Lila And Grey

Lila And Grey
My Sweety



FLASHBACK ON


Ratih bangun pagi pagi buta dan langsung menuju ke ruangan depan kafe. Dia celingukkan mencari dapur, dan mencari dimana letak bahan bahan dan bumbu bumbu untuk memasak.


Tiba tiba bahunya ditepuk seseorang.


"Cari apa ?" tanya Edward.


"Aahh Mister bikin kaget aja, saya mencari dapur sama bahan bahan untuk memasak emm saya mau memulai bikin kuenya." kat Ratih.


"Kamu mandi dulu aja, ini aku bawakan beberapa baju ganti dan perlengkapan mandi plus seprai" kata Edward.


"Aah terima kasih Mister" kata Ratih sambil meraih beberapa paper bag yang disodorkan Edward.


"Selesai mandi ke ruanganku nanti aku tunjukkan dapurnya, dan itu ruanganku" kata Edward sambil menunjuk sebuah ruangan tanpa pintu.


"Baik Mister permisi." kaya Ratih.


"Saya sudah selesai Mister, di mana dapurnya ?" kata Lila yang tiba tiba nongol di ruangannya Edward.


Edward pun berdiri dan melangkah mendahului Ratih sambil berkata "Ayok ikut aku"


Mereka melangkah ke belakang menuju ke sebuah ruangan " ini dapurnya dan bukalah pintu yang ada di pojok kiri itu, kuncinya tergantung di tembok sebelah kanan pintu tersebut."


Ratih lalu melangkah menuju ke pintu tersebut meraih kuncinya dan mulai membukanya dan dia langsung melongo.


Di balik pintu tersebut ada begitu banyak bahan makanan, ada lagi satu pintu kecil sebelah kanan pintu utama, kata Edward itu ruangan beku berisi berbagai macam daging dan makanan beku"


Lalu ada satu lemari es besar saat Lila membukanya ada begitu banyak sayur dan buah. di sebelah lemari es ada rak memanjang dan tertata rapi berbagai macam bumbu makanan dalam toples kaca.


"Ambilah bahan yang kamu perlukan dan jangan lupa kami catat apa saja yang kamu ambil di buku stock opname ini, lalu tutup dan kunci kembali pintunya" kata Edward.


"Baik Mister" Ratih mulai mengambil beberapa bahan untuk bikin kue bolu dan kue cucur andalannya.


Edward sudah melangkah pergi meninggalkan Ratih untuk menuju ke ruangannya lagi.


Tidak begitu lama ketiga karyawan lainnya muncul di dapur dan menyapa Ratih dengan ramah. Nama mereka, Endang dan Ratih sudah mengenalnya kemarin malam lalu ada Nia dan Ita.


Setelah berkenalan dan bercengkerama sebentar, mereka mulai bekerja dengan tugas mereka masing masing.


Ita menuju ke depan kafe untuk mulai menata meja dan kursi lalu mengelap semuanya.


Setelah dua jam bergulat dengan kue kuenya akhirnya kue kebanggaannya Ratih pun siap.


Ratih menatanya di atas nampan dan langsung membawanya ke ruangannya Edward.


"Permisi Mister, ini kuenya sudah matang silahkan dicicipi" kata Ratih.



"Hmm" sahut Edward sambil menaruh berkas berkasnya.


"Ini kue apa ?" tanya Edward saat mengambil salah satu kue dari atas nampan yang masih di bawa sama Ratih.



"Kue cucur pandan Mister" jawab Ratih.


"Hmm enak, aku suka, lalu yang ini pasti kue bolu ya ?" kata Edward sambil meraih kue yang satunya lagi dan mulai mencicipinya lagi.


"Ini juga enak, aku suka semuanya, sempurna, kita tunggu Charlie datang ya, nanti aku minta Charlie untuk memasukkan kue kue kamu ini ke dalam daftar menu kafe ini." kata Edward.


"Siapa Charlie ?" tanya Ratih.


"Dia chef andalan kafe ini, sekaligus merangkap sebagai manajer kafe ini."kata Edward.


"Oooo iya kamu tidak berangkat sekolah ? ini sudah jam tujuh ?" tanya Edward heran.


"Aaahh sial, iya seragamnya " tambah Edward sambil meraup kasar wajahnya.


"Saya sudah lulus sekolah Mister, makanya kemarin setelah saya lulus sekolah beberapa bulan yang lalu, paman saya langsung bersemangat mengatur pernikahan saya dengan om om hidung belang."


"Kamu tidak melanjutkan sekolahmu ? emm kuliah ?" tanya Edward.


"Uang darimana Mister, bisa lepas dari paman saya dan dapat tempat tinggal di sini saja saya sudah sangat bersyukur." jawab Ratih.


"Ooooo ya sudah pergilah, sarapan dulu sama teman teman kamu, masak apa saja yang kamu mau" kata Edward.


"Baik Mister, terima kasih dan permisi" Ratih menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan ruangannya Edward.


Edward tiba tiba merasa kasihan sama Ratih, malang nian nasib gadis itu.Batin Edward.


FLASHBACK OFF


Grey melangkah masuk dan langsung menyapa Lila dan ibunya "Haaaiii cewek cewek cantik"


Ibu Ratih dan Lila spontan tertawa menanggapi sapaan konyolnya Grey.


Grey langsung mencium pipi ibunya dan pipi Lila lalu menarik pelan tangan Lila.


"Eeiitts mau kamu bawa kemana anak gadisnya ibu ?" Kata Bu Ratih menggoda Grey.


"Mau aku culik selamanya dan tidak akan aku kembalikan ke ibu ha ha ha " sahut Grey asal sambil menarik tangan Lila untuk mengikuti langkahnya menuju ke kamar.


Lila mengikuti langkah suaminya sambil tertawa sedangkan Bu Ratih menggeleng nggelengkan kepalanya.


"Sayang mandiin ya." kata Grey begitu mereka sampai di dalam kamar.


"Hmm tapi nggak boleh nakal lho, ingat kata dokter Brian, si Komo harus puasa selama empat bulan" jawab Lila.


"Nggak jadi deh, aku mandi sendiri aja" kata Grey cemberut sambil melangkah menuju ke kamar mandi.


Lila tertawa, menaruh tas kerja Grey di kursi sofa, lalu menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


Selesai mandi Grey langsung berganti baju dan berbaring di sebelahnya Lila yang sudah terlebih dahulu berbaring di atas ranjang.


"Sayang sini deh " kata Grey menyuruh Lila untuk masuk ke dalam pelukannya.


Lila pun nurut langsung menghambur masuk ke dalam pelukannya Grey.


"Kamu makan banyak nggak tadi ? sudah makan vitaminnya ? sudah minum susunya ? sudah makan buah ?" Grey mulai memberondong Lila dengan pertanyaan.


"Sudah sayang, puji Tuhan aku nggak muntah sepanjang hari ini." Jawab Lila.


"Waaah anak aku pinter ya, bisa jaga mamanya, mana papa cium dulu." kata Grey sambil mengarahkan bibirnya ke perut Lila dan menciuminya.


"Hahaha sayang hentikan geli nih" kata Lila sambil menjauhkan tubuh Grey dari perutnya.


Grey kembali ke posisi semula dan memeluk Lila lagi.


"Kamu tadi genit nggak sama klien klien kamu ?" kata Lila.


"Nggak dong, mana ada Grey genit, tanya aja sama Rio eh jangan Rio dia suka mendramatisir keadaan, tanya aja sama Melly." kata Grey.


"Soalnya ya, kata orang orang tuh kalau isterinya lagi hamil, suaminya suka genit sama cewek lain bahkan ada yang sampai selingkuh, hiks hiks hiks." Lila mulai terisak.


"Sayang, jangan nangis dong masak kamu nggak percaya sama suami kamu sih ? aku nggak akan pernah selingkuh, meskipun si Komo harus pensiun berbulan bulan pun aku nggak akan selingkuh" Jawab Grey sambil mencium pucuk kepalanya Lila dan mengelus elus punggungnya Lila.


"Benarkah ? janji ?" kata Lila sambil mengusapkan airmatanya di kaosnya Grey.


"Iya janji, Grey tidak akan pernah selingkuh, lagian yang bikin kamu hamil siapa, aku kan jadi ya harus siap dong aku, dengan segala konsekuensi yang ada" kaya Grey sambil meraih tangan Lila dan menciuminya.


"Sayang gimana kalau kita kasih panggilan untuk calon anak kita ?" kata Grey.


"Apa ? jangan si Komo lagi lho." kata Lila.


"Hahahahaha ya enggak dong sayang, emm gimana kalau baby imut ?" kata Grey penuh semangat.


"Terlalu panjang sayang, yang namanya panggilan itu satu kata aja " kata Lila.


"Bagaimana kalau sweety ?" kata Grey.


"Lila setuju " jawab Lila sambil mencium pipi suaminya.


"Halo sweety, ini papa " Kata Grey kemudian sambil mengelus elus perutnya Lila penuh cinta.


"Sweety jangan bikin Mama capek ya, jaga mama terus selama papa kerja, ok sweety." Kata Grey kembali menciumi perut Lila.


Lila tertawa geli sambil mengelus elus kepalanya Grey.


"Ayok kita makan dulu, sepertinya sweety dah lapar tuh." kata Grey sambil membopong tubuh Lila.


"Aaahhh sayang turunkan, malu sama ibu " kata Lila.


Lila mencubit pinggang Grey akhirnya dengan terpaksa Grey pun menurunkan Lila dari gendongannya lalu tersenyum mencium pipi Lila dan menggenggam tangan Lila menuju ke ruang makan.


Selesai makan, Grey, Lila dan Bu Ratih bercengkerama di ruang keluarga sambil menonton film.


"Grey, nanti kalau Stephanie menelepon lagi, bangunkan Ibu ya." kata Bu Ratih.


"Baik Bu." Jawab Grey.


"Oooo iya aku lupa menelepon Tante Florence untuk menanyakan apa Lila boleh melakukan penerbangan ke London." kata Grey.


"Sebentar ya." kata Grey sambil meraih ponselnya dan mulai memencet nomernya dokter Florence, mamanya Rio.