Lila And Grey

Lila And Grey
Semua karena anugerahNya



Operasinya Grey berjalan cukup lama, selama empat jam lebih. Semua nampak duduk dan terus berdoa demi kelancaran operasinya Grey.


Saat Grey sudah keluar dari kamar operasi dan dipindahkan ke kamar super VVIP, Rio mulai mengabari Lila secara pelan pelan lewat sambungan ponselnya.


Selang dua jam, Lila, Melly, dan Grace yang tengah menggendong Raja, datang dengan setengah berlari menuju ke kamar di mana Grey terbaring lemah dan masih dalam kondisi tidak sadarkan diri, sehabis menjalani operasi.


Lila langsung masuk ke dalam kamar suaminya. Lila menangis dan langsung memeluk tubuh suami tercintanya.


Semua menunggu di luar kamar karena, dokter hanya mengijinkan satu orang saja yang boleh masuk.


Lila mengangkat wajahnya dari dada bidang suaminya. Membelai lembut wajah suaminya. Lila meraba alisnya Grey, matanya Grey, hidung, dan bibirnya Grey, dengan jari jempolnya.


"Sayang, cepatlah sadar, aku merindukanmu" kata Lila sambil terus menangis.


Lila kemudian duduk di atas kursi, di samping ranjangnya Grey. Lila meraih tangan suami tercintanya dan menggenggam tangan itu dengan erat.


"Sayang, terima kasih sudah berjuang di kamar operasi. Terima kasih kamu sudah menjadi kuat dan bertahan untuk hidup demi aku dan Sweery. I love you" kata Lila sambil menangis dan menundukkan wajahnya di atas tangannya yang tengah menggenggam erat tangannya Grey.


"Sayang, jangan pergi! Lila, jangan perg!i" Grey mulai mengigau sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Lila langsung bangkit berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Grey lalu, berkata "Sayang, aku di sini" kata Lila sambil mengelus pelan pipinya Grey.


Grey langsung membuka matanya. Grey tersenyum bahagia saat melihat istri cantiknya berada tepat di depan matanya.


Grey langsung menangkup tengkuknya Lila dan langsung mencium lembut bibirnya Lila. Awalnya pelan tapi kemudian semakin lama, semakin dalam.


"Aduh!" Grey tiba tiba mengaduh.


Lila langsung melepaskan diri dari pelukannya Grey dan langsung nampak panik, memeriksa lukanya Grey.


"Sayang, maaf, tanganku menyentuh luka kamu, ya?" tanya Lila.


"Hahaha, aaahh" Grey kembali meringis kesakitan.


"Sudah jangan banyak gerak dan tertawa dulu, kamu juga sih nakal banget, kenapa tiba tiba mencium Lila* kata Lila sambil tersenyum geli.


"Aku mimpi kamu pergi sama Dave, makanya begitu buka mata ada kamu, aku langsung pengen nyium kamu, kangen" kata Grey mulai merajuk.


"Sini!" kata Grey sambil mengayunkan tangannya, menyuruh Lila masuk kembali ke dalam pelukannya.


"Nggak, Lila takut menyentuh luka kamu lagi, nanti" kata Lila.


"Sayang, sebentar, emm, tadi kamu mimpi aku pergi sama kak Dave, kenapa kamu bisa mimpi seperti itu?" tanya Lila.


Grey tersenyum lalu meraih tangannya Lila dan berkata "ya, nggak tahu kenapa, namanya juga mimpi, datang tak diundang, pergi pun nggak diantar"


"Hahaha kamu tuh ya, masih bisa bercanda" kata Lila.


"Kamu habis nangis ya, sayang?" kata Grey sambil menatap matanya Lila.


Lila menganggukkan kepalanya.


"Maafkan aku ya, sudah membuat kamu khawarir" kata Grey.


"Kamu kenapa bisa kena luka tusuk, siapa yang melukaimu, dan sebenarnya kalian tadi pergi kemana, ngapain aja?" tanya Lila tanpa jeda.


Grey tersenyum geli menatap Lila "kamu tetap aja ceriwis ya, tapi aku suka" kata Grey sambil mencium tangan Lila yang sedari tadi dia genggam.


"Jawab!" Lila mulai melotot.


"Iya, baik juragan, emm, tadi the G team menemui Gilang untuk menyelamatkan ibu,papa,dan ibu kamu yang diculik sama mas Gilang Erlangga, kakak sepupuku" kata Grey.


"Hah? ibu Lila ada di sini?" tanya Lila heran.


""Kamu nggak lihat ibu, waktu masuk ke sini?" tanya Grey.


"Lila nggak memperhatikan karena, Lila hanya fokus sama kamu dan pandangan Lila kabur karena air mata Lila, tadi" jawab Lila.


"Tapi, bagaimana bisa mas Gilang menculik ibu, bukankah ibu ada di kota S?" tanya Lila heran.


"Aku juga tidak tahu sayang, kamu tanya gih sama ibu, temui ibu dulu!" kata Grey.


Lila lalu mencium pipi Grey dan berkata "baiklah, aku temui ibu dulu, ya"


Saat Lila hendak berbalik badan, Grey nenarik tangannya Lila dan berkata "kok pipi sih, yang ini dong" Grey memonyongkan bibirnya.


Lila menarik pelan tangannya dari tangannya Grey dan berkata "Nggak, nanti jadinya lama"


Grey tertawa lepas dan mengaduh lagi.


Lila keluar dari kamarnya Grey dengan senyum bahagia dan lega.


"Gimana?" tanya semuanya dengan kompaknya.


"Kak Grey, sudah siuman" kata Lila.


Rio meraup wajahnya dan bersyukur sama Tuhan atas anugerahNya. Grey sahabat tercintanya telah selamat dari maut.


Rio pun tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya Grey.


Lila memeluk ibu Ratih, mencium punggung tangan ayah mertuanya, dan memeluk erat ibunya.


Mereka kemudian duduk kembali di atas bangku yang berjejer rapi di depan kamarnya Grey.


Raja pindah masuk ke dalam pangkuannya Chef Charlie.


"Ibu, bagaimana bisa mas Gilang menculik kalian?" tanya Lila


"Maafkan ibu Lila, ibu dadakan ke sini tanpa mengabari kamu dulu, tadi pagi ibu menelepon kamu tapi nggak kamu angkat, akhirnya ibu menelepon bu Ratih" kata Bu Endang sambil mendekap erat tubuh putri kesayangannya itu.


"Iya nak, ibu kamu minta tolong untuk dijemput karena, kamu lelah maka ibu dan papa yang kemudian pergi untuk menjemput


ibu kamu.Ibu nggak bilang kalau mau menjemput ibu kamu karena,ibu pikir mau kasih kejutan sama kamu.Enggak tahunya, waktu dalam perjalanan pulang, kami dihadang sama Gilang dan gerombolannya" kata Bu Ratih sambil mengusap usap rambutnya Lila.


"Begitu ya bu, ceritanya, puji Tuhan kalian semua selamat dan kak Grey pun juga telah siuman" kata Lila penuh syukur.


"Iya nak, semua karena anugerahNya" sahut pak Edward.


Chef Chalie dan Grace mendekati Lila lalu berkata "Maaf, kami pamit pulang dulu ya, Raja kecapekan nih"


Lila langsung melepaskan diri dari dekapan ibunya dan berdiri "iya om, terima kasih banyak atas bantuannya"


"Sama sama" jawab Chef Charlie.


"Terima kasih banyak" Kata bu Ratih dan pak Edward secara bersamaan.


"Hmm" kata Chef Charlie sambil tersenyum menatap kedua sahabatnya lalu, melangkah meninggalkan mereka untuk pulang ke rumah.


Rio langsung memeluk Grey.


Setelah puas dia melepaskan pelukannya dan berkata dengan nada bergetar menahan tangis "syukurlah kamu selamat, Grey"


"Heeeii, kamu kenapa menangis? dasar cengeng!" kata Grey. sambil tersenyum mengejek Rio.


Rio mengusap air matanya dan tertawa bahagia, melihat sahabatnya telah kembali.


"Cih! kamu tuh yang cengeng, ini air mata bahagia, tahu!?" kata Rio.


"Hah! air mata tuh tetap air mata, cengeng" kata Grey sambil nyengir ke arah Rio.


"Oooo, oke mau mulai berhitung nih, siapa yang paling banyak menangis selama ini, hah?" kata Rio sambil nyengir ke arah Grey.


"Nggak usah, aku lagi pusing jangan diajak berhitung dulu" kata Grey mulai ngeles.


"Hahahahaha, syukurlah kamu sudah kembali Grey. Grey dengan semua paketannya" kata Rio penuh kebahagiaan.


"Paketan apa?" tanya Grey.


"Ya paketannya kamu lah, tengilnya kamu, cerobohnya kamu, konyolnya kamu, dan kebaikannya kamu. makasih ya bro sudah menyelamatkan aku dari pisaunya Gilang" kata Rio.


"Cih! hahahaha, aduh, emm sama sama bro" kata Grey.


"Gimana, mas Gilang?" tanya Grey.


"Dia dan gerombolannya sudah meringkuk di dalam penjara" jawab Rio.


"Aaahh, syukurlah, semoga dengan begitu, dia bisa berubah" kata Grey


"Amin" jawab Rio.


"Dimana semuanya?" tanya Grey saat melihat kamarnya sepi.


"Semua ada di luar, belum diijinkan sama dokter untuk masuk semua kemari, harus satu satu" kata Rio.


"Aaah, itu kan tadi bro, sekarang aku sudah siuman kan, kamu pencet tuh belnya, biar dokternya ke sini, kita tanya ke dokternya, sudah boleh masuk belum semuanya, kasihan kan, kalau mereka semua menunggu di luar" kata Grey.


"Rio menganggukkan kepalanya dan langsung memencet bel yang dimaksud sama Grey.


Tidak begitu lama seorang dokter dikawal oleh kedua perawatnya masuk ke dalam kamar paling mewah dan luas yang ada di rumah sakit tersebut.


"Syukurlah anda sudah aman dari masa kritis, pak Grey" kata dokter tersebut sambil tersenyum.


"Emm, maaf dok, apa boleh kalau sekarang ini, semua keluargaku yang tengah menunggu di luar, masuk ke sini?" tanya Grey.


"Boleh pak Grey, biar saya saja yang mempersilakan mereka semua untuk masuk" kata dokter tesebut lalu melangkah keluar dari kamarnya Grey dan mempersilakan semuanya untuk masuk ke dalam kamar super VVIP.


Bu Ratih dan Bu Endang langsung memeluk Grey secara bergantian.


Dave nampak nyengir dan mengacungkan jempolnya ke arah Grey.


Grey tersenyum dan mengucapkan terima kasih sama Dave.