Lila And Grey

Lila And Grey
Dua cewek penggoda



Keesokan harinya Grey dan Rio sudah memulai meeting di dalam ruangannya Grey. Meeting dengan perusahaan milik papanya Grace. Grace tampak sangat anggun dan cantik, memang sengaja dia dandan habis habisan untuk menarik perhatiannya Grey.


"Maaf Grace, untuk estimasi biaya yang kami ajukan terlalu besar tidak untuk proyek kita ini ?" tanya Grey masih menatap berkas berkasnya.


Rio menoleh ke arah Grace karena Grace tidak segera merespon pertanyannya Grey, alih alih menatap Grey sambil senyam senyum sendiri. Gila ya nih cewek. batin Rio heran.


Grey mengalihkan pandangannya ke arah Grace dan bertanya kembali " Grace, gimana ?"


"Ah emm itu heee apa ya ?" sahut Grace gelagapan.


"Makanya elo tuh fokus dong, ini meeting bukan jumpa fans." Rio mulai nyolot karena kesal.


Grey mendengus kesal dan mengulangi pertanyaannya kembali "Estimasi biaya yang kami ajukan terlalu besar tidak untuk proyek kita nanti ?"


"Oooo itu emm sebentar ya aku baca dulu." jawab Grace santai sambil meraih berkas yang ada di depannya dan mulai membacanya.


"What ??! kemarin kemarin tuh elo ngapain aja kok baru elo baca sekarang ? huft sabar sabar." Grey mulai kesal.


"Ya maaf, aku kan cuma disuruh sama papa untuk menggantikannya. Aku nggak paham soal beginian." Grace berucap tanpa merasa bersalah sama sekali.


Rio pun menggaruk nggaruk kepalanya. Sumpah deh bikin kesal juga nih cewek. batin Rio.


"Emm gini aja deh, sebentar ya aku telepon papa aku dulu heeee." Grace mengambil HPnya dari dalam tasnya dan mulai menelepon papanya.


Satu jam lebih Grace mengobrol dengan papanya lewat telepon. Rio dan Grey mulai kesal bukan main.


Setelah paham maksud dari papanya, akhirnya Grace menutup sambungan teleponnya dan berkata "heeee maaf menunggu lama ya, soalnya tadi kata papa Raja mulai rewel jadi aku tenangkan dulu tadi heeee."


"Apa hubungannya dengan Raja ? huft sabar Grey sabar." ucap Grey sambil mengusap kasar wajahnya.


"Dia kan anakku jadi wajar dong kalau pas tahu aku yang telepon dia langsung rewel nyari mamanya " sahut Grace kesal.


"Bodo amat ! hadeeehh ! terus gimana tadi keputusan dari papa kamu hah ?" Grey mulai meninggikan nada suaranya.


"OOO iya yang itu ya heeee aku sampai lupa, emm kata papa tadi untuk estimasi biaya papa nurut aja karena sudah yakin seratus persen sama kinerja kalian berdua." Grace berujar sambil tersenyum manis menatap Grey.


"Oke, sekarang elo tanda tangan di atas meterai." Grey menyodorkan kontrak kerja sama mereka.


"Tanda tanganku harus menyentuh meterainya atau harus diatas meterai persis nih ?" tanya Grace sambil menoleh ke arah Grey.


Grey mendengus kesal dan berucap " elo tanda tangan aja di atas keningnya Rio."


"Lha kok gue kena sih, kenapa nggak di kening elo aja ." sahut Rio kesal.


"Grace yang cantik, kamu tanda tangan diatas meterai nggak apa apa, mau kamu senggolkan sedikit ke meterainya juga nggak apa apa, paham kan ?" Rio mulai mengajari Grace cara tanda tangan di atas meterai. Karena sumpah Rio pun mulai kehilangan kesabarannya.


"Hahaha wajah kalian lucu ya hahaha ok ok aku sudah paham." Grace mulai tanda tangan dan menyerahkan berkasnya kembali ke tangan Grey.


Grey berdiri dengan maksud supaya Grace pun ikutan berdiri dan secepatnya keluar dari ruangannya.


"Ngapain kamu berdiri Grey ? aku masih ingin ngobrol sama kalian." kata Grace santai.


"Hei ! aku dan Rio bukan pengangguran ya, kamu sadar kan kalau ini kantor bukan kafe ? dan kerjaan kita tuh masih banyak, nggak ada waktu untuk meladeni ocehanmu." jawab Grey menahan geram.


"Hahaha sepuluh menit aja aku ingin reuni sama kalian, OOO iya gimana kalo kita bertiga jadi panitia inti untuk reunian angkatan kita. Aku kangen sama teman teman kita jaman SMA dulu." Grace nyerocos dengan santainya.


Grey malas untuk merespon ocehannya Grace lalu melangkah menuju ke meja kerjanya meninggalkan Grace dan Rio yang masih duduk di atas sofa.


"Memangnya kamu punya kontaknya teman teman kita semasa SMA dulu ?" tanya Rio.


"Ada beberapa, kalo aku hubungi pasti nanti banyak yang merespon dan kita bisa reunian. Gimana Grey ?" tanya Grace penuh semangat sambil menoleh ke Grey


"Pulanglah, aku masih banyak kerjaan dan aku tidak tertarik sama yang namanya reunian, hanya jadi alasan untuk ajang perselingkuhan aja, cih ! Aku tipe setia dan cintaku hanya untuk Lila seorang." sahut Grey tanpa menatap Grace.


Cih ! batin Grace kesal.


"Iya benar kata Grey, aku setuju karena aku juga tipe setia." sahut Rio.


"Baiklah aku pulang, tapi bolehkan aku nanti sore main ke rumahmu ? aku pengen menjenguk Lila dan Raja juga sudah kangen banget sama Lila." Tanya Grace.


"Hmm" jawab Grey masih menatap layar laptopnya.


"Ok baiklah aku pulang, sampai ketemu nanti sore ya, aku bawakan es krim kesukaannya Lila nanti " Grace pamit sambil melangkah keluar dari ruangannya Grey.


"Ya dulu kan kamu tuh cinta buta jadi yang nampak dari Grace ya semuanya indah." jawab Rio menahan tawa.


"Haiyah ngaca Lo, apa kabar elo dulu sama si Adelia hah ?" sahut Grey kesal.


"Hahahaha ok, iya emang kita dulu sama sama bodoh dibutakan oleh cinta." Rio mulai tertawa lepas.


Tok Tok Tok


"Masuk" sahut Grey.


Melly masuk, Rio pun langsung sumringah melihat wajah kekasihnya itu, Melly juga menatap Rio sambil tersenyum penuh cinta.


"Ehem...... cih ! gue ngontrak nih di dunia ini " Grey kesal saat dia dicuekin Melly sama Rio.


"Heee maaf pak Grey di luar ada Bu Susan. Tapi anehnya tuh ya emm Bu Susan tidak ingin menemui pak Grey, tetapi mencari ayang Bebeb eh pak Rio." kata Melly panjang lebar.


Rio dan Grey bersitatap muka sambil mengerutkan dahi mereka. Hmm ada apa dengan Susan. batin Grey dan Rio secara bersamaan.


"Sekarang dia dimana Mel ?" tanya Rio.


"Maaf Beb, emm sudah Melly persilahkan masuk ke ruangannya ayang Bebeb." jawab Melly.


"Ok, suruh tunggu sebentar." sahut Rio sambil mengusap usap rambut Melly. Melly pun mengangguk ke arah Rio dan Grey lalu melangkah keluar dari ruangannya Grey


"Ada apa ya bos ? kok gue punya firasat buruk ya." kata Rio ke Grey.


"Sudah sana elo ke ruangan elo dulu, kalau kelamaan di sini entar Susan masuk ke sini bro bisa gila gue, buruan sana !" sahut Grey.


"Ok ok huh ! menyebalkan !" Rio mendengus kesal sambil melangkah keluar dari ruangannya Grey.


Akhirnya Rio pun masuk ke dalam ruangannya. Susan nampak sumringah melihat Rio, Susan berdiri dari tempat dia duduk dan tersenyum sangat cantik sambil menatap Rio.


"Maaf Bu menunggu lama, silahkan duduk kembali." kata Rio.


Susan pun duduk kembali dan terus menatap Rio.


Rio duduk di depannya Susan dan bertanya


" maaf Bu, ada keperluan apa Ibu menemui saya ?"


"Mulai sekarang jangan panggil Bu dong heee, panggil Susan aja ya." Susan tersenyum dan terus menatap Rio.


"Maaf ada apa ya ?" Rio bertanya lagi.


"Apa kak Rio ada waktu luang nanti sore ?" Susan mulai melepaskan serangannya.


"Ada apa ? proyek kita sudah selesai kan dan soal kasus hukum om anda maaf kita tidak bisa memberikan kelonggaran sedikit pun karena om anda sudah sangat keterlaluan dan hampir merenggut nyawa isteri bos saya." ucap Rio tegas.


"Ini tidak ada hubungannya dengan proyek kita dan kasus hukum om aku kok kak Rio heee." jawab Susan sambil berdiri dan melangkah mendekati Rio untuk duduk di sebelahnya Rio.


Rio mengerutkan dahinya dan spontan menggeser letak duduknya agak jauh dari Susan.


Susan tersenyum melihat tingkahnya Rio dan berkata "Kak, aku langsung aja ya emm aku naksir sama kakak, dan aku akan mendekati kakak dengan halus dan jujur tanpa trik seperti yang pernah aku lakukan dulu waktu aku mengejar pak Grey."


"Hah ??!!" Rio shock dan spontan ternganga.


"Iya heeee sepertinya perasaanku selama ini salah, aku ternyata naksir kamu kak bukan naksir pak Grey." tambah Susan kemudian.


"Sejak kapan kamu emm maaf karena kamu sudah pakai bahasa informal sama aku jadi aku pun manggil kamu dengan kamu boleh ?" tanya Rio.


"Boleh aja silahkan mau manggil aku sayang juga boleh heeee." jawab Susan.


"Huft ok, kita perjelas sekarang ya. Sejak kapan aku jadi kakak kamu ? kamu seenaknya manggil aku kakak sekarang ini ?" tanya Rio.


"Sejak aku sadar kalau aku tuh naksir berat sama kakak."jawab Susan santai.


"Hah ?!" Rio ternganga lagi.


oooo Tuhan tolooonnnggggg !!! batin Rio.