Lila And Grey

Lila And Grey
Sweety minta di puk puk




Mereka kembali ke kamarnya masing masing untuk mandi dan beristirahat sebentar, beberapa saat kemudian tiba waktunya untuk makan malam, mereka pun berkumpul di ruang makan.


Setelah makan malam selesai, mereka semua duduk di ruang tamu untuk menunggu kedatangannya James kembali.


Karena lama, Lila berkali kali menguap.


"Sayang, kamu udah ngantuk tuh, tidur gih" Grey menoleh ke Lila dan mengusap usap bahunya Lila.


Lila berbisik di telinganya Grey "Sweety pengen bobok di puk puk puk sama papanya"


Grey tersenyum senang mendengar bisikan dari Lila lalu bangkit berdiri sambil meraih tangannya Lila "Maaf ya semuanya, aku pamit sebentar menjalankan tugas kenegaraan dulu"


Semua hanya bisa tertawa dan menggeleng nggelengkan kepala.


Grey dan Lila langsung merebahkan diri di atas ranjang begitu mereka masuk ke dalam kamar.


"Sayang, tangan kamu kok merah merah gini ?" Lila langsung duduk dan memeriksa kedua punggung tangannya Grey.


"Ahhh biasa ini" jawab Grey ikutan bangun dan duduk menghadap ke Lila.


Lila lalu meniup kedua punggung tangannya Grey dan menciuminya.


Grey langsung tersenyum senang dan berkata "Sayang, keningku juga merah merah nih"


Lila langsung mengusap keningnya Grey dan menciumnya "kena bogemannya berandalan tadi ya, kurang ajar bener berani beraninya menyakiti suaminya Lila"


Grey tersenyum semakin senang "Sayang, periksa punggung aku, ada lebam nggak ?"


Lila langsung menarik kaosnya Grey ke atas dan memeriksa punggungnya Grey, ada sedikit merah di atas kulit putih mulusnya Grey, Lila langsung meniup pelan dan menciumnya.


Grey semakin kegirangan "Sayang, lihat bibir aku, ada lebam nggak ?"


Lila langsung menuju ke bibirnya Grey, dan memeriksanya "Aman sayang, bibir kamu aman" lalu mengusap pelan bibir suaminya.


Grey langsung protes "kok, nggak dicium ?"


Lila langsung paham kalau suaminya saat ini tengah mengerjai dia.


Lila langsung merebahkan diri di atas ranjang, membelakangi suaminya dan tertawa lirih karena malu.


Grey langsung ikutan merebahkan diri dan memeluk tubuh Lila dari belakang.


"Sayang, aku kalau di suruh puk puk puk Sweety, entar kebablasan nakal sama mamanya Sweety harap dimaklumi ya" Kata Grey sambil nge puk puk pelan pantatnya Lila.


Lila hanya bisa tertawa lirih dan langsung membalikkan badannya menatap lekat wajah Grey dan langsung mencium bibir suaminya.


"Aku kangen sama kamu sayang" Lila melepas sebentar ciumannya lalu mencium bibir Grey lagi, semakin dalam semakin liar dan penuh gairah.


Aaahh mana bisa nolak nih, kucing kok dikasih ikan asin. Batin Grey senang kalau Lila sudah mulai agresif, Grey langsung meladeni permainannya Lila dengan semangat empat lima.


Mereka pun memulai permainan penuh cinta mereka dan diakhiri dengan pelepasan ala Grey.


Lila akhirnya tertidur sangat pulas. Grey memakai kembali kaos dan celana boxernya, menyelimuti Lila, mencium kening Lila sambil tersenyum penuh cinta, dan beranjak keluar dari kamar.


Grey tersenyum menatap James yang ternyata sudah datang dan tengah menunggu dia.


"Maaf menunggu lama ya ?" Grey berucap sambil duduk di atas sofa.


"Nggak bro, sampai besok pagi pun nggak apa apa, kita setia menunggu kamu kok" Sahut Rio.


"Hahahaha kamu tuh lucu ya ternyata" Grey tertawa kesal menatap Rio.


Rio hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Oke, bisa kita mulai ?" tanya James.


"Ok brother" sahut Grey.


"Joy Simpsons tuh orangnya sangat sangat kejam, licik, pintar, dan licin, selama bertahun tahun ini dia selalu bisa menghindar dari jerat hukum" kata James.


"Iya, karena kasus ini kasus internasional jadi sangatlah penting, itulah kenapa kami melindungi informasi ini dengan sangat ketat, jangan sampai kebobolan" kata James sambil menoleh ke arah Rio.


"Saya juga hanya memperoleh informasi kalau Edward selama beberapa tahun belakangan ini mulai disekap dan didatangi dokter jiwa setiap seminggu sekali" kata pak Charlie kepada James.


"Joy Simpsons dari semasa mudanya bukan wanita baik baik, dia seorang wanita malam, yang kemudian bisa kenal dengan nenek kamu Grey, dan sepertinya dia sangat pandai bersandiwara, dia berhasil memikat hati nenek kamu, sehingga dijadikannya menantu, dinikahkan dengan papa kamu." James kembali menatap Grey.


"Dasar brengsek " Grey mulai mengumpat kesal.


"Dia menculik anak anak usia 10-15 tahun, disekap di suatu tempat, anak anak yang belum cukup umur untuk diambil organ dalamnya, dia pakai untuk jadi kurir narkoba" kata James kemudian.


Untung Lila sudah tertidur dan tidak mendengarkan hal ini, kalau nggak, bisa jadi cat woman mendadak dia, karena isterinya itu sangat mencintai anak anak. Kata Grey dalam hatinya.


"Anak buahku mulai menyelidikinya bertahun tahun, dan berhasil mendapatkan informasi dari salah satu anak yang berhasil kami tangkap, saat anak itu habis mengantarkan narkoba dan menarik sejumlah uang dalam jumlah besar dari salah satu mesin ATM" tambah James.


"Anak tersebut masih berada dalam pengawasan dan perlindungannya kami, karena anak tersebut belum berani untuk bersaksi secara terang terangan melawan Joy Simpsons." James mulai mengambil rokoknya, menyulut korek api di atas rokoknya dan mulai merokok.


"Kalian mau ?" James menaruh rokok dan korek di atas meja.


"Tidak terima kasih, kami semua tidak merokok" jawab Grey.


"Aaahhh iya aku lupa" kata James.


"Joy Simpsons menyuap para petinggi di kepolisian dan beberapa pejabat negara, baik di dalam dan di luar negeri dia memiliki koneksi yang sangat kuat, itulah kenapa dia sangat sulit untuk ditangkap"


"lalu apa rencana kamu ?" tanya Grey.


"Apakah di sini ada seseorang yang sangat pandai berbicara, maksudku pandai untuk mengulur waktu lewat sebuah obrolan" tanya James.


"Saya heeee" sahut Melly.


"Oke, emm Grey besok kamu coba hubungi mama tiri kamu, aku punya nomer telepon perusahaan fiktifnya, perusahaan makanan ringan yang dia punya hanya kedok saja untuk menutupi produksi narkobanya" James mulai serius dan memajukan tubuhnya sambil menopang kan kedua sikunya di atas kedua pahanya.


"Kamu bikin janji ketemuan, kamu bilang mau mengirim seseorang untuk ngobrol sama dia soal papa kamu Grey, nah di sini peran anda dimulai nona, maaf siapa nama anda ?" kata James sambil menoleh ke arah Melly.


"Melly" jawab Melly.


"Biar aku nanti yang mendampingi Melly" sahut Rio.


"Ok sip aku setuju, kalau bisa ajak ketemuan di rumahnya, aku bantu kamu selamatkan papa kamu dulu, aku yakin papa kamu masih disekap di dalam rumahnya" tambah James.


"Terus ?" Grey pun mulai serius.


"Nona Melly dan Rio menemui mama tiri kamu ajak ngobrol kalau bisa cari topik yang bisa membuat obrolan kalian menjadi sangat panjang untuk mengulur waktu, dan kamu besok mulai ajak ketemuan kakak tiri kamu kasih alat pelacak ini ke dia untuk menaruhnya di badan papa kamu" James menghisap rokoknya kembali.


"Rumah mama tiri kamu sangat besar, kita tidak tahu papa kamu di sekap di ruang yang mana, nah dengan alat pelacak ini kita bisa dengan mudah menemukan keberadaan papa kamu" tambah James.


"Aku bawakan kalian semua rompi anti peluru, nanti dipakai pas kita mulai beraksi" kata James kemudian sambil menghisap dalam dalam rokoknya.


"Sampai di sini dulu aja, kita tunggu besok setelah Grey bikin janji ketemuan dengan mama tirinya, ingat grey ajak ketemuan di rumahnya" kata James.


"Okay brother siap" kata Grey.


"Setelah papa kamu berhasil diselamatkan, aku bisa tenang untuk melanjutkan misi menangkap mama tiri kamu" kata James.


"Terima kasih banyak untuk bantuannya" kata Grey.


"Dan anda pak, anda saya lihat kemarin sangat jago dalam bela diri, saya tugaskan bapak menyelamatkan papanya Grey, membantu Grey saat kita sudah tahu lokasi keberadaannya pak Edward nanti" James menoleh ke arah Charlie.


"Siap" sahut pak Charlie sambil tersenyum ramah.


"Ibu Ratih dan isteri kamu akan dijaga sama anak buahku, akan aku tugaskan anak buahku yang terbaik dan terpercaya untuk menjaga Bu Ratih juga isteri kamu, selama kita beraksi" tambah James.


"Nomer telepon perusahaannya mama tiri kamu sudah aku kirim ke HP kamu, cukup sampai sini dulu ya, aku pamit, aku tunggu kabar dari kamu Grey" kata James meraih rokok dan koreknya yang tadi dia letakkan di atas meja sambil berdiri, lalu pamit dan menyalami semuanya.


Sepeninggalnya James, mereka langsung kembali ke kamar masing masing untuk beristirahat, karena hari sudah sangat larut malam dan sumpah jiwa dan raga mereka semua terasa sangat letih.