
"Suster eh dokter" teriak Grey dari bilik ayahnya Lila.
Dokter dan suster pun datang bersamaan, suster yang judes langsung menyemprot grey "pak, ini ICU besok besok lagi jangan teriak teriak tuh ada tombol kenapa nggak pencet tombolnya." kata suster judes sambil melotot ke arah Grey sedangkan dokternya hanya tersenyum lalu buruan memeriksa ayahnya Lila.
"Anda tolong keluar dulu ya, nggak muat nih tempatnya ." kata suster judes yang masih melotot ke arah Grey.
Hiihhh galak bener nih suster, kayak nenek sihir. Batin Grey.
Grey pun melangkah keluar dari ruang ICU melepas baju khusus dari rumah sakit. lalu membuka pintu.
sambil tersenyum Grey menatap Lila dan ibunya Lila bergantian "Lil, Bu ada kabar gembira, ayah sudah sadar."
saking gembiranya Lila sama ibunya bersamaan menghambur ke pelukan Grey yang membuat Grey melangkah agak mundur ke belakang karena kaget.
Tidak berapa lama suster judes yang tadi keluar "keluarga bapak Hadinanta" Ibunya Lila melepaskan pelukannya lalu melangkah ke arah suster tadi.
"Iya, saya istrinya." sahut ibu Endang ibunya Lila.
"Bapak sudah sadar ini mau dipindah ke kamar reguler mau ndaftar ke kelas apa silahkan ke pendaftaran dulu, ini kita juga akan menyiapkan bapak dulu untuk dipindahkan.
Grey mendengar itu semua lalu pamit ke Lila untuk pergi ke pendaftaran. Lila mencegah Grey "tunggu ibu dulu kak." namun Grey hanya tersenyum dan tetap melangkah pergi ke pendaftaran.
Lila memandang wajah bingung ibunya, karena saat ini semua uang yang ada di kios dan semua dagangannya sudah ludes terbakar. Lila menghampiri ibunya dan memeluk ibunya.
Tiba-tiba bed nya ayah Lila sudah keluar dan dibawa untuk dipindahkan ke kamar reguler. Ibunya langsung mengikuti kemana bed suaminya dibawa pergi oleh para perawat.
"Bu, Lila cari kak Grey dulu ya,." ibunya Lila mengangguk.
Lila celingukkan mencari Grey di tempat pendaftaran kok nggak ada ya. tiba tiba Lila dipeluk dari arah belakang.
"Cari aku ya sudah kangen aja baru ditinggal sebentar" suara Grey terasa hangat di telinga dan hati Lila .
"kak, ayok cepat nanti kita ketinggalan mereka tuh." tunjuk Lila ke arah bed ayahnya yang mulai belok ke arah kamar reguler.
"Iya cantikku Lilaku sayangku ayok kita susul." sahut Grey sambil menarik tangan Lila.
Bed ayah Lila didorong masuk ke ruangan VVIP yang membuat ibunya Lila bingung
"maaf suster, apa tidak salah kamar ? saya juga belum mendaftar tadi." tanya Bu Endang bingung.
"Benar Bu ini kamarnya dan ini perlengkapannya bapak, terus ini obat obatannya ya Bu, tolong dibaca aturan minumnya. kami tinggal dulu, permisi." sahut Bu suster.
Tidak begitu lama Grey dan Lila nongol masuk ke kamar. Melihat Lila, ayahnya Lila tersenyum lebar. Lila pun menghambur memeluk ayahnya.
"Nak Grey maaf ya ibu tinggal sebentar, ini mau ke pendaftaran mau menanyakan perihal pembayaran dan minta pindah kamar. "
Grey merangkul Bu Endang, menuntun Bu Endang untuk duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.
"Bu, nggak usah khawatir, kamar ini saya yang mendaftarkannya dan sudah saya bayar lunas untuk 3 hari ke depan, kalo misalnya ayah harus dirawat lebih lama, ya saya tinggal nambah aja nanti " kata Grey sambil menggenggam tangan ibu Endang.
"Maaf kalo saya mendahului Bu." sahut Grey lagi yang langsung dipeluk sama Bu Endang.
"Terima kasih banyak nak Grey, nanti ibu pasti ganti tapi dengan cara mencicilnya ." kata Bu Endang sambil melepaskan pelukannya dan menatap Grey.
"Terima kasih nak. " kata Bu Endang sambil mengelus elus pundak Grey.
Grey berdiri melangkah ke arah ayahnya Lila saat melihat ayahnya Lila menggerakkan tangannya menyuruh Grey untuk mendekat.
Grey mencium punggung tangan ayah Lila. dan duduk diatas bed sambil memijit kaki ayahnya Lila.
"Terima kasih nak, sudah menuntun Ayah kembali ke keluarganya ayah. kamu kan yang tadi berbicara sama ayah waktu ayah tidur." kata ayahnya Lila lirih.
Grey tersenyum dan terus memijit kaki ayahnya Lila.
"Kamu Lila kesini nak " Lila pun mendekat berdiri di samping Grey, agar ayahnya bisa menatap Lila.
"Ayah merestui kalian berdua, tapi nikahnya harus nunggu Lila lulus dulu ya nak." pinta ayahnya Lila yang langsung dipeluk sama Grey.
"Terima kasih ayah untuk restunya, ayah sekarang istirahat dulu jangan banyak berbicara dulu." Grey pun melepaskan pelukannya agar ayah bisa beristirahat dan beranjak melangkah ke sofa lagi diikuti Lila.
Bu Endang tersenyum memandang anak dan calon menantunya yang baik,sopan dan tampan.
"Kak, kakak kan belum mandi ?" tanya Lila begitu mereka duduk di sofa.
Grey melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 10 "kakak sebenernya mau balik ke hotel aja, tapi kok rasanya capek banget ya."
"Ya udah kakak tidur aja disini, ruangannya besar dan Sofanya pun panjang terus ada extra bednya juga."kata lila
"Ya nak, malam ini tidur dulu aja disini besok baru ke hotel ." sahut Bu Endang.
Grey berdiri "ya udah sebentar ya, kakak ambil koper kakak dulu."
"Lila ikut kak." Grey pun mengangguk dan mereka pun keluar kamar menuju ke parkiran mobil untuk mengambil kopernya Grey.
Saat bagasi terbuka Grey menarik Lila hingga terduduk di dalam bagasi dan Grey mulai mencium bibir Lila, ********** dan berhenti sebentar untuk membiarkan Lila bernapas lalu kembali ******* bibir Lila meraih tengkuk Lila untuk memperdalam ciumannya, Grey merasa hampir hilang kendali saat Lila juga membalas dan menikmati ciumannya.
"Lil, ayok balik ditunggu ibu nanti. kata Grey begitu dia melepaskan ciumannya, Grey memeluk Lila untuk meredamkan gairah masing masing.
Setelah siap kembali ke kamar, Grey berdiri mengambil koper menutup bagasi mobilnya menguncinya lalu menggandeng tangan Lila sambil menarik kopernya.
"Kak, Lila sayang kakak jangan pernah mengkhianati Lila ya kak." kata Lila sambil menoleh ke arah Grey.
"Iya kakak cuma miliknya Lila dan Lila cuma miliknya kakak." sahut Grey tersenyum.
Sesampainya di kamar, Lila membuka kopernya Grey menyiapkan baju ganti untuk Grey dan Grey pun meraih baju yang sudah disiapkan Lila dan masuk ke kamar mandi.
Saat Grey keluar dari kamar mandi, ibu Endang dan ayah Hadinanta sudah tertidur. Bu Endang tertidur di sofa.
"Kak, kakak tidur di bed aja biar nyaman. kakak pasti capek tadi menyetir lama banget dan seharian belum istriahat," Grey pun mengangguk.
Lila pun merebahkan diri di sofa yang ada di depan sofa yang sudah ditiduri ibunya.
Grey pun merebahkan diri di extra bed yang ada di sebelah kanan sofa. Grey pun tak begitu lama tertidur pulas Lila masih terjaga dia takut kalau kalau ayahnya bangun dan butuh sesuatu tidak ada yang mendengarnya.