Lila And Grey

Lila And Grey
Detektif Conan beraksi



Grey menarik napas dalam dalam lalu, menghembuskanya pelan pelan. Grey lalu berdiri, melihat Grey yang tiba tiba berdiri, Dave, dan Rio pun secara spontan ikutan berdiri.


Grey mengulurkan tangannya ke arah Dave, dan berkata "maafkan saya"


Dave menyambut uluran tangannya Grey dan berkata "saya juga meminta maaf, pak Grey"


Mereka lalu duduk kembali.


"Grey, kamu temui Lila dulu gih !" kata Rio.


"Dimana Lila ?" tanya Grey langsung berdiri lagi.


"Di ruanganku " jawab Rio..


"Maaf, saya permisi dulu" Grey menganggukan kepalanya ke Dave lalu melangkah pergi.


Ceklek


Grey membuka pintu ruangannya Rio, lalu melangkah masuk.


Melly berdiri, menganggukan kepalanya ke Grey, lalu melangkah keluar dari ruangannya Rio, dan menutup pintunya dengan pelan.


Lila langsung bersedekap dan memalingkan wajahnya. Lila lama lama capek menanggapi kecemburuannya Grey yang seringkali tidak beralasan.


Grey melangkah mendekati isterinya, lalu duduk di sampingnya Lila.


Lila langsung menggeser letak duduknya menjauhi Grey.


Grey menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya dengan cepat.


"Sayang, jangan marah dong !" kata Grey sambil meraih tangannya Lila.


Lila langsung menepis tangannya Grey, lalu bersedekap lagi.


"Sayang, maafkan aku, jangan diam saja, ngomong dong, atau mau pukul aku, nih pukul aja !" Grey meraih paksa salah satu dari tangannya Lila dan dia pukulkan di atas dada bidangnya.


Lila langsung menarik paksa tangannya dari genggaman tangannya Grey.


"Sayang " kata Grey mulai merasa sedih dicueki sama Lila.


Lila akhirnya tidak tega saat Lila melirik Grey dan melihat wajah sedihnya Grey.


"Huufftt, Lila capek dicemburui terus " kata Lila masih bersedekap.


Grey bangkit berdiri dan berpindah tempat untuk duduk jongkok di depannya Lila "karena aku cinta dan sayang banget sama kamu, aku takut kehilangan kamu " kata Grey sambil mendongak menatap matanya Lila.


"Tapi ya jangan berlebihan !" kata Lila dengan nada kesal.


"Berlebihan yang seperti apa ?" tanya Grey polos.


"Hufftt masih nanya lagi ?" kata Lila semakin kesal.


"Ya, aku nggak tahu berlebihan yang seperti apa karena, menurut aku, aku nggak berlebihan, wajar dong seorang suami bersikap posesif sama isterinya, apalagi punya isteri cantik, unik, dan menarik seperti kamu " Grey mencoba menggoda Lila.


"Nggak lucu" Lila berucap dengan wajahnya yang masih cemberut.


"Lalu, kamu mau yang lucu seperti apa ?" tanya Grey.


"Seperti ini ?" kata Grey sambil menggembungkan pipinya, dan kedua bola matanya, dia taruh di tengah, semuanya, mirip orang juling.


Lila secara spontan dan tidak sadar, langsung tertawa ngakak melihat wajah lucu suaminya.


Grey merasa senang bukan main. Akhirnya Lila bisa tertawa lepas dan tidak cemberut lagi.


Grey lalu duduk di sampingnya Lila, merangkul bahunya Lila, dan mencium pipinya Lila.


"Maafkan aku ya, sayang" kata Grey sambil menaruh kepalanya Lila untuk bersandar di bahunya.


Lila menghembuskan napasnya pelan pelan dan berkata "sayang, cemburu itu boleh, posesif itu boleh, sebenarnya jujur ya, aku tuh senang kalau kamu itu posesif dan cemburu sama aku, itu tandanya kamu sangat mencintai aku"


"Aaahhh, benarkah ?" kata Grey langsung sumringah.


"Tapi, ada tapi nya nih" tambah Lila.


"Tapi, apa ?" tanya Grey sambil menciumi kepalanya Lila.


"Jangan cemburu buta, aku juga butuh kepercayaannya kamu, kalau tidak berlebihan ya, jangan marah !" kata Lila.


"Contohnya ?" Grey bertanya dengan polosnya.


"Huufftt, contohnya ya barusan tadi" jawab Lila mulai kesal karena, Grey belum menyadarinya juga.


"Kalau kamu melihat aku berpelukan sama cowok lain............"


"Jangan dong !" Grey langsung memotong perkataanya Lila.


"Dengarkan dulu !" kata Lila kesal.


"Iya, baik, teruskan !" ucap Grey dengan nada mengalah.


"Kalau ini kalau, jangan langsung emosi !" tambah Lila kemudian.


"Iya, iya, tuan Puteri" ucap Grey dengan polosnya.


"Kalau aku main gila sama cowok lain dan kamu menangkap basah aku, nah, kamu baru boleh emosi. Kalau sekadar ngobrol sama cowok, kamu jangan marah !"


"Aku nggak marah kalau kamu ngobrol sama Rio, Papa, Dony, dan Om Charlie, mereka cowok, kan" ucap Grey tanpa dosa.


"Sayang " Lila mulai menaikkan volume suaranya.


"Iya, oke, aku nurut sekarang, mau kamu apa ?" ucap Grey tulus.


"Aku minta kenali dulu situasinya, jangan langsung ngawur kaya tadi !" kata Lila.


"Oke " Grey mulai mencari bibirnya Lila lalu menciumnya.


"Ummm" Lila mulai protes.


Grey melepaskan ciumannya dan bertanya "masih ada lagi ?"


"Iya, aku kan sudah jelaskan kemarin, kalau aku sama kak Dave itu tidak ada hubungan apa apa, aku sudah anggap kak Dave sebagai kakak jadi, kami harus percaya sama aku !" kata Lila.


"Percaya sama aku kalau aku akan selalu menjadi isteri Yang setia, aku tidak akan pernah selingkuh, aku tidak akan pernah........."


"Uumm uummm" Lila tidak bisa melanjutkan kata katanya karena, Grey kembali membungkam bibirnya Lila dengan bibirnya.


Grey melepaskan ciumannya dan berkata "Iya baiklah, maafkan aku !"


"Aku selalu memaafkan kamu, sayang" kata Lila sambil tersenyum dan menatap Grey dengan penuh cinta.


"Aku juga sudah minta maaf sama Dave tadi" tambah Grey.


"Aahh, suaminya Lila memang yang terbaik" kata Lila sambil menghambur masuk ke dalam pelukannya Grey.


Grey sebenarnya masih tidak rela tapi, benar kata Rio dan Lila, dia harus mempercayai Lila.


Grey akhirnya menganggukan kepalanya.


Lila lalu berdiri dan menggenggam tangannya Grey "Ayok, kita temui kak Dave"


Grey tersenyum senang dengan sikapnya Lila, Lila ternyata mengajak dia untuk menemui Dave. Lila ternyata tidak berniat untuk menemui Dave seorang diri.


Grey lalu berdiri, menangkup wajah isterinya dengn kedua tangannya dan berkata "aku percaya sama kamu sayang, temuilah Dave di ruangannya, aku kasih kalian kesempatan untuk bernostalgia"


"Tapi " Lila nampak ragu menatap suaminya.


"Pergilah, temui Dave, aku juga masih punya banyak pekerjaan " Grey berkata dengan serius.


"Terima kasih untuk kepercayaan kamu, sayang" Lila mencium bibir Grey, lalu melangkah pergi, menuju ke ruangannya Dave, yang dulunya merupakan ruangannya pak Bram, penasehat hukumnya Grey.


Grey menatap kepergiannya Lila dengan tersenyum. Grey duduk kembali di atas sofa yang ada di ruangannya Rio. Tidak begitu lama Rio pun masuk.


"Lila mau kemana ?" tanya Rio.


"Menemui Dave " kata Grey santai.


"Sendirian ? di ruangannya Dave ? kamu ijinkan ?" tanya Rio heran.


"Iya dong, tapi, sebentar lagi aku mau menyusulnya " kaya Grey sambil tersenyum penuh arti.


"Maksudnya, kamu mau memata matai mereka ?" tanya Rio.


"Yups, Bingo !" jawab Grey.


Grey kemudian berdiri sambil melangkah pergi meninggalkan Rio di ruangannya, Grey berkata "detektif Conan mau beraksi dulu, Bro"


"Grey, tetaplah Grey" gumam Rio sambil menggeleng nggelengkan kepalanya.


Grey masuk ke sebuah ruangan kosong, ruangan tersebut bersebelahan dengan ruangannya Dave.


Grey bisa mendengarkan percakapannya Lila dan Dave, karena di ruangan kosong tersebut ada sebuah pintu yang, menghubungkan ruangan tersebut dengan ruangannya Dave.


Grey pelan pelan mengangkat sebuah kursi dan duduk di depan pintu tersebut, untuk menguping.


Grey mengamati Lila dan Dave lewat CCTV yang tersambung ke ponselnya.


Grey melihat Dave sedang duduk di sofa di depannya Lila.


Sopan juga tuh anak, bagus. Batin Grey.


"Kak, kapan sampai di Indonesia, kakak pindah ke Jepang karena, Mamanya kakak sakit kan, waktu itu ?" tanya Lila.


"Iya, Mama sakit keras waktu itu, kita berpisah, waktu kamu SMP kelas tiga ya ?" ucap Dave.


"Iya kak, Lila menangis sepanjang hari waktu itu " kata Lila.


Grey mulai kesal mendengarkan perkataannya Lila. Lila menangisi kepergiannya cowok itu, shit! Grey hendak membuka pintu tersebut dan protes tapi, dia urungkan, dia teringat kata katanya Lila, kenali dulu situasinya. Huffftt sabar Grey, sabar. Batin Grey.


Grey kembali melihat layar ponselnya sambil menguping di balik pintu, Grey menempelkan telinganya di pintu tersebut.


"Hahahaha, kamu cengeng juga ya ternyata" kata Dave.


"Iya lah kak, secara, kakak itu teman Lila satu satunya, yang selalu menjaga Lila, yang mengajari Lila bela diri, yang selalu ada buat Lila kalau, Ibu dan Ayah sampai di rumah, sudah larut malam" kata Lila.


Grey mendengarkan kata katanya Lila dengan sedih. Kehidupan Lila semasa kecil ternyata sama seperti dia, kesepian. Dia punya Rio dan Lila punya Dave.


Grey kembali menyimak obrolannya Lila dan Dave.


"Hahahaha, kakak juga butuh teman waktu itu, dan kamu teman yang asyik" ucap Dave.


What ?? teman yang asyik?? Batin Grey kembali kesal.


"Kamu itu tomboy, persis kaya cowok, aku sering lupa lho kalau kamu itu cewek" tambah Dave.


Oooo seperti itu ternyata, batin Grey lega.


Mereka bersahabat seperti aku sama Rio, karena Dave menganggap Lila sebagai cowok, hahahaha waktu kecilnya Lila, pasti lucu banget ya, Grey tertawa ngakak, tanpa bersuara tapi, tanpa dia sadari kepalanya membentur pintu.


Pintunya pun jadi mengeluarkan bunyi Buk yang cukup keras.


Grey langsung kaget dan membeku.


"Siapa itu ?" terdengarlah suaranya Dave.


Secara spontan Grey mengeong "Meong meong" menirukan suara kucing.


"Oooo kucing " kata Dave lega.


"Eh, mana ada kucing kak, yang ada tuh tikus" sahut Lila.


Dan secara spontan Grey pun mencicit "cit cit cit cit"


"Aneh ya Lil, kucingnya bisa berubah suara menjadi tikus" Dave berucap sambil berdiri dan beranjak mendekati pintu yang memisahkan kedua ruangan tersebut.


Grey langsung mengunci pintunya.


Ceklek......ceklek.....ceklek


"Terkunci ya, nih pintu ?" tanya Dave ke Lila.


"Iya kak, ruangan itu kosong, kalau pak Bram tidak masuk maka, sekretarisnya pun juga tidak masuk" jawab Lila.


"Ooooo, ya sudahlah, mungkin kucing sama tikusnya lagi bermesraan di ruangan itu " kata Dave santai.


"Wkwkwkwkwkwk kak Dave, ternyata masih sangat lucu ya" kata Lila.


"Sudah ya kak, Lila balik dulu ke ruangannya Lila" kata Lila.


Begitu mendengar kalau Lila mau balik ke ruangannya maka, Grey pun langsung buru buru pergi dari ruangan tersebut dan berlari menuju ke ruangannya.


Melly menatap bosnya dengan heran, ngapain lari lari di dalam ruangan ya. Batin Melly heran.


Grey berlari melewati Melly, lalu mundur lagi mengerem langkahnya dan berkata sama Melly "anggap saja kamu tidak melihat aku yang sedang berlari, oke ?"


"Siap pak " jawab Melly.


Grey lalu melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya dengan santai, saat mendengar langkah kaki Lila mulai mendekatinya.


"Sayang " Lila langsung melingkarkan kedua tangannya ke lengannya Grey.


Grey menoleh dan tersenyum.


Melly menatap heran keduanya.