
"Siapa sih dia bu ? dia menatap Ibu dengan pandangan aneh dan Grey nggak suka " kata Grey mulai posesif.
"Oooo dia dulu chef dan manajer kafenya papa kamu, saat awal awal papa kamu mengembangkan sayap bisnisnya di sini, tapi karena sesuatu hal yang tidak bisa Ibu ceritakan, chef Charlie pergi keluar negeri untuk melanjutkan studinya" jawab Bu Ratih.
"Sepertinya dia naksir deh sama Ibu, Grey sebagai laki laki bisa merasakan aroma tersebut aroma naksir naksiran" kata Grey mulai memasang sifat posesifnya.
"Sayang, apa sih jangan sok tahu ya" sahut Lila dan Bu Ratih hanya menepuk pelan pundak Grey sambil tersenyum.
Tidak begitu lama chef Charlie pun datang menghampiri mereka sambil menenteng satu kresek besar yang di dalamnya penuh dengan mangga mentah.
"Aaaahh ini ya menantu kamu, cantik kayak kamu, ini nak mangganya" kata Charlie.
"Dilarang mengeluarkan kata cantik di rumah ini kecuali aku" kata Grey mulai kesal sambil meraih kresek mangga yang disodorkan Charlie.
"Hahahaha maafkan anakku ya chef kalau kurang sopan" Kata Bu Ratih.
"Aahhh nggak apa apa santai aja, dia mirip banget sama Edward ya." Kata Charlie sambil menatap Grey dan tersenyum.
"Maaf kalau saya kurang sopan dan kesannya mengusir anda, tetapi ini sudah larut malam silahkan anda kembali ke rumah anda" kata Grey datar tanpa senyum.
"Aaahh iya maaf, saya terbawa suasana karena senang bisa bertemu lagi dengan teman lama, silahkan dinikmati mangganya ya nak, kalau kurang silahkan ke rumah saya lagi, pintu rumah saya selalu terbuka untuk kalian." kata Charlie.
"Terima kasih banyak om" Lila mengangguk dan tersenyum. Lila pengen mencium punggung tangan om Charlie tapi dia urungkan saat melihat Grey melotot tajam ke arahnya.
Akhirnya Charlie pamit dan beranjak pergi meninggalkan rumah Grey dan kembali ke rumahnya.
Grey, Lila dan Bu Ratih masuk ke dalam dan Grey langsung menutup dan mengunci pintu rumahnya.
"Sayang, aku kupasin mangganya " kata Grey.
"Besok aja sayang, aku ngantuk kita tidur lagi yuk !" sahut Lila, akhirnya Grey mengerucutkan bibirnya sambil menaruh kresek tersebut di atas meja makan.
Lila menarik tangan Grey untuk kembali ke kamar mereka.
"Hadeeeh sayang, percuma dong perjuanganku menyeberang dan bertarung dengan anjing penjaga rumah tadi kalau ternyata makan mangganya masih besok" kata Grey sambil geleng geleng kepala mengikuti langkah Lila.
Bu Ratih tertawa renyah melihat tingkah Lila dan Grey.
Tepat jam tiga dini hari Stephanie melakukan video call lagi. Untuk memastikan kapan Grey akan pergi ke London menemui papanya.
📱"Hallo Grey, how are you ?" sapa Stephanie.
📱"I am fine, thanks" jawab Grey.
📱 "And you Lila ?" tanya Stephanie saat Lila nongol di layar ponselnya.
📱 "Hi Sist, I am fine too " jawab Lila sambil melambaikan tangannya ke arah Stephanie
📱"Wait a minute, my mother wants to meet you" kata Grey.
📱 "Ooo oke then" kata Stephanie.
📱 "Hi Stephanie " sapa Bu Ratih.
📱 "Halo Ibu, Ibu benar benar cantek seperti yang dikatakan daddy" kata Stephanie mencoba untuk berbahasa Indonesia kembali.
📱"Aaahhh kamu pandai berbahasa Indonesia ya ternyata, dan kamu juga cantik" kata Bu Ratih sambil tersenyum ramah dan penuh kasih.
📱 " Emmm ibu mau bertanya, I hope you don't mind" kata Bu Ratih kemudian.
📱"Silahkan Ibu, Ibu boleh bertanya apa saja, apa soal kesehatannya Daddy ?" sahut Stephanie sambil tersenyum penuh kasih.
📱 "Iya benar, kalau boleh Ibu tahu Daddy kamu emm papanya Grey sakit apa ?" tanya Bu Ratih.
📱"Daddy kemungkinan besar sakitnya karena menyimpan kangen yang begitu besar sama kalian berdua, kata dokter di sini hanya kalian berdua yang bisa mengobati penyakitnya Daddy, Daddy kesulitan untuk makan dan minum, dan dokter di sini tidak tahu apa yang sebenarnya Daddy derita" Stephanie mulai menjelaskannya.
📱"Ooooo begitu ya, bukannya sudah ada kamu dan mama kamu yang mendampingi Daddy kamu ?" tanya Bu Ratih dengan hati hati.
📱"Iya Ibu, tetapi setiap malam Daddy selalu menyebut nama Ibu dan Grey dalam tidurnya." jawab Stephanie.
📱"Kapan kalian akan berangkat ke London ?" tanya Stephanie.
📱 Grey meraih ponselnya dan menjawab "As soon as possible"
📱"Ok, aku tunggu kabar keberangkatannya kalian, terima kasih, I love you all and see you later" Stephanie tersenyum melambaikan tangannya dan menutup sambungan teleponnya.
"Grey besok sore lebih baik secepatnya kamu ke mamanya Rio memeriksakan kandungannya Lila dan minta surat ijin dokter untuk Lila naik pesawat dan supaya Lila mendapatkan beberapa obat dan vitamin seperti yang disarankan mamanya Rio tadi" kata Bu Ratih.
"Ibu merasa kasihan dan mengkhawatirkan kondisi papa kamu, semoga kita belum terlambat menemui papa kamu, semoga papa kamu bisa bertahan sampai kita datang " kata Bu Ratih lirih.
"Amin Bu " sahut Lila sambil merangkul bahu ibu mertuanya.
"Iya Bu, besok sepulang Grey dari kantor Grey dan Lila akan menemui Tante Florence. Sekarang kita tidur yuk, masih ada waktu beberapa jam sebelum jam Grey berangkat ke kantor." Jawab Grey.
Ibu Ratih pun tersenyum mencium pipi Grey dan Lila lalu beranjak pergi meninggalkan kamarnya Grey dan Lila.
Keesokan paginya, selepas Grey berangkat ke kantor, Lila langsung menyusul ibu mertuanya yang sudah duduk di ruang keluarga, Lila sudah tidak sabar untuk mendengarkan kembali cerita ibu mertua kesayangannya.
FLASHBACK ON
Ratih akhirnya bekerja di kafenya Edward dan tanpa terasa sudah enam bulan lebih dia bekerja dan tinggal di sana dan merasa sangat betah. Semua baik dan sangat menyayanginya. Chef Charlie pun selalu memuji Ratih karena sangat pandai membuat berbagai macam kue.
Chef Charlie dan Ratih sering berkolaborasi di dapur untuk menciptakan beberapa kreasi kue untuk menu kafe mereka, dan inovasi inovasi baru yang Ratih bikin selalu membuat Chef Charlie semakin mengaguminya dan lama lama ada rasa cinta terselip di hatinya Chef Charlie untuk Ratih.
Suatu hari, Ratih menunggu Edward di dalam ruangannya Edward, untuk mulai rapat menawarkan resep baru hasil kreasinya. Karena lama Edward tidak datang, Ratih mengisi waktunya dengan menggambar desain untuk kafenya Edward, iseng aja sebenarnya untuk mengisi waktu menunggu kedatangannya Edward.
Tanpa terasa Ratih pun mengantuk dan ketiduran.
Edward masuk ke dalam ruangannya, nampak kaget melihat Ratih ketiduran, pelan pelan dia mendekati Ratih dan mengamati wajah Ratih dari dekat.
Edward menyentuh pelan pipi Ratih dengan telunjuknya. Lalu menyibak pelan rambutnya Ratih yang menutupi wajah cantiknya Ratih, dan dia taruh di belakang telinganya Ratih dengan hati hati. Cantik dan imut juga dia kalau sedang tidur gini. Batin Edward.
Edward lalu menatap hasil coretan desainnya Ratih, mengambilnya pelan dan mulai mengamati gambar tersebut. Ternyata dia berbakat juga dalam desain, gambarnya sangat bagus dan aku suka. Batin Edward lagi.
Edward melangkah keluar dari ruangannya dan menyerahkan gambar desain ruangan hasil karyanya Ratih ke Charlie.
"Bro, tolong elo eksekusi karya ini ya. Gue suka sama desainnya." kata Edward sambil menyerahkan karyanya Ratih ke Charlie.
"Iya keren nih, kamu yang mendesainnya ?" tanya Charlie.
"Itu hasil karyanya Ratih " jawab Edward.
"Waahhh keren, banyak bakat juga ya tuh anak. Ok nanti aku eksekusi ni gambar, emm sekarang dimana Ratih ?" tanya Charlie.
"Dia ketiduran di ruangan gue, gue nggak tega membangunkannya." jawab Edward sambil duduk di sofa ruangannya Charlie.
"Gue nanti sore mau ajak Ratih keluar." kata Charlie santai.
"Hah ? mau kemana ?" tanya Edward mulai posesif.
"Rahasia dong heee ada yang mau gue omongin ke Ratih." jawab Charlie sambil senyam senyum cerah ceria.
"Ngomong apa Bro ? aku ikut ya ?" tanya Edward penuh semangat.
"Rahasia lagi hahahahaha dan mana boleh kamu ikut, kan rahasia." jawab Charlie sambil meninggalkan Edward sendiri di ruangannya.
"Aaah sial kenapa gue merasa kesal ya, saat mendengar Charlie mau mengajak Ratih keluar nanti malam" gumam Edward.
Apa aku mulai tertarik sama cewek, dan itu Ratih. Tanya Edward dalam hatinya.
Aku akan mengikuti mereka secara diam diam nanti. Batin Edward.
FLASHBACK OFF