
Bu Ratih selesai mandi lalu turun. Bu Ratih langsung tersenyum sumringah melihat Chef Charlie "Ayok, kita langsung ke ruang makan saja, keburu dingin nanti masakanku" ucap Bu Ratih langsung melangkah menuju ke ruang makan, Pak Charlie,dan Pak Edward pun langsung mengekor langkahnya Bu Ratih.
Mereka akhirnya duduk di meja makan.
"Anak anak, kok tidak turun ?" tanya Pak Edward.
"Mereka sudah tidur, kecapekan pastinya, lagian, tadi di pesawat, mereka juga sudah makan, sudah biarkan saja, mereka istirahat" jawab Bu Ratih.
"Iya, Lila sedang hamil, pasti capek banget habis melakukan perjalanan panjang" sahut Pak Charlie.
"Emm, isteri kamu, mana ?" tanya Pak Edward sambil menoleh ke Pak Charlie.
"Aku tadi kan sudah bilang kalau aku kesepian di rumah, ya, berarti aku belum menikah" jawab Pak Charlie santai.
"Ini mangganya, mau di taruh dimana ?"tanya Pak Charlie sambil menyodorkan tas plastik yang berisi penuh mangga.
"Sini, biar aku taruh di dalam lemari es" Pak Edward meraih tas plastik yang berisi mangga tersebut, lalu melangkah ke lemari es.
Setelah Pak Edward kembali duduk di meja makan, Pak Edward kembali menatap Pak Charlie dan bertanya "Maaf, emm, kamu sudah bercerai, atau memang belum pernah menikah ?"
"Kamu ternyata belum berubah ya, kalau belum mendapatkan jawaban yang jelas, kamu akan terus bertanya hahahaha, aku belum pernah menikah, puas sekarang ?" kata Pak Charlie geli.
"Tapi kenapa ?" tanya Pak Edward lagi.
"Sudah, sudah, makan dulu !" sahut Bu Ratih, Bu Ratih takut kalau Pak Charlie menjawab pertanyaan mas Edwardnya dengan sangat jujur.
"Hahahaha aku tidak bisa move on " jawab Pak Charlie santai.
"Maksud kamu ?" Pak Edward masih terus mengajukan pertanyaan.
"Huufftt, ya, aku jujur, aku sama seperti kamu, masih sangat mencintai Ratih" jawab Pak Charlie dengan santainya.
Nah kan, benar kan, Chef Charlie akan menjawab pertanyaan mas Edward dengan sangat jujur. Batin Bu Ratih yang langsung menundukkan wajahnya, menatap piring nasinya.
"Hah ?" Pak Edward langsung kaget.
"Hahaha santai saja brother, aku nggak akan bertindak nekat, aku tahu, Ratih hanya mencintai kamu jadi, aku hanya akan mencintai Ratih dalam diam, aku selalu mendukung kalian asal, kalian bahagia" kata Pak Charlie sambil mulai memasukkan satu sendok penuh nasi dan lauk, ke dalam mulutnya.
"Terima kasih banyak ya, kamu memang sahabat terbaik " ucap Pak Edward sambil memberikan senyum terbaiknya kepada Pak Charlie.
Bu Ratih mulai mendongakkan kepalanya, menatap Chef Charlie dan bertanya "gimana Chef, kurang apa masakanku ?"
"Kurang banyak hahahaha" jawab Chef Charlie.
"Hahahaha, aku serius nanya nih" ucap Ratih.
"Enak kok, sudah pas" jawab Pak Charlie sambil makan dengan lahapnya.
"Semoga kamu segera menemukan tulang rusuk kamu ya bro karena, hidup sendirian di dunia ini tuh nggak enak lho" kata Pak Edward.
"Siapa bilang aku hidup sendirian, kan ada kalian, ada anak buahku yang bekerja di restoranku" jawab Pak Charlie dengan santainya.
"Itu beda bro, aahhh, pokoknya aku doakan kamu bakalan ketemu sama tulang rusuk kamu" kata Pak Edward tulus.
"Aaamminnn" sahut Bu Ratih.
"Eh, kenapa di-amin-i ?" Pak Charlie mulai protes.
"Hahaha, doa yang baik dan tulus itu, harus di-amin-i dong" sahut Bu Ratih dengan santainya sambil tersenyum tulus menatap Pak Charlie.
"Yaaaaa, terserah kalian, lah" sahut Pak Charlie.
Hari semakin larut, udara semakin dingin, dan langit pun semakin kelam, hanya bulan yang bersinar terang menatap mereka bertiga saat, mereka melanjutkan obrolan mereka di teras rumah.
Serasa enggan mereka bertiga untuk berhenti bernostalgia.
Akhirnya dengan sangat terpaksa, Pak Charlie pamit untuk pulang karena, dia melihat Bu Ratih terus menguap dan nampak kelelahan.
Sepeninggalnya Pak Charlie dari rumah mereka, Pak Edward merangkul bahunya Bu Ratih dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Pak Edward menutup dan mengunci pintunya.
"Selamat tidur ya cantik" kata Pak Edward sambil mencium mesra keningnya Bu Ratih.
Bu Ratih menganggukan kepalanya dan melangkah naik, menuju ke kamarnya. Pak Edward pun juga melangkah menuju ke kamarnya.
Keesokan harinya, Lila membuka matanya, menoleh ke Grey, Lila masih malu teringat kejadian kemarin malam saat, dia memakai lingerie.
Lila membuka selimutnya dan kaget, ternyata dia tidak memakai satu helai baju pun. Lila lalu membalut tubuhnya dengan selimut.
Lila menusuk nusuk pelan pipi suaminya, Grey masih tidak bergerak, Lila tersenyum jahil, dan mulai mengusap pelan pipi suaminya, aahhh, belum bergerak juga. Batin Lila geli.
Lila mencoba mencium pipi suaminya lalu, menatap suaminya "hahaha, lelap benar tidurnya, ya" gumam lila sambil menatap wajah tampan suaminya.
Lila lalu mencoba untuk mencium bibir suaminya dan langsung kaget, membelalakkan matanya, saat Grey membalas ciumannya Lila. Tangan Grey langsung menangkup kepalanya Lila dan memperdalam ciumannya.
"Uummm, ummm" gumam Lila.
Grey langsung melepas ciumannya "salah sendiri kenapa pagi pagi begini, sudah menggoda aku" kata Grey sambil memeluk tubuhnya Lila, yang berbalut selimut, yang kini tengah berada di atas dada bidangnya.
"Sayang, aku mau mandi, lepaskan aku, ya !" kata Lila dengan senyum manisnya.
"Enggak, mandinya nanti aja, bareng sama aku" jawab Grey santai.
"Aku mau menatap isteri aku yang cantik, manis, dan imut lebih lama lagi " ucap Grey santai, sambil terus menatap wajah Lila, yang masih berada di atas dada bidangnya.
"Kenapa ya, isteri aku pas hamil gini nih, makin kelihatan cantik, seksi, dan menggoda ?" kata Grey sambil tersenyum dengan sangat tampannya, menatap Lila.
Blush
Lila langsung merona malu dan langsung membenamkan wajahnya, di atas dada bidang suaminya.
Grey langsung bangun dan membopong Lila, sambil terus mencium bibir isterinya, Grey melangkah menuju ke kamar mandi.
"Sayang, kamu ini ya, nggak malu sama Sweety" kata Lila sambil duduk di atas meja riasnya dan Grey tengah menyisir rambutnya.
"Hahaha Sweety pasti senang dapat pelukan terus dari Papanya, iya kan Sweety" kata Grey sambil mengelus elus perutnya Lila.
Lila hanya bisa tertawa menanggapi ocehannya Grey.
Selesai menyisir rambut isterinya, Grey langsung memasang dasi di kemejanya, Lila langsung berdiri berbalik arah, dan memasangkan dasi untuk suaminya.
"Aku akan berikan bonus untuk Melly " kata Grey sambil menatap Lila yang masih berkutat dengan dasinya Grey.
"Apa perusahaan kamu ulang tahun, kok ada bonus segala ?" tanya Lila sambil terus memasangkan dasi, di kerah kemejanya Grey.
"Iya karena, Melly sudah buat kamu menjadi sangat cantik dan seksi, dan aku sangat puas kemarin malam" jawab Grey dengan polosnya dan mengecup bibirnya Lila.
"Sayang, sudah dong, aku malu nih, emm, sudah beres nih dasinya, aku pakaikan jasnya ya" kata Lila.
Setelah dasi dan jasnya sudah beres, Grey mengucapkan terima kasih, mengecup kembali bibirnya Lila, dan langsung menggandeng tangannya Lila, "Ayok, kita turun sarapan, olah raga malam kita kemarin dan pagi tadi, lumayan menguras tenagaku, aku sangat lapar sekarang."
Lila langsung mencubit pinggangnya Grey.
Sesampainya di meja makan, Mbok Iyem sudah memasak nasi goreng, omelet, dan memanaskan masakannya Bu Ratih kemarin malam.
Semua masakan tersebut sudah tertata rapi di atas meja makan.
"Mbok, Ibu sama Papa, belum bangun ?" tanya Grey.
"Ibu belum bangun mas, emm Papanya mas Grey, sudah di rumah, sekarang ?" Mbok Iyem malah balik bertanya.
"Aaaah, iya Mbok, kemarin malam, Papa sudah kita bawa pulang ke sini" jawab Grey.
"Syukurlah ya mas, si Mbok ikut senang" jawab Mbok Iyem sambil tersenyum, menganggukkan kepalanya, dan kembali lagi ke dapur, untuk beres beres.
Tiba tiba Pak Edward muncul dari arah kamarnya, dan ikut bergabung dengan Lila dan Grey.
Lila langsung bangkit dari duduknya, menghampiri Pak Edward dan mencium punggung tangannya Pak Edward. Lila langsung mengambilkan nasi untuk Papa mertuanya dan untuk Grey suaminya.
Lila kemudian mengambil nasi untuk dirinya sendiri dan kembali duduk di sebelahnya Grey.
"Terima kasih banyak ya nak" kata Pak Edward sambil tersenyum tulus menatap Lila.
"Ibu kok belum bangun ?" tanya Grey.
"Ibu kamu kecapekan pastinya, kemarin Papa, Om Charlie, dan Ibu kamu, begadang untuk bernostalgia " jawab Pak Edward.
"Papa kok sudah rapi ?" tanya Grey.
"Papa pengen nengok kafe kamu, bagaimana perkembangannya selama Papa nggak ada ?" kata Pak Edward santai.
"Oooo oke lah, nanti Grey antarkan Papa ke kafe dulu, atau Papa mau bawa mobil sendiri ?" tanya Grey.
"Papa belum berani bawa mobil " ucap Pak Edward.
"Oke, Grey antarkan nanti, terus nanti sore kita antarkan Papa ke rumah sakit ya, untuk ngecek kondisi fisiknya Papa" kata Grey.
"Iya, Papa nurut aja deh" sahut Pak Edward.
"Sayang, hari ini Lila ikut ngantor ya, Lila bosan di rumah terus" kata Lila sambil menoleh ke Grey.
"Kamu fit hari ini ?" tanya Grey.
"Iya, sangat fit " jawab Lila penuh semangat.
"Oke kalau begitu, tapi, kalau nanti kamu capek langsung aja kamu pulang ya" kata Grey sambil mengelus pelan kepalanya Lila.
"Siap delapan enam pak Bos" ucap Lila.
"Hahahaha kamu itu selain cantik juga lucu ya nak" kata Pak Edward sambil tersenyum geli menatap tingkah polosnya Lila.
"Dia memang unik Pa, itulah kenapa Grey sangat amat mencintainya" sahut Grey sambil mengecup pipinya Lila
"Sayang, malu ada Papa" kata Lila kaget saat Grey tiba tiba mengecup pipinya.
"Hahaha santai saja nak, Grey itu mirip kok sama Papa, jadi Papa bisa paham" kata Pak Edward sambil tersenyum.
"Like Father like Son" tambah Pak Edward.
Grey dan Lila pun menatap bahagia melihat senyum lepasnya Pak Edward.