
Sepeninggalnya pak Charlie, Bu Ratih mengajak Lila untuk makan siang.
Bu Ratih pun memulai ceritanya kembali.
FLASHBACK ON
Charlie memulai aksinya saat melihat Ratih menata kue kue hasil karya terbarunya Ratih di atas nampan untuk dia bawa ke ruangannya Edward. Edward ingin mencicipinya.
"Ratih sebentar emmm aku mau ngomong " kata Charlie.
"Ya ada apa chef ?" tanya Ratih.
"Kamu selama ini belum pernah refreshing kan ? belum pernah keluar untuk jalan jalan melepas penat sejenak" Kata Charlie sambil tersenyum menatap Ratih penuh arti.
"Emm Ratih kan sibuk chef, bisa istirahat kalau kafe sudah tutup dan itu kan sudah larut malam" jawab Ratih mulai membawa nampannya dan mulai menatap Charlie.
"Hari ini kafe tidak begitu ramai, aku juga sudah bilang sama Edward tadi emm kita nanti sore keluar jalan jalan yuk" kata Charlie.
"Kemana ?" tanya Ratih.
"Aku ajak kamu ke suatu tempat yang sangat indah, dekat kok dari sini " Kata Chalie penuh semangat.
"Emm baiklah chef, kalau dekat dari sini Ratih mau, sebentar ya Ratih mau ke ruangannya mister Edward dulu." jawab Ratih.
"Ok silahkan, terima kasih ya sudah mau aku ajak jalan jalan" Kata Charlie dan dibalas Ratih dengan senyuman manisnya.
Ratih masuk ke ruangannya Edward dan berkata "permisi mister, ini kue kuenya"
"Hmmm taruh aja di atas meja sofa dan kamu duduklah sebentar " kata Edward.
Ratih melangkah ke sofa dan menaruh kuenya diatas meja dan mulai duduk, tidak lama kemudian Edward pun berdiri dari meja kerjanya dan melangkah mendekati Ratih dan duduk di sampingnya Ratih.
"Tolong kamu suapin ya, karena tangan aku kotor nih habis pegang beberapa contoh model kayu untuk desain kafe ini" kata Edward santai.
Lila merasa canggung sebenarnya tapi akhirnya menuruti perintah bosnya.
"Emm enak, kamu pinter banget bikin kue ternyata ya, oooo iya tadi pas kamu tidur, aku ambil gambar coretan desain kamu tanpa permisi, maaf ya" kata Edward.
"Aahh tidak apa apa mister lagian saya cuma iseng dan nggak penting juga gambar desain saya itu" jawab Ratih.
"Nggak penting gimana, aku suka kok gambar desain kamu bagus dan aku sudah suruh Charlie untuk mulai mengeksekusinya besok, makanya ini tadi aku langsung melihat lihat beberapa model kayu yang cocok dengan desain kamu." kata Edward penuh semangat.
"Hah ?" Ratih spontan ternganga dan menaruh piring yang berisi kue ke atas nampan lagi.
"Iya, dan aku akan kasih kamu bayaran gambar desain kamu sesuai dengan keunikan dan keindahannya." jawab Edward.
"Aahh terima kasih banyak mister, dan syukurlah kalau mister cocok dan suka." jawab Ratih.
"Sama sama, nanti aku kasih uangnya ya untuk bayaran desain kamu." sahut Edward kemudian.
"Baik mister terima kasih, lalu kuenya ini bagaimana ?" tanya Ratih.
"Aku cocok juga, bilang sama Charlie untuk mulai memasukkannya ke dalam menu kafe kita." kata Edward.
"Baik mister, saya permisi " Ratih membawa nampannya dan hendak beranjak pergi.
"Emmm sebentar Ratih, Charlie sudah bilang ke kamu kalau nanti dia mau mengajak kamu jalan jalan ?" tanya Edward.
"Aahh iya mister " jawab Ratih sambil tersenyum.
"Kemana ?" tanya Edward.
"Saya tidak tahu mister, tadi chef Charlie tidak mengatakan nama tempatnya." jawab Ratih.
"Oooo ya sudah pergilah" ucap Edward agak kesal.
Ratih pun melangkah keluar meninggalkan ruangannya Edward.
Tanpa terasa langit mulai menguning dan Charlie penuh semangat melepas seragam chefnya, menyemprotkan parfum dan mulai mengajak Ratih untuk keluar jalan jalan.
Ratih masuk ke dalam mobil sedan merahnya Charlie dengan canggung, karena seumur umur dia belum pernah naik mobil semewah ini.
Dan tanpa mereka sadari, Edward sedari tadi sudah bersiap di dalam mobilnya yang sengaja dia parkir agak jauh di belakang mobilnya Charlie.
Edward pun mulai mengikuti mereka.
Sesampainya di tempat yang dimaksud Charlie, Charlie pun turun dari mobil dan berlari untuk membukakan pintu mobil untuk Ratih.
Mereka sampai di suatu restoran mewah dengan desain pemandangan alam yang begitu indah, ada miniatur jembatannya juga, yang membelah taman bunga yang sangat indah.
"Aahhh indah sekali Chef" kata Ratih.
Charlie meraih tangan Ratih tanpa permisi dan menggenggamnya lalu mengajak Ratih untuk masuk ke dalam restoran tersebut.
Edward menatap Ratih dan Charlie dengan kesal dan mulai merasa cemburu.
Edward masih duduk di belakang kemudi mobilnya, dia masih bingung masuk apa tidak ke dalam restoran tersebut.
Charlie ternyata sudah memesan satu tempat yang spesial dan Ratih sangat menyukainya "Silahkan kamu pesan apa yang kamu suka" kata Charlie saat pramusaji restoran tersebut menghampiri mereka dan menyodorkan buku menu.
Ratih meraih buku menu tersebut mulai membukanya dan mulai mengernyitkan dahinya, haahh harga makanannya mahal mahal banget nih, batin Ratih.
Charlie paham maksud dari tatapannya Ratih saat menatap buku menu tersebut. Akhirnya Charlie yang berinisiatif memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka.
"Emm chef Charlie ulang tahun ya, kok ngajak Ratih ke tempat semewah ini, dan makanannya mahal mahal semuanya ?" tanya Ratih sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan restoran tersebut.
"Hahahaha aku nggak ulang tahun, aku cuma capek aja setiap hari bekerja dan pengen refreshing aja sama kamu, anggap saja ini sebagai reward dari aku untuk kamu, karena kamu sudah banyak membantu pekerjaanku selama ini" jawab Charlie.
"Terima kasih chef " jawab Ratih sambil tersenyum
Makanan yang Charlie pesan akhirnya datang, mereka makan dengan sangat tenang. Karena jujur saat ini hatinya Charlie berdegup sangat kencang, mempersiapkan beberapa kata untuk menembak Ratih.
Tanpa mereka sadari tidak jauh dari tempat mereka duduk, Edward selalu mengawasi Ratih dan Charlie.
Akhirnya mereka selesai makan, Charlie menaruh kartu kreditnya di atas nampan ynah disodorkan pramusaji hotel tersebut, mereka menunggu proses pembayarannya.
Tidak begitu lama pramusaji tersebut datang kembali menghampiri Charlie dan menyerahkan kartu kreditnya Charlie sambil tersenyum dan mengangguk.
"Ratih, kita ke jembatan itu yuk emm untuk menghirup udara segar sebentar sebelum balik lagi ke kafe" kata Charlie.
Ratih pun mengangguk dan mengikuti langkah Charlie menuju ke jembatan mungil yang membelah taman bunga yang berada di sebelah kanan restoran tersebut.
Charlie menghela napas pelan dan mulai berkata "Ratih, aku mau ngomong tapi jangan membuat kamu jadi terbebani ya nantinya."
"Ok Chef " jawab Ratih sambil tersenyum.
"Aku menyukai kamu Ratih dan aku harap kamu mau jadi pacar aku " kata Charlie dalam satu napas tanpa jeda.
"Hah ?" Ratih ternganga.
Dan dari arah berlawanan Edward mulai mendekati mereka dan berkata "Aku juga menyukaimu "
Ratih menoleh ke arah Edward dengan terkejut. Charlie pun kaget dan mulai kesal Saat melihat Edward tiba tiba nongol dan mengganggu acaranya. Aahh sial nih Edward. Batin Charlie kesal.
Ratih diam mematung, tidak tahu harus bersikap bagaimana dan tidak tahu harus berkata apa saat dilihatnya kedua bosnya saling menatap dengan tatapan kesal.
"Ratih jawab kamu pilih siapa ?" kata Edward dan Charlie secara bersamaan.
"Ratih minta maaf Ratih belum bisa menjawabnya saat ini, kasih Ratih waktu ya." jawab Ratih lirih.
"Baiklah " jawab Edward dan Charlie secara bersamaan lagi.
Edward menatap Ratih dan berkata "Kamu pulang bareng aku aja ya "
"Mana bisa, Ratih kan aku yang ngajak jadinya pulangnya bareng sama aku lah" Kata Charlie kesal.
"Tapi aku nggak rela kalau cewek yang aku suka naik mobil cowok lain" ucap Edward tanpa menoleh ke arah Charlie, Edward terus menatap Ratih.
"Ya lalu aku rela gitu, aku juga sama bro, tapi maaf di sini aku yang menang karena aku yang ngajak Ratih jadi aku harus bertanggung jawab membawanya pulang." sahut Charlie kesal.
"Aahh sial, kamu benar bro, ya sudah aku terpaksa menitipkan Ratih sama kamu, tapi kamu harus menjaga dia dengan baik baik " jawab Edward lalu melangkah pergi meninggalkan Ratih dan Charlie.
Ratih masih mematung dan benar benar bingung saat ini bagaikan bisa dalam semalam ada dua orang cowok yang menembak dia sekaligus, dan kedua cowok itu semuanya adalah bosnya dia.
Hiks hiks hiks. Aku harus bersikap bagaimana nih ke depannya nanti. Batin Ratih.
"Ratih, kata kata kami tadi jangan membuat kamu terbebani ya, santai aja ke depannya, aku sabar kok menunggu jawaban dari kamu" kata Charlie sambil tersenyum dan menatap Ratih.
"Ayok kita balik ke kafe !" ajak Charlie.
Ratih pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya dan mulai mengikuti langkahnya Charlie menuju ke parkiran mobilnya Charlie.
FLASHBACK OFF