
"Wait a minute ya " kata Grey kemudian lalu berdiri dan melangkah mendekati Rio dan menusukkan telunjuknya ke lesung pipitnya Rio.
Lalu melangkah balik ke arah Lila dan berkata "mana telunjuk kamu ?"
Lila mengernyitkan dahinya dan menunjukkan jari telunjuknya di depan mata Grey.
"Nih, aku tempelkan telunjukku yang tadi habis nusuk lesung pipitnya Rio, sama aja nih kamu udah nusuk lesung pipitnya Rio kan" kata Grey tersenyum dan duduk kembali di sampingnya Lila.
Lila mengerucutkan bibirnya, Melly langsung tertawa terbahak bahak, karena Melly sudah tidak kuasa lagi menahan tawanya sedari tadi.
"Sayang, kok kayak kasih Lila upil sih" kata Lila mulai protes.
"Iiihhh Lila jorok iiihhh" sahut Rio sambil meringis.
"Eeiittss jangan salah sayang, aku tuh kalau ngupil pakai jari kelingking bukan telunjuk" kata Grey santai tanpa memperhatikan kalau isterinya sudah mulai kesal.
"Aiisshh Grey ngapain juga elo perjelas soal ngupilnya hadeeehh jorok iihhh kalian berdua." Kata Rio sambil meringis.
Melly kembali tertawa terbahak bahak.
"Ya udah nanti Lila telepon Dony aja suruh ke sini." kata Lila sambil merengut.
"Ngapain sayang, kamu suruh Dony ke sini ?" Grey langsung protes dan spontan menatap Lila.
"Dony juga punya lesung pipit, kalau nggak boleh nusuk lesung pipitnya kak Rio ya udah nanti Lila nusuk lesung pipitnya Dony aja." kata Lila santai.
"What ?! aahhh sial benar nasibku ini kenapa di dunia ini hanya aku seorang yang tidak berlesung Pipit" sahut Grey sambil mendengus kesal.
"Buahahahahaha itu karena kamu pas lahir dulu tuh cemberut nggak ada senyum sama sekali" Sahut Rio yang langsung terbahak bahak karena tiba tiba dia teringat wajah Grey sewaktu SD dulu, yang selalu cemberut tiap menatap lesung pipitnya Rio.
"Mana ada aku lahir langsung cemberut, cih !" sahut Grey tambah kesal.
"Pak Grey, daripada nanti putranya pak Grey ileran, lebih baik pak Grey turuti tuh keinginannya mbak Lila." sahut Melly.
"Iya Grey, turuti keinginan isteri kamu, kasihan Lila dan kasihan kalau nanti cucu ibu ileran." sahut Bu Ratih yang tiba tiba sudah melangkah untuk bergabung bersama mereka.
"Huuffftt sabar Grey, nggak ada yang ngedukung elo saat ini" ucap Grey tambah kesal lagi.
"Hahaha lha iya emang benar apa yang dikatakan Melly tadi" kata Bu Ratih sambil duduk di sampingnya Grey.
"Tinggal pilih bro, lesung pipitku apa lesung pipitnya Dony ?" ucap Rio sambil tersenyum usil menatap Grey.
"Aaahhh sial, ini kalau di dalam dunia bisnis, aku sudah kalah telak nih." ucap Grey sambil meraup kasar wajahnya.
"Sayang, gimana nih ?" tanya Lila kemudian.
"Rio aja sana buruan elo tusuk lesung pipitnya." kata Grey sambil memejamkan matanya.
"Kenapa memejamkan mata sayang, ada yang sakit ?" Lila langsung panik saat melihat suaminya spontan merem.
"Nggak ada yang sakit sayang, sana buruan elo tusuk lesung pipitnya Rio dan aku nggak mau lihat." jawab Grey masih memejamkan matanya.
Semua langsung tertawa terbahak bahak melihat tingkah konyolnya Grey.
Lila akhirnya menusuk lesung pipitnya Rio, dan langsung sumringah "Makasih ya kak Rio, mbak Melly dan suami tersayangku."
"Sudah ya, kalau sudah aku melek nih" sahut Grey.
"Sudah " bu Ratih yang menjawabnya.
Begitu Grey melek, Lila menusuk lagi lesung pipitnya Rio.
Grey langsung melotot ke arah Lila dan Rio lalu berkata "Waahhh usil sekali ya kalian berdua, awas elo bro, dan kamu sayangku bersiap siaplah ya nanti malam menerima hukuman spesial dari suami tersayangmu ini."
Semua langsung tertawa terbahak bahak, Bu Ratih kemudian mengajak mereka semua untuk makan siang. Mereka semua akhirnya menuju ke meja makan. Mbok Iyem sudah selesai menata semua masakan hasil karyanya Bu Ratih.
Selesai makan siang, mereka bercengkerama sebentar di teras depan membahas soal Radit, Radit sudah masuk penjara dan kasus hukumnya juga sudah mulai bergulir. Di saat hari mulai beranjak sore, Rio dan Melly pun pamit untuk pulang. Bu Ratih membawakan beberapa masakan untuk di bawa pulang Melly dan Rio.
Sepeninggalnya Melly dan Rio, Grey, Lila, dan Ibu kembali ke kamar masing masing untuk beristirahat sebentar.
Tepat jam 7 malam, Grey dan Lila pamit sama Bu Ratih untuk pergi ke rumah sakit memeriksakan kandungannya Lila.
Sesampainya di rumah sakit, mereka masih harus mengantri. Walaupun Grey pemegang saham tertinggi dari rumah sakit tersebut tapi Grey tidak suka menggunakan wewenangnya untuk bersikap arogan. Kalau harus ikutan mengantri seperti pasien umum lainnya, dia tidak keberatan.
"Mbak, maaf saya suka melihat wajah mbak yang manis dan cantik, apa boleh saya memeluk mbak dan membelai wajahnya mbak?" kata seorang ibu di sebelahnya Lila.
Grey langsung keberatan dan menolak permintaan ibu tersebut dengan sopan.
"Sayang, kasihan ibunya lagian ini keinginan dari calon bayi yang dikandung ibu ini, iya kan Bu ?" ucap Lila sambil tersenyum ke arah ibu tersebut.
"Iya mbak, maaf kalau saya tidak sopan." jawab ibu tersebut.
Akhirnya Grey pun mengangguk mengijinkan ibu tersebut untuk memeluk dan membelai wajah Lila.
"Terima kasih ya pak, terima kasih ya mbak ?" kata ibu tersebut sambil bangkit berdiri menuju ke ruang periksa karena namanya sudah dipanggil.
"huuffftt" Grey mendengus kesal.
"Kenapa lagi sih sayang ?" tanya Lila heran.
"Hahaha bukannya nampak tua sayang, tapi nampak berwibawa makanya kamu dipanggil pak." jawab Lila berusaha meredam kekesalannya Grey
"Aaahh benarkah ? heeee suka aku mendengarnya." Cup Grey spontan mencium pipi Lila.
"Sayang, ini tempat umum kok main cium cium sih, malu "kata Lila.
Grey pun tersenyum sambil merangkul bahunya Lila.
Akhirnya nama Lila pun dipanggil sama suster.
Lila dan Grey melangkah masuk ke dalam ruang periksa.
Grey langsung memeluk isterinya dengan erat dan melotot ke arah dokternya.
"Kenapa pak Grey ?" tanya susternya.
Dokter yang tengah duduk di kursinya pun spontan menoleh ke arah Grey dan Lila.
"Kok cowok, mana dokter Florence ?" tanya Grey ke susternya saat dilihatnya bukan mamanya Rio yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Oooo iya pak maaf, tadi dokter Florence mendadak mendapatkan panggilan darurat untuk menangani operasi yang lumayan sulit pak dan hanya dokter Florence yang mampu menangani operasi tersebut." Ucap suster tersebut panjang lebar.
Grey pun mengangguk menanggapi penjelasan dari suster tersebut, lalu meraih tangan Lila dan mengajak Lila untuk duduk di depan dokter tersebut.
"Selamat malam pak Grey, maaf sudah mengantri lama dan kenapa juga anda tidak langsung masuk ke ruang periksa tadi ?" tanya dokter Brian Anggara.
"Aahh cuma masalah mengantri doang bukan masalah besar" sahut Grey.
Lila sudah diajak suster tadi untuk merebahkan diri di ranjang, kakinya Lila sudah diselimuti selimut garis garis khasnya rumah sakit sampai di bagian pinggang dan yang nampak sekarang hanya perutnya Lila, lalu suster tersebut mulai menyibakkan tirai yang tadi tertutup.
"Sudah siap diperiksa dok" kata suster tersebut.
Dokter Brian Anggara pun langsung bangkit berdiri dan mulai melangkah mendekati Lila.
Tatapan Grey mengikuti langkah dokter Brian saat mendekati isterinya untuk mulai memeriksa Lila.
"Stop !" kata Grey kemudian saat melihat dokter Brian mau memeriksa perutnya Lila.
"Ada apa pak Grey ?" tanya dokter Brian spontan menoleh ke arah Grey.
"Elo mau apa ? mau pegang perut isteri gue ya ?" tanya Grey mulai kesal.
"Hahaha yang menyentuh perut isteri bapak bukan tangan saya pak, jadi bapak tenang aja, tidak usah khawatir " ucap dokter Brian sambil tersenyum.
"Lalu siapa yang menyentuhnya ?" tanya Grey sambil mengernyitkan dahinya.
"Stik gold USG ini pak yang nanti menyentuh perut isterinya bapak" jawab dokter Brian.
"Ooooo ok, tapi gue awasi Lo jangan macam macam" kata Grey kemudian.
"Hahahaha bapak mendekatlah ke sini, bapak bisa mengawasi saya sambil melihat layar USG nya, bapak bisa melihat calon anaknya pak Grey di layar USGnya." sahut dokter Brian penuh kesabaran meladeni kecemburuannya Grey.
"Aaahh benarkah ?" Grey langsung sumringah dan berjalan mendekati Lila lalu meraih tangan Lila dan menggenggamnya.
"Aahh bohong kan elo ? mana anak gue ?" Grey mulai protes saat dia menatap layarnya dan tidak nampak seorang bayi seperti yang ada dalam bayangannya.
"Hahahaha usia kandungan isteri bapak tuh masih sangat muda, jadi saat ini yang nampak masih sebuah titik " sahut dokter Brian.
"Oooo begitu ya, Lila sayang, lihat itu anak kita" sahut Grey sambil mencium tangan isterinya.
Lila pun tersenyum penuh kebahagiaan saat melihat suaminya dan melihat layar USG nya.
Setelah selesai memeriksa, dokter Brian berdiri mencuci tangannya dan melangkah ke kursinya lagi.
Grey mengekor dokter Brian, dan tirai kembali di tutup sama suster, tidak begitu lama tirai tersibak kembali dan Lila turun dari bed lalu berjalan mendekati suaminya kemudian duduk di sampingnya Grey.
"Selamat pak Grey, mbak Lila emm janinnya sehat dan kuat, tapi ada PR buat pak Grey" kata dokter Brian sambil tersenyum penuh arti ke Grey.
"PR apa tuh ?" tanya Grey heran.
"Pak Grey tidak boleh menyentuh isteri bapak dulu, nggak boleh melakukan aktivitas ranjang dulu, paham kan maksud saya pak?" tanya dokter Brian sambil tersenyum menggoda Grey.
"Paham dong aku kan smart, tapi untuk berapa lama ? kalau sampai nunggu anak gue lahir bisa masuk musium dong si Komo" sahut Grey santai yang langsung mendapat cubitan khasnya Lila di pinggangnya.
"Buahahahaha " dokter Brian langsung tertawa terbahak bahak menanggapi omongannya Grey.
"Nggak sampai nunggu waktu melahirkan kok pak Grey, cuma empat..........."
"Empat hari kan, fiuuuuhhhh lega gue, seminggu aja gue kuat apalagi cuma empat hari" omongan dokter Brian langsung dipotong seenaknya sama Grey.
"Buahahahaha bukan empat hari pak, tapi empat bulan." jawab dokter Brian sambil menggeleng nggelengkan kepalanya.
Lila langsung menunduk malu, melihat tingkah polosnya Grey, suami tercintanya.
"What ?! hiks hiks hiks sabar ya si Komo hiks hiks hiks" sahut Grey mulai memasang wajah meweknya.