
"Gooooollllll" teriak papinya Melly dan menoleh ke Rio yang tengah menggenggam tangan Melly dan Melly tengah bersandar di bahunya Rio.
"Jaga jarak fisik ya ! ayok jauhan hadeeehhh papi lengah dikit aja kalian dah nempel kayak gitu, ayok jauhan!" papinya Melly mulai melotot.
Melly memonyongkan bibirnya dan berdiri "Ya udah deh, beb emm Melly masuk kamar dulu ya, Melly males dengerin pak Satpam ngoceh tuh" kata Melly sambil mengarahkan kepalanya ke papinya. Rio pun terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Ya ya sana tidur ! haissh ganggu aja ." sahut papinya Melly.
"Yess ! apa kata om hahaha menang kan jagoannya om " kata papinya Melly bangga setelah melihat pertandingan bola telah usai dan kemenangan ada di pihak Perancis.
"Ok om, Rio mengaku kalah deh, om mau apa ?" tanya Rio lirih. Karena sumpah saat ini dia sangat capek secara jiwa dan raga hiks hiks batinnya menangis menanti saat saat bobok bareng seranjang sama papinya Melly.
"Emm nanti aja om belum kepikiran nih, ayok kita tidur." ajak papinya Melly sambil berdiri.
"Emm om maaf, kalo boleh Rio tidur di sofa aja ya " kata Rio pelan dan berharap papinya Melly menganggukkan kepalanya.
"Apa, mana ada ?! nggak boleh ! entar kamu curi curi kesempatan ketemuan sama Melly, no no no, ayok ke kamar om !" kata papinya Melly sambil mengayunkan tangannya, kode supaya Rio mengikutinya.
Arrrrghhh hiks hiks batin Rio menangis lirih, Rio melangkahkan kakinya dengan berat menuju ke kamarnya papinya Melly.
Begitu mereka masuk ke dalam kamar, kamar pun dikunci sama papinya Melly, dan dimasukkan ke dalam saku celana boxermya.
What ! segitunya hiks hiks. batin Rio mulai pasrah.
"Ayok tidur, ngapain bengong. OOO iya kamu mau ganti baju dulu nggak ? om pinjami kaos sama celana pendeknya om. " kata papinya Melly yang sudah merebahkan dirinya diatas ranjang.
"Iya om kalo ada boleh deh." sahut Rio.
"Ambil sendiri tuh di almari, pintu yang sebelah kanan ya, itu khusus isinya kaos santaiku semua." kata papinya Melly tanpa bangun dari tidurnya.
Rio pun membuka almarinya dengan pelan, mengambil kaos dan celana pendek lalu melangkah ke kamar mandi untuk berganti baju.
Saat keluar dari kamar mandi, papinya Melly sudah tertidur.
Rio duduk di tepi ranjang, menghela napas dengan sangat berat. menatap papinya Melly. Akhirnya Rio merebahkan diri. Berusaha untuk memejamkan matanya.
Belum begitu lama Rio memejamkan matanya, tiba tiba kaki papinya Melly mengempit Rio dengan erat. Rio mengangkat pelan kaki papinya Melly. Setelah berhasil mengangkat kaki, dirasa sudah aman Rio berusaha memejamkan mata kembali.
Tiba tiba papinya Melly memeluk dia dengan erat dan bibirnya menempel di pipinya Rio. Arrrrghhh Rio berusaha untuk sabar, melepas tangan papinya Melly dari tubuhnya dengan pelan pelan dan mulai menaruh dua guling di tengah tengah mereka.
Huffttt sabar Rio sabar. batin Rio.
Rio memejamkan matanya kembali setelah dilihatnya beberapa menit kemudian sudah aman sudah tidak ada pergerakkan sama sekali dari papinya Melly.
Belum ada setengah jam Rio terlelap tiba tiba papinya Melly terduduk dan bangun, lalu melangkah menuju almari sambil marah marah tetapi masih terpejam matanya.
Rio ikutan terduduk karena sumpah dia benar benar kaget ada suara orang marah marah dengan lantangnya. Dilihatnya papinya Melly tengah marah marah sambil menunjuk nunjuk almarinya tetapi dengan mata yang masih terpejam erat.
"Ya ampun, ternyata ada ya orang mengigau separah ini ckckck." Rio menggeleng nggelengkan kepalanya.
Rio pun bangun menuju ke papinya Melly lalu menuntun pelan papinya Melly untuk kembali berbaring di atas ranjang.
Rio menatap papinya Melly yang sudah dia rebahkan kembali di atas ranjang, dengan menahan tawa, sumpah antara kaget dan geli. Kalau tadi itu adalah papanya sendiri pasti secara spontan Rio akan ngakak sekencang kencangnya.
Rio membetulkan letak tidurnya papinya Melly lalu menyelimutinya, setelah itu Rio meraih remote AC dan mengatur suhu AC kamar menjadi lebih dingin.
Rio melihat jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari. Akhirnya Rio berusaha untuk memejamkan matanya lagi. Tolong hambamu ini Tuhan, jangan ada gangguan lagi hiks hiks. batin Rio.
Jam 4.00 persis Rio bangun, merogoh pelan saku boxernya papinya Melly untuk mengambil kunci kamar.
Selesai mandi Rio pun keluar dari kamar, dan dilihatnya maminya Melly sudah mulai memasak di dapur.
Rio menuju ke dapur dan menyapa calon ibu mertuanya "Pagi Tante, baunya harum sekali, Rio bantuin ya ?"
"Lho kok sudah bangun ? apa nggak bisa tidur ? papinya Melly mengigau ya ? hahaha kamu tuh mirip mami waktu awal awal nikah sama papi, mami juga nggak bisa tidur hahaha." kata maminya Melly sambil tertawa geli.
"Iya Tante, ngigaunya parah banget heee sumpah deh bikin Rio kaget setengah mati." kata Rio sambil meraih pisau dan mulai membantu maminya Melly untuk memotong motong sayurannya.
"Iya bener itu, mami awal nikah sampai kaget mami kirain ada maling beneran soalnya tuh si papi teriak maling maling kencang banget hahahahaha ." maminya Melly tertawa lagi.
Rio pun ikutan tertawa membayangkan betapa menderitanya pengantin baru yang punya pasangan tukang ngigau separah papinya Melly.
"Ooo iya nak, makasih ya kemarin sudah dibikinin sarapan. Maaf sudah merepotkan. Kata kakek dan Merry masakan kamu top banget." kata maminya Melly sambil mulai menata nasi gorengnya diatas meja makan.
"Biasa aja Tante, heee cuma masakan sederhana saja nggak sulit kok dan Rio merasa senang nggak merasa direpotkan." sahut Rio sambil tersenyum, dan menyerahkan sayuran hasil potongannya ke maminya Melly.
"Jangan panggil Tante dong panggil mami aja ya, emm Mami masak sop daging sapi nih. Kalian kan habis begadang lihat bola kemarin, makan sop biar badan hangat dan tidak masuk angin." kata maminya Melly.
"Makasih mami." sahut Rio.
Mami menoleh dan tersenyum. Rio merasa hangat dicintai calon ibu mertuanya.
"Emmm mi, om sukanya apa ya ? kemarin Rio kalah dan Rio janji mau kasih sesuatu buat om." kata Rio kemudian.
"Lho udah panggil mami kok sama papi masih manggil om ?" sahut papinya Melly sambil menepuk pundaknya Rio.
Rio spontan mau berdiri tapi dilarang sama papinya Melly "Udah duduk aja, santai aja."
"Terima kasih om eh Pi. " Rio tersenyum sambil mengelus elus tengkuknya.
"Kamu bisa tidur nyenyak kan ?" tanya papinya Melly.
"Bisa om heeee." sahut Rio.
Maminya Melly memasak sopnya sambil mengulum bibirnya menahan tawa.
"Baguslah jadi besok besok lagi kalo papi pengen kamu nemenin papi lihat bola lagi mau kan ?" tanya papinya Melly sambil tersenyum penuh harap.
"i..i..iya Pi heeee." Rio garuk garuk kepalanya kali ini.
"OOO iya hadiahnya papi belum kamu kasih kan ? emm papi pengen pizza yang satu paket tuh lho yang box nya ada beberapa rak." kata papinya Melly.
"Hah ?? beneran papi cuma pengen itu ? " tanya Rio heran.
"Iya, papi pengen dah dari dulu tapi mami tuh pelit kalau soal uang belanja, katanya sayang kalau uangnya buat beli paket pizza semacam itu, katanya uangnya bisa untuk belanja seminggu daripada beli paket pizza yang itu." Papi memonyongkan bibirnya ke arah isterinya.
"Ya iyalah Pi, lagian mami tiap hari masak kan sayang kalau tidak dimakan kalau beli pizza semacam itu kan pastilah masakannya mami dianggurin, lagian satu paketnya mahal banget bisa buat belanja seminggu tuh duit daripada buat beli paketan macam itu." sahut mami sambil menata sopnya diatas meja makan.
"Siap Pi heee nanti pulang kerja Rio beliin deh dan mami nanti pulang kerja nggak usah masak." kata Rio.
"Waaahhh makasih ya nak, kamu tuh memang calon suami idaman, dah ganteng, loyal, pinter masak dan perhatian." kata maminya spontan membuat papinya Melly merengut.
"Lalu aku bukan suami idaman gitu huh !" kata papinya Melly kesal.
"Lha kalau bukan idaman ngapain dulu mami pilih papi." sahut maminya Melly yang disambut senyum sumringah dari suami tercintanya.
Rio merasakan kehangatan di dalam keluarganya Melly. Nggak seperti dirinya, ya memang papa dan mamanya sangat harmonis dan saling setia dalam pernikahan mereka bahkan sangat jarang terlihat bertengkar. Tetapi keduanya sibuk bekerja, membuat Rio sering merasa kesepian. Untung ada Grey.