
Rio, Pak Edward, dan Grey setelah menyelesaikan makan malam mereka, mereka langsung masuk ke dalam ruang kerjanya Grey.
Bu Ratih pamit untuk masuk ke dalam kamarnya, karena ada beberapa pesan text dari pelanggan butiknya maka, Bu Ratih harus membalas semua pesan text tersebut dengan segera.
Chef Charlie akhirnya akur sama Chef Ivan, mereka membahas beberapa masakan Asia, yang belum begitu dikuasai sama Ivan.
Sedangkan Lila ditarik sama Melly untuk masuk ke dalam kamarnya. Melly ingin bertukar pendapat sama Lila, mengenai beberapa hal soal persiapan pernikahan karena, Rio akan segera melamarnya begitu mereka sampai di Indonesia.
Melly mulai menunjukkan beberapa barang yang kemarin dia beli bareng sama Rio, ada alat make up, sepatu, tas, dan lingerie.
Lila nampak mengerutkan dahinya saat mengambil salah satu lingerie yang dibeli sama Melly dan berkata "mbak, ini baju kok kaya gini, gimana makainya ?"
"Hahahaha mbak Lila belum pernah melihat lingerie ya, belum pernah pakai juga ?" tanya Melly geli, saat melihat ekspresi wajahnya Lila.
"Belum, heeee" jawab Lila dengan polosnya dan mulai menggaruk nggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sebenarnya.
"Masa sih belum pernah pakai ?" Melly langsung merasa heran.
"Pak Grey enggak membelikannya untuk mbak Lila ?" tanya Melly dengan senyum usilnya.
Blush
Pipi Lila langsung merona malu.
"Hahahahaha kalian kok polos sekali sih, memangnya mbak Lila benar benar tidak pernah beli dan memakai lingerie ?" Melly masih bertanya dengan heran.
"Iya, emm, Lila malu pakai beginian, lagian Lila juga tidak tahu cara pakainya, heeee"
jawab Lila sambil nyengir ke arah Melly.
"Wah wah wah, Pak Grey ternyata kalah pengalaman sama ayang Bebeb Rio, hahahaha" Melly mulai ngakak.
"Mbak, aku kasih satu deh lingerienya" Kata Melly kemudian.
"Hah ? mana boleh begitu ?" sahut Lila kaget.
"Lho, kenapa nggak boleh, Melly beli banyak
kok kemarin, emm, ada 3 set nih " Melly mulai menunjukkan semua lingerie yang dia beli kemarin, ke hadapannya Lila.
"Emm, aku malu mbak, aku kan sudah hamil, mana boleh pakai lingerie ?" ucap Lila dengan polosnya.
"Hahahahaha memang ada aturan kalau orang hamil nggak boleh pakai lingerie ?" tanya Melly sambil ngakak lepas, mendengar kepolosannya Lila.
Lila langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya dan menggeleng nggelengkan kepalanya. Lila tidak bisa membayangkan saat dia memakai lingerie, bagaimana nanti reaksinya Grey.
"Hahahahahaha aduh aduh, aku nggak tahan pengen ketawa terus nih" ucap Melly sambil ngakak lepas dan memegangi perutnya.
"Pilih aja mbak, suka yang warna apa, ayok !" kata Melly.
"Saran Melly, setelah nanti mbak Lila dapat lingerienya, buruan sembunyikan, untuk kejutan, biar Pak Grey senang, hihihihihi " Melly mulai lagi tersenyum usil menatap Lila.
"Mbak Melly aja yang pilih buat Lila ya, Lila bingung mana yang pantas buat Lila " kata Lila kemudian.
"Waaahh siap dong, emmm, yang ini aja ya, simple modelnya dan praktis cara pakainya " Kata Melly sambil menyerahkan satu set lingerie warna hitam.
"Berapa harganya mbak, nanti Lila transfer ya uangnya, buat ganti " kata Lila sambil meraih satu set lingerie hitam yang disodorkan sama Melly.
"Nggak usah diganti, anggap saja hadiah dari Melly " Melly berucap dengan senyum tulusnya.
"Waahhh terima kasih banyak mbak " Lila tersenyum penuh kasih menatap Melly.
"Sama sama, itu pakainya gampang, kaya pakai daster, emm, bawa dulu ke kamar gih ! masukkan ke koper dulu ! entar ketahuan sama Pak Grey, batal dong sur-pri-ce-nya, hihihihi" Melly kembali mengeluarkan senyuman jahilnya.
"Oke mbak, aku balik ke kamar bentar ya, nanti aku ke sini lagi " kata Lila sambil berdiri dan buruan melangkah ke kamarnya, menyembunyikan lingerienya ke dalam koper, dan dengan segera, dia balik lagi ke kamarnya Melly.
"Sudah mbak " kata Lila begitu nongol ke dalam kamarnya Melly.
"Waahhh sip sip sip, Pak Grey pasti akan sangat senang mendapatkan kejutan tersebut, hihihihi" kata Melly penuh semangat.
"Sekarang giliran Melly nih, Melly mau nanya nanya tentang persiapan lamaran, emm, seserahannya kan sudah nih, terus apalagi yang harus disiapkan ?" tanya Melly mulai memasang wajah seriusnya.
"Emm, untuk acaranya nanti serahkan saja sama EO, terus emm, Lila rasa sudah cukup semuanya, eeehh, ada satu lagi, siapkan mental dan jaga kesehatan, biar fit terus di sepanjang acara nanti !" kata Lila.
"Terus, menurutnya mbak Lila ya, emm, dari pertunangan ke pernikahan itu butuh berapa bulan ?" tanya Melly.
"Tergantung sama kesiapan mental kalian berdua, kalau menurut kak Rio kapan pernikahannya ?" tanya Lila.
"Kalau kemarin sih, ayang bebeb Rio minta, pernikahannya dilangsungkan tiga bulan setelah pertunangan " kata Melly.
"Ya sudah mbak, ikuti aja kemauan dari pihak laki laki, selamat ya, Lila tidak sabar pengen melihat mbak Melly pakai gaun pengantin rancangannya Ibu, pasti mbak Melly cantik banget " kata Lila sambil meraih dan menggenggam kedua tangannya Melly.
"Hahahaha, makasih mbak Lila " kata Melly menatap penuh kasih sahabatnya itu.
"Emm mbak, Melly mau nanya nih, usianya Pak Edward, Bu Ratih, dan Chef Charlie itu sebenarnya berapa sih, kok mereka masih terlihat sangat muda dan keren ?" tanya Melly penuh semangat.
"Emm, kalau Ibu usianya tuh emoat puluh delapan tahun, pak Edward harusnya lima puluh empat tahun karena, jarak usianya Ibu sama Papa cuma terpaut enam tahun, dan Chef Charlie lima puluh tahun." Jawab Lila.
"Memang masih belum terlalu tua ya mbak, pantesan masih kelihatan keren semuanya" semoga besok kita juga seperti mereka ya mbak, di kepala lima usia kita nanti, kita masih terlihat muda dan keren" ucap Melly.
"Aaamminnn" jawab Lila.
Sementara itu obrolan Rio, Pak Edward, dan Grey, tidak sesantai obrolannya Lila dan Melly.
"Pa, Grey minta tolong sama Papa, segera ceraikan Joy !" kata Grey.
"Tolong kamu hubungi pengacaranya Om, ini nomernya " Pak Edward menyerahkan kertas yang tadi dia tulis.
"Baik Om " kata Rio.
Rio berhasil menghubungi pengacaranya Pak Edward. Pak Edward mulai memberikan beberapa hal yang dia inginkan kepada pengacaranya. Pak Edward ingin segera bercerai dengan Joy, dan pengacaranya langsung mengiyakan dan berjanji akan segera mengurusnya.
Pak Edward juga meminta pengacaranya untuk memisahkan harta kekayaan keluarga Simpsons dengan harta kekayaannya Joy. Untuk warisan yang dari dulu dia bagi sama rata untuk Stephanie dan Grey, Pak Edward meminta pengacaranya untuk tidak menggantinya. Pak Edward tetap inginkan Stephanie menerima warisannya karena, Stephanie sudah begitu tulus merawat dan menjaga dia selama ini.
Grey pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan keputusan Papanya.
"Kamu dan Rio tumbuh dengan sangat baik, Papa bangga melihat kami Grey, dan kamu juga Rio" Kata Pak Edward sambil tersenyum menatap Rio dan Grey.
"Pa, maafkan Grey, huufftt, Grey menjauhi Papa selama ini, Grey tidak pernah mau mencari Papa dan menemui Papa" kata Grey sambil meraih salah satu dari tangan Papanya.
Pak Edward mengelus elus kepalanya Grey dengan tangan satunya dan berkata "kamu nggak salah Grey, kalau kamu menemui Papa toh Papa juga belum ingat sama kamu, waktu itu kata Stephanie, Ibu kamu pernah menelepon Papa, dan Papa tidak mengenali Ibu kamu, itulah kenapa Ibu kamu langsung menutup hatinya untuk Papa, Ibu kamu berpikir untuk tidak mengganggu rumah tangganya Papa."
"Setelah perceraian Papa dengan Joy sudah kelar, Papa akan segera menikahi Ibu kamu lagi, Papa hanya mencintai satu wanita yaitu Ibu kamu " tambah Pak Edward sambil mengelus elus kepalanya Grey.
"Rio, terima kasih banyak ya, sudah menjadi sahabat terbaiknya Grey selama ini " kata Pak Edward sambil menatap Rio dengan lembut.
"Sama sama Om" jawab Rio.
"Pa, selama Papa nggak ada di sampingnya Grey, Papanya Rio yang selalu mengisi ruang hatinya Grey yang kosong karena nggak ada Papa, emm Papa masih ingat kan sama Papanya Rio ?" tanya Grey.
"Ingat dong, Dokter Arkan, nama Papa kamu, dan Dokter Florence, nama Mama kamu kan ?" kata Pak Edward.
"Aaahh, puji Tuhan, ingatan Papa sudah normal sekarang " Grey mulai menitikkan air matanya, dia bahagia melihat Papanya sudah kembali normal sekarang.
"Iya Om, Rio juga ikutan bersyukur Om baik baik saja sekarang, emm, nanti begitu sampai di Indonesia, Rio akan ajak Papa dan Mama untuk datang menemui Om" kata Rio yang juga ikutan menitikkan air mata.
"Mendekatlah Rio !" pinta Pak Edward.
Rio mendekat dan Pak Edward langsung memeluk Rio dan Grey, mereka bertiga menangis sesenggukan. Tangis haru dan bahagia mereka luapkan saat ini.
"Aku menyayangi kalian nak, semoga kalian selalu sukses, beruntung, dan bahagia di kehidupan ini " kata Pak Edward sambil mengelus elus punggungnya Rio dan Grey.
"Aaamminnn" Jawab Rio dan Grey berbarengan.
"Grey nggak mau kehilangan Papa lagi, tolong jangan tinggalkan Grey lagi ya, Pa !?" kata Grey di tengah Isak tangisnya.
"Iya, Papa janji akan terus menemani kamu dan cucu cucu Papa nanti " jawab Pak Edward.