Lila And Grey

Lila And Grey
Grey setuju asal......



Lila terus menatap ke arah mobil Grey. Lila masih melihat Grey sibuk meeting dengan laptopnya. Lila kaget saat ada seseorang yang memanggil namanya.


"Lil, kamu Lila kan" sapa seorang cowok.


Lila mendongakkan kepalanya dari posisi dia duduk. Cowok tinggi, putih, rapi dan lumayan ok wajahnya. Lila lalu berdiri untuk lebih bisa menatap wajah cowok tersebut.


"Aku teman kamu waktu masih SD, kita dulu sering berangkat bareng waktu sekolah dulu." sahut cowok itu waktu dilihatnya wajah Lila tampak bingung.


"Anton ya ?" tanya Lila ragu


"Ya betul Lil, ini aku Anton. Gimana kabar kamu ?" tanya Anton


"Baik." jawab Lila sambil tersenyum.


"Kamu ngapain duduk disini sendirian ? nungguin siapa Lil ?" tanya Anton heran


"Kamu tahu kan berita kebakaran pasar XX, kios ayahku ikut terbakar ludes dan membuat ayahku shock. Sekarang ayahku masih butuh perawatan setelah kemarin baru aja sadar dari komanya." Lila bercerita sambil menahan tangisnya.


Anton pun menyuruh Lila untuk duduk lagi di kursi taman dan dia pun ikut duduk di samping Lila dan membuat Lila menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Anton.


"Aku ikut prihatin Lil, kamu yang sabar ya." sahut Anton sambil mengangkat tangan mau merangkul pundak Lila tapi Lila menghindar dan langsung berdiri.


Tiba-tiba dari belakang, Lila merasakan ada yang merangkul bahunya. "Kamu siapa ?" tanya Grey tanpa ekspresi.


Anton pun berdiri dan merasa sedikit kecewa ternyata Lila sudah punya pacar batin Anton.


"Saya Anton teman SDnya Lila dulu." kata Anton sambil mengulurkan tangannya tetapi tidak dibalas sama Grey.


Anton pun menarik kembali tangannya dan mengelus tengkuknya karena merasa suasananya jadi aneh.


"Lalu kenapa tadi kamu mau bersikap kurang ajar sama calon istriku ?" tanya Grey sambil menatap tajam ke arah Anton.


****** nih gue, kok bisa sih Lila tiba tiba punya calon suami, batin Anton kecewa.


"Kak, tadi Anton nggak kurang ajar kok sama Lila." sahut Lila saat merasa Grey sudah mulai geram.


"Saya tadi cuma ingin menghibur Lila pak, tanpa ada maksud apa-apa" kata Anton berkilah yang sebenernya memang tadi Anton bermaksud untuk mendapatkan simpati dari Lila. Anton pengen mendekati Lila. Anton sudah sejak SD naksir sama Lila.


"Pergi kamu!! kalo nggak mau aku menghajar kamu sekarang juga." kata Grey semakin geram.


Anton pun menganggukan kepalanya, pamit sama Lila dan pergi.


"Huh! menyebalkan!! " umpat Grey kesal


"Kamu juga ngapain keluar dari kamar dan duduk sendirian di tempat terbuka seperti ini ?" tanya Grey jengkel sambil melepaskan rangkulannya di bahu Lila.


Grey duduk di kursi taman mendengus kesal. Lila ikutan duduk di samping Grey. meraih tangan Grey "maafin Lila kak"


"Tadi Lila kepikiran sama kakak lalu Lila ke parkiran mobil lagi saat ayah sedang dimandiin sama suster dan diperiksa dokter." sahut Lila menatap Grey.


Grey mengelus pipi Lila, dia nggak tega kalo harus marah sama Lila lebih lama lagi.


"Kamu masih pengen bekerja ?" tanya Grey, dibalas Lila dengan anggukkan.


"Ok, aku ijinkan" belum selesai Grey bicara, Lila langsung menghambur ke dada bidang Grey dan memeluknya.


Grey mengelus punggung Lila lembut "tapi kamu harus kerja jadi asistenku, selalu di dekat aku selalu mendampingi aku kemana pun aku pergi " kata grey lebih lanjut.


Lila melepaskan pelukannya dan menatap Grey "tapi kakak kan sudah punya asisten yang handal, kak Rio."


"Iya baik kakak ku cuma kak Grey seorang " Lila tersenyum, saat Lila mau membuka mulut untuk bertanya lagi, tangannya sudah ditarik Grey untuk kembali ke kamar ayah.


"Pokoknya kakak nggak mau dibantah, kamu boleh kerja asal jadi asistennya kakak, titik nggak pake koma." kata Grey sambil melangkah menuju ke kamar ayah.


Lila hanya menghela napas pelan. Dan mengangguk lalu menoleh ke arah Grey "makasih ya kak "


"Jangan pasang wajah seperti itu, mau aku cium sekarang juga ?" sahut Grey melirik Lila


Lila pun melepaskan genggaman Grey dan berlari kecil masuk ke kamar ayah.


Tak begitu lama Grey pun ikutan masuk "Gimana kondisinya ayah ?" tanya Lila sama Grey kompak.


"Ayah besok sudah boleh pulang, tapi kata dokter belum boleh beraktivitas dulu dan tidak boleh stress." jawab ibu.


Grey duduk di sofa dan menoleh saat tiba tiba HP Lila bunyi.


"Siapa?" tanya Grey.


Lila menunjukkan layar HP ke arah Grey dan tertera nama Ratna. "aku angkat dulu ya kak."


Grey pun mengangguk.


Lila keluar kamar dan mengangkat telponnya. Tidak begitu lama masuk lagi ke kamar


"Ayah, Ibu hmm tadi teman kuliah Lila nelpon kasih kabar kalo lusa Lila ada test mata kuliah typing dan tidak bisa ikut test susulan karena dosennya bukan dosen tetap di kampusnya Llla jadi beliau sangat sibuk, nggak berkenan untuk mengadakan test susulan." kata Lila sambil melangkah mendekat ke bed ayahnya.


Ibu Lila yang sedang membantu ayahnya meminum obat pun menoleh "ya sudah kamu besok balik aja sama nak Grey, besok pagi juga ayahmu sudah boleh pulang."


"Maaf ya Bu, yah" sahut Lila sambil memijit mijit kaki ayahnya.


"Nggak apa apa Lil, ayah juga sudah mendingan. Kuliah kamu dan masa depan kamu itu lebih penting." sahut ayah.


"Lil, besok setelah mengurus kepulangan ayah dan mengantar ayah,ibu sampai ke rumah baru kita balik ." kata Grey kemudian.


Tiba tiba muncul karyawan rumah sakit perwakilan dari bagian administrasi "maaf apa ibu bisa ikut kami sebentar ke kantor ?" tanya karyawan tersebut kepada ibunya Lila.


Ibu mengangguk dan mengikuti langkah karyawan tersebut keluar dari kamar.


"Ayah pengen apa biar Lila belikan, mau jeruk ? itu buah kesukaan ayah kan? " kata Lila sambil terus memijit kaki ayahnya.


"Nggak usah Lil, Ayah cuma pengen cepat pulang, tidur di ranjang ayah lagi, sebagus bagusnya kamar VVIP di rumah sakit, lebih enak rumah sendiri. Iya kan nak Grey." kata ayah yang disambut senyuman dan anggukan kepala dari Grey.


Grey menatap Lila dengan rasa bangga dan merasa kalau dia semakin mencintai Lila, sosok tegar,pintar,baik dan cantik sekarang sudah menjadi calon isteriku batin Grey dan Grey pun tersenyum sambil terus menatap Lila.


Tidak begitu lama ibu balik masuk ke kamar dan duduk di samping Grey menyerahkan amplop cokelat ke Grey.


"Nak, ini sisa uang yang kemarin nak Grey depositokan di rumah sakit ini untuk biaya kamar dan pengobatan ayah, ini sisanya karena besok ayah sudah diijinkan pulang." kata ibu.


Grey menoleh dan meletakkan amplop itu kembali ke genggaman tangan ibu " ibu simpan aja ya, untuk pegangan klo nanti kurang ibu kasih tahu Lila biar saya transfer lagi nanti ke rekeningnya ayah, ayah ada rekening kan ?" ucap Grey.


"Makasih nak Grey, maaf merepotkan nak Grey." kata ayah sambil terisak menangis.


Salam kenal buat semuanya, ini karya pertama saya, mohon dukungannya🙏


Mohon tinggalkan jejak like, komen dan vote di setiap episodenya.


Terima kasih banyak. God Bless You all readers😘🤗