Lila And Grey

Lila And Grey
Yes! akhirnya bekerja



Grey dan Rio membahas proyek yang harus segera terselesaikan ada beberapa kendala dan kayaknya hanya Grey seorang yang bisa menyelesaikannya. Grey menoleh ke arah Lila yang sedang membaca buku di meja kerjanya.


"Harus aku sendiri ya bro? kenapa nggak kamu aja yang kesana. cih! bikin kesal aja." Grey mendengus kesal.


"iya iya lah, tadi dah kamu baca sendiri kan email dari Bu Susan kalo ayahnya ingin bertemu langsung dengan Greyson Adi Wijaya, untuk menyelesaikan beberapa masalah yang ada." sahut Rio.


"tapi aku bakalan kangen berat sama Lila bro, arrrghh bikin kesal aja kenapa harus ada masalah sih." kata Grey sambil mengusap kasar wajahnya


"haiyah lebay Lo bos, cuma ke kota B aja 3 hari kan nggak lama." kata Rio.


"Sehari nggak ketemu aja aku serasa gila bro, apalagi 3 hari arrrgghhh." Grey menjambak rambutnya


"Ya kalo gitu diajak aja. " kata Rio santai


"Mana boleh sama ibukku, kita kan belum menikah dan harus pergi ke kota yang asing yang nggak ada satu pun keluarga kita berdua yang tinggal di kota B." sahut Grey sambil menatap Lila sedangkan yang ditatap masih asyik membaca buku.


"Ya kalo gitu nikahlah sekarang juga." kata Rio sambil meringis.


"Bisa dicincang ayahnya Lila nanti, secara gue sudah di kasih syarat kalo mau menikahi Lila harus nunggu Lila lulus kuliah dulu." Grey menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan pelan.


"tahu ah gelap." sahut Rio lalu berdiri mengambil berkas dan melangkah keluar ruangan.


Grey melangkah mendekati Lila dan memeluk Lila dari belakang menciumi rambut Lila yang wangi.


"baca apa sih serius amat ?" tanya Grey.


"Kak, Lila kok nggak dikasih kerjaan ? suruh apa kek jangan cuma duduk duduk doang, Lila malah ngantuk nih." sahut Lila sambil merengut.


Grey melepas pelukannya dan pindah tempat untuk duduk diatas meja kerjanya Lila lalu dia meraih dagu Lila agar Lila menatapnya.


"Ya begini ini kerjaannya Lil, menemani aku ngobrol." ucap Grey sambil tersenyum


Lila menepis tangan Grey dari dagunya,meletakkan buku yang tadi dia baca lalu Lila berdiri " Kak....."


"sssttt apa kamu bilang tadi ?" Grey memotong ucapan Lila.


"kak ?" ucap Lila heran.


"Panggil sa-yang ." kata Grey sambil tersenyum.


hufft Lila mengerucutkan bibirnya lagi. "mana bisa kak, kan kita belum menikah aturan ya kata sayang itu diucapkan untuk pasangan yang sudah menikah " sahut Lila.


"kamu serius hmm emang gitu ya ?" tanya Grey heran. "kamu nggak sedang berbohong kan ?"


"serius kak, tanya aja sama ibu nanti." sahut Lila sambil menepuk pundak Grey.


"Lalu kamu mau manggil Rio apa ? kalo kamu nggak manggil aku sayang kamu juga nggak boleh manggil Rio kakak." tegas Grey.


" Pak aja deh secara kan pak Rio seniornya Lila di kantor jadi sepantasnya kan Lila manggil pak Rio." Lila tersenyum.


"Bagus, jempol dua buat kamu, aku setuju siipp !" Grey mengacungkan dua jempolnya ke arah Lila.


untung ya aku cepat berpikirnya kalo nggak bakal lama nih kalo debat sama kak Grey hihihi batin Lila.


"ok, nanti makan siang kita makan di luar aja setelah itu aku bisa ngantar kamu ke kampus." Grey mengusap kepala Lila dan balik ke meja kerjanya.


Lila mengekor Grey. Grey duduk dan kaget saat tahu Lila sudah berdiri di depan mejanya " ada apa?" tanya Grey.


"kasih Lila kerjaan kak, apa kek please. Lila bisa mati karena bosan nih suruh duduk tanpa kerjaan." Lila mengerucutkan bibirnya.


" Jangan mati dong Lil, bisa jadi duda dong aku." Grey ikut mengerucutkan bibirnya dan menatap Lila.


"kak !" Lila sudah mulai kesal


"Ok ok, nih kamu kesini lihat laptop kakak."


Lila memutari meja kerja Grey dan berdiri di samping kursi Grey untuk menatap laptop Grey.


"ini ada beberapa email yang masuk dan ada beberapa yang dari luar negeri, coba kamu balas email ini berdasarkan data yang ada di map ijo ini. Paham kan ?" tanya Grey.


" siap bos ! makasih kak." cup Lila mengecup pipi Grey lalu beranjak pergi membawa laptop dan map ijo tadi, ke meja kerjanya.


Grey tersenyum sumringah mengelus elus pipinya yang habis dikecup Lila. "Lil, I Love You" ucap Grey dari mejanya sambil menatap Lila. Lila pun tersenyum sambil geleng geleng kepala.


Mereka pun akhirnya sibuk dengan pekerjaan mereka di meja kerja mereka masing masing. Tak terasa waktunya makan siang. terdengar pintu diketuk seseorang "masuk" Grey berucap sambil menatap pintu.


Melly masuk "Maaf pak mengingatkan, sudah waktunya makan siang hmm bapak mau dipesankan makanan atau mau keluar ?" Melly menatap Grey lalu bergantian menoleh ke arah kanan menatap Lila.


"Aku mau keluar sama Lila Mel, oh iya kenalkan itu Lila calon istriku" kata Grey sambil berdiri dari kursinya beranjak ke arah pintu. Lila pun ikutan berdiri dan melangkah ke arah Melly.


"saya Lila mbak, tolong bantuannya ya heee Lila hari ini mulai magang disini." kata Lila


"aaa iii iya mbak Lila heee tapi sebentar Melly bingung nih kalo calon istrinya pak bos kenapa mesti magang disini ?" Melly bertanya ke arah Lila saat Lila mau menjawabnya tangan Lila sudah ditarik Grey untuk keluar ruangan.


Melly menutup pintu ruangan bosnya sambil garuk garuk kepala hmm sudahlah itu urusan mereka batin Melly. Eh kalo pak bos pergi makan siang sama calon istrinya berarti ayang Bebeb Rio emprutku ada di ruangannya dong hihihihi kesempatan nih batin Melly.


Melly pun melangkah ke ruangannya Rio yang berada di depan mejanya Melly. Ruangan Rio dan ruangan Grey memang berbentuk letter L dan meja kerjanya Melly berada di depan ruangan mereka.


Melly mengetuk pintu ruangannya Rio. "masuk" kata Rio.


"ayang Bebeb heeee ." Melly tersenyum begitu masuk ke ruangannya Rio.


"Ya ada apa Mel ?" tanya Rio tanpa menatap Melly.


"pak Grey sudah keluar makan siang sama calon istrinya, hmm kita makan siang bareng ya disini heee ini Melly bawakan nasi dan lauknya hasil masakan Melly sendiri nih." ceroros Melly.


"taruh aja disitu nanti aku makan, nanggung nih masih banyak kerjaan." sahut Rio


"klo ditinggal disini terus Melly makan apa dong ?" sahut Melly lalu keluar dari ruangannya Rio membawa kembali rantangnya.


Rio mendongak menatap ke arah pintu yang sudah ditutup Melly dengan keras " gila ya itu anak hmm memang perlu dokter jiwa kayaknya" gumam Rio


Rio menarik kedua tangannya ke atas melepas penat. Lalu berdiri dan keluar dari ruangannya tanpa menyapa Melly yang sedang asyik menyantap bekalnya.


Rio memilih makan di kantin yang ada di basement kantor Grey. Dia terlalu capek untuk keluar kantor lagian kerjaannya banyak. Apalagi seminggu ke depan Grey bakal pergi ke kota B, banyak yang harus disiapkannya.