Lila And Grey

Lila And Grey
Thanos VS Hulk



Sementara itu grey dan Rio sedang membahas sesuatu yang sangat penting. Secara diam diam Grey mulai mencurigai keadaan Papanya. Bagaimana bisa Papanya seorang yang awalnya sehat, gagah dan cerdas menjadi sakit, dan penyakitnya tidak diketahui secara jelas.


Rio yang ditugaskan untuk mulai menggali lebih dalam soal Papanya Grey hanya mendapatkan info kalau Papanya Grey tidak pernah dibawa ke rumah sakit, hanya dirawat di dalam rumahnya, dokter mengunjungi Papanya Grey setiap harinya.


Dan yang membikin Rio heran, dokter yang mengunjungi Papanya Grey adalah seorang dokter jiwa.


"Hah ? jadi Papa aku gila bro ?" tanya Grey kaget.


"Aku belum tahu juga pastinya, hanya sebatas itu info yang bisa aku dapatkan, dan mama tiri kamu sepertinya bukan orang yang bisa dipercaya, kita harus hati hati " kata Rio kemudian.


"Lalu Stephanie ?" tanya Grey serius.


"Aku pernah bertemu dengan Stephanie saat mengurus kafe kamu di London beberapa bulan yang lalu, aku sempat ngobrol panjang dengan dia, Stephanie bisa dipercaya bro"" jawab Rio.


"Hah ? kenapa kamu tidak memberitahukannya kepadaku ?" tanya Grey mulai kesal.


"Jangan kesal dulu, waktu itu aku masih belum mengerti apa maksud dari Stephanie, aku mau menyelidikinya dulu sebelum menyampaikannya kepadamu, aku paham watak kamu yang gegabah dan grusa grusu, sebelum semuanya pasti aku belum berani menyampaikannya kepadamu" kata Rio panjang lebar.


"Jadi sebelum aku meminta kamu menyelidikinya, kamu sudah menyelidikinya terlebih dahulu bro ?" tanya Grey.


"Iya iya lah Rio kan smart heeee" jawab Rio santai.


"Cih ! lalu apa yang dikatakan Stephanie waktu elo ketemu sama dia ?" tanya Grey.


Rio menghela napas pelan "Stephanie mengatakan kalau Om Edward, Papa kamu mulai lemah, kesulitan makan, minum, dan sepanjang hari hanya tidur, Stephanie pernah membawa Papa kamu ke rumah sakit tanpa sepengetahuan Mamanya, dan dokter mengatakan berdasarkan dari semua test yang dilakukan, kalau Papa kamu tidak menderita penyakit apapun."


"Nah kan benar feeling aku, aku merasa janggal" Grey merespon penjelasannya Rio dengan mengerutkan dahinya mulai berpikir serius.


"Yang membikin aku mulai berniat untuk menyelidikinya adalah kata kata Stephanie, dia membawa Om Edward ke rumah sakit tanpa sepengetahuan mamanya" kata Rio ikutan mengerutkan dahinya.


"Apa aku salah mengajak Lila dan Ibu bro, juga Melly ? bagaimana kalau ternyata situasinya di sana nanti membahayakan bagi mereka ?" Grey mulai panik.


"Tapi kata Stephanie kemarin, papa aku mencari ibu terus, dan ibu sepertinya juga merasakan sinyal sinyal rindu yang dikirimkan Papa aku untuk Ibu." kata Grey lirih.


"Sebenarnya aku datang ke kedai es krimnya Grace kemarin tuh bukan suatu kebetulan, aku berkirim pesan text sama Lila selama ini mengenai hasil penyelidakanku soal papa kamu, Lila juga mengatakan kalau kalian akan ke London menjenguk Papa kamu. Makanya saat Lila mengatakan kalian akan ke kedai es krimnya Grace, maka aku pun menyusul kalian ke sana, dan mulailah menggiring percakapan agar Lila meminta kamu untuk mengajak aku dan Melly pergi ke London." Rio menghela napas pelan.


"Maaf aku memang sengaja tidak mengatakannya langsung ke kamu karena kamu tuh orangnya emosian" kata Rio pelan pelan takut Grey tidak bisa mencerna penjelasannya dengan baik dan langsung bug bug bug bisa berabe entar.


Dan dari banyaknya kata kata Rio, hanya kata Rio berkirim pesan text dengan Lila yang menjadi perhatiannya Grey.


"Cih ! berani benar elo berkirim pesan text sama Lila tanpa sepengetahuanku " kata Grey mulai menatap tajam ke arah Rio.


"Hahahahaha jangan berpikir macam macam, aku nggak berkirim pesan text yang aneh aneh, aku hanya berdiskusi dengan Lila mengenai hasil dari penyelidikanku, aku tidak menyampaikannya langsung ke kamu karena pertama kamu masih jengkel sama Papa kamu kan, kamu selalu super super sensitif kalau ada orang yang ngebahas Papa kamu, kedua kamu itu orangnya emosian, ketiga kamu juga lagi banyak pikiran mengenai masalah di kantor terkait ekspansi besar besaran yang tidak sehat dari perusahan rivalnya Wijaya Grup." kata Rio panjang lebar untuk menenangkan kekesalannya Grey.


"Cih ! kamu benar bro, tapi mana HP elo ?" kata Grey masih dengan wajah sedikit tidak percaya.


"Untuk apa kamu minta HP aku ?" tanya Rio heran.


"Mana serahkan cepat !" kata Grey tegas.


"Aahhh hahahaha gila kamu ya segitunya curiga sama gue, nih lihat dan baca semuanya, gue sengaja nggak hapus karena gue paham pasti elo pengen lihat kan" kata Rio sambil meletakkan HPnya ke dalam genggaman tangannya Grey.


"Cih ! menyebalkan" Ucap Grey.


Grey melihat lihat isi dari pesan text antara Lila dan Rio, dan aman.


Grey lalu melihat daftar kontaknya Rio, dan aman karena Rio menyimpan nomer kontaknya Lila dengan nama trio Kwak kwak, Grey lalu penasaran, Rio menyimpan nomer gue dengan nama apa ya, batin Grey.


"Hahahahaha suka suka gue dong, sini HPnya" ucap Rio geli melihat ekspresi wajah Grey saat tahu kalau dia menyimpan nomer Grey dengan nama Thanos.


Grey menyerahkan HP Rio ke dalam genggaman tangannya Rio dengan mendengus kesal.


"Waaahhh gila elo, emm sebentar gue juga mau ubah nama kamu di HPku" kata Grey sambil tersenyum jahil.


"Emang elo simpen nama gue dengan nama apa selama ini ?" tanya Rio sambil melongok melihat HPnya Grey.


"Hah ? so sweet juga elo ya bos, wow my best friend, terharu nih gue" ucap Rio senang.


"Apa cih ! jangan senang dulu elo, mau aku ganti nih, enak aja elo kasih gue nama Thanos." kata Grey masih kesal.


"Buahahahaha " Rio langsung ngakak.


"Udah gue ganti nih baca !" kata Grey sambil menyodorkan HPnya di depan mukanya Rio persis.


"Hah ? mana cocok gue jadi Hulk ? Captain America kek secara gue kan gantengnya sebelas dua belas nih sama si Captain, tapi hadeehhh Kok malah Hulk sih ?" protes Rio.


"Sama tuh, elo tuh emang Hulk suka semau gue, Cih !" jawab Grey sambil memasukkan HPnya kembali ke kantong celananya.


"Buahahahaha ya ya ya, terserah elo " spontan Rio tertawa terbahak bahak.


"Eh, sebentar bro kenapa elo ngajak Melly ?" tanya Grey kemudian.


"Iya gue nggak mau lah jadi obat nyamuk pas lihat kamu dan Lila bermesraan, kalau ajak Melly kan gue juga ada kegiatan heeee" jawab Rio santai.


"Bro mau mati elo ?" kata Grey mulai kesal mendengar jawaban nggak jelasnya Rio.


"Buahahahaha, ok ok gue mulai serius nih, gue ajak Melly karena Melly tuh pinter ngomong pinter bernegosiasi, walaupun suka asal juga kalau ngomong sih hahahahaha" jawab Rio.


"Terus ?" kata Grey masih belum paham akan maksudnya Rio.


"Ya terus nabrak dong, wkwkwkwkwk" Rio masih jahil karena Rio memang paling suka meihat wajah Grey waktu kesal.


"Bro, gue cincang elo" Grey mulai melotot ke arah Rio.


"Ok ok, pertama siapa tahu kita butuh negosiator nanti, dan Melly juga bisa menjaga ibu dan Lila kan nanti." tambah Rio.


"Gue masih belum paham kenapa kita butuh negosiator, tapi ok lah gue serahkan semua ke elo, dan ingat untuk ke depannya kalau mau berkirim pesan text sama Lila kasih tahu gue dulu " kata Grey serius dan penuh penekanan.


"Gue nggak janji ya, kan tergantung sama situasi, kondisi dan permasalahannya." jawab Rio santai.


"Ok deal berarti untuk satu tahun ke depan gue nggak akan kasih elo gaji, Cih !" Grey mulai kesal.


"Buahahahaha ok ok iya bosku, mulai detik ini gue akan kasih tahu elo kalau gue berkirim pesan text sama Lila " kata Rio senang karena berhasil menjahili Grey lagi.


"Sudah, gue balik ke isteri gue aja hufft bisa gila gue kalau kelamaan duduk sama kamu " Kata Grey sambil bangkit berdiri dan melangkah ke arah Lila, isteri tercintanya.


"Buahahahaha " Rio kembali terbahak bahak sambil menggeleng nggelengkan kepalanya menatap punggungnya Grey yang tengah melangkah menuju ke arah Lila.


Untungnya Rio menyarankan Grey untuk naik pesawat pribadi, Rio tidak jadi memesan tiket pesawat reguler. Untuk berjaga jaga jika suasana mulai genting mereka pun bisa segera pulang sewaktu waktu.


Semoga semuanya lancar ya Tuhan, dan kami semua bisa pulang kembali dengan selamat. Doa Rio di dalam hatinya.