Lila And Grey

Lila And Grey
Amnesia



Bu Ratih masuk kembali ke kamarnya Grey dan berkata "Ibu sudah mengganti bajunya Lila, mandi lah dulu Grey biar Ibu tunggu Lila sebentar."


Grey pun mengangguk beranjak berdiri dan menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.


Setelah keluar dari kamar mandi, Grey duduk di tepi ranjang di samping Ibunya.


"Grey, tadi ada teman SMA kamu datang ke sini sama anaknya, emm namanya Susan." kata Ibu.


"Aah iya, Grey lupa kalau Susan mau ke sini nengok Lila." Jawab Grey datar.


"Ya sudah, Ibu tinggal ya istirahatlah. Semoga besok Lila bangun dan tidak kenapa kenapa." kata Bu Ratih mengelus kepala Grey dan beranjak pergi keluar kamar.


Grey merapikan selimutnya Lila, lalu mulai merebahkan diri di samping isterinya. Mengecup kedua pipinya Lila dan dia pun terlelap tidur sambil memeluk isterinya.


Keesokan pagi, Grey terbangun dikagetkan sama teriakan lantangnya Lila.


"Kamu siapa ?" Lila langsung melompat turun dari tempat tidur.


Grey langsung terduduk di atas ranjangnya.


Grey menatap Lila dengan heran, karena saat ini Lila tengah melotot tajam ke arahnya.


"Kamu siapa ?" tanya Lila lagi.


Belum sempat Grey menjawabnya, Lila langsung berlari ke kamar mandi dan Hoooeeekkk hoooeeekkk hoooeekkk. Lila muntah muntah.


Grey langsung bangun dari ranjangnya dan berlari menuju ke kamar mandi, Shit ! dikunci ? Batin Grey.


"Sayang, buka pintunya kamu kenapa ?" tanya Grey panik.


Lila belum membuka pintunya dan masih muntah muntah.


Grey akhirnya mendobrak pintu kamar mandi


BRAAAK


Lila menoleh ke arah Grey dan langsung melotot, belum sempat Lila protes, Grey langsung membopong Lila saat dilihatnya Lila tampak lemas dan menaruh Lila di atas ranjang lagi.


"Kamu siapa, berani beraninya menggendong Lila hah ?!" Lila mulai geram.


"Tahan dulu emosi kamu, aku telepon Mae dulu ya." sahut Grey.


Lila akhirnya diam mematung sambil mengamati sekelingnya. Kamar siapa ini, batin Lila.


Grey menelepon dokter Mae "Mae cepat ke sini, Lila tidak ingat siapa aku dan dia muntah muntah pagi ini, kelihatan sangat pucat Mae."


"Ok, aku meluncur ke sana kebetulan hasil labnya juga sudah jadi." sahut dokter Mae di seberang sana.


Tidak begitu lama Bu Ratih masuk ke kamarnya Grey "Lila sayang, kamu sudah sadar nak, puji Tuhan."


Bu Ratih langsung duduk di tepi ranjang dan memeluk Lila.


"Ibu, Lila pusing sekali ini, Lila kenapa ? terus ini kamar siapa Bu ? terus dia siapa ?" tanya Lila tanpa jeda sambil menunjuk ke Grey.


Bu Ratih mengikuti arah telunjuknya Lila dan mengernyitkan dahinya "Sayang nak, dia Grey suami kamu."


Grey menutup sambungan teleponnya dan mengangguk penuh semangat sambil mendekati Lila "iya sayang aku suami kamu."


"Jangan mendekati Lila, aaahhh kepala Lila pusing Bu." kata Lila sambil memegangi kepalanya.


Bu Ratih memeluk Lila kembali.


"Sebentar, kenapa kamu ingat sama Ibu aku tapi kamu nggak ingat sama aku ? Aaahhh sayang kenapa kamu pilih kasih sih ?" Grey mulai protes.


Lila melepaskan diri dari pelukannya Bu Ratih dan menatap Grey "Apa sayang sayang, dan siapa ibu kamu ? ini Ibu aku." Jawab Lila.


"Hah ?!" Ibu Ratih dan Grey ternganga secara bersamaan.


"Ok, kita diam saja dulu ya. Kita tunggu Mae." sahut Grey kemudian, karena sumpah dia sungguh tidak memahami situasi yang ada saat ini.


Satu jam berlalu penuh keheningan. Akhirnya dokter Mae nongol.


"Cepat periksa dia Mae, dia tidak ingat sama aku tapi dia ingat Ibu." Grey langsung berkata dengan penuh ketidaksabaran.


"Ok, aku periksa ya." Dokter Mae langsung duduk di tepi ranjang dan Ibu pun spontan berdiri lalu melangkah berdiri di sampingnya Grey.


Lila masih diam dan nurut aja waktu diperiksa sama dokter Mae.


"Selamat ya mbak Lila, anda hamil." kata dokter Mae kemudian.


Bu Ratih dan Grey langsung sumringah tetapi tidak demikian dengan Lila.


"Hah ? bagaimana mungkin saya hamil dok ? saya belum menikah, hiks hiks hiks." kata Lila lirih.


"Sayang." Grey hendak melangkah mendekati Lila tapi ditahan sama Bu Ratih karena dilihatnya Lila tampak bingung saat ini.


"Hah ?" Bu Ratih dan Grey kembali ternganga secara bersamaan.


"Mbak Lila, jangan mikirin soal kehamilan dulu ya. Fokus sama kesehatannya mbak Lila aja, soal laki laki yang menghamili mbak Lila, biar saya saja yang mencari dan menghukumnya." Sahut Dokter Mae sambil melirik ke Grey kemudian mengulum bibirnya menahan tawa.


"Iya dok, tolong ya cari dia dan bawa dia ke sini di hadapannya Lila biar Lila kasih dia bogem mentahnya Lila." jawab Lila sambil mengacungkan tinjunya di depan dokter Mae.


"Saya sudah bawakan beberapa vitamin dan obat untuk mbak Lila, diminum sesuai aturan minum ya mbak, dan Bu Ratih tolong tunggu mbak Lila sebentar ya, saya mau ngomong sama Grey." kata dokter Mae kemudian.


Ibu Ratih mengangguk dan kembali duduk di tepi ranjang. Dokter Mae berdiri dan langsung mengajak Grey untuk keluar kamar.


"Mae, gimana keadaan isteriku ? kok dia bisa lupa sama aku tapi ingat sama Ibu, aahh sial !" kata Grey antara kesal dan bingung.


"Lila terkena efek obat bius tipe XXX, itulah kenapa dia mengalami amnesia. Tapi jangan khawatir paling lama seminggu amnesianya. Kalau kondisi dan fisiknya Lila kuat bisa kurang dari seminggu amnesianya." Dokter Mae mulai memberikan penjelasan.


"Tapi kenapa dia lupa sama aku dan ingat sama Ibu ? terus soal kehamilannya bagaimana ?" tanya Grey kemudian lebih detail lagi.


"Kehamilannya aman, tapi lebih baik periksakan kehamilan Lila lebih lanjut ke rumah sakit, karena aku bukan dokter kandungan." Jawab dokter Mae.


"Kalau Lila lupa sama kamu kemungkinan masih ada endapan dari obat bius tersebut di beberapa titik saraf otaknya Lila, dan jangan kamu paksa Lila untuk mengingat sesuatu yang dia belum ingat saat ini, karena itu bisa memperparah keadaannya, apalagi saat ini dia hamil." kata dokter Mae sambil menepuk nepuk bahu Grey.


"Hufftt ok, terima kasih Mae." jawab Grey.


"Aku pamit ya, jangan lupa secepatnya periksakan kandungan Lila ke rumah sakit." sahut dokter Mae.


"Ok Mae, maaf aku tidak antar sampai keluar ya." kata Grey sambil tersenyum.


Dokter Mae mengangguk dan tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Grey.


Grey masuk lagi ke kamarnya. Grey melihat Lila sedang asyik mengobrol dengan Ibunya.


"Kamu kok seenaknya masuk ke kamar gadis sih ?" Lila mulai nyolot ke arah Grey dan melototkan matanya.


Grey tersenyum sedih menatap isterinya. Betapa Grey saat ini ingin memeluk Lila, dan merayakan kebahagiaan bersama atas kehamilannya Lila. Ingin mengelus elus perut Lila dan menciuminya.


Grey duduk di atas sofa sambil menatap Lila penuh kerinduan.


"Emmm Ibu pesan makanan dulu buat kamu ya sayang, dan buat cucu Ibu, habis makan kamu langsung minum obat. Sebentar ya sayang " kata Bu Ratih sambil mengusap pipinya Lila.


Bu Ratih berdiri menuju ke intern phone yang terpasang di tembok kamarnya Grey, mengangkat dan mulai memencet nomer extension yang menuju ke dapur, sambil menoleh dan bertanya sama Grey "Kamu mau makan di sini juga apa mau makan di bawah ?"


"Grey malas makan Bu, nanti aja." sahut Grey sambil menghela napas pelan.


"Baiklah, tapi ingat kamu harus tetap makan demi Lila dan calon anak kamu, aahhh halo mbok Iyem tolong bawakan nasi dan beberapa lauk pauk juga minuman ke atas ya." kata Bu Ratih.


Mbok Iyem menjawab "Baik Bu " lalu menutup intern phonenya.


Tidak begitu lama mbok Iyem nongol membawakan pesanannya Bu Ratih tadi dan langsung pamit untuk ke dapur lagi.


"Sayang makan dulu ya, ibu suapi, tapi sebentar, kamu minum dulu obat anti mualnya nih." Kata Bu Ratih.


Lila pun menganggukkan kepalanya. Makan dengan lahap disuapi Bu Ratih dan langsung meminum semua obatnya begitu makanannya sudah habis.


"Lila permisi mau mandi dulu ya Bu ? Emm ini kamar Lila ? dan itu almari Lila bukan ?" Bu Ratih mengangguk menjawab pertanyannya Lila dan Lila pun berdiri menuju ke almarinya. dan tampak mengernyitkan dahinya, langsung menoleh ke arah Bu Ratih.


"Ada apa sayang ?" tanya Bu Ratih ikutan heran.


Grey ikutan bertanya "Kenapa, apa yang sakit ?"


"Ini kok ada baju cowok di almarinya Lila ? ini baju cowok brengsek yang menghamili Lila ya ? kok bisa di sini Bu baju baju ini ?" tanya Lila ke Bu Ratih tanpa menghiraukan pertanyannya Grey.


"Aaahh itu.............." Bu Ratih mau menjawabnya tetapi dipotong sama Grey.


"Itu baju bajuku, aku nitip di almarimu kemarin karena almariku rusak." Jawab Grey asal.


"Oooooo." Lila pun percaya, lalu mengambil baju ganti dan langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi.


"Grey yang sabar ya." kata Bu Ratih prihatin sambil menatap anaknya.


"Iya Bu, kata Mae tadi gejala ini nggak akan lama kok. Mae tadi pesan, kita nggak boleh memaksa Lila untuk ingat hal hal yang belum Lila ingat saat ini, karena bisa memperparah kondisinya Lila." kata Grey sambil menghela napas lagi.


Grey menelepon Rio, menceritakan kondisinya Lila saat ini dan ijin tidak masuk kerja dulu selama seminggu. Tetapi akan tetap memantau kondisi kantor dari rumah.


Rio pun mengiyakan, dan meminta Grey untuk kuat dan sabar. Dan nanti sore akan mampir ke rumah Grey bareng Melly untuk menengok Lila.


Lila keluar dari kamar mandi, menuju ke ranjang lagi dan duduk di tepi ranjang. Menatap Bu Ratih lalu menatap Grey secara bergantian. Lalu berkata "Cowok brengsek yang menghamili Lila, namanya siapa sih ?"


"Aaarrghhh " Grey menjambak rambutnya sendiri.


Aku bukan cowok brengsek Lila, aku suami kamu. Batin Grey sedih.


❤️❤️❤️❤️Bersambung❤️❤️❤️❤️