Lila And Grey

Lila And Grey
Tamu tak diundang



Keesokan harinya, Grey bangun pagi pagi sekali mencium pipi Lila terus mandi dan langsung menuju ke ruang kerjanya.


Grey menelepon Stephanie, menyuruh Stephanie untuk datang ke rumahnya Grey secepatnya. Stephanie pun mengiyakan.


Lila bangun terus mandi setelah rapi, dia pun melangkah keluar dari kamar dan langsung menuju ke dapur, karena dia mencium bau masakan yang sangat harum dari arah dapur.


Sesampainya di dapur, Bu Ratih tengah duduk di meja makan sambil ngobrol dengan om Charlie yang tengah memasak.


Lila mencium pipi ibu mertuanya dan duduk di sampingnya Bu Ratih.


"Chef Charlie masak bubur ayam, kamu pernah ngomong sama ibu kalau pengen bubur ayam kan" kata Bu Ratih sambil meraih tangan Lila dan menggenggamnya.


"Aahhh itu sudah lama Bu, Lila jadi nggak enak nih merepotkan om Charlie" kata Lila sambil tersenyum kepada Charlie.


"Enggak nak, om suka memasak kok, lagian cuma bubur ayam heee kecil ini " Kata om Charlie.


"Terima kasih banyak om, apa perlu bantuan ? tanya Lila.


"Nggak perlu, sudah duduk aja sebentar lagi siap kok bubur ayam spesial ala chef Charlie untuk nona cantik heeee" Charlie menoleh dan tersenyum kepada Lila.


"Hahahaha makasih om" Lila tersenyum senang.


"Kak Grey mana Bu ?" tanya Lila pada Bu Ratih.


"Dia bangun pagi pagi tadi langsung masuk ke ruang kerjanya. Rio sama Melly aja belum bangun" kata Bu Ratih.


"Selamat pagi, waahhh harumnya, masak apa om ?" Melly tiba tiba nongol dan langung duduk di meja makan.


"Ini bubur ayam khusus untuk nak Lila, dan pepes ikan untuk kita" kata Charlie yang masih nampak sibuk memasak.


"Waaahh akhirnya Melly dapat kesempatan emas, mencicipi masakan dari seorang chef ternama" Melly langsung sumringah.


"Emmm permisi sebentar ya Bu, mbak Lila dan, om Charlie, Melly mau melihat keadaannya Bebeb Rio dulu" Melly tersenyum dan bangkit berdiri dan langsung berbalik arah, menuju ke kamarnya Rio.


"Beb, kamu kok belum bangun ?" Melly mendekati ranjangnya Rio dan duduk di tepi ranjang, langsung menaruh telapak tangannya di atas keningnya Rio.


"Ya ampun kamu kok demam ?" Melly langsung berteriak panik.


Rio langsung membuka matanya pelan pelan saat mendengar teriakannya Melly.


"Masa sih aku demam ? perasaan aku nggak apa apa kok" kata Rio santai mencoba untuk bangun tapi tiba tiba kepalanya terhempas lagi di atas bantalnya.


"Mel, kok pusing banget ya " kata Rio sambil meringis.


"Tunggu sebentar ya, Melly ambil bubur sama obat dulu" kata Melly buru buru berdiri dan langsung pergi menuju ke dapur.


"Chef eh om Charlie, Melly minta buburnya dulu satu mangkok boleh ? Bebeb Rio demam tuh, apa ada yang punya obat pereda demam ?" kata Melly mulai panik.


"Kamu bawa dulu nih bubur dan air putihnya, aku dulu sering terluka kena senjata tajam, jadi selalu bawa obat obatan untuk jaga jaga, sebentar aku ambilkan dulu ya" kata Charlie sambil melepaskan celemeknya.


Lila sama Bu Ratih langsung mengekor langkahnya Melly menuju ke kamarnya Rio.


Melly langsung duduk di tepi ranjang dan membantu Rio untuk bangun menyadarkan kepalanya di ranjang, Melly langsung menyuapi Rio makan pakai bubur ayam, pelan pelan dan penuh cinta.


"Kak Rio, lebih baik ke rumah sakit aja deh" kata Lila mulai khawatir.


"Iya Rio, ke rumah sakit aja biar diantar sama Grey" kata Bu Ratih.


Rio tersenyum sambil mengunyah pelan bubur yang disuapin sama Melly "Heeee Rio nggak suka bau rumah sakit, Rio juga takut jarum heeee"


"Hah ? padahal Papa sama Mama kan dokter, kok bisa anaknya takut sama jarum ?" Melly berkata sambil meniup sendok yang berisi bubur.


"Hahahaha iya namanya takut Mel, aku juga nggak ngerti kenapa kok bisa takut banget sama jarum" Rio tertawa sambil meringis karena kepalanya masih terasa nyeri.


"Kalau sudah selesai makannya, biar om yang menangani Rio, om sudah berpengalaman mengobati luka semacam itu" kata Charlie yang sudah nongol di dalam kamarnya Rio.


"Kok bisa om ?" tanya Lila.


"Dulu om pernah tinggal di Jepang, kehidupan di sana sangat keras, om sering dihadang sama preman premannya sana sepulangnya om dari restaurant, dari situlah om sering mendapatkan luka akibat dari benda tajam, dari luka ringan sampai berat om pernah mengalami semuanya. kata Chalie.


"Ooooo pantes aja kalau om jago banget bela dirinya " sahut Melly.


Melly akhirnya selesai menyuapi Rio, Chef Charlie menyuruh mereka untuk sarapan dulu, dan Rio langsung mendapat penanganan medis ala Charlie.


Ibu dan Melly langsung menuju ke dapur, sedangkan Lila menuju ke ruang kerja suaminya.


Ceklek


Lila membuka pintunya dan langsung berkata "Sayang, sarapan yuk Sweety sudah sangat lapar nih"


Grey langsung tersenyum, bangkit berdiri dari kursi kerjanya dan langsung merangkul isteri tercintanya, berjalan menuju ke ruang makan.


Grey duduk dan langsung bertanya "Lho Rio sama om Charlie mana ?"


"Kak Rio demam dan Om Charlie saat ini tengah mengobatinya" kata Lila sambil mengambilkan nasi dan pepes ikan untuk Grey.


"Ivan juga belum datang ya ?" Grey kembali bertanya.


"Lalu yang masak sepagi jni siapa ? kamu atau ibu ?" tanya Grey sambil mulai makan.


"Yang masak om Charlie pak" sahut Melly.


"Oooo, lho sayang, kamu kok makannya bubur ?" Grey bertanya lagi.


"Sayang, kalau kamu ajukan pertanyaan sekali lagi, nanti dapat hadiah payung lho " sahut Lila.


"Aku nggak mau payung, maunya kamu" kata Grey sambil mengecup pipinya Lila.


"Kamu makan bubur apa bisa kenyang nanti ?" Grey mulai khawatir.


" Nggak apa apa Grey, yang penting bisa masuk makanannya dan nggak muntah, lagian Lila tadi sebelum makan juga sudah minum susu" jawab Bu Ratih.


"Oke lah, tapi kalau nanti tiba tiba merasa lapar, langsung makan lagi ya " Grey mengusap usap kepala Lila.


Lila menganggukkan kepalanya.


Tidak begitu lama, om Charlie pun nongol dan bergabung untuk sarapan bareng mereka.


"Gimana Rio, om ?" Grey langsung bertanya.


"Nggak begitu parah, infeksi sih, tapi masih dalam batas aman terkendali, tiga jam lagi minum obat sekali lagi pasti bakalan fit kembali seperti sedia kala" jawab Charlie.


Semuanya berkomentar aecara serempak "Syukurlah"


Selesai sarapan mereka duduk di ruang tamu untuk sekedar bercengkerama, sambil menunggu kedatangannya Stephanie.


Tetapi yang nongol bukanlah Stephanie, melainkan Susan.


Semua langsung berdiri dan kaget, Charlie pun nampak bingung kenapa tiba tiba semuanya berdiri dan kaget.


"Hai, selamat pagi semuanya" Susan langsung duduk tanpa dipersilakan.


Semua pun spontan ikutan duduk dan masih menatap Susan dengan heran.


"Apa mau kamu ?" Grey mulai kesal.


Susan meletakkan buah tangan yang dia bawa di atas meja dan berkata "Maaf, saya ke sini mencari Kak Rio"


"Sejak kapan Rio jadi kakak kamu ?" Grey mulai menatap tajam ke arah Susan.


"Emmm itu rahasia heee maaf dimana ya kak Rio ?" tanya Susan sembari mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan rumahnya Grey.


"Maaf Bu Susan, saat ini kak Rio tidak bisa menemui ibu" kata Lila.


"Aaahhh anda nyonya Greyson Adi Wijaya Simpsons ya, selamat atas kehamilannya anda, dan om saya, om Raymond nitip salam untuk anda, anda memang cantik dan menarik ya" sahut Susan santai.


Grey hendak bangun dari duduknya tapi ditahan sama Lila.


"Mau mati kamu, berani benar kamu sebut nama om kamu itu, dan apa cih ! berani benar dia nitip salam untuk isteriku" Grey mulai menggertakkan giginya.


"Hahahaha santai pak Grey, kan cuma salam" kata Susan.


"Lebih baik kamu pulang, atau aku akan ambil tindakan tegas atas kamu" Rio tiba tiba nongol.


"Aaahhh kamu terluka kak ?" Susan langsung bangun dari tempat dia duduk dan berlari mendekati Rio.


"Stop jangan mendekat !" kata Rio tegas.


Susan langsung mengerem langkahnya.


"Jauhi aku, jangan mencoba mendekati aku karena aku sudah punya calon isteri" kata Rio tegas.


"Tapi kak, aku jauh jauh ke sini tuh demi ketemu sama kamu, aku sangat mencintai kamu" kata Susan santai.


Semua secara serempak langsung bilang "Haaahhhh ????? "


"Kamu ingat kelakuan kamu dulu, aku masih simpan semua bukti buktinya, kalau kamu masih nekat mendekati aku, maka aku akan menyeret kamu ke penjara dengan bukti bukti tersebut" Rio menatap tajam ke Susan.


"Aaahhh Shit !" Susan mulai mengumpat, lalu berbalik arah dan pergi meniggalkan rumahnya Grey tanpa pamit.


"Hei bawa lagi tuh oleh oleh kamu !" teriak Melly.


Susan balik masuk mengambil buah tangannya dan beranjak pergi lagi tanpa pamit.


Rio langsung menuju ke sofa untuk duduk dan langsung menyandarkan kepalanya di atas sofa.


Melly menghampiri Rio dan duduk di sampingnya Rio "Kamu nggak apa apa beb ?"


Rio menganggukkan kepalanya pelan.


"Memang gila tuh Susan, mirip banget sama pamannya Cih!" Grey masih merasa kesal sama tingkahnya Susan tadi.