
Edward Simpsons
Tepat jam delapan malam, mereka sampai di rumah mereka masing masing dengan selamat.
Amber langsung pamit, untuk kembali terbang menuju ke London karena, masih banyak sekali tugas yang harus dia selesaikan.
Bu Ratih langsung membersihkan dan menata sebuah kamar untuk mas Edwardnya.
Pak Edward kemudian dipersilakan untuk beristirahat di kamar yang berada di lantai bawah, di dekat ruang keluarga.
Setelah selesai bersih bersih, Bu Ratih lalu menyuruh Upik untuk berbelanja bahan masakan, kemeja, kaos santai, celana kolor, celana dalam, yang ukurannya sesuai dengan mas Edwardnya, handuk, dan juga perlengkapan mandi.
Sementara Grey langsung pamit menuju ke ruang kerjanya.
Lila nampak masih sibuk menata kembali baju baju dia dan baju bajunya Grey ke dalam lemari pakaiannya. Hingga akhirnya, Lila meraih lingerie hitam yang kemarin dikasih sama Melly.
Lila menggantung lingerie hitam tersebut di gantungan baju lalu, menyentelkannya di tembok, di samping lemari pakaiannya.
Lila terus menatap lingerie tersebut lalu, buru buru melangkah ke arah pintu kamarnya dan menguncinya. Lila takut kalau tiba tiba Grey nongol dan melihat lingerie hitam tersebut.
"Pakai, enggak, pakai, enggak, pakai " Gumam Lila, bingung.
Akhirnya Lila meraih lingerie tersebut dan langsung mencoba untuk memakainya. Kalau tidak cocok tinggal dilepas lagi. Batin Lila.
Tapi tiba tiba..............
Ceklek.....ceklek......ceklek
"Sayang, kenapa pintunya dikunci ?" teriak Grey dari luar kamar.
"Aahhh, sebentar sayang, emm" Lila mulai kebingungan karena kaget.
Lila langsung melangkah lebar ke pintu kamarnya tapi saat akan membukanya, Lila ragu ragu lalu, berkata "Sayang, aku buka pintunya tapi, kamu harus memejamkan mata kamu, ya" pinta Lila dari arah dalam kamar.
"Hah, kenapa ?" tanya Grey heran dari arah luar kamar.
"Pokoknya nurut ya, oke ?" kata Lila dari dalam kamar.
"Oke, aku sudah pejamkan mata nih, buruan buka pintunya !" kata Grey.
Ceklek
Lila membuka pintu kamarnya, langsung menarik Grey untuk masuk, dan segera menutup kembali pintu kamarnya.
"Jangan buka mata dulu ya, sampai Lila bilang buka mata" kata Lila sambil menuntun langkah suaminya pelan pelan, untuk dia dudukan di tepi ranjang.
"Sudah boleh buka mata belum nih ?" tanya Grey.
"Belum, emm, sebentar lagi ya, emm, Lila bingung nih, emm............"
Grey langsung membuka matanya karena, Lila terlalu banyak bilang emm, membuat Grey semakin penasaran.
"Aaahh, sayang, kok sudah buka mata sih ?" Lila langsung menundukkan mukanya, membeku di depan suaminya, dan pelan pelan mulai melangkahkan kakinya, hendak kabur dari Grey.
Grey langsung menarik tangannya Lila dan secara spontan, Lila pun langsung terjatuh di atas pangkuannya Grey.
"Kamu terlihat sangat cantik dan seksi sayang, ngapain tadi, kamu mau kabur dari aku ?" tanya Grey dengan suara sedikit berat karena menahan gairah yang tiba tiba muncul di dalam dirinya.
Lila langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya dan berkata "Aku malu sayang, aku kan tidak punya tubuh seksi seperti model model di luar sana" jawab Lila.
Grey mencium telinga Lila lalu, berbisik "kamu seksi di mata aku"
"Kapan kamu beli lingerie ini ?" tanya Grey, mulai menurunkan bibirnya dari telinga Lila, turun ke leher Lila, dan mulai mencium lehernya Lila, meninggalkan beberapa tanda kepemilikannya di sana.
"Aahh, sayang, emm, dikasih sama mbak Melly kemarin, aahh" Lila menjawab, di tengah desahannya, menikmati ciumannya Grey yang bermain main di atas lehernya.
Grey menghentikan ciumannya dan kembali menatap Lila.
"Aku menyukainya sayang" kata Grey dengan tatapan berkabut karena gairah, suaranya pun mulai serak, dan dia menelan salivanya pelan pelan.
"Tapi Lila malu, di bahu kirinya Lila ada bekas luka tembak" ucap Lila lirih.
Grey menarik pelan tali lingerienya Lila, hingga nampak bekas luka tembakan tersebut. Grey lalu menciumi bekas luka tembakan tersebut.
Grey lalu berkata "bekas luka tembakan ini, semakin membuat kamu tampak seksi, sayang"
Lila lalu merangkulkan kedua tangannya di leher suaminya.
Tangan Grey mulai menari nari untuk menjelajahi setiap lekuk indah tubuh isterinya.
Grey lalu membopong tubuh Lila sambil terus memagut bibir isterinya, dia lalu membaringkan pelan pelan tubuh Lila di atas ranjang. Grey melepas ciumannya, melepas kaosnya, dan menatap Lila dengan penuh kekaguman dan cinta.
Grey langsung melanjutkan permainannya, mencumbui isteri tercintanya, dan akhirnya mereka melakukan pelepasan ala Grey.
Grey lalu menyelimuti tubuh polos isterinya dengan selimut, mencium pipi Lila, kemudian bangun untuk mandi.
Selesai mandi, Grey langsung masuk ke dalam selimut, dan memeluk tubuh Lila. Tidak begitu lama kemudian, Grey pun ikutan tertidur lelap.
Sementara itu di lantai bawah, Pak Edward sudah selesai mandi, dan langsung menuju ke ruang makan, menatap Bu Ratih yang tengah memasak.
Bu Ratih tadi menyuruh Upik untuk membeli beberapa sayuran, telor, tepung, dan udang. Pak Edward sangat menyukai udang dan sayuran khas dari Asia.
Bu Ratih memasak udang asam manis, udang goreng tepung, dan cap cay.
Ratih belum berubah sama sekali, masih cantik, lembut, keibuan, dan masakannya tetap yang terbaik, bagi aku. Batin Pak Edward.
Pak Edward pun secara tidak sadar, mengikuti nalurinya untuk, bangkit berdiri, dan mendekati Bu Ratih. Pak Edward langsung memeluk pinggangnya Bu Ratih dari belakang.
Bu Ratih kaget, secara spontan mematikan kompornya, dan berkata "Mas, jangan begini ah, malu sama anak anak"
"Ijinkan aku memeluk kamu sebentar aja Ratih, aku sangat merindukanmu" kata Edward sambil mencium pucuk kepalanya Ratih.
Bu Ratih menghela napas pelan lalu, mengelus elus lembut kedua tangan mas Edwardnya, yang tengah melingkar di atas pinggang rampingnya saat ini.
"Aku sangat merindukan wangi kamu" kata Edward, masih memeluk tubuh Ratih.
"Hahaha wangi darimana sih mas, aku belum mandi nih" sahut Bu Ratih.
Edward menarik tubuh Ratih untuk menghadap ke arahnya, Edward menatap mata Ratih lalu, memegang dagu Ratih dengan tangannya.
Edward mulai mencium lembut bibir Ratih, hanya ciuman tidak lebih.
Bu Ratih terlonjak kaget, langsung memejamkan mata, dan membalas ciuman dari mas Edwardnya.
Setelah berciuman beberapa saat lamanya, Edward melepaskan ciumannya, tersenyum manis, dan menatap Ratih penuh cinta dan kasih sayang.
Ratih langsung malu dan melepaskan diri dari pelukan mas Edwardnya, kemudian berlari sambil berkata "aku mandi dulu mas, tolong tata masakanku di atas meja makan ya"
Edward tertawa lepas dan menggeleng nggelengkan kepalanya saat, menatap tingkahnya Ratih yang, masih saja malu malu, setiap kali berdekatan dengan dirinya.
Edward mulai mengangkat cap cay yang masih ada di atas wajan lalu, menaruhnya ke dalam mangkuk besar.
Edward lalu menata semua masakannya Ratih di atas meja makan. Begitu kelar, dia langsung mencuci bersih semua perabotan dapur yang tadi dipakai Ratih untuk memasak.
Tiba tiba, terdengar suara pintu depan diketuk oleh seseorang.
Edward melangkah lebar menuju ke pintu depan.
Ceklek
Pintu terbuka dan nampaklah Chef Charlie tersenyum dengan sangat lebar menatap Edward.
"Masuklah !" kata Edward.
Edward dan Charlie, melangkah ke dalam ruang tamu dan langsung duduk di atas sofa.
"Aku tidak mengganggu istirahat kalian, kan ?" tanya Charlie.
"Aaahh, tidak " jawab Edward.
"Aku kesepian di rumah, heeee, makanya setelah mandi, aku langsung ke sini" Charlie berucap sambil menggaruk nggaruk kepalanya.
"Hahahaha tidak apa apa, justru kami senang kalau ada kamu, jadi tambah seru" Edward tertawa geli melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
Charlie memang tipe orang yang blak blakan, tidak suka basa basi. Edward sudah paham akan hal itu.
"Emm, aku bawakan mangga, ada yang matang, ada yang mentah, Lila suka yang mentah jadi, aku bawakan juga yang masih mentah" kata Charlie.
"Aahh, iya, menantuku sedang hamil muda, masih suka yang asam asam pastinya, makasih banyak ya" kata Edward.
"Kok sepi ?" tanya Charlie.
"Anak anak kayanya sudah tidur, kalau Ratih masih mandi " jawab Edward.
"Kita tunggu Ratih lalu, kita lanjutkan obrolan kita di meja makan nanti" kata Edward.
"Kalau belum memasak, aku bersedia memasak untuk kalian semua" kata Charlie penuh semangat.
"Ratih sudah masak barusan, hahahaha, makasih untuk tawarannya, masakan kamu memang oke, tapi, bagi seorang Edward Simpsons, masakan kekasihnya itu, tetaplah yang terbaik" kata Edward.
"Heeee" Charlie hanya bisa nyengir menanggapi omongannya Edward.