Lila And Grey

Lila And Grey
Wonder woman apa cat woman ?



Raymond pun dibawa masuk ke dalam mobil polisi disusul mobil Rio, Grey dan si detektif.


Dalam perjalanan menuju ke kantor polisi, Grey menelepon pengacaranya untuk langsung menuju ke kantor polisi. Lalu menelepon ibunya mengabarkan kalau Lila sudah selamat dan mereka saat ini menuju ke kantor polisi.


Selesai menelepon, Grey tiba tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Sayang, kok berhenti ?" tanya Lila sambil menoleh ke arah suaminya


Grey melepas seat beltnya lalu ******* bibir Lila lembut dan lama penuh perasaan, yang membuat jantung Lila berdegup sangat kencang.


Grey akhirnya melepas ciumannya, menatap Lila " Sayang aku hampir gila saat tahu kamu tidak berada di sisiku " ucap Grey sambil mengusap pipi Lila dengan lembut.


"Aku tidak menyangka kamu bener bener cewek pemberani dan tangguh, gile bener ternyata gue menikahi wonder woman, atau cat woman aja lebih seksi kan " tambah Grey sambil menaikkan kedua alisnya.


Lila tertawa melihat tingkah suaminya.


"Cause in valor there is hope." sahut Lila sambil mencium kening suaminya lama


Grey memeluk Lila dan berucap "Yes, you are right my love, you are right." sambil mencium pucuk kepalanya Lila.


Setelah melepas pelukannya, Grey kembali memakai seat beltnya dan melajukan kembali mobilnya menuju ke kantor polisi.


"Sayang, kamu yakin mau ikut ke kantor polisi ?" tanya Grey


"Sepertinya tidak apa apa kalo kamu tidak ikut, bisa diwakili sama pengacara kita, aku khawatir sayang kalo si gila Raymond tiba tiba melakukan hal yang aneh aneh sama kamu." tambah Grey.


"Nggak apa apa sayang, aku kan Lila nya Grey jadi nggak ada yang perlu ditakutkan." sahut Lila.


Grey melirik Lila lalu mengusap usap rambut Lila " I love you my sweet heart." ucap Grey.


Sesampainya Grey dan Lila di kantor polisi, pengacara mereka sudah tiba tampak Rio sedang memberikan penjelasan kepada pengacara mereka.


Grey dan Lila langsung diajak petugas kepolisian untuk masuk ke dalam ruangan khusus untuk saksi dan korban. Tidak lama pun Rio dan pengacara mereka masuk.


Raymond ada di dalam ruangan yang berbeda.


Dari ruangan saksi dan korban Grey, Lila, Rio, pengacara, pak detektif temannya Rio dan satu petugas kepolisian bisa melihat ke dalam ruangan dimana Raymond berada.


Seorang petugas kepolisian tampak sedang menginterogasi Raymond yang kini sudah didampingi pengacaranya.


"Apa alasan anda melakukan ini semua pak Raymond ?" petugas kepolisian tersebut bertanya ke arah Raymond.


"Saya ingin memilikkinya karena saya mencintainya dan saya ingin menikahinya." ucap Raymond santai sambil bersandar di kursinya


Grey tampak mengepalkan tangan mendengar ucapan Raymond, dan Lila menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Dia pernah mengikuti kelasku ." Lila berkata lirih.


Semua mata langsung menatap Lila.


"Iya, belum lama ini aku mengajar sebagai asisten dosen dan laki laki itu mengikuti kelasku bahkan menanyakan beberapa pertanyaan yang cukup sulit. Itulah kenapa aku masih ingat wajahnya." tambah Lila.


Bapak polisi langsung mencatat pernyataan Lila.


"Brengsek ! " Grey mendengus kesal saat tahu ternyata Raymond sudah lama mengawasi Lila.


"Buat dia meringkuk selama lamanya di dalam penjara, aku tidak ingin dia membahayakan Lila lagi " ucap Grey kepada pengacaranya. Lalu menarik tangan Lila untuk keluar dari ruangan tersebut dan Rio spontan menyusul mereka.


" Bro, tolong bantuannya. Aku bawa Lila pulang. " Kata Grey begitu Rio berjalan di sampingnya


"oke, pulanglah kasihan Lila pasti lelah dia." sambil menepuk pundak Grey dan berbalik menuju ke dalam ruangan lagi.


Sesampainya di rumah, semua menyambut mereka dengan gembira, semua memeluk Lila dan Grey bergantian. Mama dan papanya Rio pun masih berada di rumahnya Grey.


"Terima kasih semuanya, berkat doa kalian semua Lila selamat." ucap Lila tersenyum penuh haru menatap satu per satu orang orang yang sangat dia sayangi dan juga sangat menyayanginya.


Mereka duduk di ruang keluarga. Grey menceritakan semua kejadian dari awal. Yang membuat ibu Ratih langsung memeluk menantunya yang dari tadi duduk di sebelahnya.


"Lila ku, puji Tuhan nak kamu selamat, kamu pemberani sekali nak, ibu bangga sama kamu apalagi ibu dan ayah kamu. " kata Bu Ratih sambil melihat ke arah orangtuanya Lila.


"Dia pemberani seperti ayahnya " kata ayah Lila sambil tersenyum yang langsung mendapat cubitan dari isterinya di pinggang


Grey tertawa melihatnya, ooooo keahlian Lila mencubit itu ternyata bakat turunan dari ibunya, batin Grey.


Melihat Grey tertawa semua pun jadi ikut tertawa. Setelah agak lama mereka mengobrol akhirnya mama dan papa Rio pamit pulang.


Grey pun pamit untuk membawa Lila naik ke kamar, karena Lila tampak kotor dan lelah.


Ibu dan ayah Lila diantarkan ibu Ratih menuju ke kamar tamu yang tadi sudah disiapkan sama mbok Iyem. Setelah itu bu Ratih pun melangkah ke arah kamarnya untuk berdoa mengucap syukur menantu dan anaknya pulang dengan selamat.


Grey langsung menarik Lila masuk ke dalam kamar mandi, memandikan Lila dengan kecupan dan ciuman di setiap inci tubuh Lila. hmm bakal lama nih selesainya batin Lila.


Begitu keluar dari kamar mandi mereka pun memakai baju dan naik ke ranjang untuk merebahkan diri. Grey memeluk Lila yang membuat Lila dengan cepat terlelap tidur. Grey menyelimuti tubuh Lila, mencium pipi Lila, mencium kening Lila dan sekali lagi mencium pipi Lila, setelah itu dia bangun keluar dari kamar menuju ke ruang kerjanya.


Dia menelepon Rio menanyakan perkembangan dari masalahnya Raymond. Rio mengatakan kalau Raymond sudah ditahan dan kasus hukumnya sudah mulai bergulir.


Grey pun merasa puas, menutup teleponnya dan mulai bergulat dengan berkas berkas pekerjaannya kembali.


Rio dalam perjalanan pulang, lelah yang luar biasa Rio rasakan saat ini, tiba tiba Rio mengerem mobilnya, karena mendadak ada dua mobil yang menghadang mobilnya.