
Lila akhirnya masuk ke dalam kamarnya, karena sudah positif kalau besok mereka akan balik ke Indonesia maka, Lila pun mulai menata koper dia dan kopernya Grey.
Setelah selesai, Lila langsung merebahkan diri di atas ranjangnya. Lila membayangkan lingerie hitam yang tadi dikasih sama Melly. Lila senyum senyum sendiri, membayangkan dia tengah memakai lingerie hitam tersebut.
Tanpa Lila sadari, Grey sudah merebahkan diri di sampingnya, Grey menatap heran isterinya, kenapa dia senyum senyum sendiri ya, batin Grey heran.
"Sayang, ada apa, kok senyum senyum sendiri ?" tanya Grey.
"Aaahhh, sayang, kok ngagetin sih " Lila terkaget dan secara spontan menepuk oelan dada bidang suaminya.
"Hahahaha, apa yang kamu lamunkan hah, kenapa senyum senyum sendiri tadi ?" tanya Grey penasaran.
"Heeeee bukan hal yang penting kok, ayok kita tidur, besok kita harus berangkat pagi pagi buta kan ?" kata Lila.
"Hmmm" jawab Grey yang langsung memeluk Lila dan memejamkan matanya.
Tik tok tik tok tik tok.
Empat jam berlalu, tiba tiba Lila terbangun.
"Sayang, bangun !" kata Lila sambil menggoyang nggoyangkan tubuh Grey, dengan pelan pelan.
"Hmmm, ada apa ?" gumam Grey dan masih memejamkan matanya.
"Aku mendengar suara aneh " kata Lila.
Grey langsung membuka matanya dan langsung mengambil posisi duduk, menghadap Lila.
"Dengar tidak ?" tanya Lila sambil menatap suaminya.
"Iya, kamu di sini saja, biar aku periksa !" kata Grey sambil beranjak berdiri dan melangkah pelan pelan, menuju ke pintu kamarnya lalu, membuka pintunya pelan pelan.
Tanpa Grey sadari, Lila mengekor langkahnya Grey.
"Sepertinya dari arah dapur suaranya" bisik Lila.
Grey terlonjak kaget langsung menoleh ke belakang "sayang, ngapain kamu keluar kamar ?" Grey berkata dengan sangat lirih.
"Aku penasaran, sayang" jawab Lila setengah berbisik.
"Hufftt, keras kepala kamu nih ya, selalu bikin aku sport jantung, tahu nggak ?" kata Grey lirih, sambil meraih tangannya Lila untuk dia genggam.
Mereka akhirnya mengendap endap, melangkah pelan pelan menuju ke dapur, mereka mengintip ke arah dapur, dan fiuuuuhhhh lega, ternyata Pak Edward sama Bu Ratih tengah mengobrol bersama sambil makan camilan ringan.
"Kayanya camilan itu enak" kata Grey pelan dan hendak melangkah mendekati Papa dan Ibunya.
Lila langsung menarik pelan lengannya Grey.
"Sssttt sayang, lebih baik kita tidak mengganggu mereka" kata Lila lirih.
"Kenapa ?" tanya Grey setengah berbisik.
"Biarkan Papa dan Ibu bernostalgia" jawab Lila.
"Oke baiklah, ayok kita balik ke kamar !" kata Grey sambil menggandeng tangan Lila, berbalik arah dan kembali ke kamarnya.
Grey merebahkan diri dan kembali memeluk Lila.
"Papa itu romantis ya" kata Lila di dalam dekapan suaminya.
"Iya, mirip sama aku kan ?" sahut Grey.
Lila mendongakkan kepalanya dan mencebikkan bibirnya ke arah Grey.
"Oooo gitu, jadi menurut kamu, aku nggak romantis ?" tanya Grey lalu mengecup bibirnya Lila.
"Iya iya, suami Lila tuh paling romantis sedunia" jawaban Lila membuat Grey semakin mempererat pelukannya.
"Tidurlah !" kata Grey kemudian.
Akhirnya pagi pagi buta, mereka semua sudah siap untuk berangkat ke Bandara, mereka berpamitan sama Egi dan Ivan.
Chef Charlie ngomong sama Egi "lak kangen mbek Kabeh iki, telpon yo,, mengko tak kirimi tiket ning Indonesia !"
"Matur suwun pak " jawab Egi sambil tersenyum senang.
"Waahhh, Om keren, bisa berbahasa Jawa" kata Rio dengan nada kaget dan kagum.
"Hahahaha bisa dong, Om suka jalan jalan jadi bisa beberapa bahasa" jawab Chef Charlie sambil tersenyum lebar menatap Rio.
"And you Ivan, I will invite you to do culinary business if you come to Indonesia" kata Chef Charlie sambil menepuk pelan pundaknya Ivan.
"Yes, sir thank you for the invitation" jawab Ivan dengan senyum lebarnya.
Mereka pun akhirnya berangkat ke Bandara.
Begitu sampai di Bandara, semua anak buahnya James langsung memeriksa isi dari pesawat pribadinya Grey, memastikan semuanya aman, tidak ada alat pelacak, tidak ada bom, dan tidak ada alat lainnya yang berbahaya.
Anak buahnya James juga memeriksa Pilot dan Co-Pilotnya. Sedangkan Amber memeriksa dua orang pramugari pesawat tersebut.
Setelah semuanya dipastikan aman, Grey, Lila, Bu Ratih, Pak Edward, Rio, Melly, dan Pak Charlie, semua diperintahkan James untuk segera masuk ke dalam pesawat tersebut.
Semua menyalami James dan mengucapkan terima kasih, saat naik ke dalam pesawat satu per satu.
James lalu mencium singkat bibirnya Amber, tunangannya.
Amber pun langsung melambaikan tangannya ke James, saat James melepaskan ciumannya, dan Amber langsung masuk ke dalam pesawat pribadinya Grey.
Amber mendapat tugas dari James, untuk mengawal dan melindungi mereka semua, hingga sampai di Indonesia dengan selamat.
Perjalanan panjang selama kurang lebih empat belas jam pun dimulai. Amber ternyata orangnya sangat kocak, semua tertawa terpingkal pingkal mendengarkan ceritanya Amber.
James dan Amber ternyata sudah saling mencintai sejak mereka masih berumur lima tahun. Mereka teman sejak kecil, sering bermain bersama dan berjanji, mereka akan menikah kalau sudah dewasa nanti.
Ternyata impian masa kecilnya James dan Amber menjadi kenyataan.
"Waaahhh so sweet " sahut Melly.
Tanpa sadar Lila berucap "Lila juga punya teman cowok, teman Lila dari kecil, emm, Lila sudah anggap dia, kakak angkatnya Lila"
Grey langsung menatap isterinya dengan kesal "Siapa ?"
"Dony, kan ? " sahut Melly.
"Bukan mbak, bukan Dony, emm, namanya Dave, dia yang mengajari Lila bela diri" jawab Lila.
"Waahhh, keren dong pasti orangnya " sahut Melly dengan santainya, tanpa Melly sadari kalau bosnya mulai kesal.
"Mana ada yang lebih keren dari Greyson Adi Wijaya Simpsons " sahut Grey.
"Heeeiii saudara saudara, kalian terus ngobrol pakai bahasa Indonesia, Amber nggak paham nih" sahut Chef Charlie.
"Aahhh benar, sory sory " kata Melly sambil tersenyum menatap Amber.
Amber tertawa renyah menatap tingkahnya Grey dan Lila dan berucap "I don't understand your conversation but I understand that Grey is annoyed and jealous"
"Sayang, benarkah kamu cemburu ?" tanya Lila.
"Nggak, cuma kesal, bagaimana bisa kamu dilatih bela diri sama seorang cowok, cih !" Grey bertambah kesal saat dia membayangkan cowok tersebut memegang tangan Lila, menemani Lila saat latihan bela diri, dan menatap Lila.
"Dia sudah aku anggap sebagai kakak" kata Lila mencoba menenangkan suaminya yang mulai mengeluarkan kata cih !
"Mana ada kakak, cih !" Grey langsung cemberut dan bersedekap.
Semua langsung tertawa geli melihat tingkah konyolnya Grey.
Cih ! kenapa ya, mereka selalu tertawa kalau aku sedang kesal gini, memang mereka tidak peka, hiks hiks hiks, sabar Grey, sabar. Batin Grey merana sedih bercampur kesal.
"Lila nggak ada apa apa sama Dave, sayang" kata Lila sambil mengelus elus tangannya Grey yang sedang bersedekap.
"Jangan sebut namanya !" ucap Grey masih dengan nada kesal.
"Iya, Lila nggak akan menyebut nama Dave lagi, karena kamu nggak suka kan, kalau Lila menyebut nama Dave" kata Lila mencoba menggoda Grey.
Grey langsung meraup bibirnya Lila dengan bibirnya karena, kesal, semua langsung memalingkan muka mereka.
"Anakmu tuh mas, nggak punya malu, cium cium isterinya, di depan banyak orang gini" kata Bu Ratih kepada Pak Edward.
"Hahahaha buah jatuh tidak jauh dari pohonnya " jawab Pak Edward dengan santainya.
Bu Ratih langsung menepuk pelan bahunya Pak Edward dan ikutan tertawa geli.
Pak Edward berbisik di telinganya Bu Ratih "aku akan segera menikahi kamu sesampainya kita di Indonesia nanti, karena hanya kamu wanita yang aku cintai, dulu, sekarang, dan selamanya."
Blush
Pipi Bu Ratih langsung merona merah, Bu Ratih langsung tersenyum malu dan menundukkan kepalanya.
"Ummmm, sayang, kamu nih, ya" Lila langsung menepuk pelan dada bidang suaminya, saat Grey mulai melepas ciumannya.
"Kalau kamu nekat sebut nama bocah itu lagi, aku akan kasih hukuman yang lebih lagi sama kamu" ucap Grey sambil membenamkan kepalanya Lila, ke dalam dada bidangnya.
Amber lanjut ngobrol dengan Rio dan Chef Charlie. Sedangkan Melly, mulai memejamkan matanya, Melly merasa sangat mengantuk karena, dia tadi bangun pagi pagi buta, mendahului semuanya, kebiasaannya Melly, kalau akan berangkat ke suatu tempat atau, pulang, dia pasti tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Tidurlah, kasihan Sweety, ooo iya, kamu sudah minum obat anti mual dan pengencer darahnya ?" tanya Grey.
"Sudah" jawab Lila.
"Pintar isteri aku, tidurlah !" kata Grey sambil mencium pucuk kepalanya Lila dan mengusap usap pelan punggungnya Lila.