Lila And Grey

Lila And Grey
Mantan pacar Grey



Keesokan harinya, di hari Minggu yang cerah seusai mereka kebaktian di Gereja. Ibu, Lila dan Grey menuju ke warung soto favoritnya Bu Ratih.


"Sayang, Lila nggak mau lho kalo nanti Lila duduknya dipangku lagi." kata Lila saat Grey menggandeng tangannya mengekor Bu Ratih untuk masuk ke dalam sebuah warung makan yang hanya menyajikan menu soto.


"Hahaha kenapa, pangkuanku bikin nagih ya ?" goda Grey.


Lila langsung mencubit pinggang Grey.


Sesampainya di dalam, Bu Ratih ternyata memilih untuk duduk lesehan, yang memang disediakan oleh warung makan tersebut.


"Disini aja ya, bisa nyantai, lagian lebih nyaman duduknya tidak empet empetan." kata Bu Ratih.


"Sip, Grey cocok nih." sahut Grey sambil melepas alas kaki Lila barulah dia melepas alas kakinya sendiri.


Akhirnya soto pesanannya Bu Ratih tersaji juga di hadapan mereka. Dengan lahapnya mereka menyantap soto tersebut sampai tidak sadarkan diri kalau ternyata ada sepasang mata yang terus menatap mereka.


Cewek tersebut tengah menyuapi seorang anak laki laki berusia tiga tahun sambil terus menatap ke arah Grey.


Setelah selesai sarapan, Grey langsung menuju ke kasir, sedangkan ibu dan Lila langsung masuk ke dalam mobil.


Grey terlonjak kaget ketika pundaknya di tepuk seseorang. Spontan Grey menoleh, dilihatnya sesosok cewek, yang sangat cantik dan menarik, yang sangat dia kenal.


"Grace ?" Grey bergumam lirih.


"Hai, apa kabar ?" sapa cewek yang bernama Grace tersebut.


"Ah, baik aku baik, sangat baik, oh iya kamu tadi pesan apa aja silahkan bilang ke kasir biar aku bayar sekalian." sahut Grey


"Tidak usah repot repot, kamu selesaikan dulu transaksi kamu, biar aku bayar sendiri." Grace tersenyum.


"oh hmm ok lah kalo begitu." sahut Grey agak canggung.


"Kamu apa kabar ?" tanya Grey seusai menyelesaikan transaksinya dan mempersilahkan Grace untuk maju ke depan kasir, Grey menggeser tempatnya berdiri untuk memberi Grace tempat.


Grace lalu melangkah ke depan kasir sambil meraih anaknya untuk dia gendong. " Aku, baik juga."


"Siapa ini, lucu sekali ?" Grey spontan mencubit pelan pipi anak kecil yang tengah digendong sama Grace.


"OOO ini anakku, namanya Raja. Raja kasih salam sama om Grey gih." kata Grace kepada anaknya.


Raja meraih tangan Grey dan mencium punggung tangannya Grey. "nama atu laja om, calam kenal ya." kata Raja yang masih cadel membuat Grey tersenyum gemas dan mencubit pipi Raja lagi.


"Aku udah selesai nih, yuk kita keluar." kata Grace begitu selesai menyelesaikan transaksinya.


Grey melangkah mengikuti langkah Grace untuk keluar dari warung makan tersebut sambil celingukkan.


"Hmm maaf, kamu sendirian ? lalu dimana papanya Raja ?" Grey spontan bertanya kepada Grace.


"Aku sudah bercerai satu tahun ini, yuk sampai jumpa ya itu mobilku." kata Grace sambil menunjuk ke arah mobilnya.


"Eh, sebentar boleh aku minta nomer HP kamu ? tanya Grace kemudian.


"boleh" sahut Grey.


"Tolong kamu masukkan nomer kamu di HPku ini ya." kata Grace sambil menyodorkan HPnya.


Setelah mereka bertukar nomer HP, Grace pun melangkah menuju ke mobilnya


Grey, akhirnya melangkah ke mobilnya juga dan langsung masuk ke dalam, memakaikan seat beltnya Lila lalu memasang seat beltnya sendiri dan melajukan mobilnya untuk pulang.


Grace adalah mantan terindahnya Grey, mereka pacaran cukup lama sedari mereka masih duduk di bangku SMA dan berlanjut LDR karena Grey harus kuliah di luar negeri. Kenapa Grace kemudian bisa berada di kota B , lalu kenapa bisa bercerai, pertanyaan tersebut berkecamuk di benak Grey.


Grace dan Grey akhirnya putus karena Grace dijodohkan sama orangtuanya dengan seorang cowok pilihan mamanya, Mereka putus sewaktu Grey masih kuliah di tingkat dua.


Grey cukup frustasi waktu itu. Dia sangat mencintai Grace dan harus putus secara sepihak. Itu sungguh membuat Grey sedih dan yang membuat Grey semakin sedih sewaktu Grace bilang kalo dia akan tetap mencintai Grey walaupun harus menikah dengan laki laki pilihan mamanya.


"Kok lama sih Grey ?" tanya ibu tiba tiba membuat Grey tersadar dari lamunan masa lalunya.


"Ah anu Bu hmm tadi Grey ketemu sama teman lama jadi ngobrol dulu sebentar." sahut Grey.


"Cewek yang tadi menggendong anak kecil


ya ? cewek tinggi dan cantik tadi ?" tanya Lila kemudian.


"Hahaha iya sayang, kamu cemburu ya ?" Grey menoleh sekilas ke arah Lila.


"Nggak tuh, Lila nggak cemburu." sahut Lila sambil mencebikkan bibirnya ke arah Grey


Bu Ratih tertawa melihat tingkah Grey dan Lila kemudian berkata "Grey, kamu jangan macam macam lho sudah ada isteri nggak boleh lagi tebar pesona sana sini."


"Tebar pesona apa sih Bu, bagi Grey cewek paling cantik sedunia itu ya Lila terus yang nomer dua tuh ibunya Grey, dah titik nggak ada lagi." sahut Grey.


Lila mencubit pinggang Grey sedangkan Bu Ratih memukul bahunya Grey pelan.


"Ini lagi menyetir lho ibu ibu, kalo kalian mau menganiaya Grey tuh nanti aja ya di rumah "


Kata Grey sambil meringis.


Lila dan Bu Ratih spontan tertawa.


Sesampainya di rumah, Lila dan Bu Ratih masuk ke dalam kamarnya Bu Ratih, Lila pengen belajar tentang desain. Lila sangat mengagumi Bu Ratih yang begitu cantik, anggun,baik hati, lembut ternyata juga sangat berbakat dalam mendesain sebuah baju, dan sangat pandai dalam berbisnis.


"Bu, Lila pengen jadi seperti ibu kalau nanti Lila sudah punya anak, Lila pengen tetap berkarya, Lila pengen menjadi anggun dan pintar seperti ibu." Lila berujar sambil merangkul ibu mertuanya.


Bu Ratih mengusap pipinya Lila dan tersenyum.


Grey, masih duduk di kursi tamu menatap layar laptopnya masih meeting dengan manajer kafenya yang ada di London. Setelah selesai, Grey mengecek HPnya yang sedari tadi dia bisukan. Grey, mengerutkan dahinya heran sewaktu melihat ada 5 missed call dari Grace. Hmm ada apa ya. batin Grey.