Lila And Grey

Lila And Grey
Aku akan mengenalkan kamu kepada dunia



"Sayang, badan kamu kok keringetan gini, habis ngapain sih ?" tanya Lika heran.


"Habis olah raga sama kamu, kan, pagi tadi " jawab Grey santai.


"Pak Grey, Melly masih di sini lho" sahut Melly.


"Berarti kamu nggak fokus kerja Mel, mau aku tarik bonusnya ?" kata Grey sambil mengerem langkahnya dan menoleh ke Melly.


"Hahahaha, iya deh, Melly kerja nih " jawab Melly.


Lila hanya bisa tersenyum dan menggeleng nggelengkan kepalanya.


Grey menatap ke arah depan lagi dan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam ruangannya.


Begitu masuk ke dalam ruangannya, Lila langsung menuju ke kursi kerjanya, dan Grey pun juga langsung duduk di kursi kerjanya dan mulai berkutat kembali dengan berkas berkasnya.


Tok tok tok


"Masuk !" ucap Grey.


Ceklek


Pintu terbuka, dan masuk Andrey, direkturnya Grey, yang masih jomblo, berkepala botak, dan suka sekali tebar pesona sama cewek cewek.


"Ada apa ?" tanya Grey tanpa menatap Andrey.


"Saya mau laporan pak " jawab Andrey sambil menoleh ke kanan, melihat Lila.


Cakep juga ya, asisten barunya pak Grey. Batin Andrey.


"Bawa sini !" perintah Grey, tanpa menatap Andrey. Grey masih sibuk mempelajari beberapa kontrak kerja sama yang ada di depannya saat ini.


Andrey lalu duduk di depan meja kerjanya Grey, menyerahkan berkas berkas yang tadi dia bawa, di depannya Grey. Andrey kembali menengok ke belakang, melihat Lila.


Lila tidak menyadari kalau Andrey terus mencuri pandang ke arahnya. Lila tengah sibuk membalas email email yang masuk, dari dalam negeri, maupun luar negeri.


Grey mengambil berkas berkasnya Andrey, mulai mendongakan kepalanya, dan kaget bercampur marah saat, melihat Andrey tengah menoleh ke belakang melihat Lila.


"Apa yang kamu lihat ?" tanya Grey mulai menahan geram.


Andrey langsung memalingkan wajahnya ke arah depan lagi, untuk menatap Grey.


"Apa yang kamu lihat ?" Grey mengulangi pertanyannya dengan sorot mata tajam menatap Andrey.


"Aaahhh, itu pak, anu, asisten barunya pak Grey, sangat cantik, saya baru melihatnya hari ini" kata Andrey.


"Asisten yang mana ?" tanya Grey mulai meninggikan nada suaranya.


"Itu" Andrey menoleh ke belakang lagi, dan menunjuk Lila.


"Kamu mau aku pecat ya ?" Grey mulai melotot tajam ke Andrey.


"Salah saya apa pak, kok tiba tiba mau memecat saya ?" tanya Andrey.


"Kamu tidak tahu siapa dia ? kamu kemana saja waktu saya menikah, hah ?" tanya Grey mulai kesal dan marah.


"Bapak lupa ya, saya kan absen selama satu bulan karena kecelakaan pak, kaki saya patah, kejadiannya persis sehari sebelum resepsi pernikahannya pak Grey " jawab Andrey.


"kamu tidak terima undangannya, ada nama istriku di undangannya, kan ?" protes Grey.


"Iya memang ada nama istrinya pak Grey, tapi kan, tidak ada fotonya" Andrey merespon protesnya Grey dengan santai.


Memang Andrey baru kali ini melihat Lila, secara Lila selalu naik lift khusus CEO, dan Lila nggak pernah keluar dari ruangannya Grey untuk, sekadar jalan jalan, atau ke kantin yang ada di basement kantornya Grey.


"Kamu mau tahu, dia istriku, masih mau melihatnya lagi kamu ? Cih ! kamu berani bilang cantik, tadi ?!" Grey masih nampak kesal dan marah saat menatap Andrey.


"Aaahhh, maafkan saya pak Grey, saya tidak tahu, saya juga baru kali ini datang masuk ke dalam ruangannya pak Grey, setelah insiden kaki saya patah karena kecelakaan motor beberapa bulan yang lalu " kata Andrey kaget dan mulai gemetar ketakutan.


Ahhh, sial, bagaimana aku bisa begitu ceroboh bilang cantik tadi, aaahh, dasar mulutku ini kurang di sekolahkan sepertinya. Batin Andrey sambil mulai menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap Bosnya yang tengah melotot ke arahnya saat ini.


"Lihat aku !" perintah Grey dengan suara tegas.


Andrey langsung mendongakan kepalanya menatap Grey. Aduh, tamat nih riwayatku. Batin Andrey.


"Jangan kamu ulangi lagi, aku maafkan kali ini karena kamu tidak tahu kalau Lila itu isteriku, tapi, jangan kamu ulangi lagi, pas keluar ruangan nanti jangan curi curi pandang lagi ke istriku, aku awasi kamu nanti !" Grey masih memasang wajah garangnya.


"Baik pak, terima kasih tidak jadi memecat say, maafkan kelancangan saya, pak " jawab Andrey.


Grey mulai memeriksa berkas berkas yang dibawa sama Andrey.


"Kamu ternyata hanya pandai tebar pesona dan menggoda cewek cewek ya, aku kasih tugas mengelola satu proyek saja kok amburadul seperti ini, Cih !" Grey membanting map yang berisi laporannya Andrey, di atas meja kerjanya.


"I..ii...itu Sudah maksimal pak, yang penting kan, kita masih mendapatkan proyek tersebut, dan kita masih mendapatkan pemasukkan yang lumayan dari proyek tersebut" protes Andrey.


"Lumayan kepala Lo botak, hah ?!" Grey kesal lagi karena Andrey ngeyel.


"Oooo iya, iya " kata Grey sejenak menjadi fokus ke kepalanya Andrey yang memang botak.


"Shit ! ngapain ngebahas botak kamu, memang ada pemasukan tapi jauh nih dari ekspektasiku" tambah Grey kemudian.


"Itu kan lumayan pak" Andrey masih ngeyel.


"Oke anggap saja ini kesalahanku, karena terlalu percaya sama kamu, lain kali jangan kamu ulangi, sudah aku kasih range harga yang harus kita setujui, kenapa juga kamu setujui harga segini, huufft sabar Grey sabar" ucap Grey.


"Itu karena kompetitor kita sangat keren pak, sangat pandai berbicara, saya terpojok saat itu,akhirnya saya banting harga, supaya kita bisa dapatkan proyek tersebut, yang penting kita tidak rugi, kan" kata Andrey masih membela diri.


"Oke, aku maklumi saat ini" Grey langsung membubuhkan tanda tangannya di atas berkas tersebut dan menyerahkan kembali ke Andrey.


"Saya permisi pak" Andrey berdiri dan menganggukkan kepalanya ke arah Grey.


Grey menatap Andrey dan berkata "ingat, langsung melangkah kelua, jangan melirik isteriku, aku awasi Lo!"


"Baik pak!" Andrey membalikkan badan dan menundukkan kepalanya, langsung melangkah menuju ke pintu dengan cepat, keluar, dan menutup pintu ruangannya Grey dengan pelan.


"Cih! memang gila tuh Andrey" gumam Grey masih kesal.


Grey lalu mengirim pesan text ke Rio, Grey ingin nantinya pas pembukaan hotel pertama yang Grey bangun.


Grey ingin memperkenalkan Lila ke semua orang sebagai isterinya.


Pada saat pembukaan hotel tersebut, pastinya akan hadir banyak wartawan, dan stasiun TV yang akan meliputnya. Grey pikir, itu adalah momen yang tepat untuk, sekalian mengenalkan Lila sebagai isterinya.


Rio membalas, ok. Pembukaan hotelnya Grey tersebut, masih satu Minggu lagi.


Grey menatap Lila dan berkata dalam hatinya. Aku akan mengenalkan kamu kepada dunia, sayangku, istri cantikku.


Tok tok tok


Tidak begitu lama pintu diketuk lagi.


"Masuk !" sahut Grey.


ceklek


Dave masuk ke dalam ruangannya Grey.


Grey langsung berdiri dan mempersilakan Dave untuk duduk di atas sofa.


Dave tidak berani melirik ataupun melihat ke arah Lila, dia sudah paham karakternya Grey yang, cemburuan.


Dave langsung duduk di atas sofa setelah melihat Grey sudah terlebih dahulu duduk di depannya.


Lila masih sibuk dengan pekerjaannya jadi, dia tidak memperhatikan kedatangannya Dave di ruangannya Grey.


"Ada apa pak Dave ?" tanya Grey sambil tersenyum dengan sangat sopan menatap Dave, berbanding seratus delapan puluh derajat dengan sikapnya tadi pagi.


"Saya menemukan beberapa kejanggalan, terkait dengan salah satu kafe yang anda hibahkan untuk kakak anda, cucu dari pamannya Ibu anda" kata Dave.


"Ada masalah apa ?" tanya Grey.


"Kakak anda sepertinya menjalankan kafe tersebut dengan sangat aneh, sepertinya mulai melenceng dari konsep yang anda berikan, tidak sesuai dengan yang ada di perjanjian hibah Kafe tersebut " tambah Dave.


"Pak Gilang Erlangga, kakak anda, sepertinya mempunyai bisnis ilegal, dan Kafe yang anda hibahkan, dijadikan sebagai kedok, saya takut nantinya kalau, benar seperti itu, anda akan terseret ke dalam masalah" kata Dave mulai nampak cemas.


"Kenapa Bram tidak pernah mengatakannya sama saya, ya ?" tanya Grey heran.


"Pak Bram sepertinya bekerja sama dengan pak Gilang, dia menjebak anda sepertinya, karena Kafe tersebut masih atas nama anda, bukan pak Gilang Erlangga" kata Dave.


"Ini surat hibahnya, anda bisa baca " kata Dave sambil menyodorkan surat perjanjian tersebut.


"Bagaimana bisa ? sudah aku hibahkan, harusnya sudah menjadi atas namanya mas Gilang ?" Grey mulai mengerutkan dahinya.


"Saya kecolongan, saya yakin waktu menandatangani surat ini, sudah atas namanya mas Gilang Erlangga, bagaimana bisa berubah jadi seperti ini isinya ?" Grey masih menatap surat hibah tersebut dengan heran.


"Saya curiga, pak Bram ikut andil di belakang semuanya ini, itulah kenapa dia mulai menghilang, pergi ke luar negeri " kata Dave.


"Aahhh, shit !" kata Grey kesal.


"Apa saran anda ?" tanya Grey.


"Secepatnya saya akan memperbarui surat perjanjian hibahnya, dan saya akan secepatnya menemui pak Gilang Erlangga, untuk menandatangani surat perjanjian yang baru, atas nama pak Gilang Erlangga jadi kalau ada masalah, anda tidak akan terseret" kata Dave panjang lebar.


"Oke, terima kasih banyak pak Dave" Grey berdiri saat melihat Dave berdiri. Mereka lalu saling berjabat tangan.


Dave langsung keluar dari ruangannya Grey tanpa menatap dan menyapa Lila.


"Mas, Gilang Erlangga, tega teganya kamu berbuat curang seperti ini" gumam Grey.


Bram, aku sudah mempercayai kamu, nggak nyangka kamu akan menikam aku dari belakang. Batin Grey.