
Tepat pukul delapan, matahari mulai menyapa kota London, Pasangan yang penuh cinta masih bersantai ria, sudah rapi, sudah mandi, sudah wangi, dan duduk di tepi ranjang sambil berpelukkan, tengah menatap jendela dan melihat salju yang sudah mulai turun.
"Sayang, indah banget ya, tapi sayang, kenapa tidak begitu dingin ya hawanya ?" tanya Lila di dalam dekapan hangat suaminya.
Grey mengelus elus bahunya Lila dan berkata "iya sayang, cuaca dingin di Inggris tidak begitu ekstrem"
"Kamu tahu nggak, kalau musim dingin begini, matahari cuma nongol sampai jam empat sore nanti " kata Grey kemudian.
"Aahhh benarkah ?" kata Lila sambil mengelus elus dada bidang suaminya.
"Sayang, kamu suka nggak sama rumah ini " tanya Grey lirih.
"Suka, walaupun cuma satu lantai, tapi cukup besar " jawab Lila.
"Syukurlah kalau kamu suka, aku beli rumah ini dua tahun yang lalu, entah kenapa aku kepikiran untuk membelinya dan spontan aja aku langsung beli" Grey mulai mengecup puncak kepalanya Lila.
Lila langsung melepaskan diri dari pelukannya Grey "Hah ? ini rumah kamu sayang ? aku pikir kita nyewa "
"Rumah kita sayang, ini rumah kita " jawab Grey sambil tersenyum penuh cinta menatap wajah kagetnya Lila.
Aaahh polos sekali ya isteriku ini, dia belum tahu ternyata seberapa besar harta kekayaan yang aku punya. Batin Grey.
Grey kembali merengkuh Lila ke dalam pelukannya dan berkata "Sayang, kamu tuh kenapa nggak pernah meminta apa apa sama aku, seperti tas branded, sepatu, perhiasan, mobil, atau berlian ? apa saja mintalah sayang, aku akan belikan apapun yang kamu minta."
"Lila nggak butuh apa apa sayang, Lila cuma butuh kamu peluk seperti ini setiap hari " jawab Lila.
"Hahahaha beruntungnya aku memilikki isteri semanis kamu" kata Grey sambil meraih dagu Lila dan mulai mencium bibir Lila awalnya hanya kecupan kecil, berlanjut jadi ciuman lembut, semakin dalam dan menggairahkan.
Grey mulai merebahkan Lila di atas ranjang, dengan pelan pelan, lalu mulai menelusupkan tangannya ke dalam sweatermya Lila dan mulai bermain main dengan gunung kembarnya Lila dengan tangannya, sambil terus memainkan lidahnya di dalam mulutnya Lila.
Tok tok tok, pintu diketuk sama seseorang.
Grey langsung menghentikan aksinya.
"Grey sarapan sudah siap" teriak Bu Ratih dari balik pintu.
"Baik Bu, kami akan segera menyusul" jawab Grey.
Bu Ratih lalu beranjak pergi menuju ke ruang makan terlebih dahulu.
"Ayok sayang kita sarapan dulu, kita lanjutkan permainan kita nanti malam ya " Grey tersenyum menggoda dan langsung menggandeng tangan Lila, berjalan keluar dari kamar, langsung menuju ke ruang makan.
Melly, Rio dan ibu sudah siap menunggu Lil dan Grey. Setelah Lila dan Grey duduk, sang juru masak langsung menghidangkan sarapan untuk mereka.
"Maaf " Lila langsung berdiri dan melangkah lebar menuju ke toilet.
Lila mulai muntah muntah kembali.
Grey pun bangkit berdiri dan langsung menyusul Lila.
"Sayang, kamu nggak apa apa ?" tanya Grey khawatir sambil menepuk nepuk pelan punggungnya Lila.
Lila hanya diam saja dan langsung menyandarkan diri di tubuhnya Grey. Melihat isterinya tampak lemas, Grey langsung membopong Lila kembali ke kamar.
"Sepertinya mbak Lila nggak cocok sama makanan Eropa" kata Melly.
"Iya, ibu sebenarnya juga nggak cocok, baru kali ini ibu makan makanan Eropa." sahut Bu Ratih.
"Emm Chef, come here for a minute please " kata Rio kepada si juru masak sambil mengayunkan tangannya, suatu kode agar chef tersebut mendekatinya.
Juru masak tersebut langsung melangkah mendekati Rio dan berdiri di depannya Rio.
"What is your name ?" tanya Rio.
"My name is Ivan" jawab Chef tersebut.
"Ok Ivan, emm can you cook Asian food ?" tanya Rio kemudian.
"Yes, I can sir" jawab chef tersebut.
"Ok then, for the next menu please serve Asian food " kata Rio.
"Okay sir " jawab Ivan.
Rio tersenyum dan Ivan pun melangkah pergi menuju ke dapur lagi.
Tidak begitu lama, Grey nongol lagi dan langsung bikin susu cokelat pakai es, sesuai permintaannya Lila, lalu mengambil nasi dengan lauk abon, serundeng kelapa dan kering tempe dan melangkah balik lagi ke kamar tanpa menghiraukan Melky, Rio dan ibu yang tengah memperhatikannya.
"Waaah pak Grey ternyata so sweet banget ya, seorang bos besar yang terkenal dingin, galak super tegas dan disiplin, ternyata bisa lembut juga sama isterinya." kata Melly sambil tersenyum takjub.
"Bagi aku sama saja, Grey ya Grey " sahut Rio.
"Grey itu mirip sama papanya, waktu ibu hamil dulu papanya Grey juga perhatian banget sama ibu " Kat Bu Ratih sambil tersenyum bahagia mengingat kembali masa lalunya.
"Aaahh so sweet " sahut Melly.
"Ooooo iya, kalian mau pergi ke rumah papanya Grey jam berapa ?" tanya Bu Ratih kepada Rio.
"Nggak jadi Bu, tadi pagi Stephanie menelepon aku, katanya dia mau ke sini dulu, ada yang mau dia ceritakan terlebih dahulu." Grey tiba tiba nongol dan menjawab pertanyaan dari ibunya.
"Ooooo begitu, Lila gimana kondisinya ?"
Grey memberikan gelas dan nasi yang dia bawa dari kamar kepada pengurus rumahnya, lalu duduk dan berkata "ya, kalau makan pakai abon, serundeng kelapa, dan kering tempe lahap sekali dan habis tak bersisa, tapi kan nggak bergizi, hufft Grey jadi khawatir nih, kalau Lila sama anak Grey nanti kurang gizi"
"Nggak apa apa, masih mending Lila masih mau makan dan minum susu, vitamin dari dokter juga sudah diminum kan semuanya ?" tanya ibu.
"Sudah Bu" jawab Grey.
"Aman berarti, dulu ibu waktu hamil kamu juga seperti Lila saat ini, nyatanya ibu dan kamu baik baik saja kan, sehat kan" kata ibu kemudian.
"Aku sudah minta sama chefnya kalau mulai nanti makan siang dan seterusnya, aku suruh dia masak masakan Asia, semoga Lila cocok" sahut Rio.
"Waaahh makasih bro untuk perhatiannya " jawab Grey sambil mulai memakan sarapannya.
"Demi adik dan calon keponakan gue, gue akan lakukan apapun" ucap Rio santai.
"Siapa adik kamu ?" tanya Grey sambil mengunyah sarapannya.
"Iya Lila lah siapa lagi ? kamu ? laaahh kita kan seumuran" jawab Rio santai.
"Cih ! enak aja adik adik, adik darimana ?" ucap Grey kesal.
"Kalau sedang makan nggak boleh kesal, nanti nggak berkah lho, benar kan Bu ? " ucap Rio sambil tersenyum jahil.
"Iya benar kata Rio, makan harus dengan hati yang gembira " kata Ibu Ratih sambil ikutan tersenyum jahil.
"Ya ya ya bela aja tuh anak kesayangannya ibu" sahut Grey.
semua akhirnya tertawa melihat ekspresinya Grey.
Selesai sarapan, mereka semua menuju ke ruang tamu. Menunggu kedatangannya Stephanie.
Lila pun keluar dari kamar, berjalan menuju ke ruang tamu, dan duduk di sampingnya Grey.
Grey langsung menoleh menatap Lila, dan memeluk bahunya Lila "Masih mual ?"
Lila tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Tidak begitu lama Stephanie pun nongol, semua pun spontan berdiri menyambut kedatangannya Stephanie.
Stephanie tersenyum menatap satu per satu Rio, Melly, Grey, Lila dan Ibu Ratih. Lalu secara spontan berlari dan memeluk Grey.
Grey membeku dan tidak merespon pelukannya Stephanie. Aneh ya, kenapa aku nggak merasakan ikatan sebagai saudara sama nih cewek, padahal kita saudara satu ayah. Batin Grey.
Setelah melepaskan pelukannya atas Grey, Stephanie langsung memeluk Bu Ratih. Bu Ratih membalas pelukannya Stephanie sambil mengelus elus lembut rambut panjang dan pirangnya Stephanie.
Setelah melepas pelukannya Stephanie tersenyum menatap Lila "Kamu Lila kan ?"
Lila tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Saat Stephanie hendak memeluk Lila, Grey mencegahnya dan menyuruh semua untuk duduk kembali.
"Sayang kenapa kok nggak boleh peluk sih ?" Lila mulai mengerucutkan bibirnya.
"Kamu kan lagi hamil kalau kenapa kenapa gimana ?" jawab Grey sambil memeluk bahunya Lila.
"Aaah selamat ya Lila, aku ikut bahagia " kata Stephanie senang sambil menatap Lila.
"Mbak Stephanie cantik banget ya, aahh Melly jadi penasaran sama wajah dari papanya pak Grey" kata Melly sambil menatap wajah Stephanie dengan kagum.
"Gantengnya sebelas dua belas sama ayang Bebeb mu ini Mel" sahut Rio santai.
"Cih !" Grey mendengus kesal.
"Hahaahaha kalian lucu dan menyenangkan ya " kata Stephanie dengan mata berbinar binar
Stephanie langsung merasa nyaman dan hangat berada di tengah tengah mereka.
"Baiklah, langsung saja katakan apa maksud dari kedatanganmu ke sini" ucap Grey sambil menatap Stephanie datar.
"Aaahhh baiklah, but you have to listen to my story carefully, no interruption until I'm done" kata Stephanie mulai menatap Grey dengan serius.
"Ok, please " jawab Grey.