan tetap melajukan mobilnya.


"Emm mister, Ratih lapar heeee " Kata Ratih.


"Kali ini Ratih pengen mentraktir mister makan, karena Mister sudah baik banget sama Ratih selama ini, dan Ratih sudah punya banyak uang nih heeee" kata Ratih sambil menunjukkan amplop cokelatnya lagi ke Edward.


"Baiklah hahahaha kamu polos sekali ya, kita kemana nih ?" tanya Edward.


"Lurus saja mister, tidak jauh lagi, nanti di sebelah kiri jalan ada kedai bakmi enak banget, sudah lama banget Ratih tidak makan di kedai bakmi tersebut." jawab Ratih.


Tidak begitu lama mereka pun sampai di kedai bakmi yang dimaksud sama Ratih.


Ratih menoleh ke arah Edward dan berkata "Emm mister nggak apa apa kan, makan di kedai sederhana seperti ini ? maaf Ratih belum mampu mentraktir mister di restoran mewah"


"Santai saja, aku nggak pernah pilih pilih makanan dan nggak pernah pilih pilih tempat makan, makan di mana saja aku nggak masalah" jawab Edward.


Akhirnya mereka pun turun dari mobil, Edward meraih syal putihnya dan memakaikannya ke leher Ratih "Sepertinya mau hujan, dan ini sudah beranjak malam udaranya dingin kamu pakai syal ku ya" kata Edward.


Ratih mulai merasa tersentuh hatinya. Aaahh perasaan apa nih yang tiba tiba muncul di dalam hatiku ini. Batin Ratih.


Mereka pun duduk dan mulai memesan dua porsi bakmi andalan kedai tersebut.


Ratih menaruh payungnya di tembok di dekat kursi tempat dia duduk.


"Hatschi hatschi " Edward bersin bersin.


Ratih langsung sadar diri dia melepas syal yang ada di lehernya dan menyerahkan kembali ke Edward.


Edward akhirnya memakai syal itu di lehernya tetapi karena panjang syal tersebut bisa untuk dipakai mereka berdua, Edward melilitkan sisa syalnya di leher Ratih.



Ratih pun tersenyum canggung dan hatinya mulai jumpalitan. Ternyata mister Edward perhatian banget sama Ratih. Batinnya.


"Kalau begini kan adil, kita bisa merasakan kehangatannya secara bersama " kata Edward.


"Semoga kamu juga sudah mulai bisa menerima kehangatan hati aku, mulai membuka hati kamu untuk aku, aku menyukaimu Ratih dari pertama kali kita bertemu" Kata Edward kemudian.


"Maaf mister, saya masih belum bisa menjawabnya sekarang" kata Ratih mulai menundukkan kepalanya.


"Kamu menyukai Charlie ?" tanya Edward.


"Aaahh tidak mister" Ratih spontan menjawabnya dan tidak sadar mengucapkan kata tersebut.


Iya Ratih memang tidak memilikki rasa apapun sama chef Charlie, cuma ada rasa hormat dan kagum saja sama chef Charlie. Ratih mulai melamun.


"Jadi kamu menyukaiku ?" tanya Edward santai.


Ratih kaget dan tersadar dari lamunannya tanpa sadar dia spontan ngomong


"Iya mister " jawab Ratih.


"Aaahh benarkah, jadi secara tidak langsung kamu sudah menjawab mau jadi pacar aku dong " kata Edward senang.


"Aaahhh kita makan saja mister" kata Ratih begitu mie pesanan mereka sudah datang.


"Ratih iya kan, benar kan kamu suka sama aku ?" Edward masih penasaran dan masih butuh kepastian maksud dari jawaban iya yang terlontar dari mulutnya Ratih tadi.


Ratih hanya diam, semakin menundukkan kepalanya dan makan mie nya tanpa menoleh ke arah Edward.


Edward menatap Ratih dengan geli, ok Ratih aku akan terus menunggu kamu sampai kamu yakin betul sama perasaan kamu itu, karena sumpah aku sangat menyukaimu bahkan mungkin inilah cinta. Batin Edward.


FLASHBACK OFF