Lila And Grey

Lila And Grey
Strawberry



Dave Erlando akhirnya pulang. Papa dan ibunya Grey pamit keluar sebentar untuk sekadar jalan jalan.


Grey terpaksa diam saja di rumah untuk menemani Lila. Mereka duduk bersantai di ruang keluarga.


"Sayang, Lila minta hadiahnya sekarang boleh?" tanya Lila sambil rebahan di atas paha suaminya.


"Boleh, mau minta apa?" tanya Grey.


"Aku pengen strawberry" kata Lila dengan polosnya.


"Oke, kamu mau ikut beli atau di rumah aja?" tanya Grey sambil membalas email dari manajer Kafenya yang ada di London, lewat ponselnya.


"Aku nggak mau strawberry yang biasanya" kata Lila sambil tersenyum penuh misteri.


"Waaahhh, senyum kamu mengandung cerita horror nih" kata Grey sambil mulai meletakkan ponselnya di atas sofa dan mulai menatap Lila.


Lila tertawa dan menepuk pelan dada bidang suaminya.


"Senyum istri sendiri dikatain horror, dasar ya" Lila mulai protes.


"Tadi tertawa sekarang cemberut terus bentar lagi marah marah, bukankah tokoh cerita di dalam film horror tuh seperti itu, hahahaha?" kata Grey sambil tertawa lepas tanpa dosa.


Lila ikutan tertawa lepas.


"Oke, sekarang mau kamu strawberry yang kaya apa?" tanya Grey sambil memainkan rambut bergelombangnya Lila.


Lila tidak menjawab pertanyannya Grey, alih alih mengelus elus bibir Grey dengan jari jempolnya.


"Ooooo mau tas bergambar strawberry, atau cincin berbentuk strawberry, atau liontin dengan bentuk strawberry?" tanya Grey kemudian.


Lila menggeleng nggelengkan kepalanya sambil terus memainkan jari jempolnya diatas bibir suaminya.


Grey menatap Lila dengan heran.


Tiba tiba Lila bangun dan menggigit pelan bibirnya Grey.


"Aaaw, ngapain kamu menggigit bibirku?" tanya Grey heran.


"Nggak tahu kenapa belakangan ini, aku suka sekali melihat bibir kamu sayang, bibir kamu mirip banget sama buah strawberry di mata aku" kata Lila dengan santainya.


"Hah?" Grey langsung mengernyitkan dahinya sambil menatap Lila dengan penuh tanda tanya.


"Hahaha, jangan menatap Lila seperti itu, emm sekali lagi ya, Lila minta strawberry-nya" kata Lila dan langsung menggigit pelan bibirnya Grey sekali lagi.


"Sayang, ini namanya kamu membangunkan Kobra yang sedang tidur" kata Grey.


Lila langsung membungkam bibirnya Grey dengan tangannya, saat Grey ingin mencium bibirnya.


"Enggak boleh lebih, tanya dulu sama tante Florence kalau mau lagi!" kata Lila sambil tersenyum lebar.


"Aaah, sayang, kamu nakal juga ya, lalu gimana nih?" tanya Grey mulai protes.


"Tanya tante Florence dulu!" Lila dengan santainya bangun dan berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air minum.


Grey menatap kepergiannya Lila dengan pandangan memelas dan mengusap usap kepalanya.


Lila tertawa geli melihat tingkah polosnya Grey.


Sementara itu, di rumahnya Rio. Melly mulai membuka.matanya, dia menoleh ke kanan dan melihat Rio masih terlelap.


Melly hendak bangun dan ingin ke kamar mandi, tapi tiba tiba rasa sakit di area sensitifnya mengagetkan dia, dan secara spontan Melly berteriak dengan sangat keras.


"Aawwww" teriak Melly dengan kerasnya.


Rio langsung membuka matanya karena, kaget.


"Ada apa Mel?" tanya Rio menatap Melly dengan rasa khawatir.


Rio duduk di depannya Melly dan menatap Melly.


"Ada apa, kenapa teriak tadi?" tanya Rio sambil memegang kedua pundaknya Melly dengan kedua tangannya.


"Sakit" kata Melly sambil menunjuk bagian bawah tubuhnya.


"Aaah, ada darah" kata Rio saat melihat di atas sprei ada bercak darah.


Rio langsung membopong Melly dan bangun dari ranjangnya.


"Beb, Melly mau dibawa kemana nih?"tanya Melly heran.


"Kita ke rumahnya papa sekarang, untuk ketemu sama mama, kita minta mama mengecek kondisi kamu saat ini karena, ada darah Mel, aku khawatir" kata Rio sambil terus membopong tubuh istrinya keluar dari kamarnya.


"Stop!" teriak Melly.


Rio langsung mengerem langkahnya dan menatap Melly.


"Balik ke ranjang, Beb!" pinta Melly.


"Tapi Mel......."


"Sudah nurut aja sama Melly!" kaya Melly sambil mengelus mesra pipinya Rio.


"Kalau gitu, aku telpon mama aja, biar mama ke sini memeriksa kamu" kata Rio.


mulai bingung dan panik.


Baru kali ini Melly melihat seorang Rio, panik dan kebingungan.


"Stop!" kata Melly lagi.


"Kenapa stop lagii? kamu berdarah tuh" kata Rio sambil duduk di tepi ranjang di sampingnya Melly.


"Sayang, ini tuh biasa, mami juga cerita sama Melly, kalau keadaan ini tuh biasa dialami oleh sepasang pengantin baru" kata Melly sambil tersenyum dan mengelus mesra pipinya Rio.


"Maafkan aku ya Mel, aku tidak sadar telah menyakiti kamu, sampai kamu berdarah" kata Rio menatap Melly dengan tatapan sendu.


"Beb, justru darah ini membawa pertanda.bagus, berarti kamu yang pertama untuk Melly" kata Melly.


"Ooo gitu ya, nanti kalau pas berduaan sama mama, Rio akan nanya nanya ah" kata Rio.


"Hahahaha ternyata ada juga ya, hal yang tidak diketahui sama seorang Rio Putra" kata Melly geli.


Rio tersenyum lebar menatap tawa Melly.


"Aku pengen ke kamar mandi Beb, tapi buat jalan sakit nih" kata Melly.


"Oke, aku bopong kamu ya" kata Rio sambil mulai membopong lagi tubuhnya Melly dan menuju ke kamar mandi.


"Aku tungguin ya" kata Rio.


"Melly malu dong, kamu keluar aja Beb, sudah nggak papa kok, Melly bisa sendiri nih" kata Melly.


"Oke, aku tinggal, tapi kalau butuh bantuan langsung panggil aku, ya!" kata Rio sambil beranjak keluar dari kamar mandi.


Setelah keluar dari kamar.mandi, Melly tampak pelan pelan melangkah menuju ke ranjang. Rio tergopoh gopoh membopong tubuh Melly kembali.


"Kamu lapar nggak, mau apa, aku pesankan" kata Rio setelah membaringkan tubuh Melly di atas ranjang.


"Pengen sate kambing heeee" kata Melly.


"Oke" Rio mulai memesankan sate kambing untuk Melly dan dirinya.


"Sayang, kita ke rumahnya papa nanti agak malam aja ya, biar lebih enakan dulu badan kamu" kata Rio.


Melly menganggukkan kepalanya dan berkata "Iya, Melly juga malu nih, jalannya Melly masih belum bisa cepat, masih nampak aneh kan cara jalannya Melly tadi?"


"Iya, kaya robot hahahaha" jawab Rio.


Melly menepuk pelan pundaknya Rio.


"Kita ke depan dulu ya, sambil menunggu makanannya datang" kata Rio.


Melly menganggukkan kepalanya dan tersenyum penuh cinta menatap Rio.


Grey mulai menghubungi ponselnya Tante Florence via video call.


"Halo Tante, Grey mau nanya nih" kata Grey begitu ponselnya tersambung dengan ponselnya tante Florence, mamanya Rio.


"Iya, sayangku mau nanya apa?" kata Tante Florence di seberang sana.


"Emmm, aaahhh harusnya Lila aja nih yang nanya, sebentar ya, te" kata Grey sambil melangkah mendekati Lila.


"Sayang, kamu yang nanya ya, aku malu sama.tante Florence, lagian kalian kan sama sama cewek, bisa lebih santai ngomongnya" kata Grey.


"Baiklah" kata Lila sambil meraih ponselnya Grey.


"Ada apa nih kok main lempar lemparan gitu, hahahaha" kata Tante Florence geli, saat mendengarkan omongannya Grey.


"Kita pengen tahu nih tante, emm, untuk ngejatah suami tuh baiknya berapa kali dalam seminggu, khususnya untuk suami yang istrinya tengah hamil kaya Lila nih" kata Lila to the point.


"Wkwkwkwkwkwk, kenapa Grey nggak ngomong sendiri ke tante, oalah Grey, punya malu juga ya, ternyata kamu, tuh" kaya tante Florence geli.


"Grey nggak ada te, silakan lanjutkan" sahut Grey dengan polosnya.


"Wkwkwkwkwk dasar kamu ya" kata Tante Florence masih tertawa lepas mendengar celotehannya Grey.


Lila ikutan tertawa dan menepuk pelan pundak suaminya.


"Emm, Grey ini khusus untuk kamu ya, dengarkan baik baik, untuk suami yang mempunyai istri yang sedang hamil seperti Lila, tuh jatahnya cuma sekali dalam seminggu" jawab tante Florence.


"Yaaahh, kok nggak dikasih bonus sih te, Grey sudah berkelakuan baik lho" protes Grey dengan polosnya.


"Wkwkwkwkwk, nggak ada bonus karena, kandungannya Lila masih empat bulan, masih rentan, nanti di atas empat bulan kalau kondisi Lila sehat dan kuat baru boleh dilakukan sesering mungkin, dan yang penting tuh kualitasnya Grey, bukan kuantitasnya" kata Dokter Florence panjang lebar.


"Huffft, apes dong hari ini, nggak dapat bonus" Grey mulai mengerucutkan bibirnya.


"Hahahaha, ya harus sabar dong" kata Dokter Florence sambil tersenyum.


"Ya udah tante, makasih ya, Grey tutup ya telponnya, love you" kata Grey.


"Sun sayang dari tante untuk semuanya" kata tante Florence, lalu memutus sambungan video callnya Grey.