
Sementara itu di rumahnya Grey, Melly sudah selesai memasak, mulain menata nasi goreng dan telor ceplok kreasinya di atas meja makan, sedangkan Bu Ratih dan Pak Edward juga sudah selesai berdoa.
Melly akhirnya selesai menata semua masakannya di atas meja makan, dia melepas celemeknya, dan melangkah memuju ke ruang tamu, dimana Ibu Ratih dan Pak Edward berada saat ini.
"Maaf, makan siangnya sudah siap" kata Melly.
"Aahhh iya Mel, terima kasih ya sudah memasak makan siang, maaf Ibu malah nggak kepikiran sama sekali untuk masak" sahut Bu Ratih sambil berdiri.
Pak Edward pun ikutan berdiri dan mulai mengekor langkahnya Melly dan Ratih, me uji ke ruang makan.
"Maaf, Melly cuma bisa memasak nasi goreng sama telor ceplok heeee" kata Melly sambil garuk garuk kepalanya.
"Nggak apa apa Mel, ini sudah lebih dari cukup" kata Bu Ratih.
"Terima kasih ya nak, ini enak sekali, baru kali ini om bisa makan seenak ini " kata Edward yang nampak sangat lahap memakan nasi goreng bikinannya Melly.
"Sama sama om" kata Melly tersenyum senang.
Kasihan pak Edward, pasti selama ini dia kesulitan makan dan minum karena menyimpan kerinduan yang sangat besar sama Bu Ratih dan putranya, itulah kenapa Pak Edward tampak sangat kurus dan lesu. kata Melly di dalam hatinya.
"Mas, makan pelan pelan " kata Ratih saat dia menoleh ke mas Edwardnya dan melihat mas Edwardnya makan dengan sangat lahap, seperti korban bencana alam yang tengah kelaparan.
Edward hanya membalas tatapannya dan tersenyum, dia tidak bisa berkata kata karena mulutnya penuh dengan nasi goreng.
Melly tersenyum terharu menatap Bu Ratih dan Pak Edward, syukurlah mereka bisa bertemu kembali. Batin Melly sangat senang dan penuh syukur.
"Ibu mengkhawatirkan Lila, dia kan belum sempat makan siang tadi, juga Grey, Rio dan Chef Charlie" kata Bu Ratih mulai sedih lagi.
"Tenang Bu, kita doakan saja mbak Lila cepat bisa diselamatkan dan semuanya bisa pulang ke rumah dengan selamat" kata Melly.
"Aaamiinnn" Bu Ratih dan Pak Charlie secara serempak merespon perkataannya Melly.
Bean mulai memasang seat beltnya, mulai bersiap untuk kembali melajukan mobilnya karena, Bean melihat mobil dinas kepolisiannya Amber, Bean hapal nomer plat nomer mobil tersebut.
"Nona maaf, taruh dulu sandwichnya, kita harus pergi sekarang " kata Bean tanpa mengatakan kepada Lila, kalau mobil dinasnya Amber terlihat di seberang jalan.
Lila menoleh ke Bean dengan heran, dan langsung protes "tadi katanya suruh santai, sekarang tergesa gesa mau jalan lagi, memangnya ada apa sih ?"
Bean diam saja tidak merespon pertanyaannya Lila, dia langsung memutar balik mobilnya, karena jika dia mengambil jalan lurus ke depan, dia akan berpapasan dengan mobilnya dinasnya Amber.
Amber masih mengedarkan pandangannya, dan bingo !!! dia melihat mobilnya Bean sudah melaju dengan cepat di depannya maka, dengan segera Amber langsung melajukan mobilnya kembali untuk mengejar mobilnya Bean.
Bean tidak tahu kalau saat ini Grey, Rio, dan pak Charlie tengah melaju ke arahnya.
Sedangkan James beserta kelima anak buahnya, yang berada dalam sebuah mobil Van, terus melaju dengan cepat dan berada tidak jauh di belakang mobil dinasnya Amber.
Bagaimana Amber bisa mengejar aku, dan tahu keberadaanku saat ini, aaahhh Shit ! pasti ada alat pelacak di mobilku ini. Kata Bean di dalam hatinya.
Aaahhh Shit ! kenapa aku tidak mengeceknya terlebih dahulu tadi. Batin Bean kesal.
"Pelan pelan bawa mobilnya ! aku sedang hamil" kata Lila mulai protes, saat Bean mulai menambah kecepatannya, dan mulai nampak panik dalam mengendarai mobilnya.
Bean hanya melirik Lila sesaat, tapi tidak membalas perkataannya Lila.
"Kamu yakin, kita ambil jalan yang benar nih ?" tanya Rio sambil melirik Grey.
"Aku selalu yakin sama feeling aku bro, makanya aku bisa sukses dalam berbisnis karena, aku selalu percaya sama feeling aku" jawab Grey.
"Oke, walaupun ini, kita berlawanan arah dengan keberadaannya Ivan, yang nampak di layar, tapi aku percaya sama kamu" Kata Rio.
Bean tidak menyadari kalau di depan dia mobilnya Grey mulai mengarah kepadanya, semakin cepat dia menambah kecepatan, maka semakin cepat pula dia akan berpapasan dengan mobilnya Grey.
Sedangkan Amber berada di belakang mobilnya Bean, dan terus melakukan pengejaran.
"Kalian lapar tidak ?" tanya pak Charlie tiba tiba.
"Iya sih om, tapi Rio kan sedang nyetir, lagian mana sempat kalau kita berhenti sebentar untuk makan" sahut Rio.
"Aku tadi pagi pagi buta bikin burger, sebelum Ivan datang, kalau Ivan sudah datang, aku tidak diijinkan memasak di dapurnya" Charlie mulai curcol.
"Hahahaha emang gila tuh bocah ya, gimana mau nggak nih burgernya ? aku bawa empat tadi, soalnya aku tuh kalau habis fight pasti lapar hahahahaha" Charlie berucap sambil mulai menggigit burgernya.
"Maaf, om makan aja, Grey tidak berselera untuk makan" sahut Grey.
Rio melihat pak Charlie lewat rear-vision mirror yang ada di dalam mobilnya Grey
"om selalu bawa ransel ya sepertinya, isinya senjata om ?" tanya Rio.
"Hahahaha mana ada senjata, om bawa obat obatan, Snack, dan bekal makanan hahahaha" kata Charlie sambil mengunyah makanannya.
"Aku suapin ya " kata pak Charlie tiba tiba memajukan tubuhnya ke depan dan menyodorkan burgernya ke mulutnya Rio.
Rio kaget dan spontan membuka mulutnya, dan hap ! lalu ditangkaplah si burger oleh mulutnya Rio.
"Makasih om, tapi nanti aja ya om, enak burgernya om, sip" kata Rio sambil mengunyah burger yang tadi disuapkan sama pak Charlie.
"Baiklah, fokuslah menyetir dulu, maafkan om ya" Kata pak Charlie.
"Hahahaha nggak apa apa om, santai aja" sahut Rio.
"Apa Lila sudah makan ya bro ? gue mengkhawatirkan anak dan isteri gue nih, kamu tahu kan Lila tuh nggak bisa makan sembarangan, dia bakalan mual dan muntah, aahhh shit ! kalau sampai terjadi apa apa sama Lila dan anakku, akan aku bunuh Bean" kata Grey mulai marah.
"Lila itu kuat, cerdas dan mandiri, aku yakin dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri dan anak kalian" kata Rio mencoba menenangkan Grey.
Grey diam saja tidak merespon perkataannya Rio, Grey kembali memasang wajah kakunya dan bersedekap.
Sementara itu, James menelepon Amber, James mulai mengatur strategi penyergapan, saat Amber mengatakan kalau saat ini dia berada tidak jauh dari mobilnya Bean.
"Ivan, can you help me ?" kata Amber kepada Ivan.
"Yes mam, what can I do for you ?" sahut Ivan penuh semangat.
"Please call Mister Grey !" tambah Amber.
"Well then, what should I say to Mister Grey?" tanya Ivan.
"Say, that we've found Bean and we are chasing after Bean now" kata Amber sambil terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ivan langsung menelepon Grey dan memberikan info kalau mereka sudah menemukan Bean dan saat ini mereka tengah melakukan pengejaran atas Bean.
"And You, Miss Egi, emm I will appreciate it a lot, if you just stay in the car later" kata Amber sambil menatap ke Egi lewat rear-vision mirror yang ada di dalam mobilnya.
"Maaf saya ridak mengerti kata kata anda" kata Egi ke Amber.
"Aahhh shit ! how can I communicate with you if you can not speak English" Amber bingung sendiri, bagaimana caranya agar Egi bisa memahami maksudnya.
Ivan menutup sambungan teleponnya dengan Grey, lalu menoleh ke Egi, Ivan mulai mencoba menjelaskan ke Egi dengan bahasa tubuh, yang artinya Egi nanti diam saja di dalam mobil.
Egi malah semakin bingung dan malah mengikuti gerakannya Ivan, karena pikirnya Egi, Ivan sedang mengajak dia untuk melakukan senam, untuk meregangkan otot otot tubuh karena kelamaan tertidur di dalam mobil tadi.
"What are you doing now?" kata Ivan melotot kesal ke arah Egi, saat Egi terus saja mengikuti gerakannya.
Egi malah nyengir dengan polosnya ke arah Ivan.
"Aiisshh whatever" kata Ivan dengan kesal dan mulai bersedekap.
Amber tertawa lepas melihat tingkahnya Egi dan Ivan.
"Do you know the meaning of stay, stay in the car ?" tanya Amber kepada Egi.
Egi menggeleng nggelengkan kepalanya dan berkata "aku ngelu iki, dijak ngomong mbi sampeyan sampeyan iki, ora mudeng blas Ki aku, piye iki piye ?" Egi mulai bingung dan keluarlah bahasa jawanya lagi.
Ivan menoleh sekilas ke Egi dan berkata lagi "whatever"
"Egi oooo Egi, Kowe iki kok yo, mudengmu kok Yo, mung basa Jawa to yo yo" kata Egi kepada dirinya sendiri.