
Mobil yang dikendarai Upik sudah masuk ke dalam pekarangan rumahnya Grey. Upik turun dari mobil sambil memegangi kepalanya dan meringis menahan sakit.
Lila tergopoh gopoh menyambut Upik, langsung memapah Upik untuk duduk di ruang tamu.
"Upik kamu kenapa? sebentar ya aku ambilkan minum dan setelah itu kita ke rumah sakit." kata Lila
Upik menarik tangan Lila untuk duduk dulu mendengarkan ceritanya, karena Upik takut akan sangat terlambat jika dia membuang buang waktu, Upik pun langsung bercerita.
"Non, saya nggak papa cuma sedikit pusing aja. Tadi ada kejadian di luar dugaan, mbak Uci diculik, saya mau mengejarnya tiba tiba muncul Bu Melly. Bu Melly mengatakan kalo Pak Rio sudah mengejar mobil yang menculik mbak Uci." Upik menarik napas sebentar.
"Lalu ?" tanya Lila nggak sabar.
"Lalu, saya sama Bu Melly memutuskan untuk langsung ke kantornya pak Grey dan menunggu pak Rio disana." Upik meringis lagi menahan sakit.
"Kamu jangan ngeyel pik, aku ambilkan obat dulu." Lila berlari untuk mengambil obat pereda nyeri dan air minum, lalu secepat kilat balik lagi ke ruang tamu.
"Minumlah dulu setelah itu kamu bisa lanjutkan ceritamu." kata Lila kemudian.
Upik meminum obatnya secepat kilat, lalu melanjutkan ceritanya sambil menyandarkan kepalanya di sofa.
"Dalam perjalanan menuju ke kantornya pak Grey, tiba tiba kami dihadang sebuah mobil, dua orang pria tinggi besar turun dari mobil tersebut, membuka pintu mobil, yang satu
membawa Bu Melly dan yang satunya lagi memukul saya dengan keras sampai saya pingsan." Upik menarik napas kembali.
"Dan saat saya sudah sadar, Bu Melly sudah tidak ada non, sepertinya Bu Melly dibawa sama orang orang yang menakutkan tadi." tambah Upik dengan suara bergetar.
"Baiklah, kamu istirahat dulu di rumah jaga rumah baik baik ya. Aku sama Ari mau ke kantor suamiku sekarang. Kalo kamu merasa kesakitan lagi, cepat telepon nomer ini." Kata Lila kemudian sambil meninggalkan secarik kertas diatas meja, yang bertuliskan nomer HP dokter keluarga mereka.
Upik mengangguk lalu mulai berbaring diatas sofa dan memejamkan matanya.
Lila berdoa sebentar memohon perlindungan untuk Melly, dan untuk semuanya. Semoga mereka semua bisa menyelamatkan Melly dengan selamat.
Seusai berdoa, Lila langsung mengajak Ari menuju ke kantor suaminya. Semoga mbak Melly tidak kenapa kenapa, tolong kami Tuhan. Doa Lila di dalam hatinya.
Ceklek
Lila membuka pintu ruangannya Grey. Lila melihat Rio tengah menyandarkan kepalanya diatas sofa sambil memejamkan matanya. Dan Grey tampak kaget langsung melotot begitu dilihatnya Lila nongol di ruangannya.
"Sayang, bagaimana kamu bisa nekat datang kesini ?" tanya Grey sambil memeluk Lila erat.
"Lila bukan cewek lemah sayang" sahut Lila sambil melepaskan diri dari pelukannya Grey dan melangkah mendekati Rio.
"Kak, yang sabar ya kita pasti bisa menyelamatkan mbak Melly." kata Lila
"Kak, apa Raymond sudah menghubungi kakak ?" Lila bertanya dengan hati hati.
"Sudah " jawab Rio lirih.
Rio menghela napas pelan dan masih memejamkan matanya.
"Lalu apa katanya ?" tanya Lila pelan ke arah Rio.
"Aku sudah tanya berkali kali tadi, tetapi Rio tidak mau menjawabnya sayang." Grey berucap sambil melangkah mendekati Lila, yang tengah berdiri di depannya Rio.
"Upik, aman di rumah cuma sedikit pusing karena tadi sewaktu dalam perjalanan kesini bareng mbak Melly, tiba tiba mereka dihadang sebuah mobil, mbak Melly dibawa mereka dan Upik dikasih bogem mentah sampai pingsan. Kurang ajar sekali mereka, Lila pengen mencincang mereka semua." ucap Lila penuh geram.
"Raymond meminta aku, besok malam membawa kamu untuk ditukarkan dengan Melly." Rio berkata lirih dan masih memejamkan matanya sambil bersandar di sofa.
"What ?! brengsek ! permainan macam apa ini !" Grey mulai berteriak kesal.
"Sayang, kamu nggak aku ijinkan menemui Raymond, kamu nggak boleh terlibat, titik nggak pakai koma." sahut Grey penuh penekanan.
"Aku harus ikut, semuanya ini terjadi karena aku sayang, aku harus ikut terlibat, titik nggak pakai koma." Lila meniru ucapan suaminya penuh penekanan juga.
"Lila " Grey mulai melotot ke Lila.
Lila menarik Grey untuk duduk di sofa "Sayang, kamu tidak boleh egois kasihan kak Rio lihatlah betapa frustasinya dia. Aku nggak bisa hanya diam saja sayang, selama ini kak Rio sudah banyak membantu kita." Kata Lila sambil menggenggam tangan Grey.
"Mana bisa aku melibatkan kamu dalam misi berbahaya ini, dan kamu itu yang Raymond inginkan kalau kamu sampai dibawa pergi sama Raymond aku bisa gila sayang, lebih baik aku mati." Grey berucap sambil memeluk erat tubuh isteri tercintanya.
Rio membuka matanya dan mulai duduk tegak, menatap Grey dan Lila.
"Aku paham perasaanmu bro, aku saat ini pun rasanya seperti mati, serasa sulit sekali untuk bernapas, Melly saat ini ada di dalam genggaman tangan orang gila semacam Raymond." Rio berkata sambil berdiri, melangkah lebar mendekati Grey dan Buk. Rio mendaratkan bogem mentahnya ke wajah Grey yang tengah menoleh ke Rio.
"Maafkan aku Lila, aku sudah memukul suamimu." Kata Rio lirih, sambil memundurkan langkahnya dan duduk kembali di sofa.
Lila hanya diam sambil memegang tangan Grey. Grey masih melihat Rio dan pipinya kini tampak biru akibat dari pukulannya Rio tadi.
"Kenapa kau memukulku hah?!" tanya Grey menatap tajam Rio.
"Banyak alasannya bro, pertama karena kamu tidak percaya sama aku sahabat kamu sendiri yang sudah mendampingi kamu selama 20 tahun, 20 tahun bro." Rio membalas tatapannya Grey.
"Yang kedua kamu tidak mempercayai kemampuan Lila, dan yang ketiga kamu itu selalu tidak peka sama keadaan yang ada di sekeliling kamu." tambah Rio kemudian.
Grey diam mematung dan masih menatap Rio dengan tajam.
"Bagaimana bisa kamu sempat berpikir aku akan mengorbankan Lila demi Melly, dari ucapan kamu tadi tersirat semua itu bro." Kata Rio kesal.
"Aku diam tuh aku memikirkan suatu cara bagaimana aku bisa menyelamatkan Melly tanpa membahayakan Lila dan kau malah meragukan aku " Rio berkata dengan sedih.
Grey melangkah mendekati sahabatnya, memaksa Rio untuk berdiri dan memeluk Rio dengan erat. Tanpa sadar Grey menangis terisak. Seorang Grey betul betul menangis terisak. Rio pun membalas pelukannya Grey dan ikutan terisak
"Maafkan aku bro, cih ! sudah dua kali ini kamu memukul aku dan aku belum pernah sekalipun memukul kamu." Grey berkata sambil melepaskan pelukannya dan mengusap airmatanya.
Ya , pertamakali Rio memukul Grey saat Grey frustasi ditinggal pergi sama Grace untuk menikah dengan orang lain, Rio melakukannya supaya Grey kembali sadar dan menjalani kehidupannya dengan tegar tidak melow lagi, itu sudah dulu sekali.
"Kalo mau pukul, pukul aja sekarang aku ikhlas kok ." kata Rio sambil menyodorkan pipinya.
Grey menepuk pelan pipi Rio dan berkata "Nggak, sia sia memukul kamu tanpa alasan, entar aja kalo ada alasan yang tepat gue bisa memukul elo sampai puas."
Rio tertawa pelan dan Lila pun merasa lega, melihat kedua sahabat tersebut masih tetap harmonis. Sekarang saatnya mereka memikirkan bagaimana caranya untuk menyelamatkan mbak Melly. Batin Lila.
***********Bersambung*************
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya readers, makasih GBU allππ