Lila And Grey

Lila And Grey
Rio is the best



Susan tampak sedikit panik saat Rio menatap ke arah dia dan melangkah mendekatinya


"Maaf Bu Susan, apakah itu kartu chip kamarnya pak Grey ?" tanya Rio.


Susan menjawabnya dengan gugup karena kartu chip kamarnya Grey masih berada di dalam genggamannya. Lalu tersenyum dengan manis ke arah Rio untuk menutupi kegugupannya.


"Iya, tadi salah seorang karyawan hotel ini


menyerahkannya kepada saya, setelah karyawan tersebut mengantarkan Grey eh pak Grey ke kamar. Dan saya baru saja akan menyerahkannya ke meja resepsionis." jawab Susan dengan memasang senyuman termanisnya.


"Hmm begitu ya, baiklah maaf bolehkah saya mengambilnya, saya ingin melihat kondisinya pak Grey." sahut Rio


Susan menyerahkan kartu chip tersebut sambil tersenyum ke arah Rio. Rio pun pamit kepada pak Hartawan dan Susan, menganggukkan kepala dan melangkah menuju ke kamarnya Grey.


Susan dan Pak Hartawan pun akhirnya pergi meninggalkan hotel dan balik ke kantor mereka.


Rio membuka pintu kamar dan menatap tubuh Grey yang masih tergeletak di atas ranjang. Mengecek kondisi sahabatnya dan langsung bernafas lega setelah tahu sahabatnya baik baik saja hanya tertidur sangat lelap.


Rio lalu mengambil pen yang ada di saku kemejanya Grey lalu mengecek isi rekamannya sambil tersenyum jijik membayangkan Susan. hmm wanita iblis batin Rio.


Rio, meraih kamera yang terpasang di atas TV LED yang ada di depan ranjang. Rio pun menyalin isi rekaman pen dan rekaman dari kamera tersebut ke dalam memori laptopnya lalu menyalinnya lagi ke dalam sebuah flashdisk. Setelah beres Rio pun memasukkan semuanya ke dalam tas kerjanya.


Rio lalu memencet nomer HPnya si karyawan hotel yang sehari ini merangkap tugas menjadi anak buahnya.


Tidak begitu lama karyawan hotel tersebut mengetuk pintu kamar. Rio membuka pintu kamar mempersilahkannya untuk masuk


Rio menyerahkan sisa uang yang dia janjikan tadi kepada Boy nama dari karyawan hotel tersebut.


"Tunggu masih ada satu tugas lagi untukmu, tolong kamu panggil pelayan resto hotel yang tadi menaruh obat ke dalam minumannya bos ku." ucap Rio


"Baik pak, tunggu sebentar. " Boy berjalan ke arah telepon yang ada di samping ranjang mengangkat gagang telepon dan memencet salah satu nomor extension.


"Halo, tolong sampaikan sama Mirna untuk datang ke kamar 10023, ada pesanan khusus dari kamar VVIP nih, tolong suruh cepat datang tidak pakai lama " ucap boy lalu menutup teleponnya dan menaruh gagang telpon kembali ke tempatnya.


Tidak begitu lama pintu kamar di ketuk. Boy membukakan pintu dan menyuruh Mirna


masuk, Mirna masuk dan langsung melangkah ke arah sofa dimana Rio duduk di sofa tersebut.


Mirna mendekap buku menu dan meletakkannya di meja di depan Rio "maaf pak, ini buku menunya silahkan dipilih, bapak mau pesan apa biar saya catat" sahut Mirna sambil mengeluarkan notes kecil dan pensil dari saku celananya.


"Duduk!" Rio menoleh ke arah Mirna dan menggerakkan tangannya menyuruh Mirna duduk di sofa single yang ada di depan Rio


Mirna pun duduk dengan ragu ragu dan memasang wajah bingung. Dia menoleh ke arah Boy dengan wajah penuh tanya.


Boy hanya menatap Mirna dengan datar. Boy berdiri di sebelah Rio.


"Kalo kamu mau mengaku dan mau bekerja sama, maka kamu aman. Tidak akan ku biarkan kamu meringkuk di penjara " ucap Rio sambil menatap Mirna tajam.


"Maksud bbbb ba ba bapak apa ya ? pen pen penjara apa? salah saya apa ?" tanya Mirna mulai gugup dan tangannya pun mulai berkeringat.


"Boy, tunjukkan rekamannya!" perintah Rio kepada Boy.


Boy mengambil HPnya dan memencet salah satu rekaman video dari HPnya lalu menaruhnya di meja di depannya Mirna.


"Maafkan saya pak, saya diancam tadi hiks hiks hiks " Mirna pun mulai menangis lirih dan masih memegang kakinya Rio.


"Apakah bungkus obat tadi masih ada di dalam keranjang sampah di dapur atau sudah kamu buang keluar ?" tanya Rio.


"Aaaa ada pak ini di dalam saku celana saya, belum saya buang pak, karena saya takut ketahuan makanya langsung saja saya masukkan ke dalam saku celana saya." ucap Mirna lirih di sela isak tangisnya dan masih menundukkan wajahnya.


"Mana ?" Sahut Rio sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong plastik yang tadi dia ambil dari bathroom.


Mirna lalu berdiri dan mengambil bungkus obat bius tadi dari saku celananya, menyerahkan bungkus obat tersebut ke Rio.


Rio meraihnya dan memasukkannya ke dalam kantong plastik dan memasukkannya ke dalam tas kerja yang berada di samping Rio.


Mirna masih berdiri mematung di depan Rio sambil terisak.


Rio melepaskan tangannya dari kantong plastik.


"Aku memaafkanmu tapi jika suatu saat aku mencari kamu untuk jadi saksi kamu harus siap, kapanpun itu, paham ? dan ingat ini rahasia kita kalo sampai bocor aku akan mencari kamu dan aku akan bertindak tanpa ampun lagi." tegas Rio.


Mirna mengangguk tanpa menatap Rio, dia masih menundukkan kepalanya.


"Pergilah!" ucap Rio lagi.


Mirna pun cepat cepat menganggukan kepala dan cepat cepat beranjak pergi untuk meninggalkan kamar tersebut.


"Boy, ingat ini rahasia kita berdua dan saya sangat puas dengan hasil kerja kamu, jika aku butuh kamu lagi, kamu masih mau kan bekerja untuk aku lagi " tanya Rio sambil berdiri lalu menepuk bahu Boy.


"Siap pak Bos " sahut Boy sambil membungkuk mengambil HPnya yang masih tergeletak di atas meja.


"Saya tadi sudah mengirim rekaman video tentang Mirna ke HP bapak." kata Boy


"Baiklah terima kasih banyak, pergilah ! dan ingat boy kita ini agen rahasia jangan sampai bocor ya pencapaian kita hari ini." sahut Rio.


"Baik pak Bos, anda memang is the best." ucap Boy membungkukkan badannya ke arah Rio lalu beranjak pergi keluar dari kamar tersebut.


Rio mengusap wajahnya pelan fiuuhhh dia lega saat melihat sahabatnya baik baik saja dan puas karena semua rencana dia untuk menggagalkan maksud Susan yang menjijikkan itu berhasil, sukses dan berjalan dengan baik.


Rio menyandarkan kepalanya, sumpah dia merasa lelah banget hari ini.


Gila Susan itu ya, obat tidurnya kuat banget sampai Grey tidak bangun bangun, memang iblis perempuan itu, cih! wajah pun cantik karena polesan make up sedangkan hatinya busuk banget, semuanya palsu cih! batin Rio. Tidak begitu lama Rio pun tertidur.


Saat hari beranjak petang Grey mulai mengerjap ngerjapkan matanya hmmm Grey pun menguap sambil memegang keningnya. Berusaha untuk bangun dan duduk bersandar di ranjang.


Dia melihat kamar hotel dan merasa asing, lho ini kan bukan kamarku batin Grey yang langsung berdiri dengan panik Shit! apa yang terjadi batin Grey.


Dia mengamati seluruh ruangan kamar tersebut sambil berdiri di samping ranjang, dan merasa lega saat melihat ada Rio yang sedang tertidur dengan posisi duduk bersandar di atas sofa.


Salam kenal buat semuanya, ini karya pertama saya, mohon dukungannya🙏


Mohon tinggalkan jejak like, komen dan vote di setiap episodenya.


Terima kasih banyak. God Bless You all readers😘🤗