
Rio, mengirim pesan text ke Grey, ASAP. setelah itu, mengaktifkan aplikasi pelacak yang ada di HPnya, menaruh kembali HPnya ke saku kemejanya. Rio masih berada di belakang kemudi mobilnya menatap ke arah delapan orang berpakaian serba hitam berbadan kekar yang saat ini tengah berdiri dengan tegap di depan mobilnya.
Shit ! apalagi ini ?" gumam Rio sambil melangkah keluar dari mobilnya.
Salah satu dari gerombolan tersebut mendekati Rio, menganggukkan kepala dan berkata "Silahkan anda ikut kami ."
"Siapa kalian ? siapa yang mengirim kalian ?" tanya Rio sambil menatap orang tersebut dan beralih ke gerombolannya penuh selidik.
"Anda akan tahu jika anda ikut kami sekarang, tolong kerjasamanya." sahut orang tersebut.
"cih !" Rio mendengus kesal, sambil melangkahkan kaki masuk ke mobil yang menghadangnya.
Kik Kik Kik
Rio mengunci mobilnya dan masuk ke dalam mobil gerombolan tersebut.
Setelah menempuh perjalan satu jam lebih, mereka sampai di sebuah hotel bintang lima. Rio dikawal ke delapan orang bersetelan hitam tadi hingga sampai ke dalan sebuah kamar VVIP.
"Rio dipersilahkan untuk duduk di sebuah sofa mewah yang ada di dalam kamar hotel tersebut. Kedua kawanan bersetelan hitam masih mengapit di kanan kirinya Rio setelah Rio duduk, dan yang lainnya berjaga di depan pintu kamar.
Rio heran, kamar siapa ini dan apa hubungannya denganku, Rio bertanya tanya dalam hati.
Semenatara di ruang kerjanya, Grey tampak mengerutkan dahinya dan merasa heran membaca pesan text dari Rio. Grey langsung mengaktifkan aplikasi pelacak, untuk melacak keberadaannya Rio.
Grey lalu bergegas keluar dari ruang kerjanya, masuk ke kamarnya berganti pakaian mengenakan jeans, T'shirt dan jaket kulitnya. Grey melangkah ke ranjangnya, membelai pipi Lila pelan pelan.
Lila tampak mengerjap ngerjapkan matanya.
Grey mencium bibir Lila lama, kemudian kening Lila dan berkata "Sayang, aku keluar sebentar ya, Rio kayaknya lagi dalam masalah ."
Lila langsung bangun dan mengambil posisi duduk tegak "Aku ikut." sahut Lila
"Sayang, mana boleh ikut. Ini sudah malam lagian nanti kalo ada kamu aku malah nggak konsen. " Kata Grey sambil mengelus pipi Lila
"Lila pokoknya ikut." Sahut Lila sambil berdiri, menepis pelan tangan Grey dari pipinya lalu melangkah lebar hendak keluar kamar.
"Sayang" grey menarik tangan Lila.
Lila menoleh menatap tajam ke arah Grey. "Aku ikut atau kamu selamanya tidak mendapatkan jatah "
"Sial ! ok ok ayok ! " sahut Grey menarik tangan Lila keluar kamar dan tangan yang satunya menyambar jaketnya Lila.
Saat akan masuk ke dalam mobil, Grey memakaikan jaket ke Lila "Kebiasaan ya kamu tuh setiap keluar malam pasti lupa nggak pakai jaket." kata Grey sambil mengusap kepala Lila lalu masuk ke dalam mobil.
Grey langsung mengaktifkan GPS tracker yang ada di dalam mobilnya setelah memasang seat beltnya Lila, dan seat beltnya sendiri. Siap sudah mobilnya meluncur menyusul Rio, dimanapun Rio berada saat ini.
Rio menatap penuh tanda tanya ke arah cowok yang tadi keluar dari arah ranjang, masih memakai piyama, dan sekarang duduk di depan Rio sambil memangku seorang cewek yang tadi dirangkul sama cowok tersebut saat keluar dari arah ranjang.
Rio mengamati cowok yang sedang duduk di depannya. Usianya sekitar 35 tahun cukup tampan tetapi dingin dan tampak kejam.
"Kamu bener Rio Putra ?" Cowok tersebut membuka percakapan.
Rio menatap cowok tersebut yang kini tengah mencium leher cewek yang dipangkunya.
Cih ! bener bener tidak tahu malu. Batin Rio.
" Iya benar, saya Rio. Maaf anda siapa dan ada perlu apa anda membawa saya kesini ?" tanya Rio terus menatap cowok tersebut tanpa gentar sedikitpun
"kamu punya nyali juga hmm bagus......bagus sekali." sahut cowok tersebut melempar senyuman penuh arti ke arah Rio.
"Aku Delon, aku suaminya Adelia. Kamu kenalkan dengan isteriku ?" Tanya cowok itu penuh tatapan kesal ke arah Rio.
"Saya kenal atau tidak, apa urusannya dengan anda ?" tanya Rio datar dan tanpa ekspresi.
Tiba tiba cowok yang bernama Delon itu menarik tubuh cewek yang sedari tadi dia pangku untuk berdiri dan didorong ke samping untuk menjauh dari dia.
Cewek tersebut terhuyung ke samping dan hampir jatuh tapi berhasil menyeimbangkan badan dan berdiri tegak.
"Anda kedapatan mengobrol dengan isteri saya !" teriak Delon ke arah Rio.
Rio diam tidak menanggapi ocehannya Delon. Cih ! brengsek Adelia, elo terus saja membawa masalah dalam hidup gue. batin Rio.
"Dan isteriku kedapatan masuk ke dalam kamarmu, brengsek !!" teriak Delon lagi.
Rio pun hanya diam, dia merasa malas menanggapi ocehan Delon yang tidak penting .
"Bicara...........bicaralah brengsek !!" teriak Delon sambil membanting asbak yang ada di dekatnya.
Rio menghela napas pelan "Lalu apa anda tahu apa yang terjadi di dalam kamar ? kami tidak melakukan hal yang menjjikkan seperti yang anda lakukan barusan." sahut Rio dengan ekspresi tenang.
"Kurang ajar !" Delon langsung mengambil langkah lebar dan mencengkeram kerah kemejanya Rio.
Rio menepis tangan Delon, mendorong tubuh Delon pelan lalu berdiri, tepat di depan Delon.
Delon mendengus kesal menatap tajam Rio yang kini berdiri tepat di depannya.
"Saya bukan seorang yang menjijikkan seperti anda, dan saya tidak pernah tertarik dengan isteri anda." ucap Rio sambil menatap tajam ke arah matanya Delon.
Delon mendorong tubuh Rio dengan kasar dan tangan kanannya mengepal hendak memberi Rio bogem mentah. Tetapi Rio dengan sigap menghindarinya.
Saat melihat Delon tersungkur jatuh ke lantai karena luput memberi Rio bogem mentah otomatis kedua anak buahnya yang dari tadi masih ada di dalam kamar langsung memegangi tubuh Rio.
"Hahahaha ciut nyali kamu sekarang hah !! aku akan memberi kamu pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan, karena kamu sudah berani menggoda isteriku " cerocos Delon sambil melangkah pelan pelan mengeluarkan seringai khasnya, mendekati Rio yang masih dipegang erat sama kedua anak buahnya.