
Sesampainya di rumah, Grey dan Lila langsung masuk ke dalam kamar, ibu juga nampaknya sudah tidur. Lila dan Grey berganti baju lalu merebahkan diri di atas ranjang untuk beristirahat. Apalagi Grey seharian ini merasa sangat capek secara jiwa dan raga.
3 jam berlalu, tiba tiba Lila terbangun. Lila meletakkan kepalanya di atas dada bidangnya Grey lalu mengelusnya pelan sambil berkata "Sayang, bangun dong "
"Hmmm" Grey menggenggam tangan Lila sambil mulai mengerjap ngerjapkan matanya.
"Lila pengen makan mie instant tapi yang masak kamu, Lila pengen lihat kamu masak " Lila mencium pipi suaminya.
"Hah ? " Grey langsung membelalakkan matanya menatap istrinya.
Lila langsung mengambil posisi duduk dan mengangguk anggukkan kepalanya, mirip seekor anak kucing yang imut banget kalau sedang merajuk.
"Sayang, tapi aku tuh nggak bisa memasak" kata Grey yang langsung ikutan duduk bersila menghadap ke isteri tercintanya.
"Masak mie instant aja sayang, gampang kok, nanti aku ajari, ayok kita ke dapur" Lila langsung menarik tangan suaminya untuk mengikuti langkahnya menuju ke dapur.
Sesampainya di dapur Grey mulai garuk garuk kepala sambil menatap isterinya "Emm aku panasi aja ya masakannya ibu tadi, aku nggak bisa masak sayang, nanti kalau aku malah ngeracunin anak kita gimana ?"
"Lagian makan mie instant ? hufftt sebentar aku telepon mamanya Rio dulu boleh nggak wanita hamil makan mie instant" Grey hendak beranjak pergi menuju ke kamarnya untuk menelepon dokter Florence, mamanya Rio, tapi tiba tiba dia mengerem langkahnya saat dilihatnya Lila mulai mewek menangis.
"Sayang, jangan nangis dong, cup cup cup, sayang " Grey melangkah mendekati Lila lalu memeluk Lila dan mengelus elus rambut Lila.
"Ok, aku masak ya, tapi stop dulu nangisnya" kata Grey kemudian.
Lila langsung berhenti menangis dan mengangguk anggukkan kepalanya lagi sambil mengusap air matanya.
"Step stepnya apa nih ?" tanya Grey sambil melangkah menuju ke kompor.
"Ambil mie instantnya dulu dong sayang" kata Lila.
"Memangnya kita punya persediaan mie instant ya di rumah ini, perasaan kita nggak pernah beli dan nggak pernah makan mie instant ?" kata Grey sambil menatap isterinya dengan heran.
"Ada sayang, kemarin aku lihat Upik membelinya dan ditaruh di lemari sebelah kanannya kompor tuh, kamu buka pasti ada" kata Lila.
"Hah ? punyanya Upik dong ini" Grey langsung membuka lemari yang dimaksud Lila dan benar dia menemukan mie instant tersebut.
"Mencuri dong sayang ini namanya, ini kan punyanya Upik" kata Grey.
Lila berjalan menuju ke intern phone yang tertempel di dinding dapur dan memencet nomer yang menuju ke kamar Upik.
"Iya non Lila ada apa ?" tanya Upik dengan nada yang masih sangat mengantuk.
"Maaf ya membangunkan kamu dini hari begini, emm aku boleh minta mie instant kamu, satu aja ?" tanya Lila.
"Ooooo boleh non, apa mau saya masakkin sekalian ?" kata Upik kemudian.
"Nggak usah Pik, makasih ya" Lila langsung menutup sambungan teleponnya.
"Kata Upik boleh " kata Lila ke arah Grey dengan mata berbinar binar.
"Hufft ok, sekarang aku mesti gimana nih ?" tanya Grey masih memegang mie instantnya.
"Siapkan panci, kasih air seujung jari telunjuk kamu sayang, kalau sudah mendidih nanti baru masukkan mie nya lalu bumbu bumbunya." kata Lila penuh semangat.
Grey melakukan semua perintah Lila dan berkata "Begini benar kan ? aku nggak mau kalau kamu dan anak aku makan makanan yang nggak enak "
"Benar, sip, pinter " kata Lila sambil mengacungkan kedua jempolnya untuk suami tercintanya.
Grey tersenyum dan bertanya lagi " terus gimana nih ?"
"Tunggu 3 menit sampai mie nya matang" jawab Lila.
Setelah tiga menit, mie pun matang dan grey mematikan kompornya "baunya ternyata enak ya" kata Grey sambil menuang mie nya ke dalam mangkok yang ada di hadapannya Lila.
"Kita makan bareng yuk" kata Lila dengan mata berbinar binar.
"Nanti kamu kurang ?" tanya Grey.
"Nggak sayang, lagian anak kamu pengennya kita makan bareng" jawab Lila.
"Aahh benarkah, romantis juga ya anakku" kata Grey dengan mata berbinar binar, lalu dia mengambil sendok dan mulai makan mie nya, satu suap dia masukkan ke dalam mulutnya.
"Aahh enak banget ini, baru kali ini aku makan mie instant, ternyata enak banget ya." kata Grey sumringah.
Lila mengangguk senang, dan mulai makan sesuap lalu berkata "Aku sudah kenyang, habiskan ya !"
"Hah ? kok cuma makan sesendok sih sayang, katanya tadi lapar ?" tanya Grey heran.
Grey geleng geleng kepala sambil menghabiskan mie nya. Memang bener ya kata Melly kalau orang hamil itu membawa banyak sekali kejutan.
Setelah mencuci tangan dan mengelap mulutnya, Grey mengajak Lila kembali ke kamar. Grey melirik jam di dinding dapur menunjukkan pukul 03.00. Waahh masih pagi pagi buta nih.
Sesampainya di dalam kamar Grey meraih HPnya yang tiba tiba bunyi, menatap layar HPnya dan mengerutkan keningnya. Tertera nomer luar negeri dan panggilan video call.
"Angkat, siapa tahu penting sayang." kata Lila saat suaminya menatap Lila.
π±"Are you really Grey ?" ucap cewek cantik yang kini nampak di layar HPnya Grey.
π± "Yes I Am and who are you ?" tanya Grey heran.
π±"Let me introduce my self, my name is Stephanie Simpsons, your sister." Kata cewek bule tersebut.
π± "Hah ? are you kidding me ? I've never had a sister."
π±"Daddy miss you so much Grey, and he is very ill right now." Kata Stephanie di London sana.
π±"Please meet your Daddy before it's too late." Stephanie mulai menutup wajahnya dan menangis terisak isak.
Lila menepuk pundak Grey dan berkata, "sayang kasihan Papa, kamu temui papa kamu ya, kamu jernihkan permasalahan diantara kalian selama ini"
π± "is that Lila, your wife ?" tanya Stephanie begitu mendengar suara Lila.
π± "How do you know about my Lila ?" tanya Grey heran.
π± "I always follow your latest news, I really want to know you better as my little brother, I love you Grey, we love you." Kata Stephanie dengan tatapan penuh cinta.
π±"Aku bahkan belajar bahasa Indonesia, sudah bagus kan bahasa Indonesiaku." tambah Stephanie.
π±Grey tersenyum canggung dan berkata "ya bahasa Indonesia kamu sempurna"
π±"Lila kamu cantek, aimyut emm cute I mean." kata Stephanie tersenyum malu menatap Lila karena tidak bisa mengucapkan kata imut dengan benar.
π±"Thank you very much sist, kamu juga cantik dan imut " jawab Lila sambil tersenyum penuh cinta menatap kakak iparnya.
π±"Hahaha thank you Lila, I love you, emm aku tutup teleponnya dulu ya, nanti kita sambung lagi." kata Stephanie mencoba berbahasa Indonesia kembali.
π±"Ok " jawab Grey singkat.
Setelah sambungan teleponnya tertutup, Grey langsung terlihat lemas dan sedih.
Lila memeluk suami tercintanya dan berkata "menangislah sayang, kalau kamu mau menangis, ada aku sekarang yang selalu mendukungmu, mendampingimu dan akan selalu memberikan kamu kekuatan."
Grey pun langsung memeluk Lila, menenggelamkan kepalanya di dada isterinya dan menangis terisak isak, melepas segala rasa yang dia pendam sejak dia masih berumur sepuluh tahun.
Grey kecil dulu selalu menahan tangis, dan selalu tampak tegar di depan ibunya. Grey tidak ingin menambahi beban ibunya jika dia menjadi anak yang cengeng.
Grey selalu menahan kerinduan akan sosok seorang ayah jika melihat Rio atau teman temannya yang lain, digendong manja sama papanya, bikin prakarya bareng papanya dan bermain bola bareng papanya.
Walaupun papanya Rio juga menyayangi Grey dan mencoba mengobati kerinduan Grey akan sosok seorang ayah, tetapi tetap terasa sedikit berbeda di hati Grey, tetap terasa hampa di dalam hatinya Grey.
Tawa dan kasih sayang yang papanya Rio berikan untuknya masih belumlah sempurna, Grey tetap merindukan papanya. Tetapi sang papa tidak pernah menghubunginya, tidak pernah menengoknya, tidak pernah peduli sama dia.
Grey menarik diri dari pelukannya Lila, Lila mengusap air mata suaminya dengan kedua tangannya, lalu mencium kedua pipinya Grey.
"Terima kasih ya sayang, sudah hadir dalam hidupku." kata Grey sambil meraih tangan Lila dan mencium tangan tersebut.
"Aku, sebenarnya kangen banget sama papa aku, kadang pengen meneleponnya, tapi aku takut kalau keberadaanku diabaikan sama papa, aku ingin sekali menemuinya tapi takut kalau papa tidak mau menemuiku." kata Grey kembali terisak.
Lila memeluk kembali suaminya.
"Dan sekarang papaku sakit, apa yang harus aku lakukan ?" kata Grey semakin menjadi jadi tangisnya.
"Jawab Lila dengan jujur, apa kamu membenci papa selama ini ?" tanya Lila sambil mengelus elus punggung suaminya.
"Aku tidak tahu, aku hanya jengkel dia tidak pernah ada saat aku membutuhkannya, dan aahh entahlah sayang " jawab Grey.
"Kalau begitu, coba saja temui papa kamu." kata Lila.
Grey menarik diri dari pelukannya Lila "Ok, nanti aku akan tanya sama Tante Florence kamu boleh nggak melakukan penerbangan ke London, aku mau menemui papa aku tapi harus bersama kamu"
"Ok, sekarang kita tidur lagi sebentar ya." kata Lila sambil mengajak Grey untuk kembali merebahkan diri.