Lila And Grey

Lila And Grey
Kita harus berhati hati



Flashback on


3 Bulan yang lalu


Grey, Lila, dan Rio memutuskan untuk menetap di kota S, setelah acara pembukaan perdana Hotel The Rain. Melly sekeluarga, Bu Ratih, pak Edward, Dave Erlando, dan yang lainnya, memutuskan untuk pulang ke kota J.


Grey memutuskan untuk menetap di kota S, sampai hari H pernikahannya Rio dan papanya. Grey, mencoba melihat perkembangan dari Hotel The Rain terlebih dahulu, itulah kenapa dia memutuskan untuk menetap di kota S, untuk sementara waktu.


Sementara itu, urusan kantornya yang ada di kota J, dia serahkan sama Melly, Andrey direkturnya, dan Dave.


Dave keesokan harinya, sepulangnya dari kota S, mulai mempersiapkan semua berkas berkas yang berkaitan dengan salah satu kafenya Grey, yang Grey hibahkan ke kakak sepupunya, Gilang. Gilang, ternyata memakai kafenya Grey untuk mengedarkan narkoba dan berbagai macam minuman keras. Polisi sudah mulai mengintainya.


Dave takut, jika tidak segera diurus, maka Grey akan terseret ke dalam masalah yang sangat besar.


Dave, menghubungi Gilang untuk bertemu dengan alasan, pak Bram yang mengutusnya.


Gilang langsung menyetujui pertemuan tersebut, langsung menyuruh Dave untuk datang ke kafenya. Kafe pemberian dari Grey.


Dave datang dengan santainya, anak buahnya Gilang menggeledah Dave, sebelum Dave masuk ke dalam ruangan pribadinya Gilang.


Setelah beres dan tidak ditemukan benda tajam ataupun pistol di tubuhnya Dave, maka anak buahnya Gilang langsung mempersilakan Dave untuk masuk ke ruang pribadinya Gilang.


Gilang langsung berdiri dan tersenyum menyambut kedatangannya Dave "Aahh, selamat datang, emm, siapa nama anda?"


"Dave Erlando" jawab Dave sambil menyambut uluran tangannya Gilang.


"Silakan duduk!" kata Gilang sambil menghisap dalam dalam rokoknya.


Dave duduk dan diikuti oleh Gilang. Gilang memberi kode kepada anak buahnya, untuk membawakan beberapa minuman keras, juga anggur kelas atas.


"Anda minum, kan?" tanya Gilang sambil tersenyum penuh arti ke Dave.


Dave merespon pertanyannya Gilang dengan tersenyum.


"Aaahh, bagus...bagus" kata Gilang sambil tertawa lepas.


"Ada keperluan apa anda ke sini?" tanya Gilang.


Dave sangat cerdas, kalau dia mengatakan tujuan dia yang sebenarnya untuk meminta tanda tangannya Gilang diatas surat hibah yang sebenarnya, maka dia akan segera diusir sama Gilang.


Maka Dave menjawab "saya ingin berkenalan lebih dekat dengan anda, pak Bram banyak bercerita tentang anda, dan saya tertarik untuk bekerja sama dengan anda."


"Aaah, ini minumannya, kita ngobrol sambil minum, silakan!" kata Gilang sambil menyodorkan sebuah nampan besar uang terletak di tas meja, dan di atas nampan tersebut tertata begitu banyak minuman keras dari yang berharga murah sampai yang sangat mahal, juga ada beberapa macam anggur yang sangat mewah.


"Saya hidangkan anggur juga, karena Bram menyukai anggur, saya rasa anda pun juga akan menyukainya" kata Gilang sambil menuangkan anggur ke dalam gelas yang dia pegang dan langsung ditenggaknya.


"Silakan!" kata Gilang.


"Aaah, iya pak Gilang, terima kasih banyak untuk jamuannya" kata Dave.


"Aaah, iya soal Bram, dia itu teman masa kecil saya, dia anak yang bandel dan nakal, makanya saya kaget saat dia menjadi seorang pengacara, hahahahaha, pengacara preman, julukanku untuk Bram" Gilang berkata sambil menenggak segelas anggur lagi.


Dave sangat pandai mengajak seseorang untuk mengobrol panjang dengan dia, begitu halnya Gilang, dengan sangat gampangnya, Dave memancing Gilang untuk mengoceh sambil terus meminum anggurnya.


"Anda, kenapa belum meminum anggurnya sama sekali, atau anda pilih saja minuman mana yang anda suka?" kata Gilang.


"Ahhh, iya, saya sudah minum satu gelas nih" Kata Dave berbohong, saat dilihatnya Gilang sudah mulai mabuk dan tidak fokus.


"Aahh, lagi dong ayok, sayang nih minuman enak dan mahal dianggurin, hahahaha!" kata Gilang.


"Maaf, pak, bisa kita bicara berdua saja, bisa anda, menyuruh asisten dan anak buah anda, untuk keluar dari ruangan ini?" tanya Dave.


"Kenapa?" tanya Gilang heran sambil mengerjap ngerjapkan matanya, Gilang sudah mulai mabuk.


"Ada hal penting dan rahasia soal Greyson Adi Wijaya Simpsons" kata Dave santai.


Gilang langsung tersenyum senang, dan langsung menyuruh semua anak buahnya keluar dari ruangannya tersebut.


Dave mulai mengambil berkas berkasnya dari dalam tas kerjanya. Mulai merangkul bahunya Gilang "anda tanda tangani surat ini, maka anda akan mendapatkan semua asetnya Greyson Adi Wijaya Simpsons" kata Dave berbohong.


"Aaah, aku tidak bisa membacanya dengan jelas nih, apa isi surat ini?" tanya Gilang sambil memicingkan matanya memandang berkas yang Dave letakkan di atas mejanya.


"Percaya saja sama saya, saya berada di pihak anda karena, anda sudah menjamu saya dengan sangat ramah, dan mengijinkan saya untuk meminum anggur yang sangat mahal ini" kata Dave dengan bergaya sedikit mabuk.


"Hahahaha, baiklah, aku suka sama kamu, kamu enak diajak ngobrol, kapan kapan main ke sini lagi ya" kata Gilang sambil menanda tangani semua berkas berkas tersebut.


"Siap pak Gilang, saya juga senang main ke sini, anggurnya sangat enak, sangat manis, dan anda seorang teman yang sangat baik" kata Dave sambil memasukkan kembali berkas berkas tersebut ke dalam tas kerjanya.


"Hahahahaha, aku selalu senang berteman, dan aku selalu setia kawan, kecuali sama Greyson Adi Wijaya Simpsons. Aku tidak suka sama dia karena, aku iri sama keberuntungannya, dia terlahir di keluarga yang kaya raya, punya segalanya, dari kecil selalu hidup enak, sedangkan aku, harus hidup susah karena, aku terlahir miskin, brengsek!" ucap Gilang sambil meletakan kepalanya di atas sofa karena, sudah mulai pusing kepalanya, sudah mulai mabuk berat.


"Aahh, iya, saya permisi dulu" kata Dave sambil menepuk pelan pundaknya Gilang.


"Baiklah, jangan lupa main ke sini lagi!" kata Gilang.


"Baik" kata Dave sambil berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Gilang.


Dave akhirnya berhasil.masuk ke dalam mobilnya, dengan berkas berkasnya yang sudah sukses ditanda tangani oleh Gilang, Dave langsung meluncurkan mobilnya untuk balik ke kantor.


Flashback off


Grey akhinya muncul di ruang tamu "selamat pagi, pak Dave" kata Grey sambil duduk dan tersenyum ramah ke arah Dave.


"Selamat pagi semuanya" kata Dave ramah.


"Pagi" sahut Lila, Bu Ratih, dan pak Edward secara bersamaan.


"Ada apa pak Dave?" tanya Grey.


"Ada berita bagus dan buruk, mau yang mana dulu nih, pak Grey?" tanya Dave.


"Ibarat minum jamu ya, kita minum yang pahitnya dulu baru yang manisnya heee, aku pilih yang berita buruk dulu deh" Kata Grey dengan gaya khasnya.


"Hahahaha, anda kalau pas tidak cemburu, ternyata lucu ya" kata Dave dengan polosnya.


"What? jangan dibahas lagi dong!" kata Grey sambil nyengir.


"Suaminya Lila sudah bertobat kok kak, sudah nggak cemburuan kok" sahut Lila sambil meraih tangannya Grey dan menggenggamnya.


Grey menoleh ke Lila dan rersnyum sambil berkata dalam hatinya, hihihihi, tobat kalau pas nggak ada yang perlu dicemburui, sayang, hihihihi.


"Aaahh, syukurlah" kata Dave.


"Baiklah, saya mulai menyampaikan berita buruknya nih, emm, Gilang Erlangga, keponakannya Bu Ratih, cucu dari pamannya Bu Ratih, saat ini tengah menjadi buronan Polisi" kata Dave.


"Hah?!" semua ternganga secara bersamaan.


"Iya, kafe pemberiannya pak Grey seminggu yang lalu, digerebek sama Polisi, terkait pengedaran narkoba, dan minuman keras" kata Dave.


"Tapi, semua sudah beres kan, berkas berkas hibahnya?" kata Grey.


"Itu berita baiknya, semua sudah atas nama pak Gilang Erlangga, jadi pak Grey aman" Kata Dave.


"Terima kasih banyak ya, pak Dave" kata Grey tulus.


"Sama sama pak Grey, cuma besok, Polisi menginginkan pak Grey datang, untuk memberikan kesaksian" kata Dave.


"Baiklah" kata Grey.


"Tapi, anda dan pak Rio Putra harus berhati hati, Gilang Erlangga menyimpan dendam yang sangat dalam sama kalian, termasuk sama saya juga karena, saya berhasil menjebak dia untuk menandatangani semua berkas berkas, saat itu" kata Dave.


"Aaah, iya Rio, aku akan telepon dia sekarang" kata Grey langsung mengambil ponselnya dari saku celananya.


"Sayang, jangan sekarang, kasihan kak Rio, dia kan pengantin baru, ganggu nanti!" kata Lila.


"Rio tuh anaknya terlalu berhati hati, aku yakin dia belum cetak gol sampai hari ini, hahaha" Grey langsung tertawa lepas.


"Pasti sudah, Lila yakin pasti sudah!" jawab Lila.


"Oke kita main game ya, kalau Rio sudah cetak gol, aku akan kasih kamu hadiah, apa aja permintaan kamu aku turuti, kalau Rio belum cetak gol, kamu yang harus turuti semua permintaanku, hahahaha, aku yakin aku bakalan menang" Kata Grey sambil tertawa lepas.


Semua hanya menggeleng nggelengkan kepalanya saat Grey mulai menelepon Rio.


"Anak kamu itu sebenarnya kaya siapa sih, usilnya bukan main?" kata Bu Ratih sambil menoleh ke arah mas Edwardnya.


"Hahahaha, kayanya kamu deh, dia mirip kamu kalau pas usil, hahahaha" kata pak Edward.


Semua ikutan tertawa lepas mendengar ucapannya pak Edward.


Rio, masih memeluk erat isterinya saat ponselnya berbunyi.


"Halo" kata Rio dengan sangat lemas, karena dia sudah melakukan tiga ronde sama Melly.


Rio berkata dengan senyum khasnya sama Melly, tadi "Mel, kita harus melakukannya lagi, kalau enggak, nanti malah sakit lagi lho"


Melly percaya dan langsung mengiyakan permintaannya Rio.


Sekarang di tengah rasa capeknya, Grey meneleponnya.


"Aaahh, shit!" Grey langsung merasa kesal mendengar suara Rio yang lemas.


"Ngapain nelpon Gue, kalau cuma mau mengumpat, Gue tutup nih, Gue mau tidur" sahut Rio kesal.


"Eeeitts tunggu, jangan ditutup dulu! Elo sudah cetak gol bro?" tanya Grey dengan polosnya.


"Hmmm" jawab Rio dengan malas malasan.


"Tuh kan, Lila menang, yes!" kata Lila yang ikut mendengarkan perkataanya Rio.


"Ada apa nih, kok Lila teriak menang gitu?" tanya Rio heran.


"Rahasia bro! emm, ada hal penting nih, Gilang Erlangga jadi buronan polisi, dia bebas berkeliaran di luar sana, Elo harus hati hati bro!" kata Grey.


"Hmm" jawab Rio.


"Aaah, nggak asyik ngobrol sama Elo saat ini, ya sudah lanjutkan sana!" Grey menutup sambungan teleponnya dengan kesal.


"Hahahaha kita kaum pria memang selalu kalah kalau main game sama kaum wanita, pak Grey, hahahaha" kata Dave sambil tertawa lepas.


Semua ikutan tertawa mendengar perkataannya Dave, kecuali Grey, dia cemberut dan langsung bersedekap.