Lila And Grey

Lila And Grey
The G team



Tiba tiba, Grey yang berjalan di barisan terdepan, mengerem langkahnya dan berjalan mundur.


Otomatis Rio menabrak punggungnya Grey, Chef Charlie menabrak punggungnya Rio, dan Dave menabrak punggungnya Chef Charlie.


"Heeiii, ada apa, kenapa mendadak berhenti?" tanya Dave kesal.


Grey membalikkan badannya dan menatap semuanya "heeeee, maaf ya, tapi aku tiba tiba panik nih, emm, kalau mereka tanya kemana kita akan pergi, apa jawaban kita?" Grey menunjuk ke lantai bawah, ke arah ketiga cewek yang tengah bercengkerama dengan asyiknya.


"Aaah, iya kamu benar" kata Rio.


""Untung, istriku ada di Jepang, jadi aku nggak perlu pusing kali ini" sahut Dave.


"Hah? anda sudah menikah?" Rio dan Grey secara spontan dan bersamaan menoleh ke Dave.


"Iya pastilah sudah, kan dia nih cakep dan keren, mapan lagi" sahut Chef Charlie.


"Aaah, sial, kenapa anda tidak bilang kalau anda sudah menikah, waktu pertama kali kita bertemu, kenapa anda malah membiarkan saya tampak konyol dengan kecemburuannya saya?" kata Grey kesal.


"Hahahaha, anda tidak bertanya kan waktu itu?" tanya Dave.


"Cih!" Grey mendengus kesal sambil menatap Dave.


"Sudah hentikan! sekarang kita pikirkan yang lebih penting, apa alasan kita keluar?" kata Rio.


"Bagaimana kalau membeli susu untuk Lila?" sahut Dave dengan santainya.


"Ngapain elo ikutan mikir, nggak ada istri elo di sini kan, tadi elo bilang gitu, Cih!" Grey kembali kesal.


"Hahahahahaha" Dave senang menggoda Grey, kayanya Dave bakalan menjadi Rio kedua bagi Grey. Suka sekali bikin Grey kesal.


"Jangan pamit shopping! yang ada mereka nanti maksa untuk ikut, Emm, gimana kalau ke bengkel, bilang aja kita mau modifikasi mobil?" sahut Chef Charlie.


"Aaah, om aku memang yang paling cerdas, Grey setuju! ayok kita lanjutkan langkah kita!" sahut Grey dan langsung kembali melangkah di baris terdepan dari pasukan The G team (timnya Grey)


Semua langsung mengekor langkahnya Grey sambil menggeleng nggelengkan kepala mereka, melihat tingkahnya Grey yang suka semau gue.


Mereka akhirnya sampai di ruang tamu, keempatnya berdiri di depan pintu keluar rumahnya Grey sambil menatap Lila, Melly, dan Grace.


Lila,Melly,dan Grace langsung bertanya secara bersamaan "kalian mau ke mana?"


"Ke bengkel" jawab keempat cowok keren tersebut secara bersamaan.


"Ngapain, bukankah mobil kalian aman aman saja waktu meluncur ke sini? mobil kita juga bagus semua kondisinya kan, sayang, memang apa yang rusak?" kata Lila.


Aaah, sial, aku lupa kalau istriku tuh ceriwis sekali, kalau belum dapat jawaban yang pas, bakalan nanya terus nih. Kata Grey di dalam hatinya sambil menatap Lila.


"Mobil dia yang akan dibawa ke bengkel" keempat cowok keren tersebut malah saling tunjuk satu sama lain.


Grey menatap Rio,Chef Charlie,dan Dave dengan sorot mata tajam karena kesal.


Lila semakin heran, Lila pun berdiri dan mendekati Grey.


Mati nih gue, istri gue mulai mendekati gue. Grey berkata dalam hati dan menjadi semakin panik karena bingung.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Lila to the point saat sudah berdiri tepat di depannya Grey.


Grey menelan ludahnya dan menghela napas panjang sambil menatap istri tercintanya itu.


"Aahhh, nggak ada apa apa, kami cuma ingin memodifikasi mobil kami, dan mengecek mobilnya Grey, katanya ada suara aneh kalau pas dijalankan, iya kan, Grey?" kata Rio sambil menepuk pundaknya Grey.


"Oooo gitu, terus untuk apa pengawal pengawal itu?" tanya Lila menunjuk ke pengawal pengawalnya Grey yang ternyata sudah datang dan sudah siap berjaga di depan rumahnya Grey.


Grey menoleh ke arah jari telunjuknya Lila dan kembali menatap istrinya "kita kan mau keluar nih, kalian cewek semua, ya kita khawatir meninggalkan kalian di rumah tanpa penjagaan, ya kan, om" kata Grey sambil menoleh ke Chef Charlie meminta dukungan.


"Iya, benar, kalau ada yang jaga kan kita tenang, hahahaha, tahu sendiri kan, cowok kalau sudah di bengkel dengan mobil kesayangannya tuh bakalan lama" kata Chef Charlie.


Aahhh, sial! aku nih nggak pandai berbohong. Semoga Lila nggak menyadarinya kalau aku tengah membohonginya saat ini.


"Kok, Lila merasa ada yang kamu sembunyikan ya, sayang" kata Lila sambil mendekat dan melihat kedua matanya Grey.


Grey langsung menundukkan wajahnya, mencoba menghindari tatapan matanya Lila.


"Lila, kamu masih percaya sama aku?" sahut Dave.


Grey langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Dave, begitu juga dengan Lila, Lila langsung memalingkan wajahnya untuk menatap Dave.


"Iya, kak" jawab Lila.


Grey menatap Lila dengan kesal. Mau protes, tapi takut diterkam sama Lila dan tidak diijinkan pergi, bisa gawat. Grey pun diam saja, hanya bisa menatap kesal ke istri cantiknya itu.


"Kita beneran akan ke bengkel, kalau kalian mau ikut, ayok! tapi nggak boleh protes kalau lama, secara kan di bengkel tuh nggak nyaman, kotor, bau oli, dan banyak cowoknya" sahut Dave.


Huh! dasar pengacara, sangat pandai bicaranya. Batin Grey dalam hati sambil menatap Dave.


"Oke, baiklah, silakan kalian pergi, keburu siang nanti" kata Lila.


Grey pun langsung tersenyum lega dan mencium bibirnya Lila dengan singkat.


Akhirnya keempat cowok keren tersebut berhasil melangkah keluar dari rumahnya Grey. Tetapi tiba tiba Rio, Chef Charlie, dan Dave secara serempak mengerem langkahnya mereka. Grey ikutan mengerem langkahnya dan menatap ketiga partnernya itu dengan heran.


"Kita pakai mobilnya siapa nih?" tanya Rio, Chef Charlie, dan Dave secara berbarengan dan saling menatap satu sama lain.


"Mobil aku lah, tadi kan bilangnya ke Lila, mobil aku yang rewel" sahut Grey.


"Aaah, iya benar, let's go!" sahut Rio.


"Pakai yang mana nih?" tanya Rio.


Di dalam garasinya Grey, ada lima mobil mewahnya Grey, berjejer sangat cantik dan rapi


"Siapa yang nyetir?" tanya Dave.


"Aaah, sial! ternyata kalian nih ceriwis sekali ya, hadeeehhh" kata Grey sambil menepuk pelan jidatnya.


"Wkwkwkwkwkwkwk" Chef Charlie tertawa lepas melihat tingkah semuanya.


"Pakai mobil yang itu aja bro, mobil itu cocok untuk pengintaian kita" Grey menunjuk ke salah satu mobilnya.


"Oke, emm, jangan aku yang nyetir ya, aku ngantuk nih habis memacul sawah tadi, hahahaha" kata Rio dengan santainya.


"Cih! gila elo" kata Grey sambil mendengus kesal.


"Biar saya saja yang menyetir pak Grey, boleh kan saya mengemudikan mobil mewahnya pak Grey?" tanya Dave.


"Boleh dong" kata Grey sambil menyerahkan kunci mobilnya yang baru saja dia ambil dari laci meja yang ada di dalam grasinya tersebut, ke Dave.


Mereka semua segera masuk ke dalam mobil tersebut dan meluncur ke alamat yang dikirimkan Gilang Erlangga ke ponselnya Grey tadi.


"Waaah, mobil ini keren sekali ya, lengkap dan canggih peralatannya" kata Dave sambil mengemudikan mobilnya Grey.


"Memang ini mobil, mobil spesial" sahut Grey.


"Seharga rumah nih pastinya" Kata Dave kemudian.


"Memang kenapa, mau kamu tuker pakai rumah kamu? nggak akan aku kasih" kata Grey dengan santainya.


"Hahahahaha, nggak gitu juga pak Grey, saya masih perlu bekerja keras beberapa tahun lagi untuk bisa membeli mobil seperti ini" Kat Dave.


"Aaah, jangan merendah gitu elo, elo kan pengacara hebat, keren, besok aja elo pengen beli mobil kaya gini, pasti langsung bisa" kata Grey.


"Hahahahaha" Dave tertawa lepas menanggapi ucapannya Grey.


"Kenapa sepi ya, dari tadi cuma kita aja nih yang bersuara?" kata Grey


Grey langsung menoleh ke jok belakang mobilnya. Nampaklah Chef Charlie dan Rio tengah tertidur pulas.


"Waaaah, ternyata tidur tuh mereka berdua" kata Grey sambil menatap ke arah depan kembali


"Hahahaha, mereka terlihat sangat capek" kata Dave.


"Iya, om Charlie baru saja datang dari kota S dan Rio habis menggarap sawah, hahahaha, memang gila tuh anak" kata grey geli.


"Ya, namanya pengantin baru pak Grey, wajarlah" kata Dave sambil tersenyum dan terus menyetir.


"Elo paham maksud Rio soal menggarap sawah?" tanya Grey.


"Hahahaha, pahamlah, kalau soal begituan antena saya langsung nangkap, hahahaha" kata Dave.


"Elo sama gilanya dengan Rio ternyata, hahahahaha, emm, ngomong ngomong sudah berapa lama elo nikah?" tanya Grey.


"Sudah tiga tahun ini" jawab Dave.


"Sudah punya keturunan dong" kata Grey.


"Sudah, anak saya cowok, umurnya baru satu tahun" ucap Dave sambil tersenyum.


"Waahhh lucu lucunya tuh, kenapa elo tinggal, elo nggak kangen sama istri dan anak elo?" tanya Grey dengan polosnya


"iya kangen lah, tapi saya nggak betah tinggal di Jepang, saya kangen sama tanah air saya, tanah kelahiran saya" jawab Dave.


"Itu yang jadi masalahnya pak Grey, istri saya orang Jepang, dia juga belum bisa meninggalkan keluarganya untuk ikut saya ke sini, makanya saya kasih dia waktu untuk berpikir dulu, kalau dia sudah siap ke sini, saya akan jemput dia" kata Dave.


"Kalau nggak pernah siap, terus gimana?" tanya Grey dengan santainya.


"Hahahaha, saya belum tahu pak Grey. Mungkin kesannya saya terlalu egois, meninggalkan anak istri tanpa beban, tapi ini semua juga demi kebaikan mereka, karier saya tidak bisa berkembang di Jepang. Saya tidak nyaman di sana jadi gairah saya dalam bekerja pun semakin lama semakin menurun, sedangkan di sini saya melihat karier saya bisa berkembang dengan pesat karena saya cinta Indonesia, jiwa dan raga saya terus mengarah ke sini" kata Dave.


"Kalau elo cinta sama Indonesia, kenapa elo nikah sama orang Jepang?" tanya Grey.


"Karena saya melihat banyak kemiripan antara istri saya dengan Lila jadi, saya menikahinya, saya mencintai dia tanpa berpikir panjang, akan segala perbedaan yang ada di depan mata" kata Dave dengan santainya.


"Tunggu dulu, apa kamu bilang tadi, elo menikahi istri elo karena dia mirip sama Lila, Shit! jadi elo ada rasa sama istri gue?" Grey mulai kesal.


"Hahahahaha, jangan emosi dulu pak Grey, saya dulu dekat banget sama Lila, teman saya satu satunya, sahabat saya satu satunya, Lila sangat mengerti dan memahami saya. Lalu secara paksa dan mendadak, papa saya memisahkan saya dengan Lila, tanpa saya bisa pamit sama Lila, saya langsung dibawa ke Jepang, karena mama saya yang asli orang Jepang, tengah kritis kala itu." kata Dave panjang lebar.


"Lalu?" tanya Grey masih nampak kesal.


"Saya tidak punya teman di Jepang, saya merasa asing dan tidak bisa beradaptasi dengan baik, tapi karier papa saya berkembang pesat di sana, papa tidak mempunyai keinginan untuk balik lagi ke Indonesia. Selain demi kariernya, papa saya juga ingin menua bersama mama saya, di Jepang" kata Dave.


"Saya, sangat merindukan Lila, merindukan kampung saya, merindukan semua yang ada di Indonesia." kata Dave.


Grey mendengus kesal karena, ada kata kata merindukan Lila.


"Itulah kenapa, begitu saya bertemu dengan seorang wanita yang sangat mirip dengan Lila, saya bisa langsung akrab, semakin dekat, dan akhirnya menikah" kata Dave.


"Jadi gimana nih?" tanya Grey.


"Maksud pak Grey?" tanya Dave heran.


"Elo tuh cintanya sama Lila apa sama istri elo?" tanya Grey sambil menyiapkan tinjunya, begitu mulut Dave keluar kata kata mencintai Lila, maka Grey berniat untuk langsung mendaratkan tinjunya di wajah tampannya Dave.