
Stephanie Simpsons
"Aku mulai dari saat Daddy balik ke London ya, emm waktu itu our Grandma kritis dan akhirnya meninggal, Daddy sangat sedih dan terpukul" Stephanie mulai bercerita.
"Daddy selama beberapa hari setelah pemakamannya Grandma selalu mengurung diri di kamar, dan my Mom, selalu mendampingi Daddy selama Daddy di London." tambah Stephanie.
"Akhirnya, Daddy memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah dua Minggu di London dan telah menyelesaikan semua urusannya, tetapi my Mom tidak mengijinkannya, my Mom sangat mencintai Daddy dan tidak ingin kalau Daddy balik ke Indonesia" kata Stephanie.
"Mereka akhirnya bertengkar sangat hebat, karena saat akan balik ke Indonesia, Daddy langsung menyerahkan surat cerai untuk ditanda tangani my Mom." Stephanie berhenti sejenak untuk mengambil napas.
"Pertengkaran mereka menjadi sangat hebat, Daddy tetap melangkah pergi meninggalkan my Mom sambil berkata kalau akan menunggu my Mom menanda tangani surat cerai mereka dan meminta Mommy untuk mengirimkan surat cerai yang sudah ditandatangani ke Indonesia" Stephanie menghembuskan napasnya pelan.
Grey melirik Rio, ngapain tuh anak Corat coret di atas kertas ya. Batin Grey.
"Lalu, my Mom memukul Daddy dengan sebuah tongkat baseball yang ada di ruang kerjanya Daddy, dan Daddy langsung jatuh tersungkur tidak sadarkan diri. Aku kira Daddy meninggal saat itu, aku langsung berlari mendekati Daddy dan menangis saat itu, tapi my Mom langsung menarik aku dan memasukkan aku ke dalam kamar lalu menguncinya"
"Daddy ternyata masih hidup, tapi mengalami amnesia, Daddy hanya ingat kenangan masa lalunya sampai dia menikah sama my Mom, Daddy tidak ingat sama sekali akan kenangan dia bersama kalian" Kata Stephanie.
"Pantas saja, waktu ibu memberanikan diri untuk menelepon papanya Grey, setelah satu tahun kepergiannya ke London dan tanpa kabar berita. Tetapi papa Edward tidak kenal sama ibu, itulah kenapa ibu menjadi sangat kecewa dan tidak mau meneleponnya lagi" kata Bu Ratih sedih.
"Iya Bu, Daddy masih amnesia waktu itu, makanya Daddy tidak ingat sama ibu" ucap Stephanie sambil meraih tangannya Bu Ratih.
"Aaah maaf sebentar ya, bro elo ngapain ?" tanya Grey ke Rio.
"Aaahhh hahahahaha aku nyimak kok lanjutkan saja ya Stephanie " sahut Rio sambil mendongakkan kepalanya menatap Stephanie.
"Iya tapi elo ngapain ?" kata Grey masih penasaran apa yang tengah Rio lakukan.
"Heeee gue bikin gambar anime versi Melly dan Lila, tapi gue nyimak kok" sahut Rio.
"Aaahh benarkah ? mana gue pengen lihat " Grey langsung sumringah.
Rio menunjukkan salah satu hasil dari gambarannya.
"Mirip Melly nih, cih! ngapain elo kasih gue gambarnya Melly" Grey mendengus kesal.
"Hahahaha ya sebentar bro, satu satu, nih gambar animenya Lila " kata Rio sambil menyerahkan ke Grey gambar dia yang satunya.
"Waaaahh bagus banget " Lila dan Melly spontan melongok untuk melihat hasil gambarannya Rio.
"Bagus bro, nanti elo pigura ya gambar ini, gue mau pasang di kamar " kata Grey sambil menyerahkan gambar tersebut ke Rio.
"Melly juga mau gambarnya Melly di pigura Beb" sahut Melly.
Rio menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke Melly penuh cinta.
"Stop bro, jangan corat coret lagi walaupun elo tuh nyimak tapi ganggu tahu enggak sih" kata Grey kemudian.
"Hahahaha ok ok, gue berhenti corat coret nih, silakan lanjutkan ceritanya Steph, maaf ya udah ganggu heeee" kata Rio ke Stephanie.
Stephanie tersenyum dan berkata "Tidak apa apa"
"Lalu, Daddy pun terus seperti itu selama bertahun tahun, dan my Mom tidak berniat untuk menyembuhkan Daddy, karena my Mom takut diceraikan sama Daddy, dan takut kalau Daddy meninggalkannya dan kembali ke keluarganya di Indonesia." Stephanie menatap Grey penuh dengan tatapan maaf.
"Cih ! kurang ajar betul mama kamu, kasihan Papa, seharusnya aku menemuinya, seharusnya aku.............." Grey tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Lila mengelus elus dada bidang suaminya dan berkata "Semua sudah berlalu sayang, dan itu bukan kesalahan kamu, kita seharusnya bersyukur karena masih diijinkan sama Tuhan untuk bisa bertemu dengan Papa sebentar lagi, bersyukur karena Papa sangat kuat dan bisa bertahan selama ini"
"Lila benar Grey " sahut Bu Ratih.
"Lalu ?" Rio meminta Stephanie untuk melanjutkan ceritanya.
"Itu terjadi lima tahun yang lalu, Daddy mulai menyebutkan nama Ratih dan Grey, lima tahun yang lalu." tambah Stephanie kemudian.
"My Mom tidak menyukainya, my Mom mulai mencari dokter yang bisa diajak bekerja sama untuk membuat ingatan Daddy tidak mengarah ke kalian" kata Stephanie.
"Tetapi, setiap kali aku disuruh mommy untuk menyuapi Daddy dan memberikan obat untuk memperburuk ingatannya Daddy, aku selalu buang obat itu." kata Stephanie.
"Aku sangat menyayangi Daddy karena Daddy itu orang yang sangat baik dan sangat menyayangi aku, aku juga ingin Daddy menjadi pulih secara utuh, bisa mengingat kembali siapa itu Grey dan Ratih" kata Stephanie kemudian.
"Dan usahaku berhasil, dua tahun yang lalu Daddy mulai mengingat kalian, mulai bisa menyebutkan secara lengkap nama Greyson Adi Wijaya Simpsons, dan Ratih Wijaya, mulai mengingat rasa cintanya sama Ratih Wijaya dan Grey" Stephanie menghela napas untuk menahan rasa haru yang tiba tiba hinggap di hatinya"
Bu Ratih mulai terisak menangis, Stephanie langsung memeluk Bu Ratih yang duduk di sampingnya.
Mata Grey pun mulai berkaca kaca, ada perasaan sesal di hatinya, kenapa selama ini dia tidak peduli sama papanya, kenapa dan kenapa, kata itu yang ada di benak Grey saat ini.
Lila menggenggam erat tangan Grey dan mengusap usap punggung suami tercintanya itu.
Stephanie melanjutkan ceritanya sambil memeluk Bu Ratih yang masih menangis.
"Daddy mulai bisa bercerita dan Daddy mulai ingat akan bahasa Indonesia dan mulai mengajarkan bahasa Indonesia sama aku" kata Stephanie dengan mata berbinar binar.
"Hari lepas hari ingatannya Daddy semakin bagus dan beranjak pulih bahkan Daddy ingin segera balik ke Indonesia dan menemui kalian, ingin memulihkan sepenuhnya ingatan dia bersama kalian, tapi sungguh sial Mommy mengetahui semuanya, Mommy mulai melarang aku untuk menemui Daddy, dan Mommy langsung mengambil alih tugas aku selama ini, menyuapi dan memberikan obat ke Daddy" kata Stephanie.
"Daddy tahu maksud buruk dari Mommy dan bisa mengelabui Mommy untuk tidak menelan obat tersebut, tapi Mommy juga tidak kalah pintar, dia akhirnya membayar seorang dokter untuk datang seminggu sekali memberikan suntikan ke Daddy, entah suntikan apa yang diberikan dokter tersebut, dan itu sudah berlangsung selama satu tahun ini" kata Stephanie.
"Sampai akhirnya, aku berhasil membawa Daddy ke rumah sakit saat Mommy lengah, aku bersyukur ternyata kondisinya Daddy belum begitu parah, untuk itulah aku langsung menemui Rio saat tahu Rio ke sini beberapa bulan yang lalu" kata Stephanie kemudian.
"Aku berusaha sekuat tenaga untuk menolong Daddy lepas dari cengkeramannya Mommy, aku kecewa dan sedih memiliki Mommy yang sangat egois dan jahat, maafkan Stephanie" kata Stephanie sedih.
"Itulah kenapa aku memberanikan diri untuk menelepon kamu Grey" tambah Stephanie.
Bu Ratih melepaskan diri dari pelukannya Stephanie dan berkata sambil mengelus lembut pipinya Stephanie "Kamu tidak bersalah nak, justru kami berterima kasih kamu bersedia mendampingi Daddy kamu selama ini sehingga kondisinya tidak begitu parah, dan kamu sudah memberi info bagi kami, terima kasih nak"
"Sama sama ibu, Stephanie langsung merasa sayang sama ibu, tidaklah heran kalau Daddy sangat mencintai ibu, ibu begitu baik tidak seperti Mommy nya Stephanie" jawab Stephanie dan langsung mencium pipinya Bu Ratih.
"Kurang ajar cih ! maaf aku tidak bisa memaafkan Mommy kamu, tapi jangan khawatir aku tidak akan bertindak terlalu kejam sama Mommy kamu mengingat kebaikan kamu selama ini sama papa aku" kata Grey kemudian.
"Maaf, aku tidak bisa berlama lama di sini, takut kalau my Mom mencari aku, aku serahkan semua ke tangan kalian, aku pasrah apapun yang akan kalian lakukan untuk my Mom, karena Mommy memang pantas untuk dihukum atas semua perlakuannya selama ini sama Daddy, aku pamit, dan tolong secepatnya kalian selamatkan Daddy" Stephanie langsung berdiri, menganggukkan kepalanya dan langsung buru buru pergi untuk pulang ke rumahnya.
"Kasihan sekali pak Edward ya " kata Melly sedih.
"Grey, ajak Ibu untuk bertemu dengan Papa kamu" kata Bu Ratih.
"Sabar Bu, kalau kondisinya seperti ini akan sulit bagi kita untuk bisa menemui papa secara terang terangan, maminya Stephanie pasti tidak akan mengijinkan kita untuk menemui Papa" jawab Grey.
"Grey benar Bu, kita harus bersabar, biarkan Rio dan Grey berdiskusi dulu untuk mencari jalan yang aman untuk menyelamatkan Om Edward, dan sepertinya bukan kita yang ke sana kalau kita Ingin bertemu om Edward, tapi kita yang harus membawa Om Edward ke sini" tambah Rio.
"Aku juga berpikir seperti itu bro, emm sebaiknya kita ke ruang kerjaku sekarang kita bahas lebih lanjut masalah ini" kata Grey kemudian sambil beranjak berdiri dari tempat dia duduk.
"Lila ikut rapat ya" kata Lila mulai berdiri dan mengekor langkahnya Grey dan Rio.
Spontan Grey dan Rio menoleh ke Lila dan berkata "Nggak boleh"
Lila pun mengerem langkahnya, mengerucutkan bibirnya dan kembali melangkah ke sofa untuk duduk lagi.
Bu Ratih tersenyum dan mendekati Lila lalu merangkul bahunya Lila.
"Kamu sedang hamil nak, biarkan Grey dan Rio yang membereskan semuanya" kata Bu Ratih sambil mengelus elus bahunya Lila.
Melly pun ikutan mendekati Lila meraih tangannya Lila dan berkata "Ibu benar mbak"
Tidak begitu lama terdengar suaranya Rio, menyuruh Melly ke ruang kerjanya Grey.
Melly pun langsung berdiri dan meluncur dengan segera ke ruang kerjanya Grey.