
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan kalau sudah saatnya bagi mereka untuk makan siang. Pak Hartawan mengajak Rio,Grey dan Susan putrinya untuk keluar kantor dan menuju ke resto favoritnya yang berada di hotel tidak jauh dari lokasi proyek mereka.
Mereka berencana selesai makan siang bisa langsung meluncur ke proyek. Tidak begitu lama mereka pun sampai di hotel tersebut dan langsung masuk menuju ke resto hotel tersebut.
Rio pamit sebentar. Rio mencari seorang karyawan hotel yang bisa dia ajak untuk bekerja sama mengawasi gerak gerik Susan.
Akhirnya ketemu sama sesosok Karyawan hotel yang pantas untuk dijadikan anak buahnya. Setelah diajak ngobrol panjang lebar sama Rio, dan Rio menjelaskan secara detail maksudnya, karyawan hotel tersebut setuju untuk bekerja sama.
Karyawan tersebut diwanti wanti Rio jangan sampai Susan curiga. Setelah karyawan tersebut mengerti, Rio memberi karyawan tersebut amplop yang berisi uang.
"Itu setengahnya dulu kalo sudah kelar, nanti aku tambahin. Ingat jangan sampai dia curiga." kata Rio sambil menunjuk ke arah Susan.
"Ingat pula harus hati hati tapi santai aja jangan terlalu tegang nanti malah dicurigai, dan ini nomer HPku." Rio menyodorkan kertas yang berisi nomer HPnya dan langsung diraih dan dimasukkan oleh karyawan tersebut ke dalam saku celananya beserta amplop yang diberi sama Rio tadi.
Rio pun balik ke meja tempat Grey, Susan dan Pak Hartawan yang sudah duduk dari tadi menunggu Rio.
"Darimana sih bro kok lama ?" tanya Grey ke arah Rio yang sudah duduk di kursi sebelah kanannya Grey karena yang sebelah kiri sudah diduduki Susan dan pak Hartawan duduk di kursi di depannya Grey.
"Dari toilet, sakit perut gue makanya lama heehehe maaf." kata Rio ke arah pak Hartawan dan Susan.
Setelah pelayan resto sudah selesai mencatat semua pesanan mereka, pelayan resto pun permisi undur diri untuk menyiapkan pesanan mereka dan giliran Susan yang pamit ke toilet tapi anehnya kok malah mengekor pelayan resto tersebut.
Rio tersenyum sambil terus melihat gerak gerik Susan tapi dengan smooth, takut pak Hartawan tahu dan mencurigainya yang enggak enggak.
Tak begitu lama Susan kembali bersamaan dengan pelayan resto tadi yang sudah membawakan pesanan mereka.
"Bos maaf boleh pinjam pen nya sebentar ?" tanya Rio.
Grey pun mengambil pen yang ada di saku kemejanya. Rio pura pura menulis di atas berkas yang dia bawa tapi saat semua mata tidak memperhatikannya, Rio mengganti pen nya Grey dengan pen khusus. Pen yang bisa merekam semua percakapan dan sudah di setel sama Rio dalam posisi on.
"Sudah nih bos, makasih." Kata Rio sambil menyerahkan pen nya.
Grey meraih pen nya dan memasukannya kembali ke saku kemejanya.
Rio mendapat pesan di HPnya hmm dari karyawan hotel suruhanku tadi batin Rio.
Rio membalas pesan tersebut dengan mengetikkan kata Ok! sambil memakan makanannya.
Setelah selesai makan dan minum mereka mengobrol dulu beberapa saat sebelum meninjau proyek mereka. Saat dirasa sudah cukup mereka pun berdiri Tetapi tiba tiba Grey terduduk lagi.
Rio terlihat panik "ada apa bos ?" tanya Rio khawatir.
"Nggak tahu nih kok kepala aku tiba tiba pusing banget." kata Grey sambil memegangi kepalanya
Pak Hartawan yang sudah paham maksud putrinya dia melihat ke arah Rio lalu bertanya "pak Rio bisa kan mewakili bos anda untuk meninjau proyeknya berdua saja sama saya ?"
Grey masih memegangi kepalanya dan menoleh ke arah Rio "Tolong ya bro, sumpah ni kepala gue pusing banget."kata Grey sambil meringis menahan sakit.
"Ok bos, aku tinggal sebentar ke lokasi proyek sama pak Hartawan ya. Bos istriahat aja." sahut Rio sambil menepuk pundak bosnya dan beranjak pergi ke lokasi proyek bersama pak Hartawan.
Susan datang kembali bersama dua cowok karyawan hotel tersebut yang tanpa sepengetahuan Susan, karyawan hotel yang satunya adalah anak buahnya Rio. Kedua cowok karyawan hotel tersebut memapah Grey untuk menuju ke kamar yang sudah dipesan Susan.
Susan tidak mengikuti mereka, Susan masih di lobby hotel. Susan menunggu Grey sampai benar benar pingsan dulu barulah dia beraksi.
Sesampainya di dalam kamar hotel. Grey diletakkan di atas ranjang. Saat karyawan hotel yang satunya sudah keluar kamar.
Anak buahnya Rio menempelkan kamera kecil di sebelah atas TV LED yang ada di depan ranjang. Saking kecilnya jadi pasti nggak akan ada orang yang sadar kalo ada kamera disitu.
Tadi Rio memberikan kamera kecil berwarna hitam kepada karyawan hotel tersebut saat beranjak keluar hotel tanpa sepengetahuan pak Hartawan dan Susan. Dan mengetikkan cara pakai dan pasangnya sambil berjalan mengekor pak Hartawan.
Setelah selesai anak buahnya Rio pun keluar dari kamar tersebut. Setelah keluar kamar dia masuk ke toilet dan mengetikkan pesan ke Rio kalo semua sudah OK.
Rio mulai mengaktifkan kamera tersebut lewat aplikasi yang ada di HPnya dan memencet mode silence, takutnya pak Hartawan nanti mendengarnya. Setelah selesai dia memasukkan HPnya ke dalam saku kemejanya.
Sementara Susan mulai beranjak pergi dari loby. Dia meminta kartu chip di meja resepsionis dan melangkah menuju ke kamar tersebut.
Susan masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya menatap ke arah Grey yang sudah tergeletak di ranjang dan sudah tertidur lelap karena obat tidur dosis tinggi yang tadi diberikan Susan ke dalam minuman pesanannya Grey. Hanya Grey yang memesan kopi tadi jadi Susan dapat dengan mudah memasukkan obatnya.
Susan melepas jas nya Grey, lalu kemejanya Grey, sekarang Grey sudah bertelanjang dada. Susan menutup tubuh Grey dengan selimut sampai ke batas pinggang, lalu dia melepas bajunya dan memakai jubah mandi yang dia ambil dari bathroom.
Setelah itu dia masuk ke dalam selimut memeluk tubuh Grey mencium bibir Grey dan cekrek berselfie ria, setelah itu dia merangkulkan tangan Grey untuk memeluknya dan dia mengambil pose membenamkan wajahnya di dada bidang Grey dan cekrek dia mengambil foto lagi.
Satu lagi pikir Susan dan kali ini pose nya seolah olah Grey sedang mengecup pipinya dalam posisi tidur miring dan cekrek sekali lagi.
Dia melihat hasil fotonya dan tersenyum puas . Dia lalu mengusap wajah Grey "Hai ganteng maaf ya aku melakukan ini heeee kalo nggak begini hmmm kamu nggak bakalan peduli sama aku. Kamu tuh cowok yang angkuh, dingin tapi itu membuat aku semakin ingin memiliki kamu. Tenang sayangku sebentar lagi aku akan menemani kamu seumur hidupmu menjadi istri kamu hihihihi." celoteh Susan sambil mengelus elus dada bidang Grey.
"Kamu tambah cakep kalo sedang tidur begini, untung obat yang tadi aku masukkan ke minuman kamu itu kuat banget bisa membuat kamu begitu cepat tertidur hihihihi maaf ya sayang." ucap Susan lagi sambil mengecup bibir Grey.
Setelah puas dia pun bangun lalu memakaikan kembali kemeja Grey dan jasnya Grey yang tadi Susan letakkan di meja yang ada di sebelah ranjang.
Setelah selesai dia pun memakai bajunya lagi dan meletakkan jubah mandi ke bathroom dalam posisi semula. Hmm beres sudah batin Susan.
Lalu beranjak keluar dari kamar dan menuju ke meja resepsionis pas saat Rio dan pak Hartawan balik dari lokasi proyek.