Lila And Grey

Lila And Grey
Pertama kali naik pesawat.



Keesokan paginya, Grey, Ibu dan Lila langsung menuju ke bandara. Sedangkan Melly dan Rio sudah duluan berangkat ke bandara untuk menyiapkan segala sesuatunya.


Sesampainya di bandara, Lila merasa heran, kenapa suaminya langsung menuju ke ruang VIP Lounge dan masuk ke dalam pesawat yang sepi, tidak ada penumpang yang lainnya selain dia, suaminya, Ibu mertuanya, mbak Melly dan kak Rio.


Mereka di sambut dua orang pramugari yang cantik cantik, tinggi langsing semuanya, satu pilot dan co-pilot yang gagah dan ganteng ganteng.


Lila pun langsung diajak duduk sama Grey. Ibu duduk di tempat duduk yang lain. Begitu pun dengan Melly dan Rio.


Tidak begitu lama pesawat pun take off.


"Ayang bebeb, ini pesawat pribadi ya ?" tanya Melly kagum.


Rio pun mengangguk, dan membenamkan kepala Melly di dadanya "sudah jangan terlalu lama melongo, masuk angin entar, tidurlah" kata Rio.


Melly tertawa lirih dan memukul pelan dada bidangnya Rio.


"Sayang, kok pesawatnya sepi ? nggak ada penumpang lain selain kita ?" tanya Lila.


"Hmm, kamu sudah minum obat anti mual sama pengencer darahnya ?" tanya Grey sambil memeluk Lila.


"Sudah tadi. Emm sayang, Lila baru pertama kali ini naik pesawat, apa memang sepi begini ya ?" tanya Lila setengah berbisik.


"Benarkah baru kali ini kamu naik pesawat ?" tanya Grey kaget.


Lila melepaskan diri dari pelukannya Grey dan menganggukkan kepalanya, dan bertanya lagi "Enak ya naik pesawat, ternyata di dalam pesawat itu bagus banget dan lihat sayang awannya indah banget, dan ternyata di dalam pesawat tuh tidak seperti bayangannya Lila, banyak penumpangnya, ternyata sepi gini ya?"


"Hahahaha kamu polos sekali sih sayang, ini namanya pesawat pribadi." jawab Grey.


"Hah ? pesawat pribadi ? punya kamu sayang ? kamu yang beli ?" tanya Lila.


"Hahahahaha iya, aku yang beli patungan sama Rio tapi baru uang mukanya, selebihnya aku dan Rio masih mencicilnya." jawab Grey.


"Waaahhh hebat kalian" kata Lila kagum.


"Biasa aja Lil, orang masih nyicil juga belum lunas " sahut Rio.


Melly ikutan bangga dan menatap Rio lalu mengecup bibirnya Rio.


"Tapi kenapa kalau perjalanan bisnis, kalian tidak naik pesawat ini ?" kata Lila.


"Iya ngapain juga sering sering pakai pesawat ini sayang juga kan, hari ini aku putuskan pakai pesawat ini karena ngajak kamu dan kamu kan lagi hamil, aku nggak mau kamu merasa nggak nyaman kalau naik pesawat umum." jawab Grey.


"Ibu juga baru pertama kali ini diajak Grey naik pesawat ini" sahut Ibu Ratih.


"Aaahh benarkah Bu " jawab Lila sambil maju melongok ke kursi depan yang didudukki ibu mertuanya.


Grey langsung meraih pinggangnya Lila, takut kalau Lila jatuh dan langsung berkata penuh kekhawatiran "Sayang, sudah ya duduk yang bagus kamu tuh lagi hamil"


Lila langsung nurut duduk dengan benar dan menatap jendela yang ada tepat di sampingnya memandangi awan awan putih yang indah banget di mata dia.


Grey menoleh menatap isterinya dengan penuh cinta, dan merasa tersentuh hatinya saat Lila mengatakan belum pernah naik pesawat. Grey ikutan tersenyum senang menatap wajah bahagianya Lila saat ini.


Grey meraih dagu Lila, dan langsung mencium bibir Lila, lama dan penuh cinta.


"Emmmpht sayang, ada ibu " kata Lila lirih.


"Ibu sudah tidur" sahut Bu Ratih.


"Tuh ibu sudah tidur " jawab Grey santai dan kembali mencium bibir Lila.


"Sayang, mana ada tidur bisa ngomong ?" kata Lila lirih sambil menepuk pelan dadanya Grey.


Grey tersenyum dan kembali melakukan aksinya, menarik Lila untuk duduk di pangkuannya lalu kembali mencium bibirnya Lila.


"Sayang, di belakang ada mbak Melly sama kak Rio" kata Lila.


"Kita punya kesibukkan sendiri Lil, lanjutkan aja kesibukkan kalian" sahut Rio


"Hahahahaha kalian sama saja ya ternyata" ucap Lila geli.


Grey langsung membungkam bibir Lila dengan bibirnya. Dua pramugari cantik yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka pun merasa rikuh dan langsung masuk menuju ke ruang dapur yang ada di dalam pesawat tersebut.


Grey menelusupkan tangannya ke dalam dressnya Lila, meraba paha Lila dan semakin naik ke atas bermain main dengan area sensitifnya Lila.


Lila mendesah tanpa bersuara menikmati sentuhannya Grey karena takut kalau ibu mendengarnya.


Grey mulai melanjutkan aksinya saat melihat istrinya mulai menikmati permainannya, Grey mulai mencium leher Lila tetapi tidak meninggalkan jejak kepemilikannya kali ini, dan pelan pelan bibirnya meluncur turun menuju ke gunung kembarnya Lila, membuka satu kancing dressnya Lila dengan giginya, dan langsung menelusupkan bibirnya di atas gunung kembarnya Lila.


Lila langsung menghentikan aktivitasnya Grey takut kalau tiba tiba salah satu dari pramugari tadi berjalan menuju ke kursi mereka.


Lila bangkit berdiri dari pangkuannya Grey, dan duduk di kursinya lagi.


"Sayang, kok pindah sih ?" kata Grey sambil cemberut.


Lila mengancingkan kembali kancing dressnya dan berkata "kalau tiba tiba pramugarinya datang ke sini gimana coba ?"


"Aku nggak ada kerjaan nih" Kata Grey sambil meraih rambut Lila dan menciuminya, lalu kembali menciumi leher Lila, dan tangannya kembali masuk ke dalam dressnya Lila dan meraba pahanya Lila.


Lila akhirnya hanya bisa pasrah meladeni permainannya Grey.


Setelah puas dengan permainannya, Grey lalu memeluk istrinya dengan erat. "Nanti kita lanjutkan lagi ya, tidurlah perjalanan kita sangat panjang sayang" bisik Grey.


"Memang berapa jam ?" tanya Lila.


"Empat belas jam sayang " jawab Grey santai.


"Hah lama banget ? terus kita ngapain dong selama empat belas jam ?" tanya Lila.


"Mau aku lanjutkan lagi yang barusan ?" tanya Grey penuh semangat.


"Sayang, malu kalau ada yang lihat" jawab Lila.


"Hahahahaha tidurlah, kalau nggak aku akan nakal lagi lho" kata Grey sambil tersenyum penuh arti.


Lila langsung memejamkan matanya.


"Hahahaha imut banget sih isteri aku nih" ucap Grey sambil mengecup keningnya Lila.


Setelah dua jam perjalanan Grey membangunkan Lila dengan pelan "Sayang ini sudah dua jam, kamu harus jalan jalan nih" kata Grey mengingatkan Lila akan pesan dari mamanya Rio.


"Aaahh iya sayang, terima kasih sudah mengingatkan" jawab Lila.


Lila pun bangkit berdiri dan mulai berjalan jalan mondar mandir di lorong pesawat.


Lila melihat ke kursi belakang dilihatnya kak Rio dan mbak Melly tertidur lelap, ibu mertuanya juga tidur.


"Sayang emm Lila boleh nengok ruangan pilotnya ?" tanya Lila ke Grey.


"Lila dari dulu pengen banget melihat kokpit pesawat dari dekat" tambah Lila kemudian.


"Boleh, ayok aku temani " jawab Grey.


"Kenapa harus ditemani, Lila berani kok sendiri " ucap Lila polos.


"Pilotnya tuh cowok, aku nggak mau kamu ada di dalam satu ruangan sama cowok lain, tanpa aku, cih !" jawab Grey.


Akhirnya Lila pun nurut sama Grey daripada berdebat panjang dengan suaminya dan nanti ujung ujungnya dia juga yang kalah.


Lila penuh semangat dengan mata berbinar binar melangkah menuju ke ruang kokpit.


Dia sudah lama ingin melihat lihat kokpit atau flight deck dari sebuah pesawat.


"Kamu tunggu sebentar di sini ya, aku masuk dulu" kata Grey menyuruh Lila menunggu di depan pintu ruang kokpit pesawat pribadi tersebut.


"Kalian boleh menjawab pertanyaannya isteri gue nanti, tapi jangan menatapnya !" kata Grey begitu nongol di dalam kokpit.


"Baik pak Grey" jawab sang pilot dan co-piotnya dengan spontan, secara bersamaan dan tanpa banyak pertanyaan.


Grey pun tersenyum, lalu keluar dari kokpit dan mengajak Lila isteri tercintanya untuk masuk ke dalam.


Lila sangat kagum melihat isi kokpit dari pesawat tersebut dan mulai menanyakan beberapa hal juga kegunaan dari beberapa tombol yang ada.


Sang pilot dan co-pilotnya pun menjelaskan semua bagian yang ada di kokpit dengan sopan dan penuh keramahan tetapi tanpa menatap Lila, karena saat ini ada Grey yang terus mengawasi mereka.


Setelah puas melihat lihat dan mendapatkan penjelasan dari sang pilot dan co-pilotnya, Lila pun mengucapkan terima kasih, pamit untuk kembali ke tempat duduknya, dan beranjak pergi dari ruang kokpit.


Sepeninggalnya Grey dan Lila, sang pilot dan co-pilotnya pun saling menatap dan tersenyum karena merasa geli dengan sikap posesifnya Grey.


"Pantas saja sih kalau pak Grey sangat posesif sama isterinya, Isterinya sangat imut dan cantik. Sederhana tanpa make up berlebihan tetapi sangat enak dipandang, tidak membosankan" kata si co-pilot kepada sang pilot.


"Hush jangan keras keras, nanti tiba tiba pak Grey nongol lagi ke sini dan mendengar omonganmu bisa habis kamu" Sang pilot merespon kata kata rekannya tersebut sambil menggeleng nggelengkan kepalanya.