Lila And Grey

Lila And Grey
Grey Lila



Pukul 4 pagi alarm HP Rio berbunyi. Rio mematikannya lalu bangun dari tidurnya langsung menuju ke bathroom untuk menyegarkan dirinya.


Setelah mandi Rio mempersiapkan semuanya lalu meletakkan koper dan tas kerjanya di dekat sofa, tempat dia duduk menunggu sarapan yang tadi dia pesan datang.


Rio mengernyitkan dahi begitu mleihat layar HPnya tertera nama pak Hartawan. Pagi pagi ngapain ya nelpon batin Rio, secepatmya Rio mengangkat " Halo selamat pagi pak Rio maaf mengganggu." ucap Pak Hartawan dari seberang sana.


"Iya pak, langsung ke titik permasalahannya saja pak kenapa bapak menelepon saya sepagi ini." sahut Rio


"Saya sudah memberi pelajaran kepada anak saya, saya meminta maaf yang sebesar besarnya atas nama Susan. Dan saya sudah pastikan kalau Susan tidak akan mengganggu kehidupan Pak Grey lagi " sambung pak Hartawan.


"Dan untuk proyek kita akan tetap kita lanjutkan, saya harus bersikap profesional, tidak mencampur adukkan bisnis dengan masalah pribadi " ucap pak Hartawan kemudian.


"Baiklah pak, terima kasih banyak atas pengertian dan kebijaksanaan dari bapak. Nanti saya sampaikan kepada bos saya. Sekali lagi terima kasih banyak pak." ucap Rio tulus.


Pak Hartawan lalu memutus sambungan teleponnya.


Sudah aku duga pak Hartawan akan bersikap seperti ini, pak Hartawan terkenal sebagai seseorang yang sangat menjunjung tinggi pernikahan. Oleh karena itu kemarin, Rio langsung memberi saran kepada Grey untuk segera menikahi Lila, begitu Rio paham akan karakter pak Hartawan tersebut.


Sementara itu di kota J, Grey dan Lila sudah berada di tempat kostnya Lila. Grey membayar uang Kost Lila sebulan ini full sekalian pamit kepada ibu kostnya Lila kalau Lila tidak akan nge kost lagi, karena Lila sudah menikah dengannya.


Ibu kost, Reni dan Rena mengucapkan selamat dan menunggu undangan resepsinya Lila dan Grey. Setelah mereka saling berpamitan, Grey dan Lila pun meluncur menuju ke sebuah toko perhiasan ternama di kota J. Grey menuntun Lila turun dari mobil.


"Sayang, untuk apa kesini ?" tanya Lila heran.


Grey hanya tersenyum sambil menggandeng tangan Lila masuk ke toko tersebut.


Pemiliknya seorang cowok yang ganteng banget tetapi sayangnya sangatlah lemah gemulai gerakannya.


Lila berbisik di telinga Grey "sayang apakah dia ?" Grey pun mengangguk langsung paham apa yang dimaksud isterinya.


"Halo Grey tampan, ayok kita langsung aja masuk ke ruang VIP ." ucap cowok si pemilik toko dengan kemayu. Sewaktu tangannya hendak merangkul lengan Grey, Grey pun menepisnya.


Leon nama si pemilik toko perhiasan. Dia teman kuliahnya Rio dan Grey.


Setelah mereka masuk di dalam ruang VIP dari toko tersebut dan duduk. Leon langsung menarik tangan Lila dan menggenggamnya.


"Waaahhh siapa wanita manis dan imut ini Grey ?" tanya Leon dengan kemayu.


"Isteriku ." sahut Grey


"Aduh aduh sakit hatiku nih, patah hati aku hiks hiks." ucap Leon menarik tangannya dari tangan Lila, lalu menaruhnya kedua tangan di kedua pipinya sendiri.


Grey hanya menatap kesal melihat tingkah Leon sedangkan Lila tertawa terbahak bahak.


"Stop omong kosongnya, ambilkan beberapa model cincin berlian terbaru yang kamu punya ." ujar Grey dengan kesal.


Leon pun tertawa pelan langsung berdiri meninggalkan Grey dan Lila selang beberapa waktu Leon pun kembali bersama pelayan tokonya, membawa nampan yang di atasnya sudah tertata beberapa model cincin berlian terbaru dan terbaik yang Leon punya.


Leon memberi kode kepada pegawainya untuk meletakkan nampan tersebut diatas meja. Setelah itu pegawainya pun beranjak pergi meninggalkan mereka.


Setelah melihat lihat akhirnya Grey dan Lila memilih satu cincin berlian dengan model yang sederhana tetapi tampak elegan, lalu menyerahkannya ke Leon.


"Ada dong tampan, sebentar aku ukur dulu jari manis kalian, lalu aku ambilkan cincinnya sesuai dengan ukuran jari kalian." sahut Leon


"Nih cincinnya ." ucap Leon, begitu dia selesai mengukur jari manis Grey dan Lila, dia pun masuk selang beberapa lama langsung menyerahkan cincin yang sudah ditaruh di dalam kotak perhiasan, kepada Grey.


Grey membuka kotaknya mengambil cincinnya dan tersenyum waktu menatap ukiran Grey❤️Lila yang ada di bagian dalam cincin tersebut.


"Perfect, I love it." Kata Grey sambil menyerahkan kartu kreditnya ke arah Leon.


Leon pun berdiri lagi untuk masuk kedalam menggesek kartunya Grey. Setelah selesai Leon nongol lagi menyerahkan kartu kreditnya Grey beserta struk pembayarannya.


"Thanks ya." kata grey memasukkan kartu kredit dan struk pembelian ke dalam dompetnya sambil berdiri, lalu menyerahkan kotak yang berisi cincin tadi beserta dompetnya kepada Lila, untuk dimasukkan ke dalam tasnya Lila.


"Sama sama tampan " sahut Leon sambil mengantarkan Grey menuju ke parkiran mobil Grey.


Grey dan Lila langsung masuk mobil, meluncur ke kampus Lila, mengantar Lila untuk kuliah.


"Sayang, terima kasih ya sudah mau menerima Lila apa adanya, sudah mau menyayangi ayah dan ibunya Lila." kata Lila begitu mobil Grey berhenti di area parkir kampusnya.


Grey melepas seat beltnya lalu seat beltnya Lila. "Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu sayang, yang sudah mau menerima om om kayak aku "


Lila mencubit pinggang Grey yang langsung mendapat pelukan erat dari Grey. Grey segera melepas pelukannya dan Lila langsung menarik tangan Grey dan mencium punggung tangannya Grey dibalas Grey dengan ciuman di rambut Lila


"Selamat belajar ya sayang, nanti biar dijemput mang Udin ya, soalnya Rio belum balik jadi kakak harus menyelesaikan semua urusan pekerjaan sendirian, maaf nggak bisa jemput kamu." Kata Grey langsung mencium kening Lila.


Lila mengangguk lalu turun dari mobil dan melambaikan tangan ke arah Grey sewaktu mobil Grey meluncur keluar dari area parkir kampus.


Lila sibuk dengan kuliahnya yang padat sekali hari ini dan Grey pun begitu masuk ke ruangannya langsung bergulat dengan semua berkas berkas dan laptopnya.


Lila mengetikkan pesan ke Grey di tengah tengah kuliahnya sayang, dompetnya masih kebawa sama Lila.


Grey membalas pesan Lila kamu bawa aja dulu, kalau pengen belanja pakai aja kartunya no limit itu.


Lila membalas lagi Lila nggak pengen belanja sendirian, maunya belanja berdua sama suami tercinta.


Grey tersenyum senang membaca pesan Lila. dan membalasnya love you😘


Lila pun memasukkan HPnya kembali ke dalam tas, dan fokus kembali memperhatikan dosennya yang sedang mengajar mata kuliah table manner.


Grey, melihat jam tangannya, Lila sudah mau selesai kuliahnya. Grey langsung menelepon mang Udin untuk segera meluncur menjemput Lila, setelah dari kampus harus segera mengantarkan Lila ke kantornya.


Mang Udin melaksanakan perintah bosnya dengan sukses. Lila sekarang sudah berada di dalam ruangan kantornya Grey. Lila langsung menuju ke meja kerjanya melangkah pelan ketika dilihatnya suami tercintanya masih bergulat dengan berkas berkasnya. Lila duduk di kursi kerjanya lalu menatap suaminya penuh cinta.


Salam kenal buat semuanya, ini karya pertama saya, mohon dukungannya🙏


Mohon tinggalkan jejak like, komen dan vote di setiap episodenya.


Terima kasih banyak. God Bless You all readers😘🤗