
Grey langsung menghubungi ponselnya Rio.
"Halo bro, elo kesini secepatnya ya, ada kasus genting berkaitan dengan mas Gilang" kata Grey saat sudah tersambung dengan ponselnya Rio.
"Oke" jawab Rio dan langsung menutup sambungan teleponnya.
"Ada apa Beb?" tanya Melly.
"Ada masalah serius dan gawat,emm, kamu mau ikut apa di rumah aja?" tanya Rio.
"Ikut, aku takut di rumah sendiri" jawab Melly.
"Kamu sudah baikan, masih sakit nggak?" tanya Rio.
"Sudah mendingan kok" kata Melly.
"Oke, ayok kita ke rumahnya Grey" kata Rio sambil membopong istrinya masuk ke dalam mobil.
"Tunggu bentar ya, aku kunci pintu rumah dulu" kata Rio yang langsung berbalik badan dan berlari menuju ke pintu rumahnya dan langsung menguncinya.
Rio lalu masuk ke dalam mobil, memasangkan seat beltnya Melly dan langsung ngebut menuju ke rumahnya Grey.
Sementara itu Grey melakukan sambungan telepon lagi, kali ini dia menghubungi Dave Erlando.
"Halo, pak Dave, tolong anda secepatnya ke rumah saya, ya!" kata Grey.
"Baik pak Grey, saya langsung meluncur ke sana" jawab Dave Erlando dan langsung memutus sambungan teleponnya dengan Grey.
Tidak begitu lama Rio sampai di rumahnya Grey. Rio nampak membopong Melly. Rio langsung mendudukkan Melly di atas sofa, di sampingnya Lila, dan langsung beranjak pergi ke lantai atas dengan langkah lebar, menuju ke ruang kerjanya Grey.
Ceklek
Rio membuka pintu ruang kerjanya Grey, langsung duduk dan bertanya "ada masalah apa?"
Grey menaruh telunjuknya di atas bibirnya, menyuruh Rio untuk berdiam diri dulu karena, dia masih sibuk menelepon.
Sementara itu di lantai bawah, ketiga cewek cantik sedang mengobrol dengan cerianya, mereka membahas malam pertamanya Melly.
Lila dan Grace nampak heran dan kaget sewaktu Rio membopong Melly tadi.
"Apa mbak Melly sakit?" tanya Lila merasa khawatir.
"Nggak, mbak, cuma sakit di.......heee, tahu kan, tragedi malam pertama" jawab Melly.
"Wuuuiihh, kaya di film misteri aja, ada tragedinya, hahahaha" sahut Grace.
"Hahahaha, iya Lila paham, Lila dulu juga gitu" Lila langsung tertawa lepas.
Raja diam saja, Raja asyik memakan buah apel yang tadi dikupasin dan dipotong kecil kecil sama Lila.
"Emm, Raja mau nonton film kartun?" tanya Lila.
Raja menganggukkan kepalanya, Lila langsung menggandeng tangannya Raja dan mengajak Raja ke ruang keluarga. Lila menyetelkan TV-nya, pas tayangan film kartun kesukaannya Raja, lalu menyerahkan remote TV-nya ke Raja, dan berkata "nonton sendiri apa ditemani nih?"
"Sendili belani kok ante" jawab Raja sambil memakan kembali apelnya.
Lila mencium pucuk kepalanya Raja, mengacungkan kedua jempol nya, dan melangkah pergi meninggalkan Raja.
Lila kembali duduk di sampingnya Melly.
"Raja anaknya pintar sekali ya, mandiri, dan berani" kata Lila sambil tersenyum ke arahnya Grace.
"Iya, aku mendidiknya seperti itu, aku latih dia untuk mandiri, kuat, dan berani karena, dia seorang cowok" jawab Grace sambil tersenyum.
"Salut aku sama kak Grace, berhasil mendidik Raja dengan baik" kata Lila.
"Semoga anak Lila, juga bisa tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar seperti Raja" Kata Lila sambil mengelus elus perutnya yang sudah mulai nampak gendut.
"Amin" sahut Grace dan Melly secara bersamaan.
"Aku jadi pengen cepat cepat hamil nih, kalau ngobrolin soal anak"
Dave Erlando tiba tiba masuk ke dalam ruang tamu sambil terengah engah "Lila, maaf, suami kamu mana?"
"Oooo, langsung naik aja kak, lalu belok kanan, di ruang paling pojok ya" Lila menjawab pertanyaannya Dave, sambil berdiri, dan memberikan arahan di mana letak ruang kerjanya, Grey.
"Oke, terima kasih ya, maaf semuanya, saya permisi" Dave tersenyum kepada Lila, Grace, dan Melly, lalu langsung melangkah lebar setengah berlari naik ke lantai atas menuju ke ruang kerjanya Grey.
Lila kembali duduk dan bertanya "ada apa ya?"
Melly hanya mengangkat bahunya.
"Semoga nggak ada apa apa" sahut Grace.
Tok tok tok
"Masuk!" sahut Grey.
Dave pun langsung membuka pintu ruang kerjanya Grey, dan melangkah masuk. Dave langsung duduk di sampingnya Rio.
Grey masih menghubungi kepala pengawalnya untuk membawa anak buahnya, secepatnya, untuk menjaga rumahnya Grey.
Grey menatap semua yang hadir, setelah selesai menghubungi kepala pengawalnya. Kemudian Grey melanjutkan memencet kembali ponselnya, giliran kepala polisi kenalannya yang dia hubungi.
Grey, melakukan video call, lalu menghubungkan sambungan video callnya tersebut ke TV super canggihnya yang tertanam di tembok ruang kerjanya.
Semua menghadap ke layar televisi tersebut setelah nampak wajah dari bapak kepala polisi yang dihubungi oleh Grey.
"Ada apa pak Grey?" tanya pak Gatot, nama dari kepala polisi tersebut.
"Aahh, Gilang Erlangga, dia buronan kami pak" jawab pak Gatot.
"Saya tahu dia di mana sekarang, untuk itu saya mohon kerja sama dari anda" kata Grey.
"Aaaah, baiklah pak Grey, siap! lalu siapa yang diculik?" kata pak Gatot.
"Ibu, papa, dan ibu mertua saya" jawab Grey.
"Apa?!" Rio dan Dave langsung kaget dan menoleh ke Grey.
Chef Charlie langsung mengepalkan tinjunya menahan geram.
"Bagaimana Anda tahu, apa Gilang menghubungi anda dan mengancam anda?" tanya pak Gatot.
Rio dan Dave Kembali menatap layar TV-nya Grey.
"Iya, dia mengirimi saya pesan text, foto orang tua saya, dan ibu mertua saya, juga sebuah alamat, dia menyuruh saya untuk datang ke alamat tersebut, kalau tidak, dia akan membunuh kedua orang tua saya dan ibu mertua saya." Grey menjelaskan semuanya kepada pak Gatot.
"Oke pak Grey, apa yang Gilang kirim ke pak Grey, tolong kirim ke ponsel saya, sekarang juga!" kata pak Gatot.
Grey langsung mengirim foto dan alamat yang Gilang Erlangga kirimkan, ke ponselnya pak Gatot.
Pak Gatot terlihat mengerutkan dahinya saat menatap layar ponselnya.
"Oke, pak Grey tenang saja, kita akan mengawal pak Grey dari jauh supaya tidak ketahuan sama Gilang, kalau anda datang membawa polisi. Saya dengan segera akan memerintahkan anak buah saya untuk menuju ke lokasi terlebih dahulu, beberapa sniper, dan pasukan khusus, untuk menempati post post yang strategis, sehingga bisa mengawasi pertemuannya pak Grey dan Gilang nanti malam" kata pak Gatot panjang lebar.
"Oke, terima kasih banyak pak Gatot atas perhatian dan pertolongannya anda" kata Grey.
"Siap, pak Grey, saya putus dulu sambungan ini ya, saya akan langsung melakukan koordinasi dengan anak buah saya, setelah semua siap, saya akan hubungi pak Grey" kata pak Gatot.
"Siap pak, terima kasih" kata Grey.
Pak Gatot langsung memutuskan sambungan video callnya Grey.
Grey mengusap kasar wajahnya.
"Bagaimana bisa om, tante, dan ibunya Lila diculik sama Gilang?" tanya Rio.
"Ibunya Lila sudah saya anggap sebagai ibu saya sendiri, saya akan lakukan apa saja untuk menyelamatkan beliau" kata Dave.
"Mas Gilang, menyuruh kita bertiga datang menemui dia malam ini, dia ingin membalas dendam sama kita bertiga" kata Grey sambil menyandarkan kepalanya di atas sofa.
"Om akan temani kalian" kata Chef Charlie penuh semangat.
"Kenapa kamu masih saja menyebut Gilang memakai kata mas, dia tidak pantas kamu sebut mas?!" kata Rio dengan geram.
"Bagaimanapun juga dia kakak aku, bro" kata Grey lirih.
"Kamu terlalu baik hati, kamu tidak sadar kalau kamu terlalu baik sama seekor ular Derik, kamu sayangi dengan setulus hati, tapi dia malah menggigitmu" kata Rio ikutan menyandarkan kepalanya di atas sofa.
"Huufftt, kamu benar bro, tapi sayangnya dia tetaplah kakak sepupuku" kata Grey dengan suara lemah.
"Ratih dan Edward menyayangi Gilang, memberikan biaya pendidikan untuk Gilang, tapi sama ayahnya Gilang, uang dari papa dan ibu kamu, malah dihabiskan di atas meja judi, dan sekarang Gilang malah tega menculik papa dan ibu kamu, dasar Gilang brengsek!" kata Chef Charlie.
"Dia salah asuh berarti" sahut Dave Erlando.
"Kamu nggak beritahu Lila?" tanya Rio.
"Itulah kenapa aku stress saat ini, aku memikirkan Lila, aku bingung harus beritahu dia atau tidak?" kata Grey.
"Lebih baik jangan kasih tahu Lila" sahut Dave Erlando.
"Iya, kamu benar nak, kita keep masalah ini untuk kita saja, om yakin kita bisa menyelamatkan Ratih,Edward, dan ibu mertuanya Grey" kata Chef Charlie ke arah Dave Erlando.
"Oooo, iya om, kita belum berkenalan, nama saya Dave Erlando, teman masa kecilnya Lila, dan penasehat hukumnya pak Grey" kata Dave sambil mengulurkan tangannya ke Chef Charlie.
Chef Charlie menyambut uluran tangannya Dave dam berkata "Aku Chalie, seorang koki, dan sahabat dari kedua orang tuanya Grey."
Chef Charlie melepaskan tangan Dave dan berkata "kamu keren dan tampan lho nak, mirip sama om, waktu om masih remaja dulu, hahahaha"
"Hahahaha, terima kasih banyak om Charlie, atas pujiannya, tapi jangan memuji saya di depan pak Grey, bisa ngamuk dia" kata Dave sambil tersenyum lebar.
"Cih! ngamuk apanya, anda lupa kata Lila tadi pagi, saya sudah bertobat" sahut Grey mulai kesal.
"Hahahaha, iya, baiklah pak Grey" sahut Dave.
"Kita, harus atur strategi nih" kata Rio sambil kembali menegakkan badannya.
"Oke bro, apa strategi elo?" tanya Grey sambil ikutan menegakkan badannya.
"Strategi yang ada di kepala gue saat ini, cuma masuk dan serang" kata Rio sambil nyengir.
"Aaah, sial elo! masih kebawa suasana malam pengantin elo ya, cih!" kata Grey kesal sambil kembali menyandarkan kepalanya di atas sofa.
"Waaah otak elo yang kacau nih" kata Rio ke Grey.
"Cih!" kata Grey sambil mendengus kesal.
"Wkwkwkwkwkwkwk"
Semuanya langsung tertawa ngakak melihat ekspresi kesalnya Grey.
"Kita intai dulu tempatnya sekarang gimana?" kata Chef Charlie.
Grey langsung menegakkan kembali badannya dan berkata "setuju!"
Semua akhirnya bangkit berdiri dan keluar dari ruang kerjanya Grey dengan langkah tegap dan gagah. Empat cowok keren dan ganteng ganteng siap beraksi.