Lila And Grey

Lila And Grey
Lagi



"Halo bos, gue dah sampai nih di kota B. Gue dah buat janji ketemuan dengan pak Hartawan, besok pagi jam 10." cerocos Rio


"hmmmm" gumam Grey lirih.


"Berapa ronde bos, kok sudah lemes gitu suaranya ?" tanya Rio


Grey langsung bangun dan melangkah menuju sofa. Memutuskan untuk duduk di sofa aja biar lebih fokus.


"Mau tahu aja atau mau tahu banget." tanya Grey.


"nggak mau tahu tuh and nggak mau yang banget banget ." jawab Rio asal


"Emang ya Elo tuh sebelas dua belas sama si Melly." sahut Grey kesal.


"Buahahahaha ya udah bos segitu dulu infonya, besok gue kabari kalo dah beres semuanya, lanjutkan gih sana bikin Grey juniornya hihihihi." Rio pun menutup telponnya.


Grey menoleh ke arah ranjang, Lila masih terlelap. Grey lalu melangkah hendak membuka pintu begitu mendengar pintu kamarnya diketuk.


Grey membukanya, ibunya langsung melangkah masuk. Grey menutup kembali pintunya.


Ibu Ratih menatap menantunya yang masih tertidur lelap, Bu Ratih lalu memilih untuk duduk di sofa.


Grey ikut duduk di sofa di samping ibunya.


"Rio barusan menelpon, dia sudah sampai di kota B dan besok jam 10 mau ketemuan sama pak Hartawan." Kata Grey.


"Bagus Grey, semoga cepat terselesaikan masalahnya. Setelah itu kita bisa segera mengadakan resepsi pernikahannya kalian." sahut Ibu sambil mengusap punggung Grey.


"Kita makan di kamar aja ya, kasihan Lila kayaknya capek banget dia " ucapan Ibunya dibalas Grey dengan anggukkan kepala, lalu berdiri melangkah ke telepon yang ada di sebelah ranjangnya, mengangkat gagangnya untuk memesan beberapa makanan, minuman, camilan lalu meletakkan gagang telepon kembali di tempatnya.


Ibu melangkah ke ranjang dan merebahkan diri di samping Lila. Grey pun duduk di pinggir ranjang di dekat Lila sambil membelai pipi Lila.


"Grey jangan diganggu ah, kasihan Lila." kata bu Ratih sambil menepuk punggung Grey pelan.


Akhirnya makanan dan minuman yang Grey pesan sudah datang. Ibu yang membukakan pintu dan menerima makanannya


lalu melangkah ke arah sofa.


Grey mengecup kening Lila sewaktu ibu berdiri membelakangi mereka, Grey mengecup bibir Lila. lalu membelai Pipi Lila


" Lila sayangku, bangun yuk makan dulu."


Lila mengerjap ngerjapkan mata, berusaha bangun lalu meringis lagi. "Kak, Lila masih takut jalan nih, sakit, malu sama ibu." kata Lila setengah berbisik.


Grey tersenyum mengusap kepala Lila. "Ya udah kamu duduk di ranjang aja biar aku ambilkan makanan dan minumannya.


"Lila sudah bangun nak, ayok makan." kata ibu sambil mengayunkan tangannya ke arah Lila agar Lila menghampirinya.


Saat ibu melihat rona merah di wajah Lila, dan Lila tersenyum sambil menunduk malu, ibu pun langsung paham.


Ibu menepuk pundak Grey agak keras saat Grey mendekat untuk mengambilkan Lila makanan dan minuman.


"Aduh Bu, salah Grey apa sih dari tadi dipukul ?" kata Grey sambil menoleh ke arah ibu.


"Grey kamu itu ya, nggak bisa nahan diri hmm nggak bisa nunggu sampe besok pas sudah sampai rumah hmmm, ckckckck nakal sekali anak Ibu ya." Sahut ibu sambil menahan tawa.


"Sudah nggak ku ku Bu, jadi mau bagaimana lagi. " Sahut Grey asal selesai mengambilkan Lila nasi goreng, dan melangkah ke Lila.


Ibu hanya bisa geleng geleng kepala melihat kekonyolan anaknya.


Setelah selesai makan, ibu menghampiri Lila mengecup kening Lila dan Lila pun lalu menunduk mencium punggung mertuanya.


"Ibu balik ke kamar dulu ya, dan Grey besok kita balik ke rumah, perjalanannya sangat panjang ingat, jangan bikin Lila terlalu capek." kata ibu sambil melangkah keluar kamar.


Grey mengantar ibu sampai ke pintu dan meraba tengkuknya sambil nyengir mendengar omongannya ibu barusan.


Setelah ibu masuk ke kamarnya sendiri, Grey pun menutup pintu kamarnya.


Grey melangkah ke ranjang, melompat ke ranjang dan meraih Lila ke dalam pelukannya lalu berbisik manja. "Lila sayang, lagi ya, kakak janji akan pelan pelan nanti"


Lila pun mengangguk, Grey langsung mencium bibir Lila dan terulanglah kembali adegan sore tadi.


Setelah beberapa ronde meladeni suaminya, Lila pun memeluk Grey erat dan membenamkan wajahnya di atas dada bidang suaminya.


"kak, Lila sudah tidak sanggup lagi, ternyata kakak hebat sekali ya." kata Lila polos.


Grey tertawa terbahak bahak lalu mencium kening Lila, meraih selimut, menyelimuti tubuh mereka berdua, memeluk Lila erat. "Tidurlah cantik, kamu sudah bekerja keras hari ini." bisik Grey lirih.


Mereka pun terlelap saling memeluk dengan erat, setelah melewati menit menit panjang yang penuh gairah tadi.


Keesokan paginya setelah sarapan, Grey, Ibu dan Lila segera check out dan masuk ke mobil. Grey langsung meluncurkan mobilnya ke Kota J. Grey pengen cepet cepet sampai di Kota J pengen langsung membeli cincin nikah.


Lila menelpon ibunya, mengabarkan kalau dia, suami, dan ibu mertuanya, sudah dalam perjalanan pulang ke kota J, meminta maaf juga kepada ibunya, karena tergesa gesa, tidak bisa mampir untuk pamit secara langsung.


Setelah ibunya mengatakan tidak apa apa. Lila pun nitip sungkem dari mereka bertiga buat ibu dan ayahnya, lalu menutup telponnya.


Sementara Rio yang tengah berada di Kota B, mulai bersiap siap untuk menemui pak Hartawan. Rio sudah mempersiapkan semuanya.


Rio sudah melihat lihat profil dari pak Hartawan sebelumnya. Untuk mempelajari lebih jauh karakter dari pak Hartawan. Dan sudah mengantongi satu kartu emas lagi. Kayaknya akan semakin mudah buat Rio untuk menyelesaikan masalah yang sudah diciptakan Susan.


Rio kali ini memilih untuk menginap di hotel tempat boy bekerja. Memberi alasan untuk me-review lokasi proyek mereka yang ada di dekat hotel tersebut, sewaktu pak Hartawan menanyakan kenapa harus ketemuan di hotel tersebut.


Walaupun pak Hartawan merasa heran akhirnya pak Hartawan menyetujuinya.


Jam sepuluh tepat Rio sudah duduk di salah satu meja di dalam resto hotel tersebut. Rio menunggu kedatangan pak Hartawan tanpa Susan.


Rio mengatakan kepada Susan sebelumnya supaya tidak muncul, biar Rio menjelaskan kepada pak Hartawan secara empat mata dulu, dan Susan menyetujuinya. Susan sudah berbunga bunga, sudah membeli cincin dan gaun pengantin begitu tahu Rio akan bertemu dengan papanya.


Susan yakin seratus persen lebih kalau sebentar lagi dia akan menikah dengan Grey pangeran pujaan hatinya. Selesai berbelanja cincin dan gaun pernikahan, dia pun pulang merebahkan diri di ranjangnya, sambil menunggu telpon dari papanya.


Sementara itu begitu tiba di hotel, Pak Hartawan langsung melangkah masuk ke hotel dan langsung menuju ke resto untuk menemui Rio.


Pak Hartawan kini sudah berdiri di hadapan Rio. Rio berdiri menjabat tangan pak Hartawan dan mempersilahkan pak Hartawan untuk duduk. Rio juga ikut duduk lalu mengayunkan tangannya ke salah satu pelayan resto yang berdiri tidak jauh dari meja mereka untuk menghampirinya, begitu pelayan tersebut mendekati mereka, Rio mempersilahkan pak Hartawan untuk memesan makanan dan minuman.


Pak Hartawan hanya memesan secangkir kopi.


"Maaf pak Rio, bukankah proyek kita sudah berjalan lancar dan beberapa bulan lagi sudah selesai pengerjaanya tapi kenapa perlu di-review ? tanya pak Hartawan heran.


Rio pun tersenyum dan memulai ceritanya dengan kata maaf.


Salam kenal buat semuanya, ini karya pertama saya, mohon dukungannya🙏


Mohon tinggalkan jejak like, komen dan vote di setiap episodenya.


Terima kasih banyak. God Bless You all readers😘🤗