
Sesampainya di rumah Grey langsung membopong isterinya masuk dan langsung berlari menaikki tangga menuju ke kamarnya. Melly masih memarkirkan mobilnya Grey, dan tidak begitu lama Melly pun masuk ke dalam rumahnya Grey dan duduk di ruang tamu.
Ibu Ratih keluar dari kamarnya, langsung menuju ke kamarnya Grey karena kaget sewaktu mendengar pintu kamarnya Grey ada yang menendangnya.
"Lila kenapa Grey ?" tanya ibu Ratih sambil melangkah mendekati menantu kesayangannya.
"Nggak apa apa Bu, Lila ketiduran nih." jawab Grey tanpa menatap mata ibunya, dia takut kalau ibunya mengetahui dia tengah berbohong saat ini.
Grey terpaksa berbohong karena tidak ingin melihat ibunya kaget dan menjadi panik berlebihan.
Grey menyelimuti isterinya dan mencium kening Lila, lalu menoleh ke ibunya dan berkata "Bu, tolong jaga Lila ya. Grey masih ada urusan."
Bu Ratih duduk di tepi ranjang di sampingnya Lila dan menganggukkan kepalanya.
Grey mencium pipi ibunya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Begitu turun dari lantai atas Grey langsung berkata sama Melly "Ayok Mel, aku antarkan kamu pulang, setelah itu aku mau menyusul Rio."
Melly berdiri dan mengekor langkahnya Grey.
Begitu masuk ke dalam mobil, Grey memasang headset nirkabelnya dan menelepon Rio "Elo dimana ?" tanya Grey sambil mulai melajukan mobilnya.
"Masih di hotelnya Hendrawan, di kamar 620." jawab Rio.
"Ok, nih aku antarkan Melly pulang dulu setelah itu aku meluncur ke sana. tunggu aku !" kata Grey yang langsung mematikan sambungan teleponnya dan mencopot headset nirkabel dari telinganya.
Setelah mengantarkan Melly pulang, Grey langsung ngebut menuju ke hotelnya Hendrawan. Begitu sampai di hotelnya Hendrawan, Grey langsung menuju ke kamar 620.
Ceklek
Rio membukakan pintu kamar untuk Grey.
Radit langsung menoleh ke arah pintu dan wajahnya langsung pucat, keringat dingin mulai mengucur di tubuhnya. Aaahhh sial beneran Greson Adi Wijaya nih. Batin Radit mulai panik.
Grey duduk di sampingnya Rio dan menatap tajam ke arah Radit yang mulai menundukkan kepalanya. Radit tidak berani menatap Grey.
"Mana rekamannya ?" tanya Grey langsung.
"Sebelumnya aku peringatkan dulu, jangan terlalu emosi dan jangan elo bunuh bocah ini setelah melihat rekamannya nanti " Ucap Rio tegas.
Radit mendengar ucapannya Rio, semakin ciut nyalinya. Aaaarrghh mana sih papa, emang brengsek ya papa ku itu, di saat anaknya di ambang kematian dia nggak nongol sama sekali. Batin Radit kesal.
"Mana, cepat !" kata Grey kemudian.
Rio lalu berdiri dan langsung memasang flashdisk ke TV LED yang ada di kamar tersebut. Menyetelnya dan nampaklah rekaman CCTV dari awal Radit mendekati Lila, saat Radit memasukkan sesuatu ke dalam minumannya Lila, dan nampak pula rekaman di dalam lift saat Radit mengecup Lila, hingga rekaman terakhir saat Radit dihajar habis habisan sampai pingsan sama Lila.
Radit semakin menundukkan kepalanya. Aaahhh sial. Batin Radit mulai menangis ketakutan.
Grey berdiri mengepalkan tangannya, menghampiri Radit dan mulai mencengkeram kerah kemejanya Radit "Berani benar kau menggoda isteriku." Bug, Grey mendaratkan bogem mentah ke wajahnya Radit.
"Ma ma ma maaf pak saya ti ti ti tidak tahu kalau cewek tadi isteri bapak." sahut Radit sambil mengelus pipinya yang mulai terasa berdenyut akibat dari pukulannya Grey barusan.
"Brengsek ! berani pula kau kecup isteriku !" Bug, Grey memukul Radit lagi.
Rio langsung menarik Grey "Grey, jangan terbawa emosi ingat jangan bertindak gegabah."
Grey mulai melepaskan Radit dan berkata "Kamu memasukkan apa ke dalam minuman isteriku hah ?!"
"Iii iii itu hanya obat bius pak ta ta tapi tidak berbahaya kok." jawab Radit.
Bug
Grey memukul Radit lagi "Tidak berbahaya katamu ?! brengsek kau ! Isteriku sampai mabuk parah tadi dan kamu katakan tidak berbahaya, hah !?"
"Kamu sudah telepon polisi bro ?" tanya Grey sambil menoleh ke Rio.
"Sudah, sebentar lagi sampai. Aku juga sudah merekam semua pengakuan dia tadi." sahut Rio.
"Bagus, membusuklah kamu di penjara." Kata Grey sambil melotot tajam ke arah Radit.
"To to to tolong, jangan bawa bawa polisi. Kita diskusikan ini secara kekeluargaan saja ok ? emmm papa saya pemilik hotel ini, bisa tolong panggilkan papa saya ?" Radit berkata dengan panik dan ketakutan saat mendengar kata polisi.
"Iii iya benar, panggil papa saya tolong emm biar nanti kita bisa bicarakan soal ganti rugi heee kita bisa diskusikan secara kekeluargaan." kata Radit yang merasa sedikit lega, karena dipikirnya Grey takut saat mendengar kalau dia anak dari sang pemilik hotel.
Rio langsung menelepon pak Hendrawan untuk segera datang ke lantai 6, ke kamar 620.
Pak Hendrawan memutus sambungan telepon dari Rio sambil mengumpat kesal. Sialan kamu Dit, bisa bisanya kamu membawa nama papa kamu ke dalam masalah yang kamu bikin sendiri. Batin pak Hendrawan.
Ceklek
Pak Hendrawan akhirnya masuk ke dalam kamar tersebut. Radit langsung mendekati papanya dan berkata "Pa, tolong aku pa. Bayar orang orang ini sebanyak yang mereka mau pa, jangan sampai aku masuk penjara pa."
"Diam kamu !" kata pak Hendrawan kesal ke arah Radit karena pak Hendrawan sadar saat ini mata Grey tengah menatap tajam ke arahnya.
Pak Hendrawan akhirnya duduk di depannya Grey dan berkata "Kalau anda mau membawa anak saya ke penjara silahkan pak, tapi tolong jangan cabut investasi anda dari hotel ini. Saya tidak mau terlibat dengan masalah yang dibikin Radit anak saya. Biarkan saja dia dipenjara biar dia mendapatkan pelajaran dari kenakalannya."
"What ?!" Radit berteriak ke arah papanya.
"Pa !" teriak Radit mulai protes. Bagaimana bisa seorang papa lebih memilih kekayaaannya daripada anaknya sendiri.
"Ok, kalau begitu. Bro, tolong elo selesaikan masalah ini, aku ingin dia membusuk dipenjara. Aku mau pulang melihat keadaan isteriku." Kata Grey sambil berdiri dan meninggalkan kamar tersebut.
Rio melepas flashdisknya dari TV LED kamar tersebut, dan menatap Radit yang saat ini tengah dipegang erat kedua tangannya sama pengawalnya Grey, karena tadi Radit berusaha untuk kabur.
"Jadikan ini sebagai pelajaran buat kamu, jangan pernah menyombongkan harta kekayaan papa kamu, karena di atas langit itu masih ada langit." Kata Rio sambil tersenyum sinis ke arah Radit.
"Betul itu, betul sekali kata pak Rio." tambah pak Hendrawan.
Radit hanya bisa menatap papanya dengan kesal. Sial sekali dia punya papa yang tidak pernah peduli sama dia. Awas kamu pa. Batin Radit kesal.
Tidak begitu lama polisi pun datang, Radit pun dibawa ke kantor polisi, dengan bukti bukti lengkap yang Rio punya saat ini, maka akan sangat sulit bagi Radit untuk bisa mengelak dari jerat hukum.
Dalam perjalanan pulang, Grey menelepon dokter Mae untuk segera datang ke rumahnya.
Grey sampai di rumahnya berbarengan dengan dokter Mae.
"Ada apa Grey, siapa yang sakit ?" tanya dokter Mae sambil mengekor langkah Grey menuju ke kamarnya Grey.
Ceklek
Bu Ratih menoleh dan spontan berdiri dari ranjang.
"Ada apa Grey, kok dokter Mae ke sini ?" tanya Bu Ratih heran.
"Maaf Bu, tadi Grey berbohong karena Grey tidak mau Ibu panik dan khawatir berlebihan." Kata Grey sambil menghela napas dan melanjutkan bicaranya kembali "tadi di pesta, ada yang memasukkan obat bius ke dalam minumannya Lila, untuk itulah Grey menelepon dokter Mae ke sini untuk memeriksa keadaannya Lila."
"Apa ?! Ya ampun anak perempuan ibu hiks hiks semoga Lila nggak kenapa kenapa ya." kata Bu Ratih mulai khawatir dan Grey pun langsung memeluk bahu ibunya dan berkata "Amin Bu."
Dokter Mae tersenyum dan langsung memeriksa Lila.
Dokter Mae mulai mengambil sample darahnya Lila dan bertanya "Apa kamu tahu obat bius jenis apa yang dimasukkan ke dalam minumannya Lila ?"
"Aku nggak tahu, apa ada bermacam macam jenis obat bius ?" tanya Grey.
"Iya, dan efek yang ditimbulkan pun bermacam macam, ada yang bisa membikin seseorang mengalami amnesia sementara, ada juga obat bius yang bisa membikin seseorang tertidur cukup lama sampai berhari hari." Dokter Mae mulai memberikan penjelasan.
"Hah ?!" Grey mulai khawatir saat mendengar kata amnesia dan tidur panjang.
"Lila minum apa tadi ?" tanya dokter Mae kemudian.
"Soda." Jawab Grey lirih sambil mulai melangkah mendekati isterinya dan duduk di tepi ranjang, membelai pipinya Lila.
"Aku sudah ambil sample darahnya, besok pagi kalau hasil labnya sudah keluar aku akan secepatnya mengabari kamu." kata dokter Mae.
Grey menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke arah dokter Mae, Grey masih terus membelai pipi Lila dan menatap isterinya dengan wajah sendu.
"Aku pamit dulu." kata dokter Mae lalu melangkah keluar dari kamarnya Grey diantarkan Bu Ratih.
"Please sayang, jangan jadi sleeping beauty lagi ya." kata Grey lirih sambil mencium lama keningnya Lila.
ππππBersambungππππ