
Selesai sarapan papinya Melly pamit ke ruang kerja karena ada beberapa hal yang harus dikerjakan. Kakeknya Melly, Merry dan Rio berkumpul di ruang tamu.
"Kak, kita ghibah sebentar ya cuss habis itu kita main game untuk ngisi kegabutan hari ini, woles aja, kan hari ini hari libur kakak nggak ngantor kan ?" cerocos Merry sambil duduk mepet ke Rio.
Rio menggeser duduknya pelan pelan, mengernyitkan dahinya, karena sumpah dia nggak ngerti sama sekali arti omongannya Merry tadi. emm ghibah, kegabutan, terus woles hadeeehhh anak ini hidup di planet mana ya kok bahasanya aneh gini. Batin Rio.
"Maaf, kakak nggak paham sama sekali apa arti dari kata kata kamu tadi heee" Rio berkata sambil meringis.
"Waaahh umur kakak berapa sih ? udah tua ya kok nggak ngerti bahasa gaul anak jaman now hadeeehhh parah nih." Cerocos Merry.
"Jangan bilang kata tua ya, kakek tersinggung lho hehehehe." Kakeknya Merry terkekeh.
Rio mengulum bibirnya menahan tawa karena asli dia merasa geli melihat tingkah kakek.
"Ayok beb, kita berangkat sekarang " kata Melly yang sudah nongol setelah berganti baju dan mengambil tasnya.
"Lho mau kemana ?" tanya Merry.
"Mau ke rumah sakit dek, nengok isteri bosnya kakak." jawab Melly.
"Ati ati ya, kakek mau ke kamar dulu. " sahut kakek sambil beranjak bangun dari kursi tetapi tampaknya mengalami kesulitan.
"Rio bantu kek, pelan pelan saja." kata Rio sambil meraih tangan Kakek membantu kakek berdiri dari kursinya, lalu mencium punggung tangannya kakek. Kakek mengelus rambut Rio mengucapkan terima kasih lalu melangkah menuju ke kamarnya.
"Yaaa nggak jadi dong quality time sama kak Rio, huh ! " Merry mengerucutkan bibirnya dan berbalik badan masuk ke kamarnya.
Rio menatap Melly sambil menahan geli, dan langsung menarik tangan Melly untuk masuk ke mobilnya dan meluncur ke rumah Grey untuk dulu mengambilkan beberapa baju ganti untuk Grey dan Lila.
Dari rumah Grey, Rio pun meluncurkan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di kamarnya Lila, Rio dan Melly langsung menyalami Ibu Ratih dan orangtuanya Lila yang ternyata sudah pada datang.
Melly mendekati Lila yang masih belum sadar dari komanya. Grey langsung mandi begitu tahu kalau Rio sudah membawakan dia baju ganti.
"Mbak Lila yang kuat ya, cepat sadar mbak, kita semua menunggu mbak untuk kembali berpetualang, dan Melly pengen cepet cepet belajar masak sama mbak Lila, Melly nggak mau kalah sama ayang Bebeb Rio, ternyata ya mbak, ayang bebebnya Melly tuh ternyata jago masak lho. Cepat bangun mbak, nanti kita adakan lomba masak antara mbak Lila sama ayang bebebnya Melly." Melly mengajak ngobrol Lila panjang lebar sambil mengelus elus tangan Lila.
Ibu Ratih dan orangtuanya Lila tersenyum menatap Melly.
Grey sudah selesai mandi berjalan ke sofa dan bertanya sama Rio "Kok lama sih bro ?"
"Maaf, tadi aku mengikuti ujian dulu." Sahut Rio asal.
Grey duduk di samping Rio sambil mengernyitkan dahinya " Ujian apa ?"
"Ujian dari calon mertua heeee." Rio menjawab sambil meringis.
"Waaahh kapan nih mau menyusul Grey ?" tanya Bu Ratih penuh semangat.
"Baru lulus satu ujian Bu, kayaknya masih banyak sekali ujian yang harus Rio tempuh ke depannya nih hehehe." Rio menjawab Bu Ratih sambil meringis menatap Melly.
Melly menoleh dan tertawa lirih "Maafkan papinya Melly yang terlalu kolot ya Beb."
"Ya harus begitu, sebagai orangtua harus bener bener selektif dalam memilih menantu untuk anak perempuannya." Sahut ayahnya Lila.
"Kamu sekarang sudah jadi suaminya Lila kan, berarti sudah lulus dong ujiannya " Ayah Lila berkata sambil menoleh ke Grey.
"Hehehe makasih ya ayah." sahut Grey.
"Lho Dony mana ?" tanya Rio.
"Tadi begitu bangun dia langsung pamit mau menjemput Ratna, paling sebentar lagi nongol dia ." jawab Grey.
"Semuanya sudah sarapan belum nih ?" tanya Rio.
"Sudah nak, terima kasih." jawab Ibunya Lila.
"Pak Grey, tadi di rumahnya Melly ada chef baru lho jago banget masaknya." kata Melly yang masih duduk di samping bednya Lila.
"Siapa Mel ?" tanya Grey.
"Tuh yang duduk di sebelahnya bapak." kata Melly sambil nunjuk Rio.
"oooo iya emang dari jaman kuliah dulu dia tuh udah jago masak " kata Grey tidak tampak kaget.
"Berarti pak Grey juga bisa masak dong ." tanya Melly kemudian.
"Bisa Mel, masak air ." sahut Bu Ratih.
"Ya ngapain gue harus belajar masak kan ada Rio." Grey berujar santai sambil menepuk pundak sahabatnya.
"Password kamu ternyata dari dulu nggak berubah ya bos, kan ada Rio, emm hanya satu kalimat sih tapi tajam menusuk sanubari gue." Rio berkata santai dan disambut tawa semua orang yang ada di kamar tersebut. Grey hanya garuk garuk kepala.
Tidak begitu lama Ratna dan Dony pun nongol, Ratna dan Dony menyalami semuanya. Ratna lalu berjalan menuju ke ranjangnya Lila langsung memeluk tubuh Lila.
"Lila ini aku Ratna, cepat sadar ya nanti kamu harus mendampingi aku Waktu aku wisuda. Satu Bulan lagi Lil aku wisuda ingat itu ya, kamu harus sudah sadar sebelum hari wisudaku." Kata Ratna sambil melepaskan pelukannya dan berganti menggenggam erat tangan Lila.
"Amin" semua yang ada di kamar tersebut berucap amin, menanggapi kata katanya Ratna.
"Masih lemas nggak Don ?" tanya Grey.
"Nggak kok, sudah fit nih setelah mandi dan sarapan tadi. OOO iya kalian sudah sarapan ? kalo belum biar aku belikan." kata Dony.
"Sudah kok, makasih ya." jawab Grey sambil menepuk pundak Dony "Makasih untuk semua bantuanmu Don." tambah Grey.
Dony tersenyum dan menepuk pundak Grey "Santai aja bro, aku udah menganggap Lila sebagai adik aku sendiri. Semoga Lila cepat sadar, aku nggak tega lihat dia seperti itu " kata Dony lirih.
"Kalau saja bisa berganti tempat, aku bersedia menggantikan Lila saat ini." Kata Grey sedih sambil menatap ranjang isterinya.
"Nak, jangan ngomong seperti itu. Kalau Lila mendengarnya, Lila pasti akan merasa sedih. Lila tidak ingin suaminya sakit ataupun terluka makanya dia rela berkorban apa saja untuk melindungi suaminya." kata Ayahnya Lila menanggapi omongannya Grey.
Grey mulai menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terisak. Dony yang berada persis di samping Grey langsung memeluk Grey. Berusaha menenangkan Grey.
"Grey kamu nggak boleh seperti ini, kamu harus tegar dan kuat demi Lila. Ayok nggak boleh cengeng !" kata Bu Ratih tegas.
Grey melepaskan diri dari pelukannya Dony dan mengusap air matanya lalu berkata maaf dengan lirih.