Lila And Grey

Lila And Grey
Rio menghadapi ujian hidup



Rio bangun pagi pagi sekali, dia tidak bisa tidur terlalu lelap karena masih kepikiran Melly. Dilihatnya Grey tidur sambil memeluk Lila, dan Dony masih tampak ngowoh dan mendengkur keras sekali. Rio menahan tawa saat menatap Dony.


Rio, akhirnya menelepon Melly mengatakan kalo hari ini mau ke rumahnya Melly nanti setelah mandi. Begitu selesai menelepon Melly, Rio pun beranjak untuk mandi.


Selesai mandi, Rio melangkah mendekati Grey dan menepuk pelan pundaknya Grey.


Grey membuka mata dan langsung bangun.


"Gila tuh anak, dengkurannya keras sekali pasti lagi mimpi ketemu sama singa tuh." ucap Grey sambil menoleh ke arah Dony.


Rio tertawa pelan "Capek dia tuh, lagian pasti lemas karena kemarin habis mendonorkan darah buat Lila." sahut Rio.


"Kamu benar bro, bahkan aku kemarin belum berterima kasih sama Dony." kata Grey sambil mengusap pelan wajahnya.


"Kamu mau kemana bro ?" Grey bertanya sambil merapikan selimut isterinya membelai pipi Lila lalu melangkah untuk duduk di sofa.


Rio mengekor dan berkata "Aku kepikiran sama Melly terus, aku mau kesana pagi ini. Kamu mau nitip apa ?"


"Bawakan aja nanti baju ganti." sahut Grey.


Akhirnya Rio pun pamit meninggalkan kamar tersebut dan langsung meluncur ke rumahnya Melly..


Sesampainya di depan rumahnya Melly, tampaklah Melly sudah duduk di bangku teras rumahnya.


Begitu dilihatnya Rio turun dari mobilnya, Melly langsung berlari dan menghambur ke dalam pelukannya Rio.


"Kamu nggak apa apa kan Mel ? maaf kemarin aku langsung mengantarkan Grey dan Lila dan meninggalkanmu, karena Lila tertembak dan butuh penanganan secepatnya." kata Rio sambil membelai rambut Melly.


Melly melepaskan pelukannya, menatap Rio dan berkata "Mbak Lila gak papa kan ?"


Rio mengangguk, tersenyum katanya " puji Tuhan, Lila sudah stabil kondisinya, tinggal menunggu siuman, semoga tidak lama lagi Lila tersadar dari komanya "


"Amin" jawab Melly.


Melly menarik tangan Rio untuk masuk ke dalam rumahnya.


Setelah mereka duduk di ruang tamu Melly pun berkata "Melly nggak kenapa kenapa, Melly cuma trauma aja kemarin disekap di kamar yang gelap dan sendirian disana."


"Maafkan aku ya." Rio menggenggam tangan Melly erat.


"Ehem ehem, pagi pagi kesini ada apa nih ?" tanya papinya Melly yang tiba tiba nongol.


Rio menatap Melly dan tersirat tanya apa Melly sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya. Melly menggelengkan kepalanya, Melly paham maksud dari tatapannya Rio.


Rio langsung berdiri dan menyalami papinya Melly.


"Pi, Melly sama Kak Rio sudah jadian tolong restui ya Pi. Melly nggak mau dijodohkan sama si dokter nggak jelas itu." kata Melly sambil mengerucutkan bibirnya ke arah papinya.


Papinya duduk dan bertanya sama Rio "Kamu serius sama anak saya ?"


"Serius om, di umur saya yang sekarang ini saya berpikir bukan waktunya lagi untuk bermain main. Saya akan segera menikahi anak om, kalau om merestuinya " sahut Rio tegas.


"Bagus, saya suka sama kejujuran kamu. Tetapi sebagai calon menantu keluarga ini, kamu tuh harus lulus satu ujian dulu." kata papinya Melly kemudian.


"Saya siap dikasih ujian apapun om." Rio menjawab dengan penuh keseriusan.


"Kamu harus bisa memasak." kata papinya Melly.


"Pi, mana ada ujian macam itu ?" Melly langsung melotot ke papinya.


"Pi !?" Melly mulai protes.


Rio menggenggam tangan Melly dan berkata "Baik om, saya terima ujiannya, saya akan segera ke dapur untuk memasak. Mel, tolong tunjukkan dapurnya." Rio berdiri dan mengangguk ke papinya Melly dan berkata "Maaf om, saya mau permisi ke dapur dulu " Papinya Melly menatap Rio tanpa ekspresi.


Melly langsung mengajak Rio ke dapur "Ayang Bebeb memangnya bisa memasak ?" tanya Melly.


"Bisa dong, dulu waktu kuliah di luar negeri kan, ayang bebebmu ini harus berhemat jadi ya belajar untuk memasak sendiri, lebih irit dan higienis." jawab Rio.


"Melly malu nih, Melly cuma bisa bikin nasi goreng sama telor ceplok doang hihihi." sahut Melly.


"Kamu tolong keluarkan bahan apa aja yang ada Mel, biar aku pikirkan mau aku masak apa nanti bahan bahannya." Rio berkata sambil memakai celemek.


"ini ada sawi, wortel, telor, terus ayam, sama tepung bumbu." jawab Melky sambil mengeluarkan bahan bahan tersebut memasukkannya jadi satu dalam satu wadah, lalu menaruhnya di hadapannya Rio.


Rio langsung tersenyum dan memulai aksinya untuk memasak.


Melly membantu mencuci sayurannya dan memotong motong sayuran tersebut.


Setelah selesai, Rio menyuruh Melly untuk duduk saja. Semua Rio yang mengerjakannya.


"Mel, mami kamu kok nggak keluar apa masih tidur ? apa beliau tidak enak badan kok jam segini belum bangun ?" tanya Rio sambil memasak.


"Oooo mami saat ini ada seminar di luar kota. Papi tuh kayaknya memanfaatkan keadaan pas nggak ada mami nggak ada yang masak males keluar jadinya ayang Bebeb yang disuruh masak huh! emang ya papi tuh." Melly ngedumel kesal.


"Sssttt sama orangtua nggak boleh gitu, ayang bebebmu nih nggak masalah kok disuruh masak." jawab Rio santai.


Akhirnya semua hasil masakannya Rio sudah siap disajikan. Melly membantu menatanya diatas meja makan. Ada ca sawi dan wortel, omelet, nasi goreng dan ayam goreng tepung.


Rio melepas celemeknya, dan mencuci tangannya. Melly mencuci semua perabotan yang tadi dipakai Rio saat memasak. Setelah semuanya selesai dan beres, Melly meninggalkan Rio sebentar di dapur untuk memanggil papi, kakek dan Merry.


Merry nongol di dapur dan langsung memeluk lengan Rio yang masih berdiri di samping meja makan.


"Kak, kira kira masih ada nggak ya stok cowok seperti kak Rio di muka bumi ini ? Merry mau dong satu kalo masih ada heeeee." kata Merry sambil meringis dan menatap Rio.


Rio tersenyum dan melepas tangan Merry dari lengannya pelan pelan.


"Merry jaga sikapmu dan duduk !" perintah papinya langsung dituruti sama Merry.


Melly mengambilkan papinya nasi plus lauk pauknya, saat papinya Melly sudah mulai makan, Melly pun bertanya "Gimana Pi, enak nggak ?"


Rio yang sudah duduk di sampingnya Melly pun langsung menoleh ke arah papinya Melly.


"Emmm lumayan." jawab papinya Melly sambil tersenyum.


"Berarti ayang bebebnya Melly lulus dong jadi calon menantunya papi." tanya Melly penuh semangat.


"Lulus lulus. " sahut kakeknya Melly sambil terkekeh menatap Rio.


"Kek, Melly nanyanya sama papi." protes Melly.


"Hmmmm." papinya Melly akhirnya menjawab sambil tersenyum ke Rio dan Melly.


"Waaahhh makasih ya Pi." Melly langsung berdiri dan mencium pipi papinya.


Rio merasa lega setengah mati, puji Tuhan akhirnya aku bisa lulus dengan cumlaude nih heeee. batin Rio.