Lila And Grey

Lila And Grey
Sleeping beauty



Hanya dalam waktu lima menit. Rio sudah sampai di klinik yang tadi dimaksud sama sang detektif. Grey langsung membopong tubuh istrinya ke dalam klinik tersebut. Beberapa suster tampak tergopoh gopoh lalu mempersilahkan Grey untuk membawa Lila masuk ke dalam ruang UGD.


Tidak begitu lama bed nya Lila dibawa oleh beberapa suster keluar dengan tergesa gesa menuju ke ruang operasi kecil, yang merupakan ruang operasi darurat, untuk pertolongan pertama saja.


Salah satu perawat menemui Grey mengatakan bahwa pasien akan ditangani oleh dokter, perlu dilakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan peluru dari bahu sang pasien, dan Grey diminta menandatangani surat persetujuan.


"Tolong lakukan yang terbaik dan selamatkan isteri saya." Ucap Grey setelah mendatangani surat persetujuan tersebut dan perawat tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Tidak begitu lama muncul lagi perawat yang lainnya menemui Grey mengatakan kalau pasien membutuhkan donor darah, persediaan darah di klinik tersebut menipis. Golongan darah Lila O, sedangkan Grey B dan Rio AB.


"Saya O ambil darah saya sebanyak banyaknya sus." Dony tiba tiba nongol, dan langsung berlari mengikuti langkah perawat tersebut untuk segera mendonorkan darah Dony bagi Lila.


Grey langsung terduduk lemas di kursi dan memejamkan mata untuk berdoa. Rio pun melakukan hal yang sama.


Operasi berjalan selama 3 jam. Rio dan Grey belum berani mengabari ibu Ratih maupun Ibu Endang.


Mereka menunggu operasinya Lila sambil terus mondar mandir dan sebentar duduk lalu berdiri lagi, Dony yang sudah bergabung dengan mereka setelah diambil darahnya juga melakukan hal yang sama.


Akhirnya operasinya selesai dan dokter yang menangani Lila keluar dari ruang operasi tersebut dan menghampiri Grey.


Dokter mengatakan kalau operasi sementara berhasil, tetapi untuk perawatan lebih lanjut, Lila harus segera dibawa ke rumah sakit yang lebih besar. Grey pun setuju.


Setelah menyelesaikan semua administrasi dan mobil ambulans telah siap, akhirnya Lila dalam keadaan belum sadar dibawa menuju ke rumah sakitnya Papanya Rio.


Grey masuk ke dalam mobil ambulans yang membawa Lila. Rio mengajak Dony masuk ke mobilnya, biar mobil Grey nantinya diambil oleh sopir kantor.


Rio mengkhawatirkan kondisinya Dony yang masih lemah setelah diambil darahnya, pasti akan berbahaya kalo menyetir sendirian.


Mereka akhirnya sampai di rumah sakit tempat papa dan mamanya Rio berdinas.


Papanya Rio merupakan direktur rumah sakit tersebut. Dalam perjalanan tadi, Rio sudah menghubungi papanya dan meminta tolong sama papanya untuk menyiapkan kamar yang terbaik dan pelayanan yang terbaik buat Lila.


Lila langsung dibawa ke kamar khusus, lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan kamar VVIP.


Beberapa dokter spesialis terpilih sudah mulai berdatangan untuk melihat kondisinya Lila.


Grey, Rio, Dony dan papa mamanya Rio menunggu di sofa yang ada dalam kamar tersebut.


Tidak begitu lama seorang dokter senior menghampiri Grey, ikut duduk di sofa dan memberikan penjelasan kalau Lila sudah tertangani dengan baik, syukurlah operasinya berjalan dengan baik dan bisa cepat mendapatkan donor darah.


"Tetapi........." dokter tersebut tampak ragu untuk meneruskan ucapannya.


"Tetapi kenapa dok ? isteri saya kenapa ?" tanya Grey mulai panik.


"Kondisi pasien sangat lemah dan mengalami trauma secara fisik dan mental akibat luka tembakan tadi, kemungkinan pasien akan mengalami koma selama beberapa hari ke depan." jawab dokter tersebut.


"Berapa hari dok, untuk kasus sebelum sebelumnya ?" tanya Grey lemah.


"Tergantung fisik dari si pasien itu sendiri. paling cepat 3 hari tetapi ada juga kasus yang mengalami koma sampai satu bulan, bapak harus sabar dan kuat mendampingi isteri bapak selama koma nanti." ucap dokter tersebut sambil menepuk bahu Grey.


Akhirnya dokter tersebut berdiri dan mengangguk ke arah papanya Rio, lalu keluar dari kamar tersebut.


"Kamu yang sabar ya Grey, Lila berada di rumah sakit yang terbaik dan Lila anaknya kuat pasti tidak akan lama mengalami koma." Kata papanya Rio mencoba menenangkan Grey.


"Amin om, terima kasih untuk bantuan dan doanya." Kata Grey sambil menatap lembut papanya Rio, yang sudah dia anggap seperti papanya sendiri.


"Nak, kamu sudah menghubungi ibu kamu dan ibunya Lila ?" tanya mamanya Rio.


"Belum Tante, emm Grey enggak tahu gimana caranya memberitahukan tentang hal ini. Grey takut ibu Grey, dan Ibu mertua Grey akan shock dan ayahnya Lila nanti.................." Grey tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.


"Biar Rio aja kalo gitu yang menelepon." kata mamanya Rio.


"Bro, aku bisa menelepon orangtuanya Lila emm biar aku aja yang menelepon orangtuanya Lila ." Dony langsung permisi dan berdiri melangkah keluar dari kamar tersebut.


Rio pun langsung berinisiatif menelepon Ibu Ratih. Bu Ratih kaget setengah mati tetapi kemudian bersyukur saat tahu kalo kondisinya Lila sudah stabil, dan langsung berkata kalo akan berangkat besok pagi pagi sekali di penerbangan pertama. Karena malam ini juga sudah sangat larut.


Bu Ratih menanyakan perihal Grey, dan Rio mengatakan kalo Grey baik baik saja tetapi masih belum ingin berbicara dengan siapa pun juga. Bu Ratih langsung paham dan akhirnya menutup sambungan telepon tersebut.


Dony masuk kembali ke dalam kamar, masih menempelkan HP di telinganya, dan mengabarkan kalau ibu beserta ayahnya Lila akan langsung berangkat kesini


Rio langsung meraih HPnya Dony untuk berbicara dengan ayahnya Lila, mengatakan kalau Rio akan memesankan tiket pesawat besok pagi di penerbangan awal, dimohon supaya Ayah dan Ibunya Lila bersabar sampai besok, karena akan sangat berbahaya melakukan perjalanan selarut ini lagipula kondisi Lila juga sudah stabil. Ayahnya Lila pun akhirnya setuju.


Papa dan mamanya Rio pamit. Tinggal Dony, Grey dan Rio yang berada di dalam kamar tersebut.


Grey melangkah mendekati bed isterinya, duduk di sebelah bed nya Lila.


"Bagaimana bisa kamu senekat ini sayang." Grey berucap lirih sambil meraih tangan Lila dan menggenggamnya erat.


Dony menelepon Ratna, mengabarkan apa yang terjadi dan menyuruh Ratna untuk tetap diam saja di rumahnya Lila, besok baru ke rumah sakit dijemput sama Dony.


Rio menerima pesan text dari sang detektif yang mengabarkan kalo Melly sudah pulang ke rumahnya dan sudah sadar dari pingsannya. Uci dan Ari pun juga sudah balik ke rumah Grey, dan Raymond sudah dipenjara.


Untuk sementara Rio hanya menjawab OK pada pesan text tersebut. Karena sumpah secara jiwa dan raga dia sangatlah lelah.


Rio menoleh ke Dony yang sudah nampak tertidur. Rio paham Dony pastilah lemah habis diambil darahnya tadi.


"Grey, kamu istirahatlah dulu." Kata Rio.


"Tidurlah Bro kalo kamu capek, aku masih mau menunggui sleeping beauty ku dulu." sahut Grey lirih.


Akhirnya Rio pun merebahkan dirinya di sofa dan mulai memejamkan mata, sebenarnya dia mau menelepon Melly tapi mengingat sudah larut malam akhirnya Rio mengurungkan niatnya. Hanya mengirim pesan text singkat tidurlah mimpi yang indah, besok pagi aku ke rumahmu. I Love you.


🌞🌞🌞🌞BERSAMBUNG🌞🌞🌞🌞


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya readersπŸ™ terima kasih πŸ€—