
Chef Charlie
Chef Charlie memang terlihat jauh lebih muda dari usianya, karena pembawaaanya yang santai, murah senyum, dan selalu jujur, juga karena, pola hidup sehatnya, selalu makan sayuran, buah, dan berolahraga setiap harinya.
Chef Charlie memulai aktivitasnya pagi ini untuk kembali menangani Restorannya.
Akhirnya Grey, Lila dan Pak Edward menyelesaikan sarapan pagi mereka. Tiba tiba Bu Ratih menghampiri Lila, Grey dan Pak Edward, yang sudah bangkit berdiri dan hendak beranjak pergi.
"Ibu ikut " Kata Bu Ratih.
Ibu Ratih tampak begitu cantik dan elegan pagi ini, berbalut setelan dress berwarna cokelat susu dengan, panjang selutut, Rambutnya dicepol, dan hanya memakai lipstick warna lembut, terlihat sangat natural tapi cantiknya luar biasa.
Pak Edward menatap Bu Ratih tanpa berkedip.
Grey melihat Papanya dan langsung memeluk bahu Papanya " Pa, ada air liurnya Papa menetes tuh" goda Grey.
Pak Edward secara spontan mengelap bibirnya dengan tangannya.
Lila mencubit pinggang suaminya "Sayang, nggak boleh ahh, menggoda orang tua " ucap Lila sedikit geli.
"Papa sih, menatap Ibu sampai segitunya ish, ish, ish " ucap Grey sambil tersenyum geli dan menggeleng nggelengkan kepalanya.
"Ibu memang sangat cantik sih, wajar dong kalau Papa terpesona, iya kan Pa" Kata Lila kemudian.
"Hahahaha, iya nak " kata Pak Edward yang, langsung tertawa saat memahami kalau, dia termakan kejahilannya Grey.
Bu Ratih ikutan tertawa lepas melihat tingkah konyolnya anak dan mas Edwardnya.
"Ibu belum sarapan, kan ?" tanya Grey.
"Gampang nanti, Ibu bisa sarapan di Kafe" jawab Bu Ratih.
"Oke lah, ayok berangkat, keburu siang " ucap Grey.
Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dan meluncur ke Kafenya Grey.
Mereka akhirnya sampai di depan Kafe Grey, Kafe MANGO, Kafe yang dulunya bernama Kafe The Rain.
Pak Edward langsung merangkul bahunya Bu Ratih dan melangkah masuk, ke dalam Kafe.
Kafe tersebut dulunya diberi nama The Rain sama pak Edward karena, pak Edward sangat menyukai hujan. Di dalam hujan kita bisa melepaskan semua kesedihan, tawa, dan cinta dengan bebasnya, tanpa malu. Itulah kenapa, pak Edward memberi nama Kafenya The Rain kiranya, para pengunjung Kafenya juga bisa bebas mengekspresikan diri mereka saat, mereka sedih, bahagia, dan jatuh cinta, seperti ketika mereka berada di dalam hujan.
Tetapi karena Grey merasa kecewa dengan papanya, begitu juga dengan Bu Ratih maka, kafe tersebut berganti nama menjadi MANGO.
Buah yang manis yang menjadi kesukaannya Grey, MANGO.
Ting
Lift khusus CEO pun terbuka, Grey menggenggam tangannya Lila, dan melangkah menuju ke ruangannya.
Melly langsung berdiri, tersenyum, dan menganggukkan kepalanya saat, melihat pak Bosnya sudah datang.
Grey mengerem langkahnya di depan meja kerjanya Melly.
"Aku transfer bonus ke rekening kamu pagi tadi, Mel" ucap Grey tiba tiba.
"Hah, dalam rangka apa pak ?" tanya Melly heran.
"Nanti kamu tanya sama Lila !" jawab Grey santai.
Melly langsung menatap Lila dengan ekspresi tanya, khasnya Melly.
Lila hanya tersenyum dan mengedipkan matanya.
Oooo, aku tahu tentang apa ini. Kata Melly di dalam hatinya, Melly ikutan tersenyum geli menatap kedipan matanya Lila.
"Rio sudah datang ?" tanya Grey.
"Belum pak, emm Bebep, eh, pak Rio sedang mengurusi Kafe MANGO " jawab Melly.
"Oooo, oke lah " ucap Grey.
"Emm, sebentar pak, di dalam ruangannya Bapak, ada tamu " ucap Melly.
"Siapa ?" tanya Grey.
"Seorang pengacara pak, katanya dia diutus sama pak Bram, pengacaranya pak Grey " jawab Melly.
"Bram ?" tanya Grey heran.
"Iya pak " jawab Melly.
"Makasih infonya Mel" Grey langsung mengajak Lila untuk masuk ke ruangannya.
Ceklek
Grey membuka pintu ruangannya, nampaklah seorang cowok muda, sangat tampan, dan keren.
Cowok tersebut langsung bangkit berdiri dari tempat dia duduk lalu, berucap "selamat pagi Lila, selamat pagi pak Grey"
Grey langsung menatap Lila, Lila secara tidak sadar melepaskan genggaman tangannya Grey dan melangkah lebar menghampiri cowok tersebut.
Pandangannya Grey mengikuti langkahnya Lila, Grey mengekor langkahnya Lila dengan kesal dan heran. Apa mereka saling kenal, tanya Grey di dalam hatinya.
"Kak Dave ! " Lila memekik kegirangan.
Tangan Lila hendak meraih tangannya cowok tersebut tapi, langsung di tarik sama Grey, Grey langsung menggenggam tangan Lila dengan erat.
Grey tidak membalas tatapannya Lila, Grey justru tengah menatap tajam cowok tersebut.
"Silakan duduk !" kata Grey tidak ada senyum dan tidak ada ramahnya sama sekali.
Dave menganggukkan kepalanya, tersenyum, dan duduk.
Grey mengajak Lila duduk di sampingnya, di depannya cowok tersebut.
"Anda kenal dengan istri saya, dan istri saya tadi memanggil anda Dave, jangan jangan anda teman masa kecilnya istri saya ?" tanya Grey masih dengan tatapan dingin khasnya.
"Iya, anda benar pak Grey, saya teman masa kecilnya Lila, nama saya Dave Erlando" jawab cowok tersebut dengan tersenyum.
"Kapan Kak Dave balik ke Indonesia ? kok nggak kasih kabar sama Lila ?" Lila bertanya dengan santainya.
Grey langsung melirik Lila dengan kesal dan langsung merangkul bahunya Lila dengan erat.
Grey merasa kesal secara tiba tiba dengan cowok yang ada di depannya saat ini. Dia masih sangat muda, tampan dan keren ternyata, shit ! Kata Grey di dalam hatinya.
"Aku baru sampai beberapa bulan yang lalu, aku langsung ke rumah kamu tapi, kata Ibu, emm, kamu sudah menikah dan tinggal di kota ini, setelah itu, aku langsung sibuk mengurusi pekerjaanku, jadi lupa kasih kabar ke kamu, emm, aku sudah dapat nomer ponsel kamu dari Ibu sebenanya tapi ya, belum sempat aja kasih kabar ke kamu, maaf ya" Dave langsung nyerocos panjang lebar.
Dari banyaknya kata kata yang keluar dari mulutnya Dave, hanya kata kata Dave soal nomer ponselnya Lila yang, nyantol di dalam otaknya, dan secara spontan Grey berkata dengan nada tegas tanpa ekspresi "Tolong hapus nomer ponsel isteri saya dari daftar kontak anda"
"Sayang " Lila mulai protes.
"Maaf, apa hak anda mengatur saya, ini ponsel saya, anda tidak berhak mengatur saya" protes Dave.
"Maaf, pembahasan tentang nomernya Lila dan ponsel saya, kita skip dulu, ada hal yang lebih penting yang harus saya sampaikan, pak Bram mengutus saya ke sini untuk menggantikan posisi pak Bram sebagai penasehat hukum anda sementara, dan..........."
Ucapannya Dave langsung terputus saat, Grey berkata "Hapus dulu nomer ponselnya Lila, saya serius ! " Grey mulai menatap Dave dengan sangat tajam.
"Hufft, pak Grey, sebenarnya apa permasalahannya anda ? Anda cemburu dengan saya ?" tanya Dave dengan polosnya.
"Cih ! mana ada seorang Greyson Adi Wijaya Simpsons, cemburu" kata Grey mulai kesal.
"Kalau begitu, marilah anda bersikap profesional, oke ?!" kata Dave yang juga mulai merasa kesal.
"Saya cuma tidak suka kalau ada seorang cowok yang belum saya kenal, menyimpan nomer ponsel isteri saya" kata Grey masih dengan nada kesal dan menatap tajam Dave.
"Hufft, oke, saya sudah memperkenalkan diri saya tadi bukan, dan Lila juga mengenal baik siapa saya, jadi apalagi masalahnya ?" Dave masih ngeyel.
"Saya tidak suka cowok lain yang belum saya kenal dengan baik, menyimpan nomer ponsel isteri saya " Grey mengulangi perkataannya kembali dengan kesal.
"Hentikan !" teriak Lila tiba tiba, Lila langsung melepaskan genggaman tangannya Grey, bangkit berdiri, dan pergi keluar dari ruangannya Grey.
Grey kaget dan menatap kepergiannya Lila dengan heran. Saat Grey bangkit berdiri dan hendak menyusul Lila, Dave langsung berucap "Saya kenal betul karakternya Lila, Lila tidak suka adanya keributan, Lila tidak suka terlalu dikekang, dan tidak diberi kepercayaan.
Grey melangkah mendekati Dave "Berani benar kamu berkata seperti itu "
"Itu kenyatannya, memangnya kenapa ?" Dave menatap Grey tanpa gentar.
Grey mulai memegang kerah bajunya Dave.
Dave mulai memegang tangannya Grey yang tengah memegang kerah bajunya.
Gue banting, nyungsep Lo. Batin Dave kesal.
Gue pukul, jungkir balik Lo. Batin Grey kesal.
Tiba tiba.........
Ceklek
"Grey, hentikan !" Rio muncul dan langsung melangkah lebar mendekati Grey, dan menarik tangannya Grey, lepas dari kerah bajunya Dave.
"Sepertinya saya salah mengiyakan permintaanya pak Bram, saya permisi " ucap Dave sambil menenteng kembali tas kerjanya.
"Tunggu !" kata Rio mencoba mencegah langkahnya Dave.
"Tolong pak Dave, duduk dulu ya" kata Rio sambil tersenyum manis ke arah Dave.
Dave menatap Rio. Karena, dilihatnya Rio ramah dan baik maka, Dave duduk kembali.
"Dimana Lila, Bro ?" tanya Grey.
"Duduk dulu !" perintah Rio tegas, Grey pun mengikuti Rio untuk duduk.
"Tolong, didik Bos anda ini, pak Rio !" kata Dave.
"Anda tahu nama saya ?" tanya Rio.
"Iya, dari pak Bram" jawab Dave santai.
"Cih ! mau baku hantam Lo ? ayok Gue ladeni sekarang !" Grey mulai meninggikan nada suaranya.
"Tenang, oke, tarik napas dalam dalam, hembuskan !" kata Rio sambil menatap Grey.
Grey hanya mendengus kesal.
"Maafkan Bos saya, dan Grey, kamu seharusnya lebih bisa mengontrol cemburu kamu, emosinya kamu !" kata Rio.
"Dia teman masa kecilnya Lila, kamu ingat ceritanya Amber kan, teman masa kecil bisa timbul cinta, dan kamu ingat kata kata Lila, dia yang mengajari Lila bela diri, Bro ?!" protes Grey.
"Itu beda Bro, Amber intens berteman dengan James, sedangkan Lila kan, terpisah beberapa waktu dengan Dave, bertemu lagi juga baru hari ini, kan " kata Rio.
"Soal melatih bela diri, harusnya kamu berterima kasih sama Dave karena, dia sudah membekali Lila ilmu bela diri sehingga, Lila bisa jaga dirinya sendiri dengan baik selama ini. Kamu tahu kan, Lila hidup sendiri di rumah, selama ibu dan ayahnya berjualan di pasar. Kalau Lila tidak punya bekal bisa ilmu bela diri, bagaimana Lila bisa menjaga dirinya sendiri selama ini ? hidup ini kejam Bro, apalagi untuk seorang cewek" Kata Rio panjang lebar kepada Grey.
Dave Erlando menatap Rio dan Grey dalam diam.
Grey masih mendengus kesal, tapi tampaknya perkataan Rio bisa meredakan rasa kesalnya.