Lila And Grey

Lila And Grey
Suhu badan harus stabil



Grey masuk ke dalam kamarnya Lila dan melihat Lila merentangkan kedua tangannya, Grey langsung menghambur ke dalam pelukan isteri tercintanya yang begitu dia cintai sambil terisak melepaskan berjuta kerinduannya yang selama ini dia pendam.


Benar kata seseorang diluar sana kalau rindu itu berat. Tetapi yang benar tuh iya cinta yang paling berat karena butuh pengorbanan jiwa dan raga, atau malah rasa sayang yang paling berat karena rela tersakiti tanpa pamrih. Batin Grey sok puitis.


Grey melepaskan pelukannya dan menatap Lila "Sayang, bagaimana bisa kamu melakukan hal senekat itu hah ?! kamu membuat aku hampir mati tahu nggak hah ?!" ucap Grey kesal.


"Sayang, teganya kamu ya, aku berusaha keras untuk bisa bangun karena merindukanmu tetapi kamu sekarang ini marah marah sama aku." Lila menatap suaminya dengan sendu.


Grey kembali memeluk Lila, dan mencium kening Lila lama sambil berucap "Aku mencintaimu sayang, aku takut tidak bisa lagi mengatakannya kepadamu, mulai sekarang setiap detik aku akan berkata aku mencintaimu."


Lila tertawa pelan dan mengelus punggung suaminya penuh rasa sayang.


"Sayang, tahu nggak siapa yang menuntun langkah aku untuk bisa kembali kesini ?" kata Lila.


Grey melepaskan pelukannya lalu menatap Lila dan bertanya "siapa ? jangan bilang kalo cowok ya, aku akan masuk ke dalam alam bawah sadarmu dan mencari dia untuk aku mintai penjelasan."


"Apa sih Grey." Bu Ratih menepuk punggung anaknya pelan.


"Dia seorang cowok mirip banget sama kamu sayang, tetapi rambutnya putih dengan sedikit warna abu abu disana, namanya Edward." Lila mulai menceritakan apa yang dia alami di alam bawah sadarnya di saat dia dalam keadaan koma.


Grey dan ibunya langsung bersitatap muka. Bagaimana bisa, Lila bertemu dengan papanya Grey, padahal Lila belum pernah melihat beliau dan belum pernah bertemu dengan beliau.


"Apa Bu Ratih dan nak Grey kenal ?" tanya Bu Endang saat melihat Grey dan ibunya bersitatap muka.


"Iya Bu, emm sepertinya cowok yang Lila temui di alam bawah sadarnya adalah papanya Grey, ciri cirinya sama dan namanya pun Edward.


"Sayang, apa benar itu ? berarti papa mertuanya Lila sayang dong sama Lila, tetapi sayang, papa mertua masih hidup kan ?" tanya Lila.


"Entahlah " Grey menaikkan bahunya.


"Nak, nanti kalo kamu sudah pulih betul kita ceritakan semuanya ya. Maaf kalo selama ini kami tidak pernah menceritakan soal papanya Grey " kata Bu Ratih sambil mengelus lembut pipinya Lila.


Lila pun menganggukkan kepalanya.


"Oh iya Bu, apa ayah sudah diberi kabar kalo Lila sudah sadar ?" tanya Grey.


"Sudah nak, tadi Lila sudah menelepon papanya via video call." sahut ibu mertuanya.


Tiba tiba pintu kamar terbuka dan Rio pun nongol sambil terengah engah.


"Lho bro, kamu kok bisa ke sini ?" tanya Grey sambil mengernyitkan dahinya.


"Tadi Melly, menelepon aku mengatakan kalo kamu tuh lari terburu buru keluar dari kantor, aku langsung kepikiran Lila. Syukurlah kalo ternyata Lila baik baik saja dan Sudah tersadar dari komanya." sahut Rio masih terengah engah.


""Makasih ya kak, untuk semua bantuannya. " kata Lila kepada Rio.


"Sama sama Lil." jawab Rio sambil tersenyum.


""Bu, apa kata dokter ?" tanya Grey kemudian.


"Apa yang harus kita lakukan agar suhu tubuh bisa stabil, apa Bu ? dokter bilang nggak tadi ?" tanya Grey lagi lebih detail.


"Ada, kata dokter kamu tidak boleh dekat dekat sama Lila karena cinta itu kan membara bikin panas kan, lha itu nggak bagus untuk kestabilan suhu badan." jawab Bu Ratih asal, sengaja untuk menggoda Grey.


"Apa benar gitu bro ?" Grey menoleh ke arah Rio.


"Lha iya betul itu, kalo ada cinta bisa bikin hati dan seluruh badan kita menjadi hangat kan,


nah bahaya tuh bisa menaikkan suhu badan." jawab Rio sambil menatap Bu Ratih yang tengah mengulum bibir menahan tawa.


Grey langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Lila, lalu bangun dari tempat tidurnya Lila, sambil berkata "sayang, maaf ya untuk sementara kita berjauhan dulu, hanya sampai besok kok, setelah itu suamimu ini akan selalu memberikan kehangatan untukmu."


"Uhuk uhuk " Rio terbatuk batuk, langsung merasakan kalau saat ini dia pun merindukan Melly.


"Apa elo batuk batuk mulu, makanya jangan kebanyakkan makan permen cicak." kata Grey asal.


Bu Ratih dan Bu Endang langsung tertawa terbahak bahak melihat tingkah polosnya Grey yang begitu mudahnya dibohongi. Sedangkan Lila hanya tersenyum dan menggeleng nggelengkan kepalanya.


Rio pun tersenyum menatap kepolosannya Grey, tetapi hal itulah yang melengkapi persahabatan mereka. Yang membuat persahabatan mereka bisa awet sampai sekarang ini. Rio yang terlampau peka dan Grey yang terlampau polos.


"Aku akan menelepon Dony " kata Rio kemudian.


"Oh iya bro, aku sampai lupa soal Dony. Sayang, Dony yang mendonorkan darahnya untuk kamu." kata Grey sambil menatap Lila.


"Iya , Dony golongan darahnya O sama dengan aku." jawab Lila.


"Kok kamu bisa tahu ?" tanya Grey mulai berbau aroma kecemburuan lagi.


"Ya namanya juga sahabat, kita sudah bersahabat dari SMA sayang. Sama kayak kamu dan kak Rio." jawab Lila sambil tersenyum.


"Bedalah, aku sama Rio sahabatn sejak SD dan kita sama sama cowok lha kamu sama Dony tuh........."sahut Grey yang langsung dipotong sama Bu Ratih "Sstt mau aku kucir tuh mulut kamu, ampun deh bawelnya kok kayak nenek nenek."


Grey langsung diam dan garuk garuk kepalanya.


Rio sudah mengabari Dony, setelah menjemput Ratna, Dony akan kesini. Setelah itu Rio pun pamit mau pulang mandi dan membawa Melly kesini nanti.


Bu Ratih menyuapi Lila saat Bu Endang sedang mandi. Grey duduk di sisi kirinya Lila. Lila menoleh ke suaminya dan berkata "sayang, kamu makan dulu gih, kamu pasti capek kan tadi sudah mulai kerja."


"Nanti aja, aku masih kenyang. Aku ingin melihat kamu terus karena sumpah Lila, aku sudah kangen banget melihat senyum kamu, melihat mata kamu, dan mendengarkan suara kamu." kata Grey penuh cinta.


"Habis ini, ibu sama Bu Endang keluar sebentar ya mau beli makan sama ambil baju ganti buat besok." kata Bu Ratih.


"Nggak usah Bu, Grey udah pesan Rio nanti kalo kesini sekalian bawa baju ganti sama makanan yang banyak sekalian, untuk syukuran kecil kecilan bareng sama Dony, Ratna,Rio,Melly." jawab Grey.


Lila meraih dan menggenggam tangan Grey. Grey langsung terlonjak kaget dan menarik tangannya dari genggamannya Lila, dan berkata "Sayang, ini bahaya lho kalau kita berpegangan tangan bisa membuat suhu badan kamu naik nanti, jangan dulu ya, sabar ya."


Bu Ratih dan Lila pun spontan tertawa.