
Ibu Ratih langsung berlari dan memeluk Grey saat Grey mulai nampak dan tengah melangkah masuk ke dalam rumah, Grey langsung kaget dan heran.
Ibu Ratih memeluk erat tubuh Grey dan menangis sejadi jadinya, Grey mengusap usap punggung ibunya, dan pelan pelan menuntun langkah ibunya untuk duduk di atas sofa.
Grey langsung jongkok di depan Ibunya saat ibunya sudah terduduk di atas sofa, Grey menatap lembut wajah ibunya yang masih menangis dengan derasnya, Grey langsung mengusap pelan air mata yang terus jatuh di pipi ibunya dengan kedua tangannya.
Edward terus menatap Ratih sambil melangkah menuju ke sofa dan akhirnya dia pun duduk, menyusul Rio dan Charlie yang sudah terlebih dahulu duduk di atas sofa.
Semua tengah menatap Ratih dengan wajah penuh tanda tanya.
"Bu, tenang dulu ya minum dulu Bu" kata Melly sambil menyodorkan segelas air putih kepada Bu Ratih.
"Terima kasih Mel " Bu Ratih meraih gelas tersebut dan meminumnya lalu menyerahkan kembali gelas itu kepada Melly.
Grey masih jongkok di depan ibunya dan mulai bertanya "Bu, ada apa ?"
"Maafkan ibu Grey, Ibu tidak bisa menjaga Lila dengan baik " kata Bu Ratih dengan suara gemetar.
"Apa maksudnya ? dimana Lila ?" Grey mulai mengedarkan pandangannya.
"Di mana semuanya ? di mana Lila ?" Grey langsung bangkit berdiri.
Bu Ratih meraih tangannya Grey dan berkata sambil mendongak menatap Grey.
"Bean ternyata seorang pengkhianat, tadi Bean berusaha membawa Ibu untuk diserahkan ke Joy Simpsons, tetapi Lila memukulnya saat Bean hendak membawa Ibu dengan paksa, lalu Bean membawa Lila sebagai hukumannya" Bu Ratih kembali menangis sejadi jadinya dan melepaskan tangannya dari tangan Grey, Bu Ratih langsung memeluk Melly yang tengah duduk di sampingnya.
"Shit ! Brengsek itu Bean, akan aku bunuh dia !" Grey berkata penuh amarah.
"Amber dan Ivan langsung mengejar mereka" tambah Bu Ratih di sela sela tangisnya dan masih memeluk Melly.
Grey langsung menelepon Ivan "Where are you now ?" tanya Grey saat sambungan teleponnya dengan Ivan sudah tersambung.
"Well I don't know Sir, wait I'll share my location now" Ivan langsung memutuskan sambungan teleponnya dan langsung membagikan lokasi dia saat ini kepada Grey.
Grey langsung melangkah pergi begitu menatap layar HPnya dan melihat lokasinya Ivan.
Rio langsung berdiri dan berlari mengikuti langkah Grey. Rio paham betul akan wataknya Grey yang selalu gegabah dan grusa grusu kalau tidak ditemani bisa berbahaya.
Sesampainya di depan mobil Rio langsung meminta kunci mobilnya Grey "Biar aku yang menyetir"
Grey melemparkan kunci mobilnya dan langsung melangkah menuju ke pintu penumpang, masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobilnya dengan sangat keras karena saat ini dia merasa sangat marah.
"Pasang HP kamu di situ dan sambungkan ke TVnya, biar aku bisa melihat lokasinya Ivan sekarang" kata Rio sambil menunjuk ke car headrest HP holder yang terpasang di atas dashboard mobilnya Grey.
Grey langsung menuruti perintahnya Rio.
Grey lalu duduk tegak kembali dan diam saja menatap ke arah depan tanpa bersuara. Rio melirik Grey dan langsung paham kalau Grey diam saja dengan memasang wajah kakunya berarti Grey dalam kondisi yang sangat kesal dan memendam amarah yang sangat besar.
Rio melihat layar TV yang terpasang di dashboard mobilnya Grey dan langsung menuju ke arah lokasinya Ivan sekarang yang nampak di layar TV tersebut, Rio lalu memasang headset nirkabelnya dan memencet nomernya James.
"Halo James, Bean berkhianat dan dia menculik isterinya Grey" kata Rio saat sambungan teleponnya dengan James sudah tersambung.
"Apa ? aaahhh Shit ! maafkan aku yang sudah teledor " kata James penuh sesal.
"Kalian di mana sekarang ? lalu Amber ?" tanya James kemudian.
"Amber tengah mengejar Bean, dan kami sudah mendapatkan lokasinya Amber, dia masih melakukan pengejaran atas Bean saat ini" jawab Rio.
"Share your location and I will chase you now" kata James yang langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Rio.
Rio menyentuh layar TV yang ada di dashboard mobil tersebut langsung mengirim lokasinya Amber dan Ivan saat ini ke HPnya James.
Rio melirik Grey, dan Grey masih membeku menatap ke arah depan sambil bersedekap wajahnya nampak menahan amarah yang sangat besar.
"Tambah kecepatan kamu nak biar kita cepat bisa menyusul Ivan" kata Charlie santai.
Grey dan Rio kaget dan secara spontan langsung menoleh ke jok belakang secara bersamaan.
"Om Charlie, sejak kapan anda ada di dalam mobil ?" tanya Rio, sedangkan Grey diam saja dan kembali menegakkan badan dan bersedekap.
"Sejak tadi " jawab Charlie santai sambil nyengir.
Rio kembali menatap ke depan dan kembali fokus untuk menyetir "Aaahh syukurlah kalau Om Charlie ikut, terima kasih ya Om"
"Sama sama " jawab Charlie santai.
"Ayok tambah lagi kecepatannya !" kata Charlie penuh semangat.
"Ok om, Rio tambah kecepatannya sedikit lagi ya, kalau di atas batas wajar bisa kena tilang entar" kata Rio sambil tersenyum.
"Hahahaha ooo iya kamu benar nak, maaf om terlalu bersemangat " sahut Charlie santai.
Charlie melirik Grey, tetapi tidak berani mengusiknya.
Edward duduk di sampingnya Ratih, menatap Ratih yang masih menundukkan kepalanya dan menangis.
Edward mengusap pelan kepalanya Ratih.
Melly langsung melangkah pergi menuju ke dapur, berniat untuk memasak, masakan apa pun yang Melly bisa. "Aaahh tapi aku kan hanya bisa memasak nasi goreng sama telor ceplok doang" gumam Melly pada dirinya sendiri.
Nggak apa apalah daripada enggak ada yang dimakan sama sekali. kata Melly di dalam hatinya dan mulailah dia untuk memasak.
Bu Ratih mendongakkan kepalanya dan menoleh, Bu Ratih langsung kaget saat melihat mas Edwardnya sudah berada tepat di depannya, tengah duduk di sampingnya.
"Ratih, kamu tidak berubah masih tetap cantik" kata Edward sambil tersenyum dan menggenggam tangannya Ratih.
"Mas, syukurlah kamu selamat "Bu Ratih tersenyum lega menatap mas Edwardnya.
Edward spontan memeluk Ratih "aku sangat merindukanmu Ratih, aku masih sangat mencintaimu"
Bu Ratih berkata dalam dekapan Mas Edwardnya "Aku juga masih sangat mencintaimu mas"
"Terima kasih kamu sudah setia menunggu aku " Edward mencium lama dan penuh perasaan pucuk kepalanya Ratih.
"Mas, kita sebentar lagi akan mempunyai cucu, isteri Grey tengah hamil saat ini" kata Bu Ratih sambil melepaskan diri dari pelukannya Edward.
"Benarkah ? aku bersyukur Grey hidup dengan sangat baik selama ini, terima kasih Ratih kamu sudah berhasil menjaga, membesarkan, dan mendidik Grey dengan sangat baik" Edward tersenyum dan mengusap usap pelan pipinya Ratih.
"Maafkan aku yang tidak bisa berada di dalam kehidupan kalian selama ini, maafkan aku yang telah melupakan kalian selama ini maafkan aku........."
Bu Ratih langsung menutup mulut mas Edwardnya dengan telapak tangannya.
Edward meraih telapak tangannya Ratih yang digunakan Ratih untuk membungkam mulutnya, lalu Edward mencium telapak tangan tesebut sangat lama sambil terus menatap wajahnya Ratih.
Bu Ratih langsung merasa panas di wajahnya melihat tatapannya pak Edward yang lembut, sendu dan penuh kerinduan juga cinta.
Bu Ratih langsung menundukkan kepalanya.
Edward kembali memeluk Ratih penuh cinta dan kerinduan.
"Mas, kamu kelihatan kurus sekali, apa kamu tidak apa apa ? ada yang sakit di badan kamu mas ?" tanya Ratih di dalam dekapannya Edward.
"Aku tidak merasakan sakit apapun saat ini, aku bahagia sekali saat ini Ratih" jawab Edward.
"Ayok kita doakan menantu kita, juga Grey, Rio, dan Charlie, supaya mereka semuanya nanti bisa pulang dengan selamat, tanpa ada yang terluka sedikitpun" kata Charlie.
Bu Ratih langsung melepaskan diri dari pelukannya Edward, tersenyum dan menganggukkan kepalanya
Mereka pun mulai berdoa.
Sementara itu pengurus rumah tangganya Grey yang berada di dalam mobil Van kepolisian, yang sedari tadi pingsan sudah mulai siuman.
Ivan menoleh dan menatap pengurus rumah tangganya Grey dengan mengernyitkan dahinya, karena pengurus rumah tangganya Grey nampak kebingungan dan tengah mengedarkan pandangannya.
"Finally you wake up" kata Ivan.
"Iki ning ngendi to ?" kata pengurus rumah tangganya Grey, yang memiliki kebiasaan di saat dia bingung maka bahasa jawanyalah yang keluar dari mulutnya pertama kali.
"Hah ? I don't understand your words" kata Ivan setengah geli mendengar kata katanya pengurus rumah tangganya Grey tersebut yang menurutnya Ivan lucu dan aneh.
"You can talk, apparently " tambah Ivan.
"Maaf saya tidak bisa berbahasa Inggris" jawab pengurus rumah tangganya Grey.
"I know that words, you can't speak English, hmm ok then don't say a word anymore, ssstttt !" kata Ivan sambil memberi kode kepada pengurus rumah tangganya Grey tersebut untuk diam.
Amber tertawa melihat tingkahnya Ivan.
"What is her name ?" tanya Amber kepada Ivan.
"Oooo kalau name name gitu aku tahu, emm my name is Rebo Legi Sastro Dimejo" jawab pengurus rumah tangganya Grey sambil tersenyum ke arah Amber lalu ke arah Ivan.
Ivan dan Amber langsung tertawa terbahak bahak.
"Sorry is not our intention to insult your name, but your name is funny for us " kata Ivan mewakili Amber.
" Nggak ngerti kamu ngomong opo, tapi ojo ngguyu sik, my nickname is cool" kata pengurus rumah tangganya Grey.
"Wow great, you know your nickname" Ivan berkata sambil tersenyum lebar menahan rasa gelinya.
"Iyo mister, my nickname is Egi, apik to ?" kata Egi bangga sambil menepuk nepuk dadanya.
"Wow Egi, apik apik" kata Ivan yang tahu arti dari kata apik, maka dia pun ikutan mengatakan apik dan kemudian tertawa lepas lagi berbarengan dengan tawa lepasnya Amber.
Egi hanya cengar cengir kebingungan. Dia bingung ini sebenarnya mau ke mana, tapi dia tidak bisa bertanya, karena tidak pandai berbahasa Inggris. Akhirnya dia hanya bisa garuk garuk kepala dan nyengir.