Lila And Grey

Lila And Grey
Don't be a hero



Setelah selesai rapat, Melly, Rio dan Grey keluar dari ruang kerjanya Grey dan langsung mengajak Lila dan Ibu menuju ke ruang makan.


Setelah semuanya duduk di meja makan, sang juru masak mulai menghidangkan menu makan siangnya. Ivan sang chef, memasak nasi goreng ikan asin kali ini, dengan omelet, salad buah, dan jus jeruk.


Grey langsung menoleh ke isterinya "gimana cocok nggak sama masakannya ?"


"Cocok heeee aku nggak mual nih" kata Lila sambil tersenyum.


Grey, Bu Ratih, Melly dan Rio pun secara spontan dan serentak berkata "Aaahh syukurlah"


"Makan yang banyak ya " Kata Grey sambil mengusap usap kepalanya Lila.


Lila tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Sayang, habis makan siang kita jalan jalan yuk, Lila pengen melihat lihat kota London" Kata Lila.


"Kamu pengen kemana ? ada taman di dekat sini, ada rusanya di sana, terus ada sungai Thames, taman Hyde Park kamu bisa memberi makan angsa di sana, atau ke London Eye, tapi kalau ke London Eye bagusnya tuh pas malam hari" kata Grey sambil menyuapi Lila makan.


"Emm semuanya boleh ?" tanya Lila penuh senyum.


"Boleh dong, ok siang ini kita keliling kota dulu baru nanti malamnya kita ke London Eye."


"Mbak Melly mau ikut gabung sama kita ?" tanya Lila.


"Biar mereka pergi sendiri dong sayang, ganggu nanti " protes Grey.


*Yeeaayy yang ada tuh kalian yang ganggu kita, kalian kan sudah menikah, lha kita kan masih pacaran masih anget angetnya" sahut Rio nggak mau kalah.


"Cih ! justru yang sudah menikah itu rasanya lebih anget, lebih romantis ya kan Bu " kata Grey mencoba mendapat dukungan dari ibunya.


Bu Ratih hanya tersenyum geli tanpa mengucapkan kata kata apapun, menanggapi omongannya Grey.


"Tuh kan ibu pilih kasih, giliran Grey minta dukungan kok cuma dikasih senyum sih " Grey mengerucutkan bibirnya.


Semua pun langsung tertawa melihat tingkah konyolnya Grey.


"Ibu nggak ikut jalan jalan ?" tanya Lila kemudian saat mereka semua sudah menyelesaikan makan siangnya.


"Ibu capek, Ibu di rumah saja ya " Kata Bu Ratih.


Akhirnya mereka mencium pipi Bu Ratih secara bergantian lalu pamit dan mulai melangkah menuju ke mobil mereka masing masing untuk mulai jalan jalan.


Rio mengajak Melly untuk pergi ke pusat perbelanjaan dulu, membeli pigura untuk gambar animenya Lila dan Melly yang dia bikin tadi, dan membeli beberapa barang untuk seserahan. Rio ingin nanti sepulangnya dia dari London akan langsung melamar Melly.


Rio berencana membeli baju, make up dan sepatu, dan cincin di sini aja biar romantis heee biar Melly yang memilihnya sendiri, karena jujur kalau soal selera cewek Rio bukanlah ahlinya heeee.


Sementara itu Grey langsung mengajak Lila ke sebuah taman yang berada tidak jauh dari rumah dia. Taman yang sangat indah dan di taman itu terdapat begitu banyak rusa.



"Aaahh indahnya, mereka jinak ya ternyata, ramah kaya mbak Melly " ucap Lila dengan mata berbinar binar.


"Hahahaha iya ramah banget kaya Melly" Grey langsung tertawa geli mendengar ucapannya Lila, menyamakan Melly dengan rusa.


"Sayang, saljunya belum begitu lebat ya ?" tanya Lila


"Iya karena masih awal awal nih " jawab Grey.


Lila langsung memeluk pinggang suaminya dan berjinjit untuk mencium pipi suami tercintanya.


Grey langsung menatap isterinya dan langsung mencium bibirnya Lila penuh damba.


Lila langsung membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya saat Grey mulai melepaskan ciumannya.


Grey tersenyum geli melihat tingkah Lila yang masih sering malu kalau tiba tiba Grey menciumnya. Grey memeluk isterinya dengan erat dan mencium pucuk kepala istrinya dengan mesra.


"Kita kemana lagi ?" tanya Lila saat Grey mulai menggandeng tangan Lila dan beranjak pergi dari taman tersebut.


"Aku ajak kamu kasih makan angsa tapi jangan ingat Melly lagi kalau lihat angsanya entar " Kata Grey saat sudah masuk ke dalam mobilnya dan memasangkan seat beltnya Lila.


Lila tersenyum geli dan menepuk pelan bahunya Grey.


Mereka akhirnya sampai di Hyde Park, taman yang sangat indah dan di Hyde Park, para pengunjung diijinkan untuk memberi makan angsa angsa yang ada di sana.



"Sayang kalau angsa tuh nggak nyosor ya ? kalau jamannya Lila kecil dulu, Lila pernah dikejar sama bebek dan bebeknya nyosor Lila. Sakit kaki Lila disosor bebek waktu itu" kata Lila heran, karena saat dia memberi makan angsa angsa tersebut, angsanya nurut semua, jinak semua.


"Waahh sial gue keduluan sama bebek ternyata " kata Grey datar.


"Nyosor tadi, kata kamu tadi, kamu pernah disosor bebek kan, nah berarti gue keduluan sama bebek dong nyosornya " Grey menatap isterinya dengan kesal.


"Hahahahaha apaan sih, masa bebek juga kamu cemburui " Lila langsung tertawa geli menatap wajah kesalnya Grey.


Grey langsung memeluk bahu isterinya yang masih sibuk memberi makan angsa angsa tersebut "jujur sama aku, kamu sudah berapa kali pacaran, sebelum kenal sama aku ?"


Lila mendongak menatap suaminya, lalu tersenyum dan berkata "Lila belum pernah pacaran, karena kata ayah, anak cewek boleh pacaran kalau sudah bekerja "


"Waaah beruntungnya aku ya, waktu bertemu sama ayah pertama kali, aku langsung diijinkan pacaran sama kamu, padahal kan kamu masih kuliah waktu itu" kata Grey senang.


Lila pun tersenyum dan berjinjit mencium pipinya Grey lagi.


Grey lalu berbisik di telinganya Lila "Dan beruntungnya aku, karena aku laki laki yang pertama membuka segel kamu "


Lila langsung membenamkan kembali wajahnya di dada bidang suaminya.


"Terima kasih sejuta kali aku katakan sama kamu ya sayang, terima kasih sudah menjaga dan memberikan kesucian kamu untuk aku" Grey mengecup pucuk kepalanya Lila berkali kali.


Lila mempererat pelukannya di pinggang suaminya.


"Terima kasih juga sudah mau mengandung anak aku, Sweety kamu punya mama yang hebat, kalau kamu nongol nanti kamu akan terkagum kagum melihat mama kamu yang hebat dan cantik ini" Kata Grey di atas pucuk kepalanya Lila.


Lila lalu mendongakkan kepalanya dan berkata "Sweety juga pasti bangga meihat ayahnya yang cakep, keren,pinter dan ganteng ini"


Grey kembali mencium bibir Lila penuh cinta.


Sementara itu pasangan kita yang lagi anget angetnya berpacaran, tengah sibuk berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal di London.


Setelah mereka selesai berbelanja, mereka pun langsung masuk ke dalam mobil, dan Rio langsung meraih dagu Melly dan mulai mencium Melly, awalnya lembut lama kelamaan berubah menjadi ciuman yang dalam, lama, dan mulai menggairahkan.


Rio melepas ciumannya dan meletakkan keningnya di keningnya Melly sambil mulai mengatur kembali napasnya yang bergemuruh karena menahan gairah.


Melly mengusap usap tengkuknya Rio, dan berinisiatif untuk memulai mencium Rio. Rio kaget dengan sikap Melly yang mulai berani berinisiatif untuk mencium Rio.


Rio berkata di sela sela ciumannya "Mel, kalau kita lanjutkan bisa berbahaya lho ini"


Melly terus mencium bibir Rio tanpa menghiraukan ucapannya Rio.


Aaahhh Shit ! batin Rio.


Rio pun mulai menurunkan bibirnya di lehernya Melly dan mulai menciumi leher Melly tanpa meninggalkan tanda merah di sana, lalu mulai mencium telinganya Melly, dan tangannya mulai mendarat di dadanya Melly, mulai membuka satu kancing blusnya Melly, mulai memasukkan tangannya di dalam blus tersebut dan mulai bermain di sana.


Tiba tiba HPnya Rio bunyi. Rio langsung menghentikan aksinya. Melly pun langsung mengancingkan kembali kancing blusnya dan merapikan rambutnya.


Saved by the bell nih. Batin Rio merasa lega karena mereka tidak kebablasan tadi.


"Halo siapa nih ?" tanya Rio begitu dia mengangkat sambungan teleponnya.


"Anda Rio putra ?" tanya suara kaki laki di seberang sana.


"Iya benar " jawab Rio.


"Don't try to be a Hero, I am watching you !" kata laki laki tersebut dan langsung menutup sambungan teleponnya.


Rio mengernyitkan dahinya, Rio langsung memasangkan sabuk pengamannya Melly, lalu memasang sabuk pengamannya dan meluncurkan mobilnya untuk pulang ke rumahnya Grey. Entah kenapa tiba tiba Rio merasa khawatir akan Bu Ratih yang mereka tinggalkan sendirian di rumah.


Melly tampak bingung dan heran dengan sikap Rio yang tiba tiba berubah amat serius dan tampak panik, tapi tidak berani mengusiknya.


Sesampainya di rumahnya Grey, Rio dan Melly langsung kaget, di depan teras rumahnya Grey nampak seorang laki laki seumuran Bu Ratih yang tengah dikepung begitu banyak orang.


Rio menatap Melly dan melarang Melly untuk turun dari mobil, Rio lalu menyerahkan kunci mobilnya ke Melly, menyuruh Melly menguncinya langsung begitu dia turun dari mobil. Melly menunggu di dalam mobil dan mulai menelepon Grey.



Rio langsung berdiri di samping laki laki yang seumuran dengan Bu Ratih, mulai bersiap menghadapi berandalan berandalan yang tengah mengepung mereka.


"Anda siapa ?" tanya Rio.


"Aku Charlie, sahabatnya Ratih dan Edward " jawab Laki laki tersebut.


"Bu Ratih aman ?" tanya Rio kemudian.


"Aman, aku suruh Ratih masuk ke dalam kamar dan aku suruh dia untuk langsung mengunci pintunya " jawab Charlie.


"Oke om, kita lanjutkan perkenalan kita nanti lagi, kita hadapi mereka terlebih dahulu." kata Rio, karena berandalan berandalan tersebut sudah mulai maju untuk menyerang Rio dan Charlie.