
Sesampainya di rumah Bu Ratih, Mang Udin langsung menurunkan barang bawaannya Lila dan Grey. Lila dan Grey langsung dipeluk erat sama Bu Ratih.
"Ibu kangen banget sama kalian, Grey kamu tambah gendut ya kayaknya. " kata Bu Ratih sembari melepaskan pelukannya.
"Makasih ya nak, sudah merawat Grey dengan sangat baik." kata Bu Ratih sambil membelai pipi menantu kesayangannya.
Mereka akhirnya duduk di ruang tamu.
"Kopernya mas Grey sama mbak Lila sudah saya taruh di depan pintu kamar." kata mang Udin
"Terima kasih ya mang." Sahut Grey.
Mang Udin menganggukkan kepalanya dan melangkah keluar, untuk menaruh mobil kembali ke garasi.
"Lila bawakan camilan favoritnya ibu ." Lila berkata sambil menyodorkan paper bag mini yang berisi wingko babat, kesukaannya Bu Ratih.
"Waaahh terima kasih ya nak." Bu Ratih meraih paper bag tersebut lalu mencium lembut pipi Lila.
"Kalian sudah makan siang ? " tanya Bu Ratih.
"Sudah Bu, soalnya tadi pas berangkat nggak sempat sarapan jadi begitu nyampai sini kita langsung cari makan karena sudah sangat kelaparan." sahut Grey.
"Ya udah enggak papa, masakannya bisa dipanasi nanti untuk makan malam. Ibu masak ayam goreng madu kesukaan kalian." Kata Bu Lila sambil tersenyum.
"Terima kasih Bu." Lila mencium pipi ibu mertuanya.
"Waahhh curang nih, semua dapat ciuman Grey kok nggak, hufft menyebalkan." Grey mengerucutkan bibirnya.
Lila dan ibu tertawa melihat kekonyolannya Grey. Ibu dan Lila langsung menyergap Grey dan memberikan ciuman secara bersamaan di kedua pipi Grey. Ibu Ratih sebelah kanan dan Lila sebelah kiri.
Grey langsung memeluk tubuh kedua wanita yang sangat dia sayangi itu, lalu tertawa terbahak bahak.
"Sudah sana, istirahat dulu kalian." kata Bu Ratih kemudian.
Grey dan Lila pun pamit untuk beristirahat di kamar.
Begitu masuk ke dalam kamar, Grey dan Lila langsung merebahkan diri diatas ranjang, langsung tertidur lelap sambil berpelukkan.
Bu Ratih melanjutkan pekerjaannya di dalam kamarnya, menggambar beberapa desain baju untuk butiknya.
Setelah selesai Bu Ratih pun merebahkan diri diatas ranjang dan tertidur lelap.
Hari pun tanpa terasa beranjak sore. Mereka pun sudah terbangun dari tidur siang mereka, sudah mandi dan bersiap untuk jalan jalan.
"Ibu beneran nggak mau ikut ?" tanya Lila.
"Ibu capek sayang, kalian aja sana jalan jalan kalo ibu ikut nanti mengganggu juga kan." Goda Bu Ratih sambil tersenyum ke arah Grey.
Lila dan Grey pun mencium Bu Ratih bergantian lalu pamit untuk pergi jalan jalan.
Grey melajukan mobilnya menuju ke pusat kerajinan tangan yang terkenal di kota B.
"Lila, mana jaket kamu ?" Grey melirik Lila.
"Lupa heee lagian nggak dingin juga ." sahut Lila asal.
"Kamu tuh ya kebiasaan." Grey menoleh kesal ke arah Lila.
"Iya maaf, nanti kalo Lila kedinginan kan tinggal meluk kamu sayangku " Lila mengusap pipi Grey.
"Waahh udah pinter ngerayu ya sayang." Grey menoleh ke arah Lila dan tersenyum senang.
Sesampainya di pusat kerajinan tangan,
Grey langsung memarkirkan mobilnya dan hendak melepas seat beltnya Lila tetapi Grey langsung tertegun saat menatap Lila tengah mengucir rambutnya dengan model ekor kuda. Rambut Lila terangkat sangat tinggi sehingga membuat leher indahnya Lila terpampang nyata.
Begitu Lila selesai mengucir rambutnya dan merapikannya, Grey langsung melepas seat beltnya Lila, lalu melepas kucir rambutnya Lila membuat rambut Lila pun kembali tergerai.
Lila menoleh kesal ke arah suaminya.
"Sayang, apa sih ? kembalikan kucir rambutku."
"Nggak, nggak boleh dikucir kayak tadi" kata Grey yang langsung melangkah keluar dari mobilnya dan memasukkan kucir rambut tadi ke dalam saku celananya.
Lila spontan ikutan turun, menyusul suaminya. Masih heran kenapa juga nggak boleh dikucir, padahal Lila mulai merasa gerah, rambutnya sudah semakin panjang dan tidak boleh dipotong sedikitpun, kalo tidak dikucir bikin gerah dan terburai tidak beraturan.
Lila melingkarkan kedua tangannya di lengan Grey " Sayang, kalo nggak dikucir tuh rambut Lila kayak gini nih, terburai nggak beraturan jelek nih, hufftt." Lila mengerucutkan bibirnya.
Grey menuntun Lila untuk duduk terlebih dahulu di bangku taman yang ada di depan pusat kerajinan tangan tersebut.
Setelah mereka duduk, Grey memeluk bahu isterinya dan berkata " Sayang, siapa yang bilang kalo rambut kamu tuh jelek ?"
"Ya emang jelek, nih lihat kan nggak beraturan gini." sahut Lila sambil menunjukan ujung rambutnya ke arah Grey.
Grey meraih rambutnya Lila dan menciumnya. "Wangi gini kok dibilang jelek."
"Sayang, biar aku kucir ya, mana tadi kucir rambutku." Lila menengadahkan tangannya di depan Grey.
Grey meraih tangan Lila, menggenggamnya lalu mencium tangan Lila.
Lila spontan menarik tangannya dengan kesal. mulai bersedekap dan mengerucutkan bibirnya.
Grey mengecup bibir Lila dan tertawa "waahhh ngambek nih ceritanya."
Lila diam saja, nggak menggubris sama sekali candaannya Grey.
Grey masih tertawa lalu berkata sambil mengelus elus bahu Lila yang masih dia peluk " Sayang aku nggak suka kalo rambut kamu dikucir kayak tadi, terangkat sangat tinggi dan memperlihatkan leher kamu yang indah itu, Cih ! nggak rela aku, leher kamu nanti dilihat banyak orang apalagi cowok."
Lila masih diam bersedekap. Percuma meladeni omongannya Grey ujung ujungnya dia juga nanti yang kalah.
"Sayang, udahan dong ngambeknya" kata Grey sambil mencium pipi Lila.
"Kembalikan dulu kucir rambutku." Sahut Lila tegas.
"Ok, aku kembalikan tapi jangan dikucir kayak tadi ya, awas kalo dikucir kayak tadi aku akan langsung memakanmu disini, serius nih aku." ucap Grey sambil merogoh saku celananya untuk mengambil kucir rambutnya Lila.
Grey menyodorkan kucir rambut ke arah Lila. Grey melotot heran saat melihat Lila langsung berbalik badan dan membelakanginya.
"Sayang, udah dong ngambeknya masak suami kamu dikasih punggung kayak gini." Grey langsung manyun.
"Ya udah, kalo kamu nggak suka gaya kucir rambut ala aku tadi, ayok kamu aja yang kucir rambutku, bisa kan ?" tanya Lila
"oooo minta dikucir rambutnya, bilang dong sayang." sahut Grey sambil meringis, akhirnya setelah memakan waktu selama sepuluh menit, Grey berhasil mengucir rambut Lila dengan model standar.
Lila menahan tawa, saat tadi suaminya mengalami kesulitan untuk bisa mengucir rambutnya, apalagi saat Grey ngedumel sendiri nggak jelas, membuat Lila semakin geli.
"Yes ! berhasil ! hebat kan suami kamu nih." ucap Grey sambil menepuk dadanya setelah berhasil dengan sukses mengucir rambut Lila.
Lila mengecup pipi Grey sambil tertawa geli.
Grey menggenggam tangan Lila, mengajak Lila untuk berdiri dan mereka pun mulai melangkah masuk ke dalam, untuk melihat lihat kerajinan tangan dari berbagai daerah.