
Keesokan harinya, papi, mami, kakek, dan Merry sudah duduk di meja makan semuanya. Rio dan Melly keluar dari kamar pengantin mereka. Rio menarik keluar, dua buah koper miliknya Melly.
Rio menaruh koper koper tersebut di ruang tamu, lalu melangkah menuju ke ruang makan sambil merangkul bahunya Melly.
Mereka langsung duduk bergabung dengan papi, mami, kakek, dan Merry, di meja makan.
"Kok bawa dua koper memangnya kalian mau ke mana?" tanya papi.
"Hari ini, saya sama Melly, telah memutuskan untuk mulai hidup mandiri Pi, Mi, saya mau ajak Melly ke rumahnya Rio tapi, sebelumnya, kita mau mampir ke rumah papa dan mama dulu nanti, untuk mengambil baju bajunya Rio yang masih tertinggal di sana" jawab Rio dengan sopan dan hati hati.
"Kamu yakin bisa hidup berdua aja sama Melly, Melly tuh manja, kalau pagi tuh, bangunnya sukanya mepet, nggak pandai masak, bisanya cuma masak nasi goreng, terus.........."
"Maaf Pi, Rio sudah mengenal baik Melly, itulah kenapa Rio mantap memilih Melly untuk menjadi pendamping hidupnya Rio kini dan selamanya" Rio dengan sopannya memotong kata katanya Papi.
Papinya Melly langsung bangkit berdiri meninggalkan meja makan. Papi, langsung masuk ke kamarnya.
Semuanya langsung merasa heran dan bingung. Ada apa dengan papi.
"Sebentar ya, Beb" kata Melly menepuk pelan pundaknya Rio sambil bangkit berdiri untuk menyusul papinya.
Tok tok tok
Ceklek
Ternyata pintu kamarnya tidak dikunci.
Melly melangkah mendekati papinya, yang tengah duduk di tepian ranjang.
Melly menaruh tangannya dengan pelan di atas pundak papinya dan berkata "Pi, ada apa?"
Papi diam saja tapi, tiba tiba papi menitikkan air mata, papi mengusap air matanya yang mulai menetes di atas pipinya dengan, punggung tangannya.
"Papi kenapa, kok menangis?" tanya Melly heran.
"Papi, nggak mau kamu pergi dari rumah ini, Mel, papi bakalan kangen sama kamu, hiks hiks hiks" Papi kembali menangis terisak Isak.
"Hahaha, papi lucu ih, jelek lho kalau mewek kaya gini" kata Melly sambil tersenyum geli menatap tingkah polos papinya saat ini.
"Biarin jelek, kalau papinya jelek berarti anaknya juga jelek" ucap papi, masih mewek.
"Enak aja, anaknya papi tuh mirip mami semuanya, cantik cantik nggak ada yang jelek" Melly menimpali ucapan papinya dengan candaan khasnya.
Papi semakin terisak Isak dan berkata "papi akan kangen berdebat sama kamu Mel, huaaaaaaa" papi semakin kenceng nangisnya sambil memeluk Melly.
Melly mengusap usap pelan punggung papi kesayangannya kemudian berkata "Pi, Melly sudah menikah sekarang jadi, Melly harus mengikuti apa kata suami Melly, harus mengikuti ke manapun suami Melly pergi" kata Melly dengan pelan.
"Lalu papi gimana?" tanya papi sambil melepaskan pelukannya.
"Kalau papi kangen, papi bisa datang ke rumah suaminya Melly, nggak jauh juga, nggak harus ke Afrika kok" kata Melly sambil mengusap air mata papinya dengan kedua tangannya.
"Papi ikut kalian ya, hari ini aja papi tidur di rumah kalian, ya?" kata papinya Melly tanpa dosa.
"Huuftt, Pi, bukannya Melly melarang papi untuk ikut tapi, gimana mami, masak semuanya boyongan ke rumahnya Bebeb Rio, kan nggak lucu" jawab Melly.
"Lagian Pi, kita nanti mau mampir ke rumah mertuanya Melly dulu, kalau memungkinkan, Melly akan tidur di rumah mertuanya Melly barang sehari, biar adil, kemarin malam sudah tidur di sini, nah hari ini giliran tidur di rumah mertuanya Melly" tambah Melly dengan penuh kesabaran.
"Papi yakin, mau ikut menginap di rumah mertuanya Melly?" tanya Melly kemudian.
Papinya Melly menggelengkan kepalanya.
"Tapi, kamu janji sama papi ya, sering seringlah main ke sini" kata papi kemudian.
"Oke, papiku sayang" Melly berucap sambil mengecup pipi papi kesayangannya.
"Sudah yuk, kita balik ke ruang makan, kasihan mereka semua, nungguin kita, nggak jadi sarapan lho" kata Melly sambil tersenyum dan menarik pelan tangan papinya, mengajak papinya untuk bangkit berdiri, dan melangkah untuk keluar dari kamar, menuju ke ruang makan lagi.
Semua langsung menatap papi dan Melly.
Papi dan Melly kembali duduk di kursi mereka tadi.
"Maafkan Rio, Pi" kata Rio sambil menatap papi mertuanya.
"Kamu nggak ada salah kok" ucap papi sambil tersenyum manis ke arahnya Rio.
"Sudah yuk, sarapan dulu!" sahut Mami.
Mereka pun akhirnya sarapan dengan tenang.
Akhirnya, pasangan pengantin baru tersebut berhasil masuk ke dalam mobil, Rio pun langsung meluncurkan mobilnya, menuju ke rumah papanya.
Hari minggu ini papa dan mamanya ada di rumah, tidak pergi kemana mana, mereka menunggu kedatangan Rio dan menantu cantiknya mereka.
Sementara itu di rumahnya Grey. Grey dan Lila keluar dari kamar mereka setelah melakukan olah raga pagi ala Grey.
Mereka melewati kamar papa dan ibunya Grey. Masih tertutup rapat. Mereka pun langsung turun, menuju ke ruang makan
"Lho, papa dan ibu belum turun juga?" tanya Grey heran sambil menarik kursi untuk mulai duduk.
Mbok Iyem sudah menata semua masakannya, di atas meja makan tersebut.
"Wajar dong sayang, mereka kan pengantin baru" jawab Lila santai.
"Waahhh, papa aku ternyata masih top markotop ya" kata Grey dengan polosnya.
Lila langsung mencubit pinggang suaminya.
"Sayang, aku capek banget, hari ini kita enggak ke Gereja dulu ya" Kata Lila.
"Iya, kita ibadah live streaming aja di rumah, nanti aku setelkan" ucap Grey sambil mengunyah makanannya.
"Terima kasih sayang, kamu memang yang terbaik"ucap Lila.
"Habis ibadah live streaming kita mau ngapain dong?" tanya Lila.
"Kamu istirahat dong, katanya capek" jawab Grey.
"Lalu kamu?" tanya Lila.
"Aku mau jalan jalan sendirian" jawab Grey asal.
"Tuh kan, tega sama istrinya, ditinggal jalan jalan, mau lihat cewek ya, secara Lila sekarang gendut dan jelek" kata Lila mulai cemberut.
Grey niatnya bercanda tapi dia lupa kalau Lila saat ini sedang hamil. Benar kata tante Florence, orang hamil tuh galaknya seratus kali lipat galaknya Singa yang sedang lapar. Batin Grey.
Grey langsung menangkup wajahnya Lila dengan kedua tangannya dan berkata "Aku bercanda sayang, maaf ya, mana ada istri seorang Greyson Adi Wijaya Simpsons jelek, lagian kamu tuh nggak gendut tapi, seksi" kata Grey sambil tersenyum penuh cinta menatap Lila.
"Benar nih, kamu nggak bohong kan, aku merasa aku tuh sekarang gemuk, jelek" kata Lila masih cemberut.
Grey mengecup bibir Lila dan berkata "kalau kamu jelek, ngapain aku selalu minta berolah raga terus sama kamu"
Lila langsung tersenyum sumringah dan langsung mencium mesra bibir suaminya.
"Aku sangat mencintai kamu, sayang" kata Lila sambil membelai mesra pipi suaminya.
"Aku juga, kalau dikasih jatah lagi, aku nggak nolak kok, masih kuat nih" kata Grey sambil mengedipkan matanya.
"Tanya dulu sama tante Florence, maksimal satu Minggu tuh berapa kali? kamu tuh belum nanya, sudah minta dua ronde, kemarin malam dan pagi ini" ucap Lila dengan polosnya.
"Hahaha, salah sendiri kamu semakin hari semakin nampak seksi dan cantik, aku suka kalau kamu hamil, nanti setelah Sweety lahir, aku akan langsung bikin kamu hamil lagi" ucap Grey santai.
"Kasihan Sweety dong, kalau masih kecil sudah punya adik, nanti kekurangan perhatian dan kasih sayang Sweetynya" kata Lila.
"Kalau gitu, sehabis melahirkan nanti, kamu nggak usah diet, biar kayak gini, nyempluk semuanya, aku suka" kata Grey sambil mencubit pelan pipinya Lila.
"Nggak, aku mau diet, kalau enggak diet, nanti suamiku cari cewek langsing dan seksi, bisa bahaya dong" ucap Lila.
"Hahahaha, suami kamu itu tipe setia, kamu lihat papa dan ibu, mereka setia kan, nah, aku kan anaknya mereka, jadi otomatis setia dong" Kata Grey sambil ngakak.
"Iya belum tentu, pokoknya harus tetap dijaga dan diawasi" ucap Lila.
"Isteri aku satpam dong" kata Grey sambil tersenyum jahil menatap Lila.
Lila menepuk pelan pundaknya Grey.
"Sayang, habis ibadah live streaming, jangan lupa telepon tante Florence ya, nanya soal jatah kamu, baiknya berapa kali dalam satu Minggu" kata Lila.
"Baik, tuan Puteri" kata Grey sambil mengunyah makanannya.
Sementara itu, Rio membelokkan mobilnya menuju ke rumahnya. Sesampainya di depan rumahnya, Rio langsung membuka pintu rumahnya, menutup dan menguncinya, lalu dengan tiba tiba langsung membopong Melly menuju ke kamarnya.
Rio sudah tidak sabar untuk membuka kado pernikahannya.
Melly tertawa ngakak melihat tingkah polos suaminya.