
Akhirnya tercapai kesepakatan kalau sementara waktu ini, selama Raymond masih berkeliaran di luar sana, Kalau Grey sibuk dan tidak bisa mendampingi Lila, maka Lila harus dikawal oleh anak buahnya Grey, tidak diperbolehkan pergi kemana mana sendiri tanpa pengawalan.
Lila sebenarnya merasa aneh, ke pasar beli sayur saja harus diantar sopir dan dikawal dua orang cewek anak buahnya Grey. Tetapi kalau Lila menolaknya maka Grey pasti akan merasa khawatir dan menjadi tidak tenang dalam bekerja.
Hari ini Lila tidak diijinkan ikut ke kantor sama Grey, karena Grey dan Rio ada beberapa meeting di luar kantor, Kalau Lila ditinggal sendirian di kantor bersama Melly, itu akan sangat membahayakan bagi keduanya.
Lila pun menuruti semua kata kata Grey tinggal di rumah, kalau mau keluar tidak boleh pergi sendirian.
Sepulangnya dari pasar, Lila langsung ke dapur untuk mulai memasak beberapa masakan kesukaannya Grey. Dua orang cewek yang ditugaskan Grey untuk mengawalnya, kini berjaga di depan pintu rumahnya.
Grey juga menambah dua orang satpam lagi untuk berjaga di depan gerbang rumahnya. Mulai merekrut adiknya mang Udin untuk dijadikan sopir pribadinya Lila. Adiknya Mang Udin kebetulan seorang cewek.
Selesai memasak, Lila pun keluar, untuk mengajak kedua pengawalnya, dan sopir pribadinya untuk makan siang bareng.
Dengan sedikit paksaan dari Lila akhirnya mereka pun bersedia untuk makan siang bersama dengan Lila, duduk satu meja makan dengan Lila.
"Silahkan nambah kalo mau nambah, jangan sungkan " kata Lila.
"Baik nona" sahut salah satu pengawalnya.
"Panggil saja saya Lila, nggak usah pakai non." ucap Lila kemudian
"Saya tidak berani non, nona itu kan majikan kami."Jawab pengawal yang satunya.
"Hahaha majikan apa sih, santai aja nggak usah terlalu kaku " Lila tersenyum ke arah mereka semua.
"OOO iya nama kalian siapa ? kalau adiknya mang Udin saya sudah tahu nama kamu Upik kan ?" Lila menoleh ke arah Upik.
Upik pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Nama saya Ari, dan teman saya ini Uci." jawab salah satu pengawal yang berambut pendek.
"Ok, yang berambut pendek Ari dan yang dikucir ini Uci ?" tanya Lila kemudian.
Kedua pengawal itu pun tersenyum ke arah Lila dan menganggukkan kepalanya.
"Upik, kamu belajar menyetir mobil umur berapa ? kok udah jago gitu ?" tanya Lila sambil menoleh ke Upik.
"Saya belajar nyetir dari SMP non, diajari Abang saya, mang Udin. Saya ini dulunya anak bandel non, malas belajar sukanya main, makanya begitu pengen belajar nyetir mobil, Abang saya pun langsung mengajari saya heeee." Upik menjawab pertanyaannya Lila sambil meringis.
"Hahahaha, mbak Ari sama mbak Uci juga bisa nyetir mobil ?" Lila beralih ke Ari dan Uci.
"Bisa non ." Uci dan Ari menjawab secara bersamaan.
"Baguslah, kalo kita pergi barengan kita bisa bergiliran nyetir mobilnya biar nggak capek." ucap Lila santai.
"Mana boleh non !" Upik, Ari, dan Uci menyahut berbarengan.
"Hahahaha kalian bikin aku kaget nih, kok bisa kompakan gitu hahaha. Santai aja jangan terlalu kaku gini ah " kata Lila sambil tertawa.
Mereka menyelesaikan makan siang mereka. Upik,Ari dan Uci membantu Lila untuk membereskan meja makan dan mencuci piring dan gelas yang habis mereka pakai.
Setelah itu mereka kembali berjaga di depan rumah. Lila pun naik keatas menuju ke kamarnya.
Lila membuka matanya ketika didengarnya suara Grey memanggilnya dengan lembut. Lila tersenyum menatap wajah tampan suaminya, tetapi tiba tiba wajah suaminya berubah menjadi Raymond, Lila pun berteriak sekencang kencangnya.
Uci dan Ari dengan sigap berlari menaikki anak tangga, langsung menuju ke pintu kamarnya Lila dan membukanya.
Uci dan Ari menepuk pelan pipi Lila, Lila langsung membuka matanya dan langsung memeluk Uci dan Ari.
"Non, kenapa ?" tanya Ari.
"Maafkan aku, mengagetkan kalian emmm aku sepertinya bermimpi buruk." kata Lila kemudian sambil mengerjap ngerjapkan matanya.
Lila melepaskan pelukannya lalu menatap Ari dan Uci yang sudah tampak lega karena Lila ternyata tidak kenapa kenapa. Uci dan Ari pun pamit untuk balik lagi berjaga di depan rumah.
Lila meraih HPnya "halo, sayang " kata Lila begitu dilihatnya di layar HP ternyata Grey yang meneleponnya
"Kamu nggak kenapa kenapa kan ? perasaanku kok tiba tiba nggak enak gini." tanya Grey di seberang sana.
Kok bisa terasa sampai sana ya, apa ini yang dinamakan chemistry antara suami isteri. Lila berkata dalam hati.
"Halo, Lila kamu kenapa kok diam aja ?" Grey mulai panik
"Aahh nggak apa apa kok, aku tadi cuma mimpi buruk, ini aku baru aja terbangun dan mau langsung mandi aja biar segar lagi." sahut Lila.
"Ok, tunggu ya aku sebentar lagi balik kok." jawab Grey lalu menutup sambungan teleponnya.
"Bro, bagaimana bisa sih Raymond sialan itu bebas secepat ini ? aku jadi nggak tenang nih, kepikiran Lila terus." Grey mengusap kasar wajahnya.
"Dia membayar uang jaminan jadi bisa bebas bersyarat. Kalo ingin menjebloskan dia selama lamanya di penjara maka kita harus membuat kasus baru dan itu.............."
"Harus melibatkan Lila ?" omongannya Rio langsung dilengkapi sama Grey.
Rio menyetir sambil menganggukkan kepalanya.
"Raymond kan terobsesi sama Lila, ya hanya Lila yang bisa memancing Raymond untuk bisa berbuat nekat dan melawan hukum lagi." tambah Rio.
"Nggak bro, gue nggak bisa membiarkan isteri gue dalam bahaya lagi." sahut Grey lirih.
"Bagaimana kalau kita pancing Raymond pakai orang lain yang secara fisik mirip sama Lila ?" Kata Rio kemudian.
"Gila Lo, emang ada cewek yang secantik Lila ? Cih ! enak aja elo ngebandingin isteri gue sama cewek lain." sahut Grey kesal.
"Hahahaha gue bilang tuh fisiknya bukan wajahnya, kalo tampak belakang kan Raymond nggak akan bisa ngebedain itu Lila apa bukan ?" Rio mulai menjelaskan rencananya.
"Kita cari cewek yang tingginya persis sama dengan Lila, panjang rambutnya, model rambutnya, juga harus seramping Lila " kata Rio kemudian.
"Terus, kita suruh tuh cewek memancing Raymond untuk menculiknya ? hadeeehh bro, kalo cewek itu ketahuan bukan Lila terus Raymond membunuhnya kan bisa berabe." protes Grey kesal.
"Makanya, kalo kita udah dapat cewek yang seperti itu, kita mulai atur strategi, dan point pentingnya lagi, cewek itu harus bisa bela diri kayak Lila, paling nggak sebelum bala bantuan datang dia bisa mempertahankan dirinya sendiri untuk tetap selamat." cerocos Rio panjang lebar.
"Ok, kita coba bahas lagi kalo kita dah sampai di rumah." jawab Grey.